Share

4. Aku Antar

Author: Rahayu Veni
last update Last Updated: 2025-02-04 12:05:41

"Lo pake ajian apa San sampe Bapak jadi mau ikutan host?" bisik Mas Cahya ketika kami sedang melihat langsung live shopping perdana yang dipandu oleh owner perusahaan kami yang gantengnya endulita kalau kata Mayang.

"Nggak pake ajian Mas, pake kalimat yang baik dan benar sesuai PUEBI dan tentunya disampaikan dengan cara yang sangat meyakinkan," jawabku asal. Akupun tidak menyangka jika hanya dalam sekali percobaan Pak Anggara mau mencoba ajakan untuk menjadi host di live shopping exclusive sore ini.

Kulihat Mas Cahya mengangguk-angguk. "Keren emang lo, pantesan aja jadi kesayangan si Bapak," ucap Mas Cahya membuatku mendelik. Kesayangan pala lo peang, kalau kesayangan udah dinikahin bukannya disuruh bikin laporan. 

Mas Cahya menahan tawanya. "Sinis banget si lo, jodoh sama dia baru tahu rasa."

"Aku? Jodoh sama si Bapak? Ya bakal bahagia lah pastinya. Aku bakalan jadi sosialita yang ogah kenal Mas Cahya," kataku.

Mas Cahya terkikik geli. "Gue doain, jadi lo sama si Bapak."

"Amin." Meskipun tidak dari hari tapi sesuatu yang baik harus kita aminkan, kan? Apalagi jadi istri pria kaya, harus diaminkan sekencang-kencangnya supaya menjadi nyata meskipun hanya akan jadi mimpi belaka.

Kami dan beberapa rekan lain menonton secara langsung Pak Anggara yang tampak luwes memandu acara siaran langsung penjualan produk-produk kami. Aku tersenyum melihat banyaknya komentar positif tentang live shopping kali ini. Dan seperti yang sudah aku bisa prediksi, penjualan hari ini meningkat pesat meskipun hanya berlangsung dua jam saja. 

"Besok, Bapak live lagi," ucapku penuh semangat dengan tangan yang tidak berhenti bertepuk tangan. Aku senang bukan main karena penjualan sore ini di luar prediksi.

Pak Anggara mendelik. "Ngelunjak."

Aku mencebik. "Bukan ngelunjak tapi mau meningkatkan penjualan. Coba lihat, karena kegantengan Bapak yang paripurna, penjualan sore ini naiknya lebih dari seratus persen!" ucapku berapi-api. 

Sebagai karyawan yang baik, aku kan senang jika produk yang kami produksi dibeli banyak orang. Semakin banyak orang yang beli berarti semakin besar pula peluang mendapatkan bonus dengan tambahan ini itu di akhir tahun ini.

"Besok saya sibuk, mau meeting," ucap Pak Anggara sambil lalu.

"Berarti besoknya lagi!" Aku sedikit berteriak karena Pak Anggara sudah meninggalkan ruangan tempat yang memang diperuntukkan untuk live shopping.

Tidak terdengar jawaban namun aku bisa pastikan jika atasanku itu setuju dengan usulku. Aku tersenyum lebar. 

"Keren Kak San!" Thalia, salah satu tim marketing yang saat itu tidak berhasil membujuk Pak Anggara mengacungkan kedua jempolnya padaku. "Memang Bapak cuma takluk sama Kak San seorang."

Aku tertawa. "Sandrina gituloh." Aku menepuk dadaku bangga. 

"Kayaknya yang bisa naklukin hatinya si Bapak juga cuma Kak San deh," ucap Thalia. Beberapa rekanku yang berada di ruangan terdengar menyetujui hal itu.

"Mana ada," sahutku cepat. "Jangan kebanyakan ngayal nanti hilang akal."

***

"Kak San, masih lama?" tanya Mayang, ia sudah bersiap untuk pulang karena jam kerja kami sudah selesai.

"Bentar lagi, ini lagi save data-data dulu," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Ke mall dulu yuk, aku mau sekalian beli ATK."

"Hayuk." Mayang langsung menjawab tanpa ragu. "Sekalian cuci mata, kali aja Kak San ketemu duda."

Aku langsung menoleh menatap Mayang yang cekikikan. "Kok duda sih, perjaka dong," kataku tidak setuju. Apa selangka itu para perjaka sehingga aku harus berjodoh dengan duda? Ah, derita perawan tua. Tapi, aku kan tidak tua.

"Sandrina," panggil Pak Anggara ketika aku baru saja mencangklongkang tas di bahuku. Perasannku tidak enak.

"Iya Pak." Aku memandang Pak Anggara yang berdiri di depan pintu ruangannya.

Tanpa berkata, atasanku itu hanya mengibaskan tangan kanannya untuk memanggilku. Dengan patuh aku masuk ke dalam ruangannya.

"Saya mau mengapresiasi kamu yang sudah berinisiatif mengajak saya untuk jadi host di live shopping tadi," ucap Pak Anggara dengan nada serius. 

Apresiasi? Jangan-jangan aku akan langsung mendapatkan bonus secara cash and carry. Aduh, senyum lebar jangan ya?

Aku berdehem untuk menetralkan perasan bahagia yang membuncah di dalam dada, gengsi kan kalau terlihat sangat mengharapkan sesuatu. "Maksud Bapak?"

"Saya mau traktir kamu makan malam," jawabnya.

Aku mengedip-ngedipkan kedua mataku. Apa katanya? Makan malam? 

"Hmm... maksud Bapak traktir makan sama anak-anak?" tanyaku memastikan. 

Pak Anggara menggeleng. "Kamu sama saya saja. Kan yang punya ide kamu, terus yang jadi host cuma saya. Jadi kita berdua saja."

Apa? Cuma berdua? Yang benar saja, bisa-bisa heboh dunia jika ada yang melihat kami hanya makan berdua. Tapi, gimana cara nolaknya? Sumpah, aku memang jomlo tapi aku tahu diri apalagi aku kan bukan asisten si bapak ganteng yang terlihat tidak mau mendengar alasan apapun yang menjurus pada penolakan ajakannya.

Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku sembari mencoba berpikir cepat bagaimana supaya rencana atasanku ini tidak terealisasi.

"Hmm... maaf Pak, saya udah janjian makan bareng Mayang," ucapku setelah menemukan alasan yang dirasa tepat. Ternyata diajak makan berdua dengan Pak Anggara saja sudah membuatku dag-dig-dug tidak karuan, apalagi diajak calon pacar menikah bisa-bisa aku sawan. Maklumlah jomlo karatan.

Aku gelapan ketika melihat pandangan Pak Anggara, sepertinya beliau tidak percaya aku akan makan dengan Mayang.

"Kamu batalkan dengan Mayang, besok saya tidak bisa," ucapnya membuatku mengerenyitkan kepala. Lalu seakan mendapatkan ilham brilian aku berkata, "Bapak kasih mentahnya aja buat saya." 

Pak Anggara menyeringai. "Saya lebih suka traktir kamu makan."

"Tapi saya mau makan sama Mayang."

"Memang mau makan di mana?" tanya Pak Anggara.

"Di tempat makan selera rakyat deket kost-an," jawabku asal.

"Di mana itu?" tanyanya.

"Di deket tempat kost saya," jawabku.

"Iya area mana? jalan apa?" tanyanya menyelidik. Aku menyebutkan sebuah nama jalan yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Kulihat Pak Anggara mengangguk.

"Saya mau ajak kamu makan seafood di Ancol," ucap pria beumur kepala tiga tapi tidak kentara.

"Kejauhan Pak, nanti pulangnya ribet," ucapku beralasan. Lalu aku pura-pura melihat jam di ponselku. "Udah jam segini pula Pak." Aku memperlihatkan layar ponselku yang sudah menunjukkan pukul enam sore.

"Baru jam enam," jawabnya santai. "Saya tunggu di basement, kamu bilang sama Mayang nggak jadi makan sama dia." Pak Anggara beranjak berdiri.

"Pak." Aku ingin menolak, tapi ucapan berisi penolakan itu tidak kunjung keluar dari mulutku karena tersangkut ditenggorokkan setelah melihat tatapan membunuh bujang lapuk yang entah mengapa tiba-tiba ingin makan berdua denganku. Apa jangan-jangan ia mau membalas dendam padaku karena sudah berani menyuruhnya berjualan online? Aduh mati aku.

"Kenapa?" tanyanya setelah lama memperhatikan aku yang tidak melanjutkan kata-kata.

"Saya nanti pulangnya gimana?" Pertanyaan tidak bermutu dan tidak seharusnya ditanyakan.

"Aku nanti antar kamu pulang," jawabnya tenang. 

What? Dia nanti antar aku pulang?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

  • Balada Perawan Tua   12. Tahu Sesuatu?

    Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, yang aku bisa hanya berteriak dalam hati. Bagaimana caranya, ya teriak saja. Selain berteriak aku ingin menangis karena ketidakberdayaanku berkata tidak karena takut menyinggung perasaan orang tua Pak Anggara. Ah! Sial! Kenapa jiwa membela diriku seperti kerupuk kena angin, sebal! Rasa takut kehilangan pekerjaan ternyata lebih besar dibandingkan mengatakan hal sebenarnya pada kedua orang tua atasanku yang dengan menyebalkannya malah senyum-senyum tidak jelas."Kalau minggu depan kita silaturahmi ke orang tua kamu gimana, sayang?" Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri diajukan oleh Meiske, ibu Pak Anggara.Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang didengar indra pendengaranku. "Bisa Ma, aku emang rencana mau ke sana," jawab Pak Anggara yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang."Syukurlah kalau kamu sudah ada inisiatif. Hal baik jangan ditunda-tunda, iya kan Pa," ucap Bu Meiske pada suaminya. Aduh!

  • Balada Perawan Tua   11. Lamaran, Tunangan, Siraman, Nikahan

    Sandrina tentu saja terkejut ketika mendengar ucapan Anggara yang tiba-tiba. Siapa yang tidak akan terkejut disebut calon istri oleh seseorang, terlebih orang itu adalah pemilik perusahaan tempat kita mencari nafkah. Sandrina langsung mengibas-ngibaskan tangannya. "Bu-bu..." Namun perkataannya tidak bisa dilanjutkan karena Anggara langsung mengapit lengannya dan mengatakan dengan tegas pada ibunya bahwa Sandrina adalah calon istrinya.Meiske, ibu kandung Anggara, terlihat sumringah ketika mendengar dengan jelas bahwa wanita manis di depannya adalah kekasih anak semata wayangnya. Pantas saja anaknya itu tidak pernah mau dikenalkan atau mencoba berhubungan dengan wanita yang ia kenalkan."Jadi, kalian kenal di mana?" tanya Meiske. Mereka sedang berada di sebuah restauran yang menyajikan makanan khas Thailand.Sandrina memandang Anggara."Temen di kantor," jawab Anggara.Mata Meiske membola. "Kamu kerja di tempat Angga?"Sandrina mengangguk takut-takut. Jujur, ia takut seperti di drama-

  • Balada Perawan Tua   10. Calon Aku

    Aku tersenyum ketika melihat wajah Sandrina memberengut saat membaca pesanku yang terakhir. Sungguh menggemaskan sekali. Entah mengapa menjahili Sandrina menjadi kebahagian sendiri untukku akhir-akhir ini. Semacam hiburan di tengah-tengah teror blind date yang sering ibuku rencanakan. Bukan aku tidak tahu jika ibuku ingin segera melihatku berkeluarga. Aku tidak menyalahkan sikap ibuku. Ia pasti khawatir anak semata wayangnya ini tidak akan ada yang menemani di hari tua nanti. Namun, terkadang aku merasa kesal juga jika terus-terusan harus berkenalan dengan anak temannya. Aku kembali menatap Sandrina dari balik kaca ruanganku. Ia sedang dalam mode serius namun kulihat sesekali ia berdiskusi dengan Mayang bahkan tersenyum. Senyumnya yang dulu terlihat biasa saja entah mengapa menjadi terlihat sangat istimewa.Ketika aku sedang larut dalam lamunanku tentang Sandrina, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata Cahya. Ia menginformasikan laporan yang harus segera aku review dan mengingatakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status