Share

Operasi

Penulis: Blade Armore
last update Tanggal publikasi: 2023-04-13 20:49:51

Zera gelagapan mendengar suara sentakan dari Citra, dirinya kelepasan. Dengan cepat memasang wajah sendu dan mata berbinar, memandang sayu ke arah bosnya itu.

"Maksudku, aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang, karena sudah menyebabkan keadaan dirimu seperti ini!" Zera berkilah dan beruntungnya, Citra mempercayainya. "tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka mengalahkanmu!"

"Membuatku jantungan saja!" keluh Citra, dengan memegang dadanya.

Zera menampilkan deretan giginya yang putih meski tidak tersusun rapih, lalu duduk di samping Citra. Wanita muda itu kemudian menyarankan beberapa opsi untuk mempercepat rencana mereka membalas dendam pada Amber.

Tiga opsi yang diajukan oleh Zera, hanya satu yang membuat Citra tertarik. Operasi plastik, ya, hanya operasi plastik yang bisa mengembalikan keadaan wajahnya yang cantik sempurna, untuk saat ini. Terlihat sangat antusias dan keyakinan wanita yang wajahnya diperban itu semakin bertambah, dirinya akan mengalahkan Amber di semua bidang. Tawa sumbangnya menggema di ruangan yang berukuran cukup luas, karena saat ini mereka berada di ruangan VVIP. Fasilitas itu mereka dapatkan dari Charles, sebagai tuntutan dari perbuatan Amber.

"Baiklah, aku akan menjadwalkan semuanya dengan segera dan kamu harus menyiapkan mentalmu dengan baik," ujar Zera, yang langsung bangkit dari duduknya. "Jangan lupa hubungi Charles untuk deposit dana di rumah sakit," Zera membalikkan badannya, sebelum menghilang dari balik pintu.

"Pasti!" sahut Citra dengan mengarahkan jempolnya pada Zera dan mendapatkan balasan senyum menawan dari sang asisten.

Setelah Zera pergi, Citra memperhatikan kedua tangannya secara bergantian dan berdecak kesal. Berguman tidak jelas, lalu memaki Amber dengan berbagai umpatan kasar. Kemudian beralih pada dua kakinya, yang mulus terawat. Berkali-kali, Citra meghela napas panjang. Tidak menyangka, mendapatkan tindakan bar-bar yang diluar kendali dari istri kekasihnya dan juga wanita yang telah mengubah kehidupannya.

"Bukankah aku tidak salah, jika merayu Charles?" ujarnya dengan berdesis, seraya memperhatikan sekitar ruanganya yang terasa sangat sunyi. "Dia sangat tergila-gila dengan tubuh dan juga permainan ranjangku, berarti dia sangat menikmati semuanya dan lebih mencintaiku dari pada si Amber sialan itu, kan?" ocehnya lagi.

Kemudian dia terkikik geli, saat mengingat percintaan panasnya dengan Charles yang dilihat oleh Amber, tidak pernah dia bayangkan akan sepuas ini rasanya, meski dirinya harus mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatannya. Lama-lama, terdengar tawa Citra yang menggema hingga terdengar keluar ruangan rawatnya. Menarik perhatian para suster yang sedang berjaga, tidak menyangka wanita yang mereka rawat sangat berbeda prilakunya dengan apa yang mereka lihat di televisi.

"Apa mungkin dia gila, ya?" tanya salah satu suster yang mengintip di balik pintu, dan suster yang lainnya hanya memberi tanda untuk diam, dengan meletakan jari telunjuknya di depan bibir.

"Orang kaya, bebas melakukan apa saja," bisik yang lainnya, lalu mereka meninggalkan tempat mereka mengintip Citra.

Mereka tidak ada yang berani masuk sembarangan ke dalam ruang rawat Citra, meskipun itu adalah tugas mereka. Terkecuali jam-jam pemeriksaan dan juga saat mereka bersama dokter yang menangani sang model. Jika dipaksa masuk, maka Citra akan mengamuk dan mengumpat. Bahkan tidak segan-segan menendang, karena hanya kakinya saja yang bisa leluasa bergerak. Wanita bar-bar yang sesungguhnya, dibandingkan dengan Amber. 

Tidak lama setelah kepergian para suster jaga, seseorang datang dan langsung masuk ke dalam kamar Citra, tentu saja wanita itu mengembangkan senyumnya sangat lebar. Tidak menyangka orang yang ditunggunya akan datang secepat ini.

"Aku akan operasi plastik, untuk mengembalikan wajahku yang terluka parah," ujarnya manja.

"Aku tidak peduli, lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan enyah dari hidupku setelah itu!" ketus seseorang yang sangat dirindui oleh Citra, membuat senyum merekah wanita itu pudar seketika.

"Tega!" decak Citra, tapi tangannya mulai menjelajah bebas di dada bidang yang selama ini menghangatkan malamnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Abu yang belum padam

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Gema di balik jeruji dan luka yang tersembunyi

    Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Nona, Bangun!

    Dunia kembali menjadi gelap. Tapi kali ini, kegelapan itu tidak hening. Ia dipenuhi oleh suara tawa yang melengking, gema dari neraka pribadi Amber. "Bangun, Nona." Suara itu terdengar jauh, seolah berasal dari dasar sumur yang dalam. Dingin. Basah. Berbau amis. Amber mengerjapkan matanya. Cahaya redup menyilaukan pandangannya. Kepalanya berdenyut hebat, lebih parah dari sebelumnya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar denyutan, tapi seperti ada paku yang ditancapkan ke dalam otaknya setiap kali ia mencoba bernapas. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Terikat. Tali kasar mengikat pergelangan tangannya ke kursi besi yang dingin. Kakinya juga terikat. Ia tidak bisa bergerak. Pemandangan di depannya perlahan memfokus. Sebuah ruangan bawah tanah yang lembap. Dinding beton berlumut. Di sudut ruangan, sebuah lampu neon berkedip-kedip, menciptakan efek strobo yang membuat mual. Dan di hadapannya, duduk seorang pria di atas kotak kayu tua. Pria itu sedang membersihkan kukunya dengan pisau l

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Kehampaan di Altar Pernikahan

    Gedung tua di kawasan itu telah disulap menjadi taman pernikahan yang intim dan elegan. Rangkaian bunga mawar putih dan anggrek hitam—kombinasi favorit Amber—menghiasi setiap sudut. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan lembut pada wajah-wajah tamu undangan yang terbatas: hanya keluarga inti, Nyonya Anggie, Dafa, Olive, Bintang, Ina, dan beberapa anggota AVRON terpercaya. Amber berdiri di ruang ganti, mengenakan gaun pengantin sederhana namun memukau. Kain sutra putih jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, sementara mahkota kecil dari berlian bertatahkan batu onyx menghiasi rambutnya yang disanggul rapi. Ia menatap cermin, matanya berbinar bahagia. Di balik pintu, Hulton menunggu dengan gugup, memegang cincin kawin yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. "Kau cantik sekali, Nona Amber" bisik Olive, menyesuaikan Amber dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Liv," jawab Amber, tersenyum lebar. "Aku tidak sabar melihat wajah Hulton nanti. Aku juga tidak menyangka, ak

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Setelah Badai, Undangan maut datang

    Dua minggu telah berlalu sejak ledakan, Kota Lama kembali ke ritme normalnya yang hiruk-pikuk, namun bagi mereka yang berada di lingkaran dalam, dunia terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih waspada.Dampak dari pengungkapan data "The Syndicate" oleh Amber dan Hulton memang dahsyat, tapi tidak instan. Saham DIRJAYA CORP anjlok 15% dalam tiga hari pertama karena rumor keterlibatan Pak Hendro dalam pencucian uang internasional. Investor panik. Media menggali setiap skandal lama. Sementara itu, Wijaya Group milik Hulton juga terkena imbas. Reputasi "Raja Hitam" yang bocor sedikit demi sedikit membuat beberapa mitra bisnis asing menarik diri, takut terseret konflik bawah tanah.Di kantor pusat DIRJAYA CORP yang kini lebih sepi, Amber duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ia menatap grafik penurunan saham di layar monitor dengan wajah datar. Di seberang meja, Dafa sedang menelepon para kreditor, suaranya lelah namun tetap persuasif."Kita akan segera pulih, Amber" ucap Dafa setelah menutup t

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dansa maut di puncak kepedihan

    Hujan deras mengguyur kawasan Kota Lama, mengubah jalan berkelok menjadi lintasan licin yang mematikan. Kabut tebal menyelimuti hutan pinus, menciptakan ilusi optik yang membingungkan. Di tengah kegelapan itu, sebuah vila megah bergaya kolonial berdiri kokoh di atas tebing—kediaman peristirahatan Pak Hendro Wijaya. Dari luar, vila itu tampak tenang, lampu-lampu tamannya redup, seolah tidur. Tapi bagi mata terlatih Amber dan Hulton, setiap sudutnya bersinar dengan tanda bahaya: sensor gerak tersamar, kamera CCTV berputar lambat, dan siluet penjaga bersenjata yang berpatroli di balik jendela kaca anti-peluru. "Tim Alpha, posisi siaga di perimeter utara," bisik Dafa melalui earpiece, suaranya datar namun penuh ketegangan. Ia bersembunyi di balik semak belukar bersama lima anggota elit AVRON, wajah mereka dicat hitam untuk menyamarkan diri dalam kegelapan. "Tim Beta, tutup jalur evakuasi selatan. Jangan biarkan satu nyamuk pun lolos." "Siap, Ketua," jawab Ina dari posisinya di pohon ti

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Bawa mereka ke sini!

    Olive memandangi wajah Amber yang masih terlelap akibat bius, wanita itu tersenyum, lalu mengusap wajah ayu atasannya. Setitik air mata jatuh, tidak menyangka, jika wanita yang dia dampingi sejak bertahun-tahun lalu, bisa kalah hanya karena persoalan lelaki, maka pemikirannya untuk tidak meikah sud

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Inikah yang dirasakan Amber2

    Beberapa wanita berseragam, dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, menatap ke sekitar. Mimik wajah mereka sangat kentara menyimpan kekesalan. Namun, karena tugas, mereka harus bisa mengendalikan perasaan. Baru saja, salah satu wanita berseragam itu hendak berbicara, beberapa napi sudah mendahului

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dijebak

    "Lepaskan!" Citra kembali memberontak."Diamlah!" bentak salah satu bodyguard.Dengan santai, dua orang itu melepaskan tangan Citra dan duduk di sisi ranjang. Mereka belum beranjak dari kamar Citra, menunggu instruksi selanjutnya.Amber menuju ke kamar rawat di mana Charles sedang terbaring lemas, O

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Hutang budi

    "Tidak, anakku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" pekik Citra.Amber yang tadinya mau mencari dokumen miliknya, malah mendapati pemandangan yang di luar perkiraannya. Citra sedang terduduk menahan kesakitan dan ada darah segar di lantai. Amber sungguh tidak peduli, dia masuk dan mengabai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status