LOGINAmber Dirjaya Wijaya, dikhianati oleh suami dan sahabatnya--Citra Adelia Kusuma, selama bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang bisa menahan pembalasan Amber pada kedua orang yang telah mengkhianatinya, wanita itu bertekad menghancurkan keduanya yang telah menjerumuskannya begitu dalam. Citra yang iri dengan kehidupan Amber, berani bermain api atas bujukan dari asisten pribadinya. Citra adalah model terkenal yang diorbitkan oleh Amber, tapi balasan yang diberikan justru sangat menyakitkan. Ada penghianatan di balik penghianatan. Tidak ada yang mengetahui jati diri Amber, kecuali sahabat yang merangkap sebagai asisten pribadinya. Bahkan suaminya terkejut saat mengetahui siapa Amber dan apa saja yang dimiliki oleh istrinya itu. Demi menyelamatkan perusahaan yang dibangun oleh orang tuanya, Amber menerima perjodohan dari teman lama kedua orang tuanya. Penjajakan selama tiga bulan membawa keyakinan pada Amber, jika calon suaminya yang sekarang lebih baik dari mantan suaminya yang seorang casanova. Pernikahan kedua Amber, membawanya pada kebahagian, tapi menguak sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh wanita berdarah campuran itu. Pembalasan apa yang dilakukan oleh Amber, pada orang-orang yang menyakiti dirinya dan keluarga besarnya? Rahasia besar apa yang selama ini disembunyikan oleh Amber seorang supermodel papan atas?
View MoreMobil mewah Toyota Crown, berhenti tepat di depan lobi PT. Dirjaya corp. Kaki mulus yang mengenakan high heel merah mengkilap, turun dengan anggunnya. Gaun berwarna biru, dengan belahan dada cukup rendah menambah kesan glamor pada wanita berambut panjang itu.
Amber ingin sekali beristirahat tanpa ada gangguan dari siapapun, dari itu dia memilih pergi ke perusahaan milik mendiang orang tuanya, yang dikelola oleh orang yang sangat dia percayai. Namun, sebuah pesan video yang masuk ke ponsel miliknya membuat Amber gelisah dan marah. Bagaimana tidak, di dalam video tidak senonoh tersebut ada adegan dua orang yang teramat dia percayai
"Berani-beraninya mereka menghianatiku seperti ini!" ucapnya kesal dengan berteriak.
Amber beranjak dan berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju di mana mobilnya terparkir, dia tidak memperdulikan orang-orang yang menyapanya. Bahkan wakil CEO, yang memanggilnya dia abaikan. Amarah sudah menguasai wanita cantik dengan tampilan yang sangat mempesona.
Setengah jam perjalanan, Amber sudah berdiri di depan mansionnya. Menatap bangunan megah dengan gaya eropa, setiap sudut di topang oleh pilar-pilar yang kokoh dengan ukiran yang menawan. Dada Amber terasa bergemuruh, hingga terlihat naik turun. Giginya saling bergesekan, menimbulkan suara yang cukup membuat orang ngilu mendengarnya. Dengan kesal, Amber menutup pintu mobil yang membawanya sampai ke mansion ini dengan sangat kasar.
Brak!
Kaki jenjangnya menendang gerbang yang menjulang tinggi dan sangat kokoh, sedangkan buku-buku jarinya memutih dengan menampilkan urat kebiruan, karena Amber menahan amarah dengan mengepalkan tangannya.
"Nyo--nyonya!" Salah seorang penjaga tergagap melihat Amber yang ekspresi wajahnya cukup menakutkan.
Mata besar yang dimiliki oleh Amber, menambah kesan tidak bersahabat kala dirinya sedang marah. Begitu pula giginya yang bergemeretak, membuat para penjaga merinding.
"Kenapa diam? Buka!" hardik Amber dengan suara beratnya.
Dua penjaga itu terlihat sekali bingung dengan keadaan saat ini, satu sisi ada pesan Tuannya yang harus dilaksanakan, disatu sisi ada perintah dari Nyonya mereka, pemilik mansion ini.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Amber dan penjaga itu hanya diam menunduk.
Kekesalan Amber makin memuncak, saat dua penjaga itu bungkam. Dengan penuh emosi, Amber berjalan masuk ke dalam. Bahkan kepala pelayan yang sangat dia hormati hanya dilewati olenya saat menyapa.
Saat sampai kaki Amber menjejak tangga, dia menole ke arah pelayan setianya. "Mereka memakai ruangan yang mana?" tanya Amber.
Amber mendengkus kesal, karena kembali mendapati orang yang bekerja dengannya hanya diam ketika dirinya bertanya. Apalagi pelayan senior yang sudah dianggap sebagai keluarga, ikut andil menyembunyikan semuanya.
"Di mana?" tanya Amber dengan menggertakkan giginya, dan salah satu pelayan menunjuk kamar pribadinya.
Dengan langkah anggun, Amber menaiki tangga menuju kamarnya yang saat ini digunakan oleh suami dan selingkuhannya. Namun, saat berada di depan kamarnya, mata Amber membulat sempurna. "Tidak ada rasa malu lagi!" lirih Amber, karena pintu kamar tidak tertutup rapat.
Bagaimanapun tegarnya Amber, dia tetap seorang wanita. Air matanya luruh saat melihat pemandangan terkutuk di depannya. Kedua manusia yang sedang mereguk nikmatnya permainan panas mereka, tidak menyadari kehadiran Amber yang sudah memasang wajah dingin dan menyeramkan. Suara desah yang saling bersahutan mampir di telinga Amber, semakin membuat hatinya wanita itu teriris pilu.
"Aaakh!" teriak wanita yang sedang meliuk indah di atas tubuh suami Amber.
Amber dengan keras dan kasar menarik rambut wanita yang jadi sahabatnya, hingga melepaskan penyatuan yang tengah dilakukan oleh suami dan selingkuhannya. Tentu saja, teriakan dan rasa terkejut, membuat suasana mencekam.
"Sakit lepaskan!" pekik wanita yang belum mengetahui siapa lawannya. "Akh! Sakit," teriaknya kemudian.
"Sa--sayang!" panggil lelaki, dengan wajah memerah.
Lelaki yang bergelar suami itu langsung menyambar celana kolornya yang dia buang sembarangan saat birahi sudah menguasai. Lalu mencoba mendekati Amber setelah memakai celana, tapi wanita yang tengah kalap dengan emosinya yang membludak langsung mengambil vas bunga dan memukul kepala selingkuhan suaminya. Lelaki itu hanya tertegun, menatap istrinya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Si-siapa?" tanya wanita yang masih meringis, karena rambutnya belum juga dilepaskan.
"Aku ... aku adalah Amber Wijaya, yang memungutmu dari tempat sampah!" ujar Amber dengan menarik rambut wanita selingkuhan suaminya hingga kepalanya mendongak. "Apa kamu sudah lupa di mana asalmu Citra Adelia Kusuma!" lirih Amber dengan suara ditahan.
Citra yang melihat wajah Amber, langsung membulatkan matanya. Kali ini, perhitungannya salah, dia tidak mengetahui kepulangan Amber dan mata-mata bayarannya tidak ada yang melaporkan kedatangan wanita yang menjadikannya seorang model papan atas. Citra ingin memberontak dan melepaskan diri, akan tetapi posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan itu.
Melihat suaminya mendekat dan terlihat mengkhawatirkan wanita selingkuhannya, Amber mengambil vas bunga dan membantinganya. Kemudian mengambil pecahannya untuk dia gunakan sebagai senjata, untuk melukai Citra.
"Sa--sayang, kamu bisa membunuhnya! Lepaskan!" pekik Charles yang takut dengan kelakuan istrinya, tapi tidak berani mendekat karena Amber menekan pecahan yang dia pegang ke leher Citra.
"Lepas, katamu?" Amber tertawa melihat kelakuan suaminya yang dengan teganya tidak merasa bersalah, atas apa yang diperbuat.
Merasa ada kesempatan, Citra mencoba menjauh. Namun, tangan Amber lebih cepat, kembali menarik rambut Citra hingga beberapa helai tercabut paksa.
"Lepaskan aku, Jalang. Sakit!" rintih wanita yang tidak punya malu. "Akh!" pekik wanita itu saat darah mengalir dari kepalanya. Matanya sudah berkunang-kunang, karena rasa sakit di kepalanya.
"Apa kamu bilang? Aku Jalang?" Senyum Smirk sangat nampak di sudut bibir Amber yang tangannya sudah berlumur darah.
Amber meraih pecahan vas bunga yang berukuran besar, kemudian mengayunkan tangannya ke arah dada Citra dan teriakan melengking terdengar menyayat. Wajah dan tubuh citra tidak luput dari goresan yang dibuat oleh Amber, wanita blasteran itu seperti sedang memahat karya seni di tubuh selingkuhan suaminya.
Charles tidak berani berbuat apa-apa, saat melihat kelakuan Amber. Baru kali ini dia melihat istrinya berubah menjadi bengis dan tidak terkontrol.
"Aaakh! Charles tolong aku!" pekik Citra, yang mencoba menjauh dari Amber.
Dengan sisa tenaga, Amber memberikan tendangan tepat di tulang rusuk Citra, membuat wanita itu kembali memekik kesakitan.
Amber tertawa dengan sangat puas melihat darah yang mengucur dari luka yang dia pahat di tubuh Citra, Amber kembali mengambil pecahan vas bunga yang baru dan meletakkannya di leher Citra, saat Charles mendekatinya.
"Jangan bergerak dan segera menjauh dari korban!" teriak seseorang dari belakang Amber.
Tawa yang tadinya menggema di seluruh ruangan, kini senyap seketika. Amber melihat ke belakang dan mendapati dua polisi sedang mengarahkan senjata ke tubuhnya.
"Hebat kamu, Mas! Demi melindungi selingkuhanmu ini, kamu memanggil polisi!" Amber menjatuhkan pecahan kaca yang ada di tangannya. "untuk saat ini, kalian terbebas." Amber membuang pandangannya ke arah jendela, menghindari tatapan memelas Charles.
"Bu--bukan aku sayang, bukan aku!" Charles mendekati Amber dan berusaha menjelaskan semuanya pada polisi, tapi keduanya mengabaikan Charles.
Tidak ada yang menyadari, seseorang sedang tersenyum bahagia melihat tangan Amber sedang diborgol, bagaikan penjahat besar.
Rumah itu sudah tidak berdebu lagi. Catnya baru, putih gading. Foto keluarga yang dulu bolong terkena peluru Paman Darto kini sudah diganti bingkai baru, tapi lubang peluru di dinding sengaja tidak ditambal. Amber membiarkannya. Sebagai pengingat.Sore itu, Amber sedang menyapu teras dengan daster, rambut diikat berantakan. Tidak ada pistol di pinggang. Hanya gelang karet.Dafa datang dengan dua kantong belanjaan, napasnya terdengar ngos-ngosan."Amber! Kulkas kosong lagi! Kau makan apa selama aku di kampus?! Angin?!""Aku diet," jawab Amber enteng."Diet apaan, kemarin malam kau menghabiskan ayam goreng Hulton dua porsi!" Dafa menaruh belanjaan dengan berisik.Hulton keluar dari dalam rumah, membawa laptop dan kemeja yang belum dikancing sempurna. Wajahnya sudah tidak setegang dulu."Jangan berantem di teras orang tua," katanya, lalu menatap Amber. "Amber, sidang vonis Paman Darto dimajukan jadi minggu depan. Jaksa minta kau hadir."Amber berhenti menyapu."Aku tidak mau datang, Hult
Oke, Paman Darto melawan.Saat Hulton memberi isyarat ke tim di luar untuk masuk, tangan Paman Darto yang gemetar tadi tiba-tiba berhenti.Matanya kembali dingin."Kau pikir aku akan membusuk di penjara?" desisnya.Dalam sepersekian detik, ia membalik meja kayu di depannya. Teko teh panas menyiram ke arah wajah Hulton."HULTON AWAS!" teriak Amber.Hulton menghindar, tapi air panas itu mengenai lengannya. Pistolnya terlepas, jatuh ke lantai.Paman Darto tidak lari ke pintu. Ia meraih tongkat eboninya. Ternyata bukan tongkat biasa._KLIK._Ujung tongkat itu terbuka. Bukan pisau. Sebuah pistol kecil satu peluru, sudah terpasang.Ia tidak mengarahkannya ke Hulton. Ia mengarahkannya ke Dafa. Ke Pangeran Kecil-nya."Kalau nama Wijaya tidak bisa jadi milikku," katanya, napasnya memburu, "maka tidak akan ada Wijaya lagi!"Dafa membeku. Jaraknya hanya dua meter.Amber tidak berpikir. Ia tidak mengambil pistolnya yang di lantai.Ia melompat.Ia menabrak tubuh Dafa hingga keduanya terjatuh ke be
Hujan makin deras ketika limusin hitam itu hilang di tikungan parkiran VIP. Isyarat diam dari Paman Darto itu masih terbayang di kepala Amber. "Dia memancing kita," kata Hulton, menarik Amber menjauh dari pilar. "Jebakan. Dia sengaja mendarat di bandara ini padahal dia bisa lewat perjalanan darat. Dia mau kita langsung melihat dia." Tablet di tangan Dafa bergetar keras. Titik merah yang menandakan mobil Paman Darto tiba-tiba berhenti, lalu berbelok arah. Tidak menuju jalan tol. "Amber... dia tidak ke hotel," ujar Dafa lirih. "Rutenya... ini rute ke rumah lama. Rumah kakek." Rumah Wijaya. Tempat Amber dan Dafa menghabiskan masa kecil. Tempat foto-foto keluarga mereka masih tergantung di dinding. Tempat orang tua mereka terakhir kali tertawa. Amber membeku. Napasnya yang tadi memburu kini berhenti total. "Dia gila," desisnya. "Dia mau kita selesaikan di sana." Hulton langsung paham. "Tempat yang penuh kenangan. Dia mau kau ragu. Kalau kau menembak di sana, kau menodai ruma
Hujan kembali turun di kota, seolah langit setuju bahwa darah harus dibasuh sebelum tumpah. Amber berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu rumahnya, menatap butiran air yang membasahi kaca. Di belakangnya, Hulton sedang memeriksa ulang peralatan tempur mereka: dua pistol berperedam suara, beberapa magazin cadangan, dan pisau komando. Dafa baru saja tiba, wajahnya tegang, membawa tablet yang menampilkan rute pergerakan target. "Paman Darto," gumam Dafa, suaranya penuh dengan jijik yang tertahan. "Aku masih ingat wajah pria itu. Dia selalu tersenyum manis padaku saat kecil. Memberiku permen. Memanggilku 'Pangeran Kecil'. Dan ternyata, di balik senyum itu, tersimpan racun yang membunuh orang tuaku." Amber tidak menoleh. Punggungnya kaku. "Dia bukan sekadar pembunuh, Dafa. Dia adalah arsitek kehancuran kita. Jika dia yang memberi perintah pada Volkov, jika dia yang memanipulasi Charles, jika dia yang menciptakan The Syndicate... maka dialah akar dari semua penyakit ini." Hulton m
Sudah lebih dari sebulan, Amber berada di balik jeruji dan hampir setiap harinya Charles selalu datang berkunjung. Bukan hanya Amber saja yang jengah, tapi para sipir penjara pun bosan melihat wajah memelas Charles. Ya, dikarenakan Amber selalu menolak untuk menemui suaminya itu, dan Charles sangat
Citra menggeliat, merasai tubuhnya yang remuk redam akibat ulah Charles. Tangannya meraih sesuatu, tapi yang diraih tidak ada. Wanita itu membuka matanya dan melihat ke arah samping, tidak ada Charles di sana. Dengan cepat, Citra memakai kimononya dan menghidupkan lampu kamar, sejenak dia tertegun,
Zera gelagapan mendengar suara sentakan dari Citra, dirinya kelepasan. Dengan cepat memasang wajah sendu dan mata berbinar, memandang sayu ke arah bosnya itu."Maksudku, aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang, karena sudah menyebabkan keadaan dirimu seperti ini!" Zera berkilah dan beruntungny
Charles terpaksa pulang dengan tangan kosong lagi, geram dengan kelakuan istrinya yang terlalu mengedepankan egonya. Charles hanya merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini, karena Amber terlalu sibuk menurutnya. Lelaki itu tidak tau, jika hati wanita sudah tersakiti, maka tidak akan ad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.