로그인Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.
Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang
Dunia kembali menjadi gelap. Tapi kali ini, kegelapan itu tidak hening. Ia dipenuhi oleh suara tawa yang melengking, gema dari neraka pribadi Amber. "Bangun, Nona." Suara itu terdengar jauh, seolah berasal dari dasar sumur yang dalam. Dingin. Basah. Berbau amis. Amber mengerjapkan matanya. Cahaya redup menyilaukan pandangannya. Kepalanya berdenyut hebat, lebih parah dari sebelumnya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar denyutan, tapi seperti ada paku yang ditancapkan ke dalam otaknya setiap kali ia mencoba bernapas. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Terikat. Tali kasar mengikat pergelangan tangannya ke kursi besi yang dingin. Kakinya juga terikat. Ia tidak bisa bergerak. Pemandangan di depannya perlahan memfokus. Sebuah ruangan bawah tanah yang lembap. Dinding beton berlumut. Di sudut ruangan, sebuah lampu neon berkedip-kedip, menciptakan efek strobo yang membuat mual. Dan di hadapannya, duduk seorang pria di atas kotak kayu tua. Pria itu sedang membersihkan kukunya dengan pisau l
Gedung tua di kawasan itu telah disulap menjadi taman pernikahan yang intim dan elegan. Rangkaian bunga mawar putih dan anggrek hitam—kombinasi favorit Amber—menghiasi setiap sudut. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan lembut pada wajah-wajah tamu undangan yang terbatas: hanya keluarga inti, Nyonya Anggie, Dafa, Olive, Bintang, Ina, dan beberapa anggota AVRON terpercaya. Amber berdiri di ruang ganti, mengenakan gaun pengantin sederhana namun memukau. Kain sutra putih jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, sementara mahkota kecil dari berlian bertatahkan batu onyx menghiasi rambutnya yang disanggul rapi. Ia menatap cermin, matanya berbinar bahagia. Di balik pintu, Hulton menunggu dengan gugup, memegang cincin kawin yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. "Kau cantik sekali, Nona Amber" bisik Olive, menyesuaikan Amber dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Liv," jawab Amber, tersenyum lebar. "Aku tidak sabar melihat wajah Hulton nanti. Aku juga tidak menyangka, ak
Dua minggu telah berlalu sejak ledakan, Kota Lama kembali ke ritme normalnya yang hiruk-pikuk, namun bagi mereka yang berada di lingkaran dalam, dunia terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih waspada.Dampak dari pengungkapan data "The Syndicate" oleh Amber dan Hulton memang dahsyat, tapi tidak instan. Saham DIRJAYA CORP anjlok 15% dalam tiga hari pertama karena rumor keterlibatan Pak Hendro dalam pencucian uang internasional. Investor panik. Media menggali setiap skandal lama. Sementara itu, Wijaya Group milik Hulton juga terkena imbas. Reputasi "Raja Hitam" yang bocor sedikit demi sedikit membuat beberapa mitra bisnis asing menarik diri, takut terseret konflik bawah tanah.Di kantor pusat DIRJAYA CORP yang kini lebih sepi, Amber duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ia menatap grafik penurunan saham di layar monitor dengan wajah datar. Di seberang meja, Dafa sedang menelepon para kreditor, suaranya lelah namun tetap persuasif."Kita akan segera pulih, Amber" ucap Dafa setelah menutup t
Hujan deras mengguyur kawasan Kota Lama, mengubah jalan berkelok menjadi lintasan licin yang mematikan. Kabut tebal menyelimuti hutan pinus, menciptakan ilusi optik yang membingungkan. Di tengah kegelapan itu, sebuah vila megah bergaya kolonial berdiri kokoh di atas tebing—kediaman peristirahatan Pak Hendro Wijaya. Dari luar, vila itu tampak tenang, lampu-lampu tamannya redup, seolah tidur. Tapi bagi mata terlatih Amber dan Hulton, setiap sudutnya bersinar dengan tanda bahaya: sensor gerak tersamar, kamera CCTV berputar lambat, dan siluet penjaga bersenjata yang berpatroli di balik jendela kaca anti-peluru. "Tim Alpha, posisi siaga di perimeter utara," bisik Dafa melalui earpiece, suaranya datar namun penuh ketegangan. Ia bersembunyi di balik semak belukar bersama lima anggota elit AVRON, wajah mereka dicat hitam untuk menyamarkan diri dalam kegelapan. "Tim Beta, tutup jalur evakuasi selatan. Jangan biarkan satu nyamuk pun lolos." "Siap, Ketua," jawab Ina dari posisinya di pohon ti
Olive memandangi wajah Amber yang masih terlelap akibat bius, wanita itu tersenyum, lalu mengusap wajah ayu atasannya. Setitik air mata jatuh, tidak menyangka, jika wanita yang dia dampingi sejak bertahun-tahun lalu, bisa kalah hanya karena persoalan lelaki, maka pemikirannya untuk tidak meikah sud
Beberapa wanita berseragam, dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, menatap ke sekitar. Mimik wajah mereka sangat kentara menyimpan kekesalan. Namun, karena tugas, mereka harus bisa mengendalikan perasaan. Baru saja, salah satu wanita berseragam itu hendak berbicara, beberapa napi sudah mendahului
"Tidak, anakku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" pekik Citra.Amber yang tadinya mau mencari dokumen miliknya, malah mendapati pemandangan yang di luar perkiraannya. Citra sedang terduduk menahan kesakitan dan ada darah segar di lantai. Amber sungguh tidak peduli, dia masuk dan mengabai
"Hei, kamu!" pekik Citra.Saat satu pelayan lewat di depannya, setelah pesta usai. Wajah pias pelayan itu sangat kentara, matanya tidak berani melihat ke ara Citra."I-iya, Nona Citra," lirih suaranya.Dahi Citra mengernyit, saat mendengar jawaban si pelayan, tapi itu tidak membuatnya senang. Citra







