로그인Kabar tentang Citra masuk penjara menyebar seperti api liar di kalangan sosialita Jakarta. Tidak ada simpati yang mengalir untuk wanita itu; justru desas-desus tentang kejahatannya yang terungkap—pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan, hingga upaya pembunuhan berencana terhadap Amber—membuat publik merasa keadilan akhirnya ditegakkan. Bagi Amber, berita itu bukan kemenangan manis, melainkan penutupan luka lama yang berdarah-darah. Ia tidak tersenyum saat mendengar vonis hakim. Yang ia rasakan hanyalah keheningan dingin di dadanya, seolah jiwanya baru benar-benar sembuh setelah melihat orang yang pernah menghancurkan hidupnya merasakan rasa sakit yang sama.Sementara Citra mendekam di balik jeruji besi, Charles menerima hukumannya sendiri: kehilangan segalanya. Bukan hanya istrinya, tapi juga harga dirinya. Amber tidak memberinya ruang untuk bernegosiasi. Akta cerai yang dulu ia tolak mentah-mentah kini ia tandatangani dengan tangan gemetar, matanya merah bukan karena cinta yan
Defi tidak membuang waktu. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans robek-robeknya, jari-jari tangannya menari lincah di atas layar. Hanya dalam hitungan detik, tiga panggilan telepon berhasil tersambung. Ia meletakkan ponsel di tengah meja kopi, mengaktifkan mode speaker, agar Amber bisa mendengar sekaligus memantau reaksi ketiga anggotanya itu secara langsung.Deringan sambungan terdengar nyaring di ruang tengah yang hening sejenak."Halo?" suara berat Jodi terdengar pertama kali, terdengar lelah dan sedikit defensif."Ya, Defi? Ada apa tiba-tiba menelepon?" sambut Lukman dengan nada datar, seolah sudah bosan dengan drama internal AVRON.Bima hanya mendengus pelan sebagai tanda bahwa ia menyimak, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suasana tegang langsung merambat melalui speaker ponsel itu. Perselisihan mereka bukan lagi rahasia; itu adalah fakta yang menggantung di udara seperti asap rokok yang tak kunjung hilang.Amber menatap ponsel itu dengan tatapan tajam. Wajah masamn
Di ruang tengah rumah megah milik Olive, wanita itu menari-nari dengan selembar kertas yang ada di tangannya. Bersenandung lirih, lalu tertawa. Tubuhnya merayakan kemenangan yang sudah jelas akan terjadi, yaitu perceraiannya dengan Charles. Entah bagaimana, lelaki yang enggan bercerai dengannya, malah mengirimkan akta cerai yang sudah disahkan."Padahal, kamu bisa saja memaksanya untuk bercerai! Saat lelaki itu bermain belakang!!" Nada ketus meluncur begitu saja dari bibir Olive yang penuh dengan buah.Amber menghentikan langkahnya yang berputar-putar, menghadap ke arah Olive. Jalan mendekat dengan wajah masam dan tatapan dingin. Melipat bibirnya dan menyipitkan matanya, napasnya terengah-engah, tapi mampu dikontrolnya dengan baik.Saat tangannya di depan wajah Amber dengan jari telunjuk mengacung lurus, "Haiiiii, ladiiiiiis!" pekik seseorang dari luar dengan wajah riangnya dan Amber langsung menoleh, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan dan membuat jengk
"Kenapa?" tanya Amber yang mendengar ada keraguan pada pernyataan Olive."Ehtahlah, aku meragukan dia!"Amber menatap olive yang diam dan beberapa kali menghela napas panjang, Amber yakin ada sesuatu yang dia ketahui, tapi belum pasti kebenarannya. Amber tahu betul karakter Olive. Gadis itu akan melindungi dirinya dengan segala apa yang dia ketahui, hanya saja terkadang Amber mengabaikan peringatan itu."Kenapa begitu?" selidik Amber."Sudah kubilang, entahlah. Ada sesuatu yang dia sembunyikan!" Olive menjawab dengan nada rendah, seakan dia pun ragu dengan apa yang dia ucapkan.Melihat Olive yang kembali menghela napas, Amber tertawa terbahak-bahak, sampai melupakan rasa sakit bekas jahitan yang masih belum kering. Sedangkan Olive, diam mematung mendengar suara tawa Amber yang menggelegar di dalam ruangan. Gadis itu masih belum bisa membaca kepribadian atasannya itu, ada kalanya Amber bersikap lembut dan bersahaja, Ada kalanya dia seperti monster yang berbahaya pun ada kalanya wanita i
Olive memandangi wajah Amber yang masih terlelap akibat bius, wanita itu tersenyum, lalu mengusap wajah ayu atasannya. Setitik air mata jatuh, tidak menyangka, jika wanita yang dia dampingi sejak bertahun-tahun lalu, bisa kalah hanya karena persoalan lelaki, maka pemikirannya untuk tidak meikah sudah tepat."Kenapa kamu membiarkan dia menanggung semuanya sendiri?" tanya Olive pada lelaki kekar di sampingnya."Belum saatnya dia mengetahui semuanya, jika aku sudah menemukan siapa dibalik semua kekacauan yang terjadi pada keluargaku, maka aku akan memluknya dengan sangat erat dan menjaganya tanpa ada keraguan!" jawab lelaki ityu dengan senyum mengembang, sayangnya sudut matanya sudah menggenang cairan bening. "Baiklah, aku harus pergi!""Dia membutuhkanmu!" Tekan Olive.Namun, lelaki itu berlalu begitu saja dengan menggengam lukanya sendiri. Dia yakin, wanita yang sedang terbaring itu tidaklah lemah. Kekuatan hatinya lebih dari yang dilihat orang lain, begitulah yang dia saksiakn selama
Beberapa wanita berseragam, dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, menatap ke sekitar. Mimik wajah mereka sangat kentara menyimpan kekesalan. Namun, karena tugas, mereka harus bisa mengendalikan perasaan. Baru saja, salah satu wanita berseragam itu hendak berbicara, beberapa napi sudah mendahuluinya."Biarkan saja wanita itu mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah dia perbuat!" teriak napi di sel depan."Iya, setidaknya dia akan berpikir lagi untuk melakukan hal buruk dikemudian hari!" timpal yang lain."Ah, paling juga uang yang akan berbicara!" celetuk seseorang yang sudah paham dengan hukum yang ada di negara ini."Amplop coklatnya pasti berukuran tebal!" imbuh yang lain dan disambut tawa banyak napi.Semakin lama, semakin banyak celetukkan yang membuat wanita-wanita berseragam itu menghela napas panjang. Salah satu dari mereka menampakan kekesalannya hampir memuncak, meskipun itu adalah fakta yang terjadi di lapangan dan sudah menjadi rahasia umun, tapi masih saj
Citra diseret keluar ruangan, hal itu tentu menarik perhatian para pengunjung dan juga para pekerja yang bekerja di rumah sakit."Berulang kali mereka mempermalukan aku! Apa kurangnya aku?" gumam Citra, wanita itu belum juga menyadari kesalahan yang di buatnya Sungguh ironis.Wanita itu menundukkan
"Tidak, anakku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" pekik Citra.Amber yang tadinya mau mencari dokumen miliknya, malah mendapati pemandangan yang di luar perkiraannya. Citra sedang terduduk menahan kesakitan dan ada darah segar di lantai. Amber sungguh tidak peduli, dia masuk dan mengabai
Setelah acara makan, Amber kembali ke kamarnya yang masIih tersisa sentuhan Citra, membuatnya berdecak kesal. Charles seperti anak itik yang mengikuti indunya, ke manapun kaki induknya pergi."Kenapa?" tanya Charles yang melihat Amber mematung memandangi kamarnya.Amber diam, matanya tertuju pada t
"Hei, kamu!" pekik Citra.Saat satu pelayan lewat di depannya, setelah pesta usai. Wajah pias pelayan itu sangat kentara, matanya tidak berani melihat ke ara Citra."I-iya, Nona Citra," lirih suaranya.Dahi Citra mengernyit, saat mendengar jawaban si pelayan, tapi itu tidak membuatnya senang. Citra







