LOGIN
"Pangeran Torin, Anda tidak makan?" sebuah suara melengking memecah lamunan Torin.
Torin mendongak, matanya yang redup bertemu pandang dengan Pangeran Valari, adik tirinya, yang berdiri di seberang meja dengan seringai licik. Valari memegang sepotong besar daging panggang, gemuknya berkilauan.
"Ah, maafkan saya, Kakak," kata Valari, suaranya dipenuhi sindiran yang manis. "Sepertinya Anda terlalu terpesona dengan hidangan istana sampai lupa bagaimana cara makan."
Tanpa peringatan, Valari mengayunkan tangannya, dan sepotong daging panggang itu meluncur bebas, mendarat dengan bunyi plop di pangkuan Torin.
Minyaknya menyebar, menciptakan noda gelap di jubah Torin yang memang sudah lusuh.
Tawa meledak di seluruh aula. Para bangsawan menunjuk, beberapa menutupi mulut mereka, yang lain terang-terangan mengejek.
"Dasar ceroboh!" bisik seorang wanita bangsawan, suaranya meremehkan.
"Pangeran bodoh memang tidak pantas duduk di sini!" sahut bangsawan lainnya.
Torin hanya menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja, tetapi ekspresinya tetap kosong. Dia membiarkan noda itu menyebar, membiarkan tawa itu menusuk. Inilah dirinya, "Pangeran Bodoh" yang selalu dipermalukan.
Valari tersenyum puas. "Ups, maafkan saya, Kakak. Tangan saya licin." Ia pura-pura menyesal, padahal matanya berbinar kemenangan.
"Mungkin Anda harus kembali ke kamar Anda. Terlalu banyak keramaian sepertinya membuat Anda bingung."
****
Beberapa minggu berlalu, namun hidup Torin tak menunjukkan tanda-tanda membaik. Sebaliknya, penghinaan terhadapnya kian menjadi-jadi, seolah Valari tak pernah puas.
Pagi itu, Torin mencoba membaca di perpustakaan kekaisaran, sebuah tempat yang seharusnya memberinya kedamaian.
Ia duduk di sudut terpencil, mencoba memahami gulungan-gulungan kuno yang kini terasa begitu menarik baginya.
Tiba-tiba, suara nyaring Valari menggelegar dari pintu masuk perpustakaan, mengacaukan ketenangan. "Lihat siapa ini! Tikus perpustakaan rupanya!"
Valari tidak sendiri. Di belakangnya, berdiri Pangeran Darien, sepupu mereka yang angkuh, dan Nona Serena, putri seorang bangsawan kaya yang terkenal dengan lidah tajamnya. Mereka adalah antek-antek Valari yang paling setia dalam menyiksa Torin.
"Torin?" Darien menyeringai. "Aku kira perpustakaan ini hanya untuk mereka yang bisa membaca. Jangan-jangan kau hanya membalik halaman kosong, bukan begitu?"
Serena tertawa renyah, menutupi mulutnya dengan kipas. "Atau mungkin ia sedang mencari buku tentang bagaimana cara mengingat namanya sendiri? Kudengar ia sering lupa di mana kamarnya berada!"
Torin menahan napas, tangannya meremas gulungan kertas. Ia ingin membalas, tapi ia harus tetap pada perannya.
"Oh, Serena, jangan terlalu kasar," Valari pura-pura menengahi, namun senyum liciknya tak bisa disembunyikan. Ia mendekat, tangannya meraih gulungan yang sedang dibaca Torin.
"Apa ini? Sejarah Kekaisaran? Ah, betapa mulianya minatmu, Kakak. Sayangnya, buku-buku ini terlalu tebal untuk otakmu yang kecil."
Valari dengan sengaja merobek gulungan itu menjadi dua, lalu melemparkannya ke lantai.
Torin merasakan denyutan amarah di dadanya, tapi ia hanya menunduk.
"Kau tahu, Torin," Valari melanjutkan, suaranya kini lebih lembut tapi menusuk, "ayah kita pasti sangat kecewa melihatmu.
Seorang pewaris yang bahkan tak bisa mempertahankan kehormatannya sendiri. Aku yakin di alam baka sana, ia merasa malu memiliki putra sepertimu."
Kata-kata itu bagai belati yang menusuk langsung ke jantung Torin. Ayahnya. Torin mengepalkan tinju begitu erat hingga kukunya menancap di telapak tangan.
"Aku kasihan pada Permaisuri Elara," tambah Serena, "ia pasti menghabiskan seluruh hidupnya berharap putranya akan tumbuh menjadi seseorang yang berarti. Tapi yang ia dapatkan hanyalah... kau."
"Jangan bicara seperti itu tentang ibuku!" Torin hampir saja membantah, suaranya bergetar. Namun ia berhasil menahannya, hanya bisikan samar yang keluar.
Valari tertawa. "Lihat, ia bahkan tidak bisa membela ibunya sendiri! Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa memimpin kekaisaran?" Ia menatap Darien dan Serena.”
"Ia bahkan tidak lebih dari bayangan yang lewat. Benar-benar sampah masyarakat istana."
Valari lalu membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Torin.
"Dengar, Pangeran Bodoh. Sebaiknya kau tetap di sudutmu, bermain dengan buku-bukumu yang rusak. Karena takhta ini, kehormatan ini, bukan untukmu. Tidak akan pernah."
Dengan tawa merendahkan, Valari, Darien, dan Serena meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Torin sendirian di antara gulungan yang berserakan.
Torin tetap di sana, wajahnya kosong, tetapi di dalam hatinya, setiap kata-kata kejam itu tercetak dalam hatinya.
Matahari pagi menyinari puncak Tebing Tra dengan lembut, memantulkan cahaya dari butiran uap air terjun yang kini selalu tampak kebiruan.Suasana di Askaron begitu hidup; orang-orang sibuk mengemas barang, membawa persembahan, dan bunga-bunga hutan untuk dibawa turun ke wilayah bawah.Di balkon kediamannya yang menghadap langsung ke hamparan hijau, Torin sedang berdiri menatap cakrawala. Langkah kaki yang mantap namun ringan terdengar mendekat.Itu adalah Rion, yang kini terlihat lebih segar dengan pakaian linen berwarna cokelat bumi, selaras dengan energi hutan yang mengalir dalam dirinya.Rion berdiri di samping Torin, menatap ke arah Safana Tra yang kini tampak seperti permadani hijau zamrud di kejauhan."Tuan," buka Rion dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Lusa adalah hari yang dijanjikan. Saya akan melangsungkan pernikahan dengan Lara di Safana Tra. Semua persiapan sudah hampir rampung."Torin menoleh dan menepuk bahu sahabatnya itu. "Aku tahu, Rion. Seluruh Askar
Kemudian Torin menurunkan zeni di depan kamar tebing atas kamar yang sangat prifat dan dari kamar ini bisa melihat suasana dari setengah ketinggian tebing melihat penduduk suku ek yang berdiam di bantaran Sungai tra.Malam semakin larut, namun gema pesta di kediaman Zano masih terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Di puncak tebing, di dalam kamar yang berbatasan langsung dengan gemuruh halus Air Terjun Tra, suasana terasa jauh lebih tenang namun bermuatan energi yang pekat.Torin berdiri di balkon, menatap aliran air biru yang menyala dalam kegelapan. Tiba-tiba, Zeni masuk dengan langkah yang manta pia memberikan jahe madu kepada suaminya. Mereka menikmati malam dari balkon sebelum bercinta kembali.Zeni mendekat, langkah kakinya terhenti tepat di belakang Torin. Ia bisa merasakan hawa dingin yang segar—bukan dingin yang membekukan, melainkan energi murni dari Pedang Langit yang merembes keluar dari pori-pori Torin."Semua orang merayakan namamu di bawah sana," bisik Zeni, suaranya ser
Zano dan Zeni yang sedang berjalan melewati pasar untuk mengambil pasokan logistik, ikut menimpali pembicaraan warga dengan gaya mereka yang khas."Dengar semuanya!" seru Zano sambil membusungkan dada. "Askaron bukan lagi desa kecil yang bersembunyi di balik pohon rot. Kita punya pemimpin yang bisa memerintah air dan menumbuhkan hutan dalam semalam.Persiapkan diri kalian, karena Askaron akan menjadi nama yang paling disegani di seluruh daratan ini!"Zeni menambahkan dengan nada yang lebih serius, "Tapi jangan cuma bergantung pada kekuatan mereka. Tuan Torin dan Rion sudah memberi kita fondasi yang kuat.Sekarang tugas kita adalah membangun dindingnya. Askaron yang kuat lahir dari rakyat yang tangguh!"Sorak-sorai kecil terdengar dari kerumunan. Ada rasa bangga yang menyelimuti setiap keringat yang jatuh pagi itu. Mereka yakin, selama Torin beristirahat di tebingnya dan Rion berjaga di safananya, Askaron akan tetap aman.**Malam jatuh di Tanah Tra, namun kegelapan tak lagi terasa men
Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela formasi batuan tebing, membawa kehangatan yang berbeda dari biasanya. Jika kemarin matahari terasa membakar, pagi ini sinarnya terasa lembut, seolah ikut merayakan lahirnya kehidupan baru di Tanah Tra.Di kamar pribadinya yang terpahat langsung di dinding tebing, tak jauh dari gemuruh halus air terjun, Torin merebahkan tubuhnya. Ruangan itu terasa sejuk uap air yang terbawa angin masuk melalui jendela, memberikan aroma mineral yang segar.Torin masih mengenakan pakaian yang semalam bersinar biru, namun kini ia tampak seperti manusia biasa yang kelelahan. Meski begitu, di bawah kulitnya, masih terasa denyut energi Pedang Langit yang telah menyatu dengan jiwanya.Setiap kali ia memejamkan mata, ia bisa mendengar aliran air di seluruh sungai seolah itu adalah detak jantungnya sendiri.Ia butuh waktu untuk menstabilkan kekuatan besar ini. Dengan napas yang teratur, Torin tertidur lelap, sementara air terjun di luar kamarnya terus mengalir denga
Di tengah gemuruh air yang kini sewarna langit senja, Torin mulai bergerak. Ia tidak melangkah, melainkan meluncur keluar menembus tirai air dengan posisi kaki yang masih bersila sempurna. Jubahnya kering, seolah air itu sendiri segan untuk menyentuhnya.Ia melayang rendah di atas permukaan Sungai Tra, menciptakan riak-riak cahaya setiap kali energinya bersentuhan dengan air. Tubuhnya seakan menjadi inti dari rembulan itu sendiri.Tenang, dingin, namun menyimpan kekuatan penghancur sekaligus penyembuh yang luar biasa. Setiap embusan napas Torin kini selaras dengan denyut alam semesta di tanah Tra.Sementara Torin menguasai elemen langit dan air, di kejauhan, Rion melakukan hal yang berbeda. Jika Torin melayang menuju angkasa, Rion justru semakin menenggelamkan kesadarannya ke dalam inti bumi.Telapak tangan Rion menyentuh tanah safana yang kering, dan seketika itu juga, warna cokelat kusam mulai memudar.Seperti tinta yang tumpah di atas kertas, warna hijau zamrud merambat cepat dari
Tangan Aruna yang lembut namun cekatan sibuk merawat tanaman-tanaman obat langka yang sengaja ia tanam:Tanaman yang ia siapkan untuk memulihkan energi Torin setelah semedi Api Biru.Obat yang ia racik khusus untuk menetralisir efek samping dari aroma iron brak jika suatu saat anak buahnya terpapar terlalu lama.Aruna adalah sosok ibu yang pendiam namun penuh kasih. Baginya, jika Torin adalah pedang yang merobek musuh, maka dialah obat yang menyembuhkan luka-luka anaknya. Ia terus menanam dan berdoa, memohon pada alam agar putra tercintanya tetap memiliki sisi kemanusiaan di tengah kobaran Api Biru.Matahari akhirnya menghilang sepenuhnya di garis cakrawala. Paman Tapa beranjak dari bayang-bayang pepohonan, melangkah menuju Rion dan Lara untuk mengajak mereka pulang ke rumah."Sudah cukup bermesraannya," suara berat Paman Tapa mengagetkan mereka berdua. Rion langsung berdiri tegak seperti prajurit, membuat Lara tertawa geli. "Malam ini bulan purnama akan segera naik. Kita harus kembal







