Share

Sarang Penyamun

Kiran sama sekali tak menangis atau berteriak meski tubuh ringkihnya diseret paksa keluar dari ruangan itu. 

Kiran tak tahu akan dibawa ke mana dia. 

Lagi-lagi perasaan familiar akan tempat ini dia rasakan, tapi dia juga tak bisa mengingat kapan dia pernah datang kemari. 

“Lihat! Dapur kotor, makanan tak ada cucian menumpuk!” 

Kiran jatuh terjerembab di lantai yang dingin, perlahan dia bangkit dan menatap sekelilingnya. 

Sebuah dapur yang bersatu dengan tempat cuci. Apa dia jadi pembantu di sini? Tapi masalahnya dia tidak pernah memasak apalagi mencuci pakaian. 

Ah dia pernah memperhatikan bibi di rumahnya mencuci dengan mesin cuci. 

Susah payah Kiran bangkit, dia lalu menatap dua orang itu tajam sebelum mengambil barang belanjaan yang berserakan. 

Entahlah dia tidak tahu akan masak apa? atau lebih tepatnya apa dia bisa menyajikan makanan yang layak makan tanpa membakar seluruh dapur. 

“Aku lapar, Ma. Suruh dia cepat masak.”

“Kamu dengar bukan, Kakakmu sudah lapar, cepat masak!” 

Kiran bergidik jijik saat Mala mulai duduk dan mengupil di meja makan. Astaga keluarga macam apa tempatnya nyasar ini. 

Sedangkan wanita paruh baya yang dipanggil ibu itu duduk menatap anak gadis nya dengan pandangan sayang. 

Tiba-tiba, ia terbesit sebuah rencana. Ia pun langsung mulai bekerja. 

Kiran bergerak perlahan memotong-motong sayuran dengan asal, lantas memasukan bumbu apa saja yang ada di depan matanya. Begitu juga cabai dan merica dengan tumpah ruah.

"Aku harap ini sedikit membalaskan perbuatan mereka pada sosok Ayu!"

Kiran sedikit menoleh ke belakang, memastikan kedua orang itu tidak melihat perbuatannya.

Beberapa saat kemudian...

“Brakk!”

Kiran yang masih membersihkan bekas piring kotor yang ada di sana terlonjak kaget saat mendengar gebrakan meja dan siapa lagi yang membuat ulah kalau bukan gadis bernama Mala itu.

“Sabar sayang, si Ayu memang lelet,” kata sang ibu lembut, tapi saat pandangannya beralih pada Kiran berubah seperti singa. 

“Kita makan di luar saja, Bu,” kata Mala lagi. 

“Jangan!” Kiran dan wanita yang dipanggil ibu itu berbicara bersamaan dan tentu saja dengan alasan yang berbeda. 

“Aku sudah masak,” kata Kiran memberi alasan pada keduanya. 

Sang ibu menarik napas panjang dan menatap Mala dengan sayang. “Benar, keenakan dia kalau hari ini makan kenyang.” 

Kiran mendengus, ia tak dapat membayangkan seberapa tersiksa Ayu di kehidupan sebelumnya.

Ia pun mengambil mangkuk dan buru-buru mengambil sup yang entah dia sendiri sama sekali tidak tahu apa bisa dimakan manusia. Itu juga alasannya membuat makanan ini untuk membuat mereka jera.

Lalu, tiba-tiba...

“Huekkk!”

“Kamu sengaja mau meracuni kita ya!” 

“Itu dari bahan makanan yang tadi ibu berikan,” kata Kiran sambil menunduk tapi dalam hati dia tidak bisa menghentikan tawanya.

Tubuhnya memang lemah, tapi dia bukan orang yang bisa ditindas seenaknya!

“Dia berani mempermainkan kita, kurung saja di gudang jangan beri makan!” kata Mala dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. 

Diam-diam tangan Kiran bergerak dan begitu sang ibu akan mengayunkan tangannya untuk memukul Kiran, wanita itu menangkis dengan teflon di tangannya. 

Kiran bisa melihat wajah wanita paruh baya itu begitu geram padanya, tapi apa peduli Kiran. 

Kiran kira wanita itu akan maju dan menghajarnya, akan tetapi dia malah telungkup di atas meja dan menangis keras, membuat Kiran kebingungan sendiri. 

Tak lama kemudian pintu di ketuk dari luar. 

Tak mengerti apa yang terjadi Kiran bergeges melangkah ke arah pintu kayu itu dan membukanya. 

“Ada apa kenapa ibumu menangis?” tanya wanita itu yang membuat Kiran spontan memutar bola matanya dengan malas. 

Ah pasti ini tetangga kepo yang suka ikut campur urusan orang lain. 

“Budhe, lihatlah Kiran memukul ibu dengan teflon,” kata Mala yang sudah terisak. 

Kiran melongo, seingatnya tadi teflon itu hanya digunakan sebagai tameng tapi kenapa sekarang pipi sang ibu memerah seperti baru saja terkena hantam. 

Wanita tua menatap Kiran tajam. “Kamu memang pembawa sial, ayah dan ibumu sudah kamu bunuh sekarang kamu menyakiti ibu tirimu yang sudah mau merawatmu!” 

Apa gadis ini membunuh ayah dan ibumu? 

“Apa maksud anda?” tanya Kiran. 

Wanita  tua itu terbelalak dan menampar wajah Kiran dengan keras. “Bahkan kamu tidak punya sopan santun padaku, suamiku tokoh masyarakat di sini jika kamu terus buat ulah aku akan minta mereka mengusirmu dari sini!” 

“Ini rumah ayah dan ibuku!” Kiran tak tahu kenapa dia bicara begitu, tapi dia yakin dua orang itu hanya benalu yang tinggal di sini. 

“Ayah dan ibu yang kamu bunuh! Aku sudah tidak tahan serumah dengannya budhe dia selalu saja kasar!” kata Mala dengan derai air mata. 

“Tapi ayahnya menitipkan dia pada ibu, kasihan-“

“Mala benar, sebaiknya kamu pergi saja dari rumah ini!” 

Keributan itu rupanya banyak mengundang tetangga yang meski jarak rumah mereka tak serapat perumahan sederhana tapi telinga mereka ada di mana-mana. Sayang sekali telinga mereka tidak digunakan dengan benar. 

Tapi satu hal yang baru disadari oleh Kiran akibat tindakan nekadnya? Dia belum tahu daerah sini dan jika pergi dari sini harus kemana dia? 

Akan tetapi dia juga tidak sudi untuk memohon pada mereka. 

Pagi yang sebenarnya indah ini berubah menjadi mengerikan, beberapa orang beramai-ramai menyeret Kiran pergi diikuti tangis buaya ibu tiri Ayu. 

“Aku tidak mau pergi kalian tidak berhak mengusirku!” kata Kiran dengan keras, tapi orang-orang itu makin menarik tubuhnya dengan kuat dan melemparnya ke halaman. 

“Pergi! Kamu pembawa sial! Pembunuh!” teriakan-teriakan itu membuat Kiran begitu marah, dia ingin menerjang maju tapi sadar kalau dirinya tak bisa melawan mereka semua. 

Mau tak mau Kiran melangkah pergi, nanti malam dia akan kembai ke rumah ini, dan berencana membuat dua orang itu jera. 

“Ayu!” 

Kiran melangkah menyusuri jalan berkerikil dengan kaki telanjang dan tubuh yang sakit semua. Luka-luka pukulan tadi pasti bertambah parah. 

“Yu, kamu mau kemana?” 

Kiran mengerjap, dia belum terbiasa dipanggil Ayu, karena nyatanya dia memang bukan Ayu. 

“Mereka menyuruh saya pergi,” kata Kiran datar. Di sini dia tidak bisa percaya siapapun. 

“Ikut saja denganku,” kata wanita tua itu. 

“Ibu siapa?” 

“Kamu kok lupa sama simbok, nduk ini mbok Nah yang dulu dibantu ayahmu bekerja di rumah tuan Adinata.” 

Kiran menggeleng tentu saja dia sama sekali tidak kenal. 

“Ah sudahlah ayo ikut saja, kamu juga sudah diusir dari sini, setidaknya di sana kamu bisa istirahat,” kata wanita itu dan menggandeng tangan Kiran. 

“Maaf aku kembali saja ke rumah, aku tidak kenal dengan ibu.” 

Wanita tua itu menghela napas dalam. “Kamu mau mati, Mala dan ibunya pasti akan mem-“

Kalimat wanita itu tak selesai karena dari ujung jalan orang-orang yang tadi mengusir Kiran muncul dan menatap Kiran dengan bengis. 

“Ayo kita tidak punya waktu.” 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status