Share

Bab 2

Author: Makjos
Aku adalah mahasiswa jalur prestasi peringkat satu yang langsung diterima di Universitas Oaklin, dan akhirnya memilih jurusan Teknik Informatika.

Di bidang yang kucintai, aku melaju tanpa hambatan, menguasai peringkat pertama jurusan dan bertanding di begitu banyak kompetisi besar.

Menjelang kelulusan, aku menemui Profesor Janvier yang sudah lama kukagumi untuk melanjutkan studi pascasarjana. Namun syarat yang dia berikan adalah aku harus meraih juara pertama di kompetisi internasional ini.

Untuk itu, aku memilih topik tersulit, mengurung diri di ruang komputer setiap hari untuk belajar dan meneliti.

Tak kusangka, buah kerja kerasku justru dengan mudah dipetik oleh Ruvina.

Berjalan di kampus yang sunyi, aku makin merasa bahwa pasti ada sesuatu dalam kejadian ini yang terlewatkan.

Saat aku menenangkan diri, sebuah kilasan ide tiba-tiba muncul di benakku.

Kalau karya yang sekarang tidak bisa dipakai, bukankah aku bisa menyelesaikan desainnya dengan bahasa pemrograman dan struktur yang lain!

Kembali ke asrama, aku segera mengeluarkan laptop dan tanpa henti mengetikkan baris-baris kode yang sepenuhnya baru.

Di bawah intensitas berpikir yang tinggi, aku mendadak mendapatkan gagasan baru tentang kerangka logika dan segera membangunnya.

Dengan begitu, rancangan programku tak lagi bisa dituduh sebagai plagiat, dan program yang baru bahkan berjalan lebih efisien!

Makin aku menulis kode, makin bersemangat diriku, menuangkan semua ide di kepalaku dengan cepat.

Hingga terdengar suara cemas dari teman sekamarku di belakang.

"Lis, kamu ini terlalu memaksakan diri, bergadang merusak kesehatan, lebih baik istirahat dulu."

Aku melihat ponsel dengan bingung dan baru sadar bahwa sudah pukul 4.30 pagi.

Teman sekamarku mengusap dahinya dengan tak berdaya sambil menasihati.

"Lis, masih ada satu minggu lagi sebelum lomba. Nggak perlu terburu-buru seperti ini."

"Bagaimana kalau kamu jatuh sakit sebelum lomba? Itu malah jadi rugi."

Mendengar itu aku tertegun, kata-kata temanku seakan menyadarkanku.

Benar juga, toh masih ada satu minggu penuh sebelum lomba, aku sepenuhnya bisa menunda dulu pengumpulan dan menunggu untuk melihat situasi di pihak Ruvina.

Kalau masih ada kemiripan atau hal-hal aneh, aku masih punya waktu untuk mengubah dan menyempurnakannya.

Dengan begitu, kejadian penjiplakan seperti di kehidupan lalu tidak akan terulang, dan aku bisa ikut lomba dengan karya yang benar-benar kutulis sendiri.

Memikirkan ini, akhirnya aku menghela napas lega. Setelah bergegas mengucapkan terima kasih kepada teman sekamarku, aku kembali bergadang menyelesaikan versi kedua dari programku.

Setelah uji coba, ternyata berhasil.

Menatap program yang sudah selesai, aku menarik napas dalam-dalam.

Akhirnya, karya yang benar-benar milikku pun lahir.

Namun ketika teringat kehidupan lalu, Ruvina bukan hanya menuduhku menjiplak, dia bahkan membuka siaran langsung di internet untuk memfitnahku melakukan perundungan di kampus.

Di depan kamera, dia menangis tersedu-sedu dengan wajah yang polos dan manis, langsung merebut simpati banyak orang.

Tak terhitung warganet melontarkan hinaan dan makian kepadaku.

"Tak kusangka masih ada perundungan di kampus. Perempuan bejat ini terlalu keterlaluan, kita harus membuatnya tak punya muka lagi untuk menyakiti orang!"

"Kasihan sekali Ruvina, sudah ditindas masih juga dijiplak, Lisdania benar-benar kejam."

"Aduh, Ruvina itu terlalu baik. Sekarang hanya kita yang bisa menegakkan keadilan untuknya! Ada yang punya nomor Lisdania?"

Aku tidak mengerti mengapa dia harus berbohong. Aku hanya bisa berlari ke sana kemari untuk membela diri, tapi itu justru memicu gelombang perundungan daring yang lebih besar.

Orang-orang yang berniat jahat membocorkan seluruh privasi keluargaku di internet. Orang tuaku diteror sampai harus pindah rumah, tetapi di perjalanan mereka dipepet oleh warganet radikal, hingga akhirnya terjadi kecelakaan besar dan mereka tewas di tempat.

Memikirkan itu, aku mengertakkan gigi dengan marah, mengepalkan tangan dengan emosi sampai kuku menancap ke telapak.

Jika aku tidak mencari tahu akar dari semua ini, aku tetap tidak bisa menjamin keselamatan keluargaku.

Saat aku sedang pusing memikirkan bagaimana harus mulai menyelidiki, terdengar teriakan kaget dari teman-teman di sekitarku.

"Eh, kalian lihat postingan Ruvina belum? Karya lombanya katanya dijiplak!"

"Serius? Tinggal beberapa hari lagi sebelum lomba, kalau sekarang dijiplak bagaimana? Menulis ulang pasti sudah nggak sempat."

"Anjing penjiplak benar-benar nggak tahu malu, menjijikkan!"

Begitu mendengar hujatan-hujatan itu, seluruh tubuhku seperti disambar petir. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengeluarkan ponsel dan membuka Instagram Ruvina.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 12

    Setelah itu, Kakek Trido mengeluarkan sebuah jimat dan membakarnya sampai habis, lalu melarutkannya dalam air dan menyuruhku meminumnya."Minum air jimat emas ini. Entah itu serangga ilmu hitam atau kutukan apa pun, semuanya tak akan lagi berpengaruh padamu."Benar saja, setelah aku meminumnya, kalung itu tiba-tiba mengendur dan bisa dilepas dengan sangat mudah.Kakek Trido menempelkan sebuah jimat pada liontin kalung itu, lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Anak serangga ini, kucingku Noxy paling suka memakannya. Begitu anak serangga mati, baik orang yang memasang serangga dan induk serangga juga pasti akan terkena serangan balik.""Nak, kamu nggak perlu khawatir. Pergilah lakukan apa yang harus kamu lakukan."Setelah itu, kucing hitam Kakek Trido mengeong malas, seolah berkata, "Serahkan saja padaku."Setelah Kakek Trido menyelesaikan semua itu, Nenek dan Ibu juga sudah menyiapkan makanan.Kami berlima makan dengan gembira, lalu Kakek Trido pun menggendong Noxy dan pergi....Keeso

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 11

    Beberapa saat tak ada jawaban dari seberang, aku pun segera menutup telepon.Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku, Nenek dan Ayah membawa pulang seorang tamu.Kakek tua itu berambut putih penuh, memegang pipa rokok kuno, dan seekor kucing hitam legam mengikuti di belakangnya."Trido, ini cucu kesayanganku, cepat bantu periksa dia, apa ada sesuatu yang menempel padanya?""Nak, ini yang Nenek maksud orang pintar itu, panggil saja Kakek Trido."Nenek menyambut kakek itu masuk ke dalam rumah, wajahnya penuh kekhawatiran saat menatapku.Entah hanya perasaanku atau bukan, sejak kucing hitam itu masuk bersama Kakek Trido, matanya terus menatapku tanpa berkedip.Aku pun menurut dan menceritakan semua kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini kepada Kakek Trido, satu per satu tanpa tersisa.Termasuk bagaimana kodeku dicuri, pikiranku ditiru, bahkan ide yang baru saja muncul di benakku pun bisa dirasakan oleh Ruvina.Namun, aku menyembunyikan soal reinkarnasi."Jadi, Nak, pikiranmu dicuri o

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 10

    Para rekan setim yang sebelumnya masih menyanjungnya satu per satu segera membuka suara dan meluapkan amarah.[Sungguh aku nggak habis pikir, tinggal satu jam lagi sebelum lomba, program Ruvina malah muncul BUG, bahkan menghapus otomatis program pendukung yang sudah kami buat. Dia mengkhianati kami semua!][Benar! Kerja keras sebulan penuh kami dihancurkan olehnya. Kami suruh dia sendiri memperbaiki BUG-nya, tapi dia sama sekali nggak paham, malah menulis beberapa baris kode yang salah, sampai programnya benar-benar nggak bisa dijalankan lagi!""Sial, aku sangat curiga kalau sebelumnya dia cuma menyalin, makanya sekarang bahkan kode dasar saja nggak bisa!""Tolong deh, ada nggak sih ahli hebat yang bisa bantu selesaikan ini, aku sudah mau gila!"Nyinyiran di Instagram makin menjadi-jadi, dan para penonton gosip pun langsung ikut nimbrung."Kalian baru tahu sekarang? Sebelumnya sudah ada yang bocorkan kalau dia bisa masuk Universitas Oaklin karena orang tuanya profesor dan menyuap pihak

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 9

    Setelah memberi tahu Suvian agar tidak memakai ideku, aku pun berbaring di kursi goyang di halaman sambil memikirkan cara yang harus kutempuh.Langit berbintang di pedesaan begitu jernih, titik-titik cahaya berkilau di dalamnya, seakan memberi arah bagi orang yang tersesat.Saat itu Nenek datang sambil menggendong separuh semangka dan bertanya, "Cucuku sayang, sedang pikirkan apa? Kok melamun begitu."Melihat wajah Nenek yang penuh kasih, aku masih tak berani membuka mulut. "Nek ...."Mendengarnya, Nenek tersenyum lalu mengipasi aku dengan kipas daun di tangannya."Cucu, kamu tak bisa menyembunyikannya dari Nenek. Katakan, akhir-akhir ini sebenarnya ada apa?"Nada suaraku rendah dan tercekat."Nek, aku nggak tahu kenapa, barang-barang milikku selalu entah bagaimana direbut orang lain, lalu orang itu malah berbalik menuduh dan mencelakaiku.""Apa pun yang kupikirkan, dia selalu memikirkan hal yang sama denganku, seperti ... seperti ...."Nenek termenung sejenak, lalu segera berkata, "Se

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 8

    Ketika aku menunduk dan menulis kode sampai senja, Nenek membawakan semangkuk sup buntut yang harum, sambil tersenyum menatapku."Cucu-ku sayang, sesibuk apa pun kamu tetap harus makan. Ini sup buntut yang Nenek masak khusus, cepat cicipi."Aku menutup laptop, meregangkan badan dengan senang. "Terima kasih, Nek, aku sudah ngiler."Sejak kecil aku memang suka masakan sup buntut Nenek. Rasa pedasnya pas, sup yang kaya rempah dengan sumsum tulang begitu harum, benar-benar istimewa. Sayangnya sejak masuk kuliah, jarang sekali aku punya kesempatan memakannya lagi.Aku mengangkat potongan daging buntut dengan tangan dan hendak menggigitnya, tetapi Nenek menepuk tanganku dan menyodorkan sehelai handuk."Kucing kotor, cepat lap tanganmu dulu baru makan!"Aku tersenyum sambil mengelap tangan, tetapi saat itu layar ponselku menyala.Saat kubuka, ternyata kolom komentar kembali heboh.Tak lama setelah aku selesai menelepon Suvian, Ruvina kembali mengunggah kode programnya. Seperti yang sudah kudu

  • Balasan Reinkarnasi pada Sahabat Munafik Pacarku   Bab 7

    Hari kedua.Kami sekeluarga bertiga naik kereta cepat selama sembilan jam, lalu lanjut dua jam naik bus, hingga akhirnya tiba di rumah Nenek.Begitu sampai di pintu masuk desa, nenek sudah menuntun seekor anjing hitam besar keluar untuk menyambut kami."Aduh cucuku sayang, akhirnya mau pulang menjenguk nenek. Kok kelihatan makin kurus?""Nek, aku sangat merindukanmu!"Dengan tak sabar aku memeluk Nenek, menghirup aroma kehangatan dan kelembutan seperti sinar mentari dari tubuhnya, dan tersedu beberapa kali.Nenek mengira aku ketakutan melihat anjing hitam besar itu, lalu buru-buru memarahinya."Bruno, jangan menggonggong! Kalau cucuku sampai ketakutan bagaimana!"Di tengah tangisan, tawaku segera meletus. Aku menyeka mataku, lalu mengusap kepala Bruno."Nek, aku nggak apa-apa, cuma terlalu kangen Nenek dan Bruno."Namun tindakanku tidak menenangkan Bruno. Biasanya dia penurut, tetapi kali ini ia menggonggong ke arahku terus-menerus, melompat-lompat sambil mengais tanganku dengan cakarn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status