Kemudian, pandangan Cassian yang panik tertuju padaku, dia mengangkat dagunya ke arahku."Maaf, kalian salah paham. Ruvina itu adikku, yang itu baru pacarku."Suasana di tempat itu begitu hening bagai bisa terdengar jarum jatuh. Samar-samar aku seperti mendengar seseorang berkata, "Hah? Cuma segitu saja? Malah Ruvina dan Cassian kelihatan lebih cocok."Setelah sesaat canggung, Ruvina maju untuk meredakan suasana, merangkul leherku sambil berkata, "Aduh, kalian jangan begitu dong sama kakak iparku. Dia itu mahasiswi genius jurusan komputer, Lisdania, lho!"Sekejap, seolah semua orang menyadari sesuatu, dan tatapan mereka ke arahku pun bercampur hinaan dan meremehkan."Jadi dialah yang menjiplak Ruvina. Benar-benar nggak bisa menilai orang dari penampilan. Sudah jelek, masih juga nggak tahu malu.""Ck ck, rupa memang mencerminkan hati. Ruvina benar-benar baik, masih mengajaknya makan bersama."...Mendengar semua itu, aku seperti duduk di atas jarum, tetapi aku tidak bisa pergi.Karena b
Read more