Share

2. Titah Raja

"Bisakah dia melaksanakan tugas itu, maukah dia memangkas semak belukar berduri dalam tamanku," batin sang raja yang sedang menerawang ke angkasa, seakan ada jawaban yang dicarinya diatas sana. Jawaban untuk mengatasi sebuah permasalahan yang sedang dihadapinya.

"Solandia ... ah ... Pemberani lahir di Solandia," berkali-kali sang raja menggumamkan kata-kata itu. "Solandia ... ah ... andaikan tak ada pemberani yang lahir disana."

*

"Jaden dari Solandia! Siap menerima pelatihan hari ini Jendral!" ucap seorang prajurit dengan penuh rasa percaya diri.

"Hm ... datang juga kau akhirnya." Cedric mengakhiri peregangan dan mulai melemaskan seluruh otot-ototnya. Perlahan mulai dianalisanya seluruh bagian tubuh Jaden dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau menggunakan dua pedang? Kukira orang Solandia hanya menggunakan claymore?"

"Jaman ini terus berkembang Jendral, kebanggaan masa lalu tidak akan memberi kita kejayaan dimasa kini. Solandia telah melebur claymore mereka agar kerajaan Gerland bisa bertahan dan tidak runtuh. Kami sangat bangga dengan pengorbanan itu," ungkapnya dengan semangat.

"Yah ... baru kali ini aku bertemu seorang Solandia tanpa claymore dan dia ada didalam pasukanku. Persiapkan dirimu, ayo kita mulai," ajak Cedric. Ia berjalan menuju rak penyimpanan dan mulai berpikir senjata apa yang akan dipakainya untuk pelatihan bersama Jaden. Setelah cukup lama berpikir, Cedric tersenyum dan mengambil sebuah perisai dan pentungan sebagai perlengkapannya.

Jaden sudah tahu kalau pimpinan mereka ini terkenal eksentrik. Kali ini dia benar-benar tidak menyangka bahwa sang jendral akan memilih sebuah blunt atau pentungan kayu untuk melawan dual sword miliknya. Rasa ragu membuat Jaden ingin menukar pedangnya dengan pedang kayu yang sering dipakai latihan.

"Ayo ... serang aku semampumu," perintah Cedric pada Jaden.

"Erm ... maaf Jendral, anda yakin menggunakan itu?" Serba salah Jaden menunjuk ke arah pentungan yang nampak sangat tidak cocok dengan kharisma dan sosok sang jendral.

"Tentu saja. Aku sangat yakin bahwa senjata pertama nenek moyang kita pastilah sebuah pentungan! Sebatang dahan pohon, praktis dan mudah didapat. Hanya batu yang dapat menandinginya," tegas Cedric.

"Saya siap Jendral, saya akan mulai!" Jaden mengambil ancang-ancang dan siap menyerang. Dua bilah pedang digenggamnya erat-erat, berjalan maju perlahan, Jaden mencari celah untuk memberi serangan pembuka. Semakin mendekat, sekitar jarak lima langkah, Jaden heran melihat posisi Cedric, perisai yang dibawa tidak pada posisi siaga, hanya tergantung santai dilengan kiri yang tidak pada posisi siaga didepan dada. Pentungan yang dibawa pun juga tidak dalam posisi siap menyerang.

Dalam hatinya, Jaden merasa kecewa. Jaden merasa sang jendral hanya main-main dengannya. Teringat akan seratus kemenangan yang diraih, yang didapat dengan penuh perjuangan dan penuh luka, emosinya timbul dan menyerang Cedric sekuat tenaga.

Pelatihan khusus tersebut berakhir dengan kekalahan telak Jaden. Dalam tiga ronde yang dijalani, tak satupun pukulan bersih yang berhasil mendarat di tubuh sang jendral. Kebalikannya, memar di beberapa bagian tubuh Jaden terasa sangat nyeri. "Terimakasih atas petunjuknya Jendral!" Jaden membungkuk memberi hormat setulus hati.

"Apa maksudmu? Kau berterimakasih atas benjolan dan memar itu?" tanya Cedric sambil membersihkan pentunganya.

"Ermm ... bukan begitu Jendral ... saya berterimakasih atas kesempatan latih tanding ini," lirih Jaden menjawab. Ia merasa nyeri disekujur tubuhnya semakin bertambah.

"Kau tidak perlu pentunganku kalo hanya benjol dan nyeri yang kau dapat, kau bisa meminta Armand untuk memukulimu. Adakah pelajaran yang kau dapat dari latihan ini?" selidiknya.

Jaden tertunduk dan terdiam, dalam hati dia merasa malu, dengan persenjataan yang lebih baik, tak satupun dia berhasil mendaratkan pukulan. Dalam seratus duelnya, dia hampir selalu mendominasi pertandingan. Duel terberatnya adalah ketika melawan calon knight yang berlatih dibawah arahan langsung Cedric.

Duel itu menjadi pembicaraan di seluruh bar di kota. Duel itu berakhir dengan masing-masing harus dirawat oleh tabib selama beberapa minggu. Jaden bahkan membuang claymore dan berlatih menggunakan dualsword agar seperti junjungannya tersebut. Cedric adalah seorang legenda dalam peperangan, ksatria yang berjaya dengan menggunakan dua pedang. Idola bagi setiap anggota pasukan benteng Carthania.

"Baiklah ... apa kau pernah mendengar cerita tentang prajurit ratusan pertempuran yang kalah oleh berandalan muda? Juga kisah tentang berandalan muda yang hampir mati di pertempuran pertamanya?" Cedric bertanya sambil menggosok perisai yang baru dipakainya.

"Maaf Jendral ... ehm ... Bukankah itu kisah tentang anda sendiri?" jawab Jaden pelan. Tak ada satupun anggota pasukan Cedric yang tak mengenal kisah itu. Legenda seorang jendral kalangan bawah. Meski berasal dari kelas bangsawan tingkat rendah, Cedric hidup layaknya rakyat jelata, hidup semaunya, menjadi berandalan dan memulai karir militernya dari bawah.

"Ya ... itu kisah tentangku. Aku dengan noraknya menantang seorang letnan veteran, berkelahi dengan sekuat tenaga dan memenangkan perkelahian itu," Cedric tersenyum dan sedikit berkaca-kaca ketika mengenang momen itu. "Ini adalah salah satu rahasia besarku, pentungan inilah yang kupakai untuk mengalahkan letnan itu."

"Ini bukan senjata magis, atau pentungan dari bahan khusus. Ini hanyalah bekas godam yang pas digenggaman tanganku," kenang Cedric.

Jaden hanya bisa melongo dan menatap mata junjungannya seakan tak percaya dengan kisah itu. Perkelahian legendaris yang bertahun-tahun dibicarakan hampir semua pemuda kalangan bawah itu, ternyata bukan tentang lahirnya pengguna dual sword pertama diseluruh benua.

"Semua kisah epik itu sama saja. Seperti bola salju yang menggelinding, semakin lama akan semakin besar dan menabrak apapun yang dilaluinya, tak peduli itu benar atau salah," Cedric menasehati. "Aku selalu diam, karena ini rahasia untuk menghormati letnan veteran itu. Perkelahian itu merubah hidupku, memberiku kesempatan untuk kembali ke keluargaku melalui jalur militer."

Cedric pernah dikeluarkan dari daftar penerus kepala keluarga. Cara hidup, pergaulan, dan pemikiran yang tidak sesuai dengan kelas bangsawan pada umumnya, cukup menjadi alasan untuk mengucilkan dirinya. Cedric muda adalah seorang bangsawan ceroboh yang tak pernah berpikir sebelum melakukan sesuatu. Apa yang dirasanya salah atau tidak sesuai kata hatinya, tanpa rasa takut akan dilawannya semua.

"Letnan tersebut membawaku ke barak untuk diperkenalkan pada seorang wakil jendral. Dia memberiku kesempatan untuk mengikuti tes, mengabaikan catatan kriminal yang pernah kulakukan, dan memberi sebuah senjata yang akan selalu kukenang," ungkap Cedric.

"Dia ... Memberiku sebuah ... claymore," Cedric tersenyum bangga ketika menyebut senjata itu. "Memiliki senjata pertamaku, aku sangat bangga dan bahagia. Semua pelatihan kujalani dengan santai dan riang gembira. Bagiku pelatihan tentara ini semacam permainan anak-anak yang tak berguna. Aku merasa jauh lebih kuat daripada seluruh rekrutan baru yang ada."

Cedric menerawang jauh. "Namun ... berandal muda ini hampir mati dipertempuran pertamanya, juga karena sebuah claymore."

Jaden menghela nafas mendengar kisah itu. Bermacam prasangka muncul dibenaknya. Apa sebenarnya maksud sang jendral menceritakan kisah itu.

"Ehm ... ma-"

Belum selesai Jaden menyelesaikan kalimatnya, Armand muncul tiba-tiba dan mengejutkan mereka. Tubuh tambunnya tampak basah oleh keringat, dan nampak getaran diseluruh tubuhnya. "Cedric putra Canute ... jawaban apa yang akan kauberikan pada raja?"

Cedric terdiam dan menghela nafas. "Titah itu ...."

Semuanya terdiam menunggu Cedric melanjutkan perkataannya.

"Titah itu tidak bisa kujalankan!" Cedric nampak berkaca-kaca. "Solandia. Raja meminta Solandia."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status