Masuk"Aku akan tidur!" kata Panji dan permisi masuk ke dalam kamarnya.Tak ada yang larang Panji, karena mereka tahu, tubuh Panji belum sepenuhnya pulih setelah lakukan perjalanan jauh, dan bertarung gunakan seluruh kekuatan fisik di tubuhnya.Begitu masuk ke kamarnya, Panji tak menunggu lama, langsung tertidur, seolah dia sangat kelelahan.Dalam tidurnya, Panji melihat dirinya dipenuhi dengan kekuatan yang sangat dahsyat, kekuatan yang besar dan menakutkan.Di mimpi itu kekuatan Panji sangat luar biasa. Kekuatan petir yang membuat tubuh Panji memiliki lebih dari seratus ribu lingkaran tenaga dalam."Apa ini?" ucap Panji.Itu bukan mimpi biasa, karena roh Panji tertarik ke dalam mimpi itu."Kita bertemu lagi Panji!" ucap satu suara."Roh pedang Shi Ban?" kata Panji kaget."Iya, aku roh pedang Shi Ban, ataupun roh Petir!""Roh petir?"Roh petir mendekat, dan menyentil dahi Panji. Hingga Panji melihat apa yang terjadi saat siang hari, dimana dia memukul keras tuan muda Kandar."Apakah itu ke
Meskipun sangat berat, tapi Mayang tetap bawa tubuh Panji untuk kembali ke perguruan singa timur.Mayang membawa Panji dari jalan yang cukup rahasia, dan hanya beberapa orang tahu itu. Mayang tak ingin ada yang melihat dia menggendong seorang anak muda, itu akan jadi gosip yang tak bisa ditahan oleh telinganya."Kak Hardi!" teriak Mayang.Hardi yang sedang bersemadi kaget karena teriakan keras Mayang dan lebih kaget saat ia melihat adiknya gendong Panji."Ada apa ini, Mayang? Apa yan terjadi dengan Panji?" tanya Hardi."Bantu dulu Panji kak, nanti aku ceritakan!" kata Mayang.Hardi segera angkat tubuh Panji, dan meletakkan Panji di atas tempat tidur, setelah itu ia periksa tubuh Panji.Tukkkkkk!!Hardi menotok bagian dada Panji, tapi dia kaget karena ada kekuatan yang menolak kekuatan dari totokan miliknya."Ada apa kak?" tanya Mayang."Tubuh Panji menolak kekuatan kakak!" kata Hardi."Coba alirkan hawa murni kak!""Baik!" kata Hardi.Mayang membantu untuk dudukkan Panji, dan setelah
Whusssssssss!!Pedang dengan warna keperakan itu tertahan tepat di atas kepala Panji, dan pedang itu di pegang oleh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik.Panji bahkan sampai terpana pada kecantikan gadis muda itu, hingga tak sadari kalau ada sebilah pedang yang siap mengoyak kepalanya."Mayang, apa yang kau lakukan?" bentak Hardi."Eh, dia bukan musuh kak?" tanya gadis yang memiliki nama Mayang itu."Selalu saja ceroboh, dan sesukamu mengambil keputusan!" kata Hardi geleng kepala."Siapa dia, kak?" tanya Mayang."Minta maaf pada Panji!"Gadis itu menoleh ke arah Panji, dan berikan senyuman yang sangat menawan."Cantiknya!" desis Panji tanpa sadar.Plakkkkkk!!Tangan gadis itu bergerak dan tampar wajah Panji, dan itu kagetkan Panji."Apa ... Apa yang kau lakukan?" tanya Panji sambil elus wajahnya yang ditampar oleh Mayang."Seenakmu mengatakan itu padaku!""Aku ucapkan apa?" tanya Panji bingung."Dasar bocah gendeng!" bentak Mayang.Panji menggaruk kepalanya yang tak ga
Kemenangan Panji diluar dugaan banyak orang, itu karena Panji baru datang, dia kelelahan, ditambah lagi Panji bertarung tanpa gunakan tenaga dalam.Hal itu membuat nama perguruan anggrek putih menjadi nama yang cukup sering dibicarakan. Apalagi sudah ada dua wakil mereka yang melaju ke babak berikutnya, yaitu Mutia dan Panji.Sementara itu, di tempat mereka yang ada di sudut perguruan singa timur, Panji masih terbaring dengan kondisi yang lemas.Dia sudah sadarkan diri, tapi kondisinya memang sangat kelelahan. Berlari sekuat tenaga, dan setelah itu bertarung tanpa gunakan tenaga dalam. Itu hal yang menguras seluruh tenaga fisik yang ia miliki."Panji, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Mutia."Sudah kak Mutia, maaf sudah merepotkan kalian!" kata Panji."Jangan bangkit dulu Panji, biarkan tubuhmu istirahat!" kata guru Sahdan saat melihat Panji akan bangkit untuk duduk."Eh, dimana kak Pradana dan Kak Sahita?" tanya Panji."Mereka berdua sedang berlatih. Besok Pradana akan bertanding,
"Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua
Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t







