Share

Bab 37

last update publish date: 2026-07-18 15:41:40

Panji datang dengan membawa kayu bakar yang cukup banyak, dan itu dibawa di pundak Panji. Dan meskipun banyak Panji tak sedikitpun merasa berat.

"Ini kayu yang kalian minta!" kata Panji.

Tapi pandangan mereka bukan pada kayu bakar yang Panji bawa, tapi sesuatu yang ada di tangan kiri Panji.

"Apa itu Panji?" tanya Mutia dengan mulut yang sudah ngiler melihat itu.

"Ini ayam yang aku tangkap di hutan, dan mungkin kita akan makan ini!" kata Panji.

"Aku memiliki makanan sendiri!" kata Pradana.

"Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 171

    Kota Terang Bulan, salah satu kota yang berada di pinggiran wilayah Benua Kuning, kota yang ramai, dikarenakan jadi kota tempat istirahat bagi orang-orang yang melintasi dua wilayah kerajaan benua.Panji yang baru tiba di kota itu kaget saat mendengar ada keributan, dan ternyata keributan itu lagi-lagi melibatkan tiga gadis dari padepokan Bunga Kasih.Tak ingin tiga gadis itu dapatkan masalah, Panji Sanjaya, yang merupakan reinkarnasi dari pendekar halilintar memilih untuk ikut campur.Brakkkkkkk!!Panji menendang pintu gerbang perguruan yang sudah tertutup, dan berjalan masuk ke dalam perguruan di tengah kota itu."Lepaskan tiga gadis itu, mereka sahabatku!" kata Panji Sanjaya.Seorang lelaki berikan kode agar anak buahnya menjauhkan tiga gadis itu, dan mendekat ke arah Panji."Anak muda, aku tak salahkan kau menjadi sahabat tiga gadis itu, namun kau sudah tak bisa berbuat apa-apa!" katanya pada Panji."Kenapa?" tanya Panji."Coba kau lihat tiga orang itu?" katanya sambil menunjuk ti

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab170

    "Kalian juga terluka, coba kalian oleskan ini pada luka kalian!" kata Panji pada Kumala, dan Sari, rekan dari Bunga.Dua gadis itu tak menolak, dan oleskan ramuan cair yang sengaja Panji buat untuk mereka bertiga."Istirahatlah, aku yakin kalau butuh istirahat!" kata Panji."Terima kasih tuan Sanjaya. Jika bukan karena tuan kami bukan sudah mati!" kata mereka."Aku penasaran, bagaimana bisa kalian memiliki masalah dengan bandit sungai kalimayat itu?" tanya Panji."Semua itu berawal karena kami tak mau jadi gundik ketua mereka!" kata Kumala."Gundik ketua mereka?" ucap Panji."Iya!" jawab Kumala dan ceritakan apa yang terjadi antara mereka dan bandit sungai kalimayat.***Pagi itu, dari sebuah desa yang dilintasi oleh Sungai kalimayat, di desa yang bernama desa Tumbak.Dari sebuah padepokan yang hanya memiliki murid perempuan, padepokan Bunga Kasih.Dari pintu padepokan itu, keluar tiga murid dengan pakaian biru muda, pakaian khas dari padepokan itu.Mereka mendapatkan sebuah tugas un

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 169

    "Ada apa?" tanya Panji dan hentikan laju kuda Pegasus yang awalnya akan masuk ke wilayah Benua Kuning."Lari anak muda, lari!" teriak tiga orang gadis dengan pakaian biru muda.Tiga gadis itu melesat ke arah Panji dengan gunakan ilmu meringankan tubuh yang tak terlalu tinggi.Dan di belakang tiga gadis itu, belasan orang datang mengejar mereka, dan kemampuan orang-orang itu berada di atas tiga gadis itu."Kita harus menolong mereka Pegasus!" kata Panji Sanjaya.Hiatttttt!!Panji hentakkan kakinya ke perut kuda Pegasus, dan mengumpulkan tenaga dalam di telapak tangannya."Pukulan petir biru!" ucap Panji Sanjaya.Haaaaaaaaaaa!!Pukulan dengan cahaya biru melesat dari telapak tangan Panji, dan itu mengarah pada belasan orang yang kejar tiga perempuan itu.Jeldaarrrr!!Ledakan yang sangat keras, menghentikan laju lari orang-orang yang ada di belakang tiga perempuan itu."Masuk ke dalam hutan, dan pulihkan kondisi kalian, aku yakin kalian terluka!" teriak Panji pada tiga perempuan itu.Mer

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 168

    Pemilik kedai yang memiliki nama Ki Parman itu merenung karena ucapan Panji. Ucapan Panji itu memang tepat, ia tahu dimana lembah racun berada."Aku Sanjaya, paman. Aku mohon katakan dimana letak lembah itu, ini menyangkut hidup dan mati seseorang!" kata Panji pada pemilik kedai itu."Sanjaya, jika memang itu yang kau katakan, aku pun tak bisa larang dirimu kesana. Namun yang harus kau tahu, jika seseorang sudah masuk ke lembah racun, maka kemungkinan besar ia sudah jadi mayat!" kata ki Parman."Apapun itu akan aku lakukan, paman! Aku sangat ingin temukan rekanku itu!" kata Panji."Siapa?" tanya Ki Parman.Panji menceritakan semuanya, dan tak ada yang Panji tutupi termasuk penyesalan tentang kenapa dia tak mengaku pada Mayang siapa dirinya."Sepertinya kau mencintai gadis itu, Sanjaya?" tanya Ki Parman."Aku tak tahu apakah aku mencintai dia atau tidak, paman. Yang jelas aku ingin bertemu dengan Mayang!" kata Panji."Baiklah! Tapi asal kau tahu, ada tiga tempat yang dijuluki orang seb

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 167

    "Kau akan aku taklukkan!" kata Panji dan mendekat ke arah belasan kuda yang sedang makan rumput itu.Huppppp!!Panji melompat tinggi, dan tahu-tahu sudah berada di atas punggung kuda itu.Whusssssssss!!Kuda itu berkelit, dan angkat kaki belakang, dan menendang tubuh Panji dengan kuatnya."Hei tidak mungkin!" kata Panji.Tukkkkkk!!Panji menahan tendangan kuda itu tanpa gunakan tenaga dalam, namun betapa kagetnya Panji, saat Panji malah terlempar ke belakang, hanya karena tendangan kuda putih itu."Bagaimana bisa?" kata Panji dan tatap kuda itu.Setelah itu, Panji melirik ke arah kakek tua yang mengawasi dari jauh, terlihat ia tersenyum saat melihat kekagetan Panji Sanjaya."Sepertinya orang tua itu tahu sesuatu tentang kuda-kuda ini?" ucap Panji Sanjaya.Panji melangkah lagi, dan berjalan ke depan kuda putih itu, dan anehnya, belasan kuda hitam yang mengelilingi kuda putih itu malah berjalan dan berdiri di hadapan Panji."Apakah kuda putih ini pemimpin mereka?" tanya Panji bicara sen

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 166

    Sungai kalimayat, sungai besar dan panjang yang melintasi dua wilayah kerajaan, yaitu kerajaan benua Kuning dan wilayah kerajaan Benua Hitam.Sungai itu melintas, dan akan berakhir di lautan yang luas, lautan yang jadi wilayah kekuasaan dari benua Kuning.Desa Tumbak, salah satu desa yang dilewati oleh sungai kalimayat. Dan penduduk menjadikan sungai itu sebagai sumber mata pencaharian mereka."Karya! Segera tebarkan jalamu, apa kau ingin pulang tanpa membawa seekor ikan pun?" ejek seseorang pada nelayan yang sudah menebar jala ke sungai.Dia akan Karya, salah satu nelayan yang menjadikan sungai Kalimayat sebagai sumber mata pencaharian.Dari malam hingga saat akan menjelang pagi, Karya, sudah berusaha keras untuk mendapatkan ikan, namun ia tak dapatkan apapun.Hal itu membuat ia jadi bahan ejekan bagi nelayan yang lain, hal yang membuat Karya sangat kesal."Sungguh sial malam ini!" ucap Karya dengan wajah yang kecewa.Belum pernah ia sekecewa ini, dan sesial hari ini. Biasanya, meski

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status