Home / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 10. Kuil Banyu Langit.

Share

Bab 10. Kuil Banyu Langit.

Author: RKamila
last update publish date: 2026-08-20 15:30:57

Di tangan Mahesa Raka terdapat sebuah benda kecil, yaitu liontin yang sama dengan milik Ratri.

“Karena di Kuil Banyu Langit…,” ucap Mahesa Raka, tatapannya mengarah ke rumah persembunyian. “…kebenaran tentang perempuan itu akhirnya akan terbuka,”

Fajar semakin dekat dan Jaya belum tahu bahwa pertemuan berikutnya, ternyata akan membuatnya memilih antara menyelamatkan Ratri atau membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Langit mulai berubah warna ketika Jaya meninggalkan rumah persembunyian itu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 111. Suara Dari Kubur yang Tidak Pernah Mati

    "Ardhan selalu memilih untuk melindungi dunia!” suara lelaki itu berubah semakin dingin."Dan karena itu lah, dia kehilangan keluarganya! Jaya menggertakkan giginua dan kenangan tentang ayahnya mulai berkelebat, tangan Ardhan yang pernah mengusap kepalanya.Suara yang memintanya untuk menjadi manusia, bukan pewaris dan pesan terakhir yang selalu menghantuinya untuk jangan menjadi senjata.Jaya menutup mata sesaat kemudian membuka kembali."Kalau itu permainanmu…,” Ia menurunkan pedangnya. "...aku tidak akan bermain!”Lelaki berjubah itu terdiam.Jaya berbalik kepada Ratri. "Ratri!”Ratri menatapnya. "Kamu percaya padaku?" tanya Jaya. Air mata menggenang di mata Ratri. "Sejak awal! Jaya langsung tersenyum, kemudian ia menusukkan pedangnya ke tanah.DUUM!Gelombang tenaga menyebar bukan menuju musuh, melainkan menuju semua orang di sekelilingnya.Ratri memahami lebih dahulu. "Jaya…,""Kitab itu mengajarkan mereka bahwa kita harus memilih,” Jaya menatap lelaki berjubah hitam. "Tapi a

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 110. Mata yang Mengendalikan Bayangan

    Wajah Prabu berubah. “Apa yang kalian lakukan?”Seorang pendekar menatapnya kosong. “Perintah baru!”Prabu mundur. “Siapa yang memberi perintah?”Tidak ada jawaban.Kemudian dari balik pepohonan terdengar suara seseorang. “Aku!”Semua kepala langsung berbalik, ada seorang lelaki berjubah hitam berjalan perlahan keluar dari kegelapan.Tidak membawa lambang Persekutuan, tidak membawa lambang Gagak Hitam. Hanya sebuah cincin tua di jarinya, cincin dengan lambang dua pedang yang saling silang dan satu mata di tengahnya.Mahesa Kala langsung berlutut dan Prabu Wiratama pucat, Surya Raksa memandang sosok itu dengan mata penuh ketakutan.Jaya mengangkat pedangnya. “Siapa kamu?”Lelaki itu berhenti, kemudian tersenyum. “Orang yang selama ini kalian cari!” Ia memandang Jaya. “Dan orang yang sebenarnya memulai semua ini sejak kematian Ardhan Wulung!”Malam kembali membisu, Jaya menggenggam pedangnya semakin erat. Ratri berdiri di sampingnya, kali ini mereka tidak lagi mundur.Sebab rahasia yang

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 109. Keputusan Sang Penjaga

    “Tidak bisa,” jawab Ki Jagat.Jaya langsung menoleh. “Kenapa, Ki?”“Karena halaman itu hanya bisa ditutup oleh orang yang membukanya,” ucap Ki Jagat. Jaya menatap sosok pembawa kitab. “Berarti dia?”Ki Jagat menggeleng. “Bukan!” tatapan orang tua itu jatuh kepada Jaya. “Kamu!”Jaya membeku. “Aku?”“Darahmu telah membuka jalan! Pilihanmu memecahkan segel pertama! Sekarang kitab itu merespons kepadamu,” jelas Ki Jagat. Jaya memandang tangannya dan cahaya keemasan masih berdenyut di sepanjang lengannya. “Apa yang harus kulakukan?”Ki Jagat terdiam. “Memilih,”Jaya mengerutkan kening. “Memilih apa?”Ki Jagat memandang Ratri.“Antara menyelamatkan Ratri…,” kemudian ia menatap retakan besar di tanah. “…atau menutup pintu Naga Langit!”Dunia seperti berhenti.Jaya menatap Ki Jagat. “Tidak!”“Jaya…,” panggil Ki Jagat. “Tidak ada pilihan seperti itu!” bentak Jaya. “Justru itulah yang sejak awal mereka inginkan!” kata Ki Jagat. Jaya menoleh kepada Mahesa Kala.Mahesa Kala tersenyum. “Sekar

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 108. Suara Dari Halaman Terakhir

    “Kamu adalah Ratri,” Jaya tersenyum lembut.“Perempuan yang memilih berdiri di sisiku ketika seluruh dunia memintamu pergi!”Ratri menangis. “Jaya…,”“Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil pilihanmu!” sahut Jaya. Di belakang mereka, kitab hitam kembali terbuka. Sosok pembawanya berkata lirih. “Kalau begitu mari kita lihat…,” Ia mengangkat tangan. “…seberapa kuat pilihan kalian!”DUARR!Gelombang tenaga hitam menyapu seluruh reruntuhan.Bima terlempar dan Raka jatuh, Laras menjerit.Arya menahan tubuh Ratna, Wira kembali berlutut karena lukanya.Jaya memeluk Ratri dan menahan hantaman itu dengan tubuhnya, batu-batu beterbangan.Darah mengalir dari pelipis Jaya.Ratri menangis. “Jangan!”Jaya tetap berdiri dan kakinya gemetar, tapi ia tidak mundur sama sekali. “Selama aku masih berdiri…,” ia mengangkat pedang. “…tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh Ratri!”Sosok pembawa kitab menatapnya.“Kalau begitu…,” Ia mengarahkan telapak tangannya. “Bunuh dia!”Para pendekar yang

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 107. Orang yang Membawa Kitab

    Pada sampulnya terukir lambang tiga cakar, yaitu kitab pusaka. Jaya menatap kitab itu, lalu menatap lelaki yang membawanya.Wajah Jaya langsung pucat, bukan karena ia mengenali lelaki itu sebagai musuh. Melainkan karena lelaki tersebut adalah orang yang selama ini berdiri di sisi mereka, membantu mereka untuk mencari kebenaran.Orang yang mengetahui hampir semua rahasia keluarga Wulung, orang yang bahkan telah mereka lindungi ketika Persekutuan memburu mereka.Lelaki itu berhenti beberapa langkah dari Jaya, kemudian tersenyum. “Maaf, Jaya!” Ia membuka kitab tersebut. “Seharusnya kamu tidak pernah sampai sejauh ini!”Malam seolah kehilangan suaranya dan Jaya masih berlutut, menopang tubuh Surya Adinata yang terluka parah. Darah lelaki tua itu merembes melalui pakaian, jatuh perlahan ke tanah yang sejak tadi sudah dipenuhi retakan.Di hadapan mereka, seorang lelaki berdiri sambil memegang kitab hitam. Yaitu kitab pusaka, lambang tiga cakar terukir jelas pada sampulnya.Jaya menatap waj

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 106. Siapa yang Membangkitkan Segel Lagi?

    Arya ikut bergerak, tapi rantai itu terlalu cepat.Salah satunya melilit pinggang Ratri.Ratri terlempar ke arah pilar batu. “Jaya!”Jaya berhasil menangkap tangannya dan untuk sesaat, jemari mereka saling bertaut.Jaya mencengkeramnya sekuat tenaga. “Pegang aku!”Ratri berusaha menarik tubuhnya kembali.“Aku tidak akan melepaskanmu!”Namun rantai hitam itu terus menarik, hingga membuat batu yang ada di bawah kaki Jaya retak. Ia merasakan tubuhnya terseret beberapa jengkal.Ratri menatapnya dengan air mata yang mulai menggenang. “Jaya, lepaskan aku!”“Tidak!” teriak Jaya. “Kalau kamu ikut tertarik, kita berdua akan jatuh!” ucap Ratri. “Kalau begitu kita jatuh bersama!” Jaya menggeram, menahan seluruh tenaga yang tersisa.Ratri menangis. “Jangan bodoh! Aku tidak ingin kamu mati!”“Dan aku tidak ingin hidup di dunia yang tidak memiliki dirimu!” jelas Jaya. Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Ratri terdiam. Di antara rasa takut dan sakit yang menyiksa, ia melihat sesuatu dalam m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status