Inicio / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 169. Rantai Perjanjian

Compartir

Bab 169. Rantai Perjanjian

Autor: RKamila
last update Fecha de publicación: 2026-11-05 06:21:20

Makam leluhur runtuh dari segala arah, batu-batu besar jatuh seperti hujan, menghantam lantai dan memecahkan ukiran kuno yang selama ratusan tahun tidak pernah tersentuh.

Cahaya merah menyembur dari celah tanah, membuat seluruh ruangan berdenyut seperti jantung raksasa yang baru saja terbangun.

Jaya segera menarik Ratri untuk menjauh dari runtuhan, sementara Arya membantu Kirana dan Sekar berlindung di balik pilar batu.

Ardhan menahan balok besar yang hampir menim
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 172. Pesan Terakhir

    Namun yang paling membuat Jaya terpaku bukan jumlah mereka, melainkan pedang merah yang berada di tangan lelaki tua di depan. Pedang itu milik Prabu Wiratama. Jaya pernah melihatnya dalam lukisan leluhur, pernah mendengar kisah tentang ketajamannya, bahkan pernah memegang sarungnya ketika masih kecil. Tidak mungkin pedang itu berada di tangan orang lain kecuali seseorang yang mendapatkannya dari makam sang Prabu. “Siapa kamu?” tanya Jaya. Lelaki tua itu tidak menjawab, tatapannya justru berpindah kepada Svara, kemudian kepada anak kecil yang berdiri di belakang Jaya. Wajahnya berubah sesaat, seolah melihat sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam cerita. “Kalian membangunkannya.” Mahesa Kala segera menghunus pedang. “Siapa pasukanmu?” Lelaki itu tersenyum tipis. “Bukan pasukanku.” Ia menoleh ke belakang. “Mereka adalah penjaga makam.” Sekejap kem

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 171. Pasukan yang Turun Ke Makam

    Svara memandangnya. “Bukan kamu yang pertama.”Jatmika terdiam.“Kamu hanyalah keturunan dari mereka yang pernah membawa darah itu.” lanjut Svara. Sekar menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. “Jatmika…”Namun Jatmika menggeleng. “Aku tidak peduli dari mana darah ini berasal.” Ia mengepalkan tangan. “Aku hanya ingin tahu satu hal.”Svara menatapnya.“Apakah aku masih manusia?” tanya Jatmika. Svara tersenyum. “Selama kamu masih bisa memilih siapa dirimu, maka kamu adalah manusia.”Jatmika menundukkan kepalanya bahkan utuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena takut. Melainkan karena akhirnya mendapatkan jawaban yang selama ini tidak pernah diberikan siapa pun.Jaya kembali menatap Svara. “Lalu bagaimana darah itu sampai kepada keluarga Wiratama?”Svara terdiam cukup lama, kemudian ia menunjuk bayi dalam pelukannya. “Karena setelah anakku berubah, aku membuat garis keturunan baru.”Ja

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 170. Ibu Dari Darah Pertama

    Dari seluruh penjuru makam terdengar jeritan, bukan lah dari jeritan makhluk dan bukan pula jeritan manusia.Para leluhur yang selama ratusan tahun terikat pada perjanjian itu, akhirnya merasakan ikatan mereka terlepas.Bayangan-bayangan muncul dari dinding, satu demi satu mereka menatap Jaya. Tidak ada kebencian, tidak ada amarah yang ada hanya rasa lega. Kemudian mereka menghilang.Makhluk merah semakin lemah. “Kamu menghancurkan garis keturunanmu sendiri!”Jaya menatapnya. “Tidak.” ia menarik Pedang Hening. “Aku hanya membebaskannya.”Tiba-tiba makhluk itu mengeluarkan raungan yang jauh lebih besar, hingga tubuhnya pecah. Darah menyembur ke segala arah tetapi bukannya menghilang, seluruh darah tersebut berkumpul menjadi satu sosok.Sosok itu perlahan mengambil bentuk manusia, yaitu seorang perempuan dengan rambutnya yang panjang, wajahnya pucat dan matanya sama dengan mata Jaya.Jaya sontak membeku.Ratri men

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 169. Rantai Perjanjian

    Makam leluhur runtuh dari segala arah, batu-batu besar jatuh seperti hujan, menghantam lantai dan memecahkan ukiran kuno yang selama ratusan tahun tidak pernah tersentuh. Cahaya merah menyembur dari celah tanah, membuat seluruh ruangan berdenyut seperti jantung raksasa yang baru saja terbangun.Jaya segera menarik Ratri untuk menjauh dari runtuhan, sementara Arya membantu Kirana dan Sekar berlindung di balik pilar batu. Ardhan menahan balok besar yang hampir menimpa mereka, tubuhnya bergetar menahan beban yang seharusnya mustahil ditahan oleh seorang manusia.“Keluar dari sini!” teriak Mahesa.Namun tidak ada seorang pun yang bergerak menuju pintu, karena pintu itu sudah tidak ada.Dinding batu di belakang mereka telah tertutup reruntuhan, sementara jalan keluar perlahan dipenuhi cairan merah yang merambat seperti darah hidup. Jatmika berdiri di tengah ruangan dengan tubuh yang kaku, menatap makhluk raksasa yang baru

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 168. Keturunan Pertama

    Senyum lelaki tersebut lenyap. “Tidak.” ia mengangkat satu tangan. “Kamu tidak akan menghancurkannya.”Tekanan besar menghantam Jaya, hingga tubuhnya terdorong mundur.Ratri mencoba membantu, tetapi sebuah dinding merah muncul di antara mereka. “Jaya!”Ratri menebas dinding itu berkali-kali, tetapi tidak berhasil.Jaya menatapnya dari balik penghalang. “Ratri, jangan!”Namun Ratri tidak berhenti, pedangnya kembali menghantam. Sekali, dua kali, tiga kali. Telapak tangannya mulai berdarah. “Aku tidak akan berdiri diam!”Jaya terdiam, kemudian cahaya dari tanda di bahu Ratri mulai menyala. Bukan cahaya yang sama seperti sebelumnya, kali ini warnanya putih keemasan.Dinding merah mulai retak.Lelaki berjubah merah menoleh. “Apa…?”Retakan menyebar.Ratri menatap Jaya. “Aku memilih berjalan bersamamu.”Pedangnya menghantam sekali lagi, hingga dinding itu pecah. Pada saat yang sama, anak kec

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 167. Akar Dari Segalanya

    Namun Jaya segera berdiri dan darah mengalir dari sudut bibirnya. “Jangan…”Ratri berhenti.Jaya menghapus darah itu. “Jangan dekati aku.”“Jaya.” panggil Ratri. “Aku tidak mau dia menggunakanmu untuk memaksaku.” jawab Jaya. Ratri terdiam, kemudian perlahan ia menggenggam pedangnya. “Aku bukan kelemahanmu.”Jaya menatapnya. “Aku tahu.”Ratri berdiri di sampingnya. “Aku adalah pilihanku sendiri.”Jaya tersenyum tipis. “Dan aku juga.”Anak kecil yang berada di dalam kepompong tiba-tiba membuka matanya, rantai merah yang membelenggunya mulai retak satu demi satu.Lelaki berjubah merah menoleh, senyumnya menghilang. “Jangan.”Suara itu untuk pertama kalinya terdengar takut.Anak kecil itu menatap Jaya. “Jaya…”Jaya maju. “Aku di sini.”“Aku tidak ingin kembali menjadi bagian darimu.” kata anak itu. Jaya terdiam.Anak itu tersenyum. “Aku ingin

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status