Beranda / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 3. Arsip Perguruan Terbakar

Share

Bab 3. Arsip Perguruan Terbakar

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 09:18:34

Tangg!

Pedang Jaya mampu menebas anak panah tersebut hingga menjadi dua, potongannya jatuh ke tanah.

Ratri terdiam.

Jaya menatap hutan yang ada di luar padepokan, karena feelingnya pasti ada pemanah berada di sana.

Jika Jaya bisa melihat mereka, berarti pasukan Persekutuan telah berhasil menyebar jauh lebih luas dari yang ia perkirakan.

“Mereka bukan ingin menangkapku,” kata Jaya.

Ki Wreda menatapnya sedikit tidak mengerti.

“Mereka ingin membunuh semua saksi!” cetus Jaya.

Wajah Ratri berubah. “Saksi?”

Jaya berlutut dan mengambil anak panah yang jatuh di tanah, ia melihat pada bagian pangkalnya terdapat sebuah ukiran kecil. Yaitu seekor naga yang melingkari matahari.

Ratri mengenal simbol itu. “Perguruan Naga Surya?”

Jaya menatap tajam ukiran tersebut. “Perguruan itu berada di bawah kendali Surya Raksa,”

Ki Wreda menghela napas. “Sekarang kamu sudah mengerti?”

Jaya mengepalkan tangannya. “Dia bahkan mengirim orangnya sendiri!”

Seketika sebuah ledakan terdengar dari sisi timur padepokan.

Bommm!

Api menyambar dengan besar di bangunan penyimpanan, membuat murid-murid berteriak panik. “Api!”

Ratri berlari menuju tempat tersebut, tapi Jaya menahannya. “Jangan!”

“Di sana ada arsip perguruan!” teriak Ratri.

“Aku tahu!” jawab Jaya mencoba menenangkan Ratri.

“Kalau terbakar, maka semua catatan Romoku akan hilang!” kata Ratri panik.

Jaya memandang bangunan yang mulai dilalap api, ia sadar karena itulah tujuan mereka sebenarnya yaitu arsip. Karena seseorang sedang mencari sesuatu.

“Guru,” panggil Jaya.

“Apa?” jawab Ki Wreda.

“Apa di antara arsip itu, ada catatan mengenai Ki Rangga Wisesa?” tanya Jaya.

Ki Wreda tidak menjawab, karena diamnya adalah sebuah jawaban.

Jaya langsung mengerti. “Surya Raksa sedang mencari bukti!”

“Bukan,” kata Ki Wreda menatap api yang semakin berkobar. “Dia sedang mencari sesuatu yang jauh lebih penting!”

“Apa Ki?” tanya Jaya penasaran.

Ki Wreda menatap Jaya dengan serius. “Kitab Arus Naga,”

Jaya terdiam, ia mengingat bahwa nama itu pernah ia dengar dari gurunya ketika masih muda.

Kitab kuno yang dipercaya sebagai salah satu warisan ilmu silat tertinggi di Nusantara, tapi selama bertahun-tahun ini. Jaya mengira kitab itu hanyalah legenda belaka.

“Kitab itu tidak ada di sini,” Ki Wreda menggeleng. “Tapi seseorang pernah menyimpan petunjuk tentang keberadaannya di padepokan ini!”

Jaya menatap api yang semakin membesar, pikirnya pembunuhan Ki Rangga Wisesa bukanlah tujuan utama mereka.

Karena Surya Raksa sedang mencari kitab pusaka dan kematian seorang guru besar itu, hanyalah bagian dari sebuah permainan.

“Jaya!” teriak Ratri membuyarkan pikiran Jaya.

“Para murid sudah dibawa ke belakang!”

Jaya mengangguk. “Bagus! Kamu juga harus segera pergi,”

Ratri menatapnya lama. “A– aaku… tidak akan pergi tanpa kamu,”

“Ini bukan waktunya keras kepala Ratri!” bentak Jaya.

“Ini juga bukan waktunya untuk berpura-pura tidak membutuhkan bantuan, Jaya!” jawab Ratri tegas.

Jaya hanya terdiam.

Ratri mendekat. “Aku tahu kamu ingin melindungi semua orang! Tapi kamu tidak bisa melakukannya sendirian Jaya,”

Tatapan mereka bertemu untuk sesaat, bahkan suara perang di sekitar mereka terasa menjauh karena tatapan tersebut.

Jaya akhirnya menghela napas. “Baiklah,” ia kemudian menyarungkan pedangnya.“Kita pergi bersama!”

Ratri tersenyum kecil, tapi senyuman itu hanya bertahan untuk sesaat. Karena dari arah gerbang mulai terdengar suara langkah yang jauh lebih berat.

Semua pendekar Persekutuan mendadak berhenti, mereka mundur dan membuat jalan. Terlihat seseorang sedang berjalan melewati gerbang yang terbakar itu.

Berjubah hitam dengan pedang panjang di pinggangnya, wajahnya terlihat tenang.

Jaya membeku sesaat. ‘Surya Raksa!’

Lelaki itu berjalan tanpa tergesa, ia bahkan tidak membawa kumpulan pasukan pengawal. Seolah seluruh padepokan sudah berada dalam genggamannya.

“Sudah lama, Jaya!” kata pria itu.

Jaya menatapnya tajam. “Surya?”

Surya tersenyum. “Aku berharap kita akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi,”

“Kamu yang membunuh Ki Rangga?” tanya Jaya.

“Tidak!” jawab Surya dengan begitu cepat.

Jaya menyipitkan matanya. “Kalau begitu, siapa?”

Surya tertawa pelan. “Masih sama seperti dulu! Selalu ingin mencari sebuah kebenaran sebelum melihat kenyataannya,”

Surya mengangkat sebuah gulungan. “Bukti pembunuhan sudah cukup! Seluruh dunia persilatan percaya bahwa kamu bersalah, Jaya,”

Jaya mulai menggenggam pedangnya. “Aku tidak peduli apa yang mereka percaya!”

“Sayangnya,” kata Surya, “aku peduli!”

Kemudian Surya menatap ke arah Ratri lalu tersenyum tipis. “Karena selama kamu masih hidup, semua rencanaku bisa hancur!”

Ratri merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.

Jaya maju satu langkah. “Jadi kamu mengaku?”

Surya tidak menjawab, tapi senyumnya sudah cukup untuk membuktikan perkataan Jaya.

Jaya mengangkat pedangnya. “Kalau begitu, malam ini kita selesaikan!”

Surya menggeleng. “Belum,”

Lalu Surya menjentikkan jarinya, seketika puluhan pemanah muncul dari atas tembok. Busur mereka sudah bersiap diarahkan kepada para murid.

Jaya membeku.

Surya tersenyum. “Kalau kamu melawanku, maka mereka semua akan mati!”

Hujan terus turun dan api masih terus membakar padepokan, untuk pertama kalinya Jaya sadar bahwa musuhnya tidak ingin mengalahkannya dengan pedang.

Karena yang diinginkan Surya Raksa adalah menghancurkannya dengan sebuah pilihan.

Jaya menurunkan pedangnya perlahan. “Surya…,”

“Aku memberimu satu pilihan!” kata Surya lalu menunjuk hutan yang ada di belakang padepokan. “Pergilah! Tinggalkan semua yang ada di sini!”

Jaya menatapnya lama. “Maka kamu akan membiarkan mereka hidup?”

Surya tersenyum. “Jika kamu tidak kembali!”

Jaya tahu itu adalah jebakan untuknya, ia juga tahu bahwa Surya tidak sedang menggertaknya saja.

Ratri berdiri di samping Jaya. “Jaya!”

Jaya menatapnya.

Ratri menggeleng pelan. “Jangan menyerah!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 45. Naga Langit Dari Watu Kembar

    Jaya menggenggam pedangnya dengan sangat erat. “Siapa namanya?”Raja Raksa pun menjawab dengan suara yang gemetar. “N-- naaga Langit!”Ruangan itu mendadak berubah sunyi, bahkan suara napas para pendekar seolah lenyap ditelan kegelapan.Di hadapan mereka, Prabu Angkara tidak lagi tampak seperti manusia yang mereka kenal.Bayangan hitam sudah menyelimuti seluruh tubuhnya, bahkan rambutnya terangkat diterpa tenaga yang tidak berasal dari angin. Kedua matanya menyala merah, sementara dari belakang punggungnya muncul sebuah bayangan menyerupai dua sayap yang besar.Namun yang paling mengerikan bukanlah perubahan tubuhnya, melainkan senyum di wajahnya.Senyum seseorang yang akhirnya memperoleh apa yang telah ditunggu-tunggu selama ratusan tahun.Jaya menggenggam pedangnya dengan erat.“Ja– jjadii… kamu Naga Langit?”Makhluk di dalam tubuh Angkara itu menatap Jaya. “Nama hanyalah sebutan manusia!” suaranya bergema. “Aku telah ada sebelum kerajaan pertama berdiri! Sebelum perguruan pertam

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 44. Raja yang Bangkit Dari Kegelapan

    Kini Jaya dan Arya saling berpandangan. “Berarti kami yang membangunkanmu?”“Benar sekali!” ucap Raja Raksa. Jaya pun kemudian mengangkat pedangnya. “Kalau begitu aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu lagi,”Raja Raksa langsung tertawa. “Hahaha! Beran sekali!”Kemudian Raja Raksa mengangkat satu tangannya dan membuat gelombang tenaga dalam langsung menghantam Jaya.Duarrrr!Hingga membuat Jaya terlempar begitu saja. “Jayaaa!” Ratri berteriak dan segera berlari.Untungnya Arya bergerak lebih cepat, ia berhasil menangkap tubuh adiknya sebelum menghantam ke dinding.“Kamu baik-baik saja?” tanya Arya. Jaya pun terbatuk. “Sedikit!” Arya membantu Jaya untuk kembali berdiri.“Jangan lawan dia dengan kekuatan biasa!”“Lalu harus bagaimana?” tanya Jaya. “Dia leluhur kita,” ucap Arya. Jaya pun mengangkat alisnya. “Jadi?”Kemudian Arya tersenyum. “Kita gunakan darahnya,”Ratri mendekati mereka. “A– aapa maksudmu?”Arya pun menjawab. “Kekuatan Raja Raksa berasal dari darah Watu Kembar,

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 43. Dua Pewaris Watu Kembar

    Prabu Angkara kemudian berkata. “…ritual akan segera dimulai!”Tiba-tiba saja setelah ucapan Prabu itu, tanah yang berada di bawah kaki Jaya retak seketika. Sebuah lingkaran besar pun ikut muncul, bahkan simbol naga mulai terbentuk di lantai.Arya langsung menarik tangan Jaya untuk mundur. “Jangan berdiri di dalam lingkaran ituu!”Sayangnya sudah terlambat, cahaya berwarna hitam itu berhasil melilit kaki Jaya.Ratri sedang mencoba sekuat tenaga untuk menarik Jaya, tapi tangan bayangan itu muncul dan menghalanginya. “Jayaaa!”Jaya pun langsung mengangkat pedangnya. “Ratri, mundur!”“Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri Jaya!” teriak Ratri. “Bagus sekali!” Prabu Angkara pun tersenyum lalu ia mengangkat kedua tangannya. “Darah pewaris pertama!”Seketika Arya tiba-tiba terangkat ke udara. “Aaaarrrggghhh!”Seketika itu pula cahaya putih keluar dari tubuh Arya. “Dan darah pewaris kedua bertemu!” kata Prabu. Jaya mulai merasakan bahwa tubuhnya mulai terbakar. “Aaaah!”Ratri berteriak. “B

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 42. Darah Kedua Telah Bangun

    Wira langsung mengangguk. “Dia benar!”Namun Surya Raksa malah tertawa pelan. “Tidak ada yang akan pergi!”Surya kemungkinan mengangkat tangannya, hingga membuat dinding ruangan itu terbuka. Seketika puluhan pendekar muncul dari balik lorong.Bima langsung maju dan berteriak. “Kita terjebak!”Lalu Arya memutar pedangnya. “Tidak!”Ia berdiri di samping Jaya. “Kita punya jalan keluar!”Jaya menatapnya dengan serius. “Di mana?”Arya kemudian menunjuk pada lantai yang mereka pijak.“Di bawah kita!”Pertempuran kembali pecah, Bima dan Raka menahan pasukan yang menuju pada mereka. Sedangkan Laras membantu Ratna.Wira yang menghadapi Surya, sementara Jaya dan Arya berdiri berdampingan. Dua saudara yang baru saja mengetahui hubungan darah mereka, beberapa saat yang lalu.Arya melirik Jaya. “Kamu menggunakan jurus apa?”“Arus Naga!” ucap Jaya. Arya terdiam sesaat. “Jurus itu?”“Kenapa?” tanya Jaya. “It– iitu jurus andalan ayah,” kata Arya. Jaya pun langsung terkejut. “Ardhan yang mengajarkan

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 41. Pewaris yang Hilang

    “Belum waktunya Jaya,” ucap Ardhan. Jaya pun mengangkat pedangnya. “Aku sudah muak selalu mendengar kalimat itu!”Ardhan hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu… silahkan kamu cari sendiri jawabannya,”Tubuh Ardhan pun mulai memudar.Jaya melangkah maju. “T-- tuungguuu!”“Aku tidak bisa terus berada di sini Jaya,” kata Ardhan sebelum menghilang. “Ardhan!” teriak Jaya. Bayangan itu berhenti dan dengan cepat Jaya bertanya kembali. “Apakah kamu benar-benar ayahku?”Ardhan menatapnya cukup lama kemudian ia menjawab. “Darahmu adalah darahku,”Seketika tubuhnya menghilang begitu saja, Jaya berdiri sendirian sembari menatap telapak tangannya.“Darahku…?” Jaya bertanya-tanya. Kemudian terdengar suara ledakan dari atas, Jaya langsung berlari menuju ke permukaan.___Di ruang batu tempat Ratri berada, cahaya putih masih memenuhi ruangan. Batu berwarna hitam yang digunakan untuk ritual telah retak.Surya Raksa terlempar ke dinding, tapi ketika ia bangkit, wajahnya justru memperlihatkan sebuah

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 40. Darah Penjaga Telah Bangun

    “Kalau kalian ingin mengujiku…,” Jaya pun tersenyum lalu ia melangkah turun. “…aku akan memilih jalan yang tidak kalian siapkan!”___Sementara itu di sisi lain, Ratri membuka matanya, ia melihat ke arah sekelilingnya ternyata ia sedang berada di dalam sebuah ruangan batu. Dengan kedua tangannya yang terikat dengan erat. Di depannya sudah berdiri seorang Surya Raksa. “Kamu sudah bangun?”Ratri menatapnya dingin. “Di– ddimana Jaya?”“Masih dalam perjalanan!” ucap Surya. “Kamu menyakitinya?” tanya Ratri. “Tidak!” Surya mendekat. “Aku justru ingin dia tetap hidup!”“Untuk dijadikan Raja Bayangan?” tanya Ratri. Surya pun langsung tertawa. “Bukan!”Lalu Surya meletakkan sebuah benda di meja yaitu gelang milik Ratna.Ratri langsung menatap tajam. “Dari mana kamu mendapatkannya?”“Tentu saja dari ibumu!” kata Surya. “Bohong!” sental Ratri. “Tidak!” Surya pun menggeleng. “Ratna memang yang memberikannya kepadaku,”Ratri terdiam sesaat. “Kenapa?”“Karena dia tahu sesuatu yang tidak kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status