Share

Bab 156

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 21:21:43

Pria itu menatap Raka tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, sementara tekanan yang muncul dari sorot matanya semakin tajam.

"Sekarang permainan ini sudah selesai."

Baginya, kejadian barusan tidak lagi sekadar kesalahan, tetapi sebuah penghinaan. Dan penghinaan semacam itu harus dibayar.

Tanpa membuang waktu, pria tersebut segera mengeluarkan pistol dari pinggangnya. Setiap gerakannya terlihat cepat dan terlatih ketika melakukan pemeriksaan singkat, memasang magasin, lalu membuka pengaman sen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 166

    Belum sempat kalimatnya selesai, suara seorang perempuan terdengar jelas dari balik sambungan telepon. Nadanya tinggi, menunjukkan bahwa ia baru saja merebut gagang telepon dari tangan petugas."Raka! Apa maksudmu?" Suara Celine terdengar penuh kekesalan. "Aku sudah datang sejauh ini menemuimu, tapi kamu bahkan tidak mau keluar? Dengarkan baik-baik! Kalau hari ini kamu tidak muncul dan memberiku penjelasan, aku benar-benar akan marah. Kali ini bukan marah biasa!"Raka memejamkan mata sesaat sambil memijat pangkal hidungnya. Rasa jengkel mulai memenuhi pikirannya. Pada akhirnya, ia menyadari, menghadapi orang seperti Celine dengan adu argumen tidak akan menghasilkan apa pun. Semakin dijelaskan, semakin panjang persoalannya.Lebih baik semuanya diselesaikan sekaligus."Aku akan datang."Setelah sambungan telepon terputus, Raka mengganti seragam latihannya dengan pakaian kasual yang bersih. Beberapa menit kemudian, ia melangkah keluar dari gedung asrama menuju gerbang utama kamp.Belum l

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 165

    Ketika pikirannya masih dipenuhi berbagai pertimbangan, suara mekanis yang sudah sangat dikenalnya kembali bergema di dalam benaknya.[Ding!][Selamat, Pengguna! Misi Takhta Pulau Tempur telah berhasil diselesaikan.][Imbalan misi sedang dihitung...][Selamat! Pengguna memperoleh hadiah tambahan: Kesadaran Medan Perang Tingkat Menengah.]Mata Raka sedikit membesar ketika hadiah itu berhasil diintegrasikan oleh sistem. Sesaat kemudian, gelombang informasi dalam jumlah besar langsung mengalir ke pikirannya hingga cara pandangnya terhadap medan tempur berubah sepenuhnya.Jika sebelumnya Deteksi Ancaman hanya bekerja seperti alarm yang aktif ketika bahaya mendekat, kini otaknya seolah berubah menjadi pusat analisis tempur yang terus memindai seluruh situasi secara aktif.Dalam persepsinya, ruang di sekelilingnya terasa jauh lebih jelas. Kontur medan, sudut pandang, jalur pergerakan, hingga berbagai kemungkinan taktis tersusun rapi di benaknya seperti sebuah simulasi tiga dimensi yang teru

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 164

    Tiara membuka tutup botol antiseptik hingga aroma tajam langsung memenuhi ruangan. Dengan bantuan pinset, ia mengambil kapas yang telah dibasahi cairan tersebut sebelum menempelkannya perlahan ke luka terdalam di lengan Raka."Ssshh..."Raka spontan mengisap napas.Seberapa kuat pun ketahanan tubuh dan mentalnya, rasa perih yang menyengat tetap membuat otot-ototnya menegang seketika.Sudut bibir Tiara sedikit terangkat. "Oh?"Tatapan mereka akhirnya bertemu."Ada juga rupanya orang yang baru saja mengalahkan instruktur, tetapi masih bisa kesakitan karena antiseptik." Nada bicaranya terdengar tenang, disertai selipan godaan yang sangat tipis. "Aku sempat mengira sarafmu terbuat dari baja, jadi rasa sakit seperti ini seharusnya tidak berpengaruh sama sekali."Raka hanya bisa menyeringai sambil menahan perih. "Aku juga manusia," ujarnya dengan senyum masam. "Wajar kalau terasa sakit.""Kalau tahu sakit, kenapa masih nekat menyiksa diri sendiri?" Nada suara Tiara berubah lebih dingin. Kap

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 163

    Sebenarnya, waktu yang ia habiskan bersama pemuda itu tidaklah banyak. Namun entah sejak kapan, rasa penasaran yang semula hanya muncul sesaat perlahan berubah menjadi kekaguman. Kini, perasaan tersebut terus berkembang menjadi sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mampu pahami.Ada benih emosi baru yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya. Semakin ingin ia abaikan, semakin kuat perasaan itu berkembang.Tiara menghembuskan napas pelan. Dia tidak tahu harus menyebutnya sebagai apa. Yang ia tahu, setiap kali melihat Raka, hatinya selalu memberikan jawaban yang tidak mampu dijelaskan oleh pikirannya.Tiara tidak mampu menjelaskan perasaan yang memenuhi hatinya. Setiap kali melihat Raka terluka, dadanya ikut terasa sesak. Saat mendengar orang lain meremehkannya, amarah ikut membuncah. Bahkan kemenangan Raka menghadirkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan jika dirinya sendiri yang berdiri di posisi juara.Entah sejak kapan semua itu bermula, tetapi tanpa disadari seluruh perh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 162

    Semua orang menyaksikan siaran itu dari awal hingga akhir. Mereka melihat bagaimana Komandan Hendra menggunakan kemampuan pelacakan, senjata, pengalaman tempur, dan keunggulan medan untuk menekan Raka tanpa ampun. Mereka juga melihat bagaimana Raka berkali-kali dipaksa berada di ambang kekalahan sebelum akhirnya membalikkan keadaan melalui kecerdikan, keberanian, dan kemampuan tempur yang luar biasa.Tidak ada yang menganggap kemenangan itu kebetulan. Justru karena situasinya begitu mustahil, kemenangan tersebut terasa semakin mengejutkan. Pembicaraan di seluruh tenda kini hanya berpusat pada Raka.Setiap pujian, kekaguman, dan keterkejutan mengarah kepadanya. Sosok yang sebelumnya sudah menjadi pusat perhatian kini berubah menjadi legenda hidup di antara para mahasiswa baru.Sebaliknya, Reyhan dan Damar seperti menghilang dari perhatian semua orang. Perasaan itu membuat dada mereka terasa sesak.Mengapa selalu Raka?Mengapa setiap sorotan selalu jatuh kepadanya?Mengapa semua orang m

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 161

    Komandan Hendra menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Semakin lama ia menatap Raka, semakin sulit baginya menganggap pemuda itu sebagai mahasiswa baru biasa."Kau adalah mahasiswa paling aneh yang pernah kutemui," ujarnya terus terang. Sorot matanya dipenuhi kekaguman yang sama sekali tidak disembunyikan. "Jenius. Benar-benar jenius."Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan napas yang masih berat, sementara pistol latihan tetap berada dalam genggamannya. Meski tubuhnya hampir mencapai batas dan luka-luka di sekujur badan terus mengirimkan rasa nyeri, sorot matanya tetap tenang seperti sebelumnya.Sementara itu, suasana di tenda medis berubah total.Ketika tayangan siaran langsung memperlihatkan Komandan Hendra mengangkat tangan dan mengakui kekalahannya, seluruh ruangan mendadak membeku. Semua orang hanya menatap layar dengan ekspresi kosong seolah otak mereka belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi.Reyhan dan Damar menjadi yang paling terpukul. Ejekan ya

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 13

    Selama bertahun-tahun berada di militer, ia sudah melihat banyak jenius, pembuat onar, hingga monster fisik dari berbagai wilayah Republik Nusantara Raya. Namun seseorang seperti Raka belum pernah ia temui, sosok pemuda itu terlalu tenang. Dan yang paling mengerikan, ia jelas belum mengeluarkan sel

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 12

    “Lihat pasukanmu itu, Kapten Arman,” ujar seorang instruktur muda berpangkat letnan dua sambil tertawa kecil. “Baru beberapa kilometer saja sudah seperti terong layu.”Kapten Arman, komandan tempat Raka dan para mahasiswa baru lainnya ditempatkan selama pelatihan. Usianya sekitar tiga puluhan, kuli

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 11

    Keringat sudah membasahi seragam latihan para mahasiswa baru sejak lama. Kain kamuflase itu menempel erat di tubuh mereka, menciptakan rasa lengket yang membuat setiap gerakan terasa semakin berat di bawah panas musim panas Neo Jakarta.“Aku tidak sanggup lagi...”Seorang siswa bertubuh gemuk tiba-

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 10

    “Aku! Hengky!” katanya lantang. “Aku menuntut pelatihan gila ini dihentikan! Kami punya hak—”DOR!Suara tembakan memecah udara tanpa peringatan. Kalimat Hengky terputus begitu saja. Sebuah lubang berdarah muncul tepat di tengah dahinya, ekspresinya membeku. Matanya membelalak lebar, seolah otaknya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status