共有

Bab 2

作者: Imgnmln
last update 公開日: 2026-05-07 22:47:58

Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.

Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.

Dan mereka yang tak bernilai dibuang ke sudut belakang akademi.

Raka berjalan sendirian menyusuri lorong besi yang remang. Di tangannya, ia menggenggam kartu identitas baru bertuliskan Kelas Nol.

Saat langit benar-benar gelap, ia tiba di bangunan yang bahkan lebih buruk daripada gudang tua.

Asrama Kelas Nol. 

Tak ada suara tawa siswa elit di tempat itu. Yang terdengar hanya makian, dentuman benda jatuh, dan rintihan orang kesakitan.

Raka mendorong pintu kamarnya yang sempit. Di dalam hanya ada ranjang besi berkarat, lemari penyok, dan jendela retak yang nyaris tak bisa ditutup.

Ia baru melangkah satu langkah—

BANG!

Pintu di belakangnya ditendang keras hingga membentur dinding. 

Tiga senior masuk sambil tersenyum.

Yang paling depan bertubuh besar, berkepala plontos, dengan bekas luka panjang membelah pipi kirinya. Ia masuk paling duluan.

Pria itu memutar leher perlahan, suara sendinya berbunyi kasar. Tatapannya menyapu kamar sempit itu sebelum berhenti pada Raka yang duduk tenang di ranjang besi. “Pendatang baru,” ucapnya sambil menyeringai. “Selamat datang di Kelas Nol.”

Dua senior di belakangnya tertawa kecil.

Plontos itu melangkah mendekat, lalu menepuk-nepuk pipi Raka dengan punggung tangan.

“Di sini, semua orang bayar biaya hormat pada senior.” Ia menunduk sedikit, lalu kembali berkata “Kalau tidak bayar, hidupmu akan panjang... tapi menyakitkan.”

Raka tetap ddiam tanpa bergerak. “Aku tidak punya uang.”

Hening sepersekian detik.

Lalu senior plontos meledak tertawa.

“Tidak punya uang?” Ia menoleh pada dua temannya. “Dengar itu? Sampah ini datang ke akademi berbekal mimpi, tapi kantong kosong.”

Senior plontos kemudian menyeringai. “Kalau begitu pinjam.”

“Aku tidak kenal kalian.”

Dua senior di belakangnya saling pandang, lalu tertawa.

Senior plontos mencondongkan tubuh lebih dekat. “Berani juga bicaramu.”

Raka menatap lurus ke matanya. “Kau masuk kamarku, merusak pintuku, lalu meminta uang. Yang kulihat cuma tiga pecundang berburu korban lemah.”

Hening.

Mendengar itu, raut wajah senior plontos mengeras. “Apa kau baru saja memanggilku pecundang?”

Raka bersandar santai pada ranjang besi. “Kalau tersinggung, berarti aku benar.” 

Senyum senior plontos itu perlahan hilang, diganti sorot mata buas. “Kalau begitu, kau bayar pakai tulang.”

Ia mengepalkan tangan. “Mulai dari rahangmu.”

Tinju melesat.

DUAGH! BRAKK!

Pukulan itu menghantam perut Raka dengan telak, membuat tubuhnya terangkat lalu terpental keras ke dinding.

Dua senior lain langsung menyusul tanpa memberi celah. Satu tendangan menyapu ke arah kepalanya, diikuti lutut yang melesat lurus ke arah perutnya.

BUGH! BRAK! DUG!

Raka berusaha melawan, tetapi tubuhnya kalah kuat dan jumlah lawan terlalu banyak.

Dalam hitungan menit, bibirnya pecah, darah mengalir. Tulang rusuk nyeri, napasnya tersengal, darah menetes dari pelipis.

Senior plontos itu mencengkeram rambut Raka dengan kasar, memaksa kepalanya terangkat. Sudut bibirnya menyeringai sinis. “Anak Grade E berani melotot?”

BRAK!

Tanpa ampun, ia membanting kepala Raka ke lantai. Benturan keras membuat pandangannya seketika pecah jadi kabur, dunia berputar liar di sekelilingnya. Darah mengalir dari kepalanya.

Di balik kaus yang kusut, liontin tua pemberian ibunya menggantung keluar. Setetes darah menetes pelan, jatuh tepat ke permukaan logam kusam itu.

Nggg~

Cahaya merah samar menyala sesaat, seperti denyut yang baru terbangun.

Tak seorang pun menyadarinya.

Senior plontos mengangkat kaki, wajahnya penuh jijik. “Tidur sana, sampah.”

BUK!

Sepatu itu menghantam wajah Raka telak. Segalanya langsung gelap.

Sunyi.

Lalu suara samar bergema.

Raka membuka mata, ia berdiri di dunia asing. Langit merah seperti lautan darah. Tanah hitam retak sejauh mata memandang.

Di kejauhan berdiri singgasana raksasa dari tulang dan baja. Di atasnya duduk sosok pria berzirah gelap dengan mahkota retak di kepalanya. Wajahnya samar, namun auranya membuat ruang bergetar. Sepasang mata merah menyala terbuka.

“Lemah.”

Suara itu menghantam seperti petir.

Raka menatap lurus. “S-siapa kau?”

Sosok itu tertawa pelan. “Darahku mengalir dalam tubuhmu, dan kau dipukuli tiga serangga?”

BRAKK!

Tekanan mengerikan jatuh dari langit. Lutut Raka berderak, tulangnya nyaris patah. Namun ia tetap berdiri.

Sosok itu berhenti tertawa. “Bagus.” Ia mengangkat satu jari. “Bangun.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bangkitnya Sampah Grade E   BAB 9

    “Semua bersiap!”Suara berat itu kembali menggema melalui pengeras suara, menghantam seluruh area hingga telinga para siswa berdengung.“Lari lintas medan bersenjata sejauh lima kilometer… Mulai sekarang!”Begitu perintah dijatuhkan, para instruktur di barisan depan langsung bergerak tanpa memberi waktu sedikit pun untuk bersiap. Langkah mereka cepat dan stabil, memimpin jalur lari seperti kawanan predator.Para siswa sempat terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berlari dalam kekacauan.“Cepat bergerak! Kalian belum makan, hah?!”“Sepuluh persen terakhir langsung tereliminasi! Tidak ada makan malam untuk sampah yang tertinggal!”Teriakan para instruktur terus mengguncang lapangan, membuat para siswa yang baru memasuki Akademi Tempur Garuda itu akhirnya memahami seperti apa kerasnya kehidupan militer di Republik Nusantara Raya. Lari baru dimulai beberapa menit, tetapi penderitaan sudah terasa jelas.Ransel berat di punggung mereka terus menghantam tubuh setiap kali langkah di

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 8

    “SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 7

    Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.BRAK!Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”Hening.Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Ra

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 6

    Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”TING!00:42Suara logam bergesek terdengar dari luar.KRRRK~Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 5

    Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.Hilang.“Duduk.”Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”Beberapa de

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 4

    WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.Raka Ma

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status