共有

Bab 3

作者: Imgnmln
last update 公開日: 2026-05-07 22:48:22

Raka membuka mata di lantai kamar. Napasnya memburu, rasa panas membakar dari dalam tubuhnya, seolah lava mengalir di setiap pembuluh darah. Urat-urat menonjol di leher dan lengannya, sementara jantungnya berdetak seperti genderang perang yang dipukul tanpa henti.

Namun anehnya, seluruh rasa sakit yang tadi menghancurkan tubuhnya lenyap begitu saja. Digantikan oleh energi liar yang meluap.

Raka mengernyit, ia menyentuh rahang yang sebelumnya dihantam sepatu senior itu. Lalu tangannya turun ke tulang rusuk yang tadi terasa patah. Semuanya terasa biasa saja tanpa rasa sakit.

“Apa...?”

Perlahan ia menekan lantai untuk bangkit.

KREK!

Keramik di bawah telapak tangannya retak membentuk jaring halus.

Raka langsung menoleh terkejut, tatapannya turun ke lantai, lalu ke tangannya sendiri. Ia bahkan tidak menekan sekuat itu.

Panas di tubuhnya terasa makin menjadi. Sesuatu bergerak di balik daging dan tulangnya, seperti makhluk tidur yang baru terbangun lalu meraba seluruh raganya dari dalam.

“Apakah aku halu?”

Ia mencoba bangkit perlahan.

KRETEK~ KRETEK~

Saat punggungnya tegak, tulang-tulang di tubuhnya berbunyi keras. Seakan, sendi-sendinya baru saja dipasang ulang.

“Tunggu, tubuhku…” lirih Raka, sesaat sebelum mendengar suara lain.

Di luar kamar, suara tawa yang meremehkan dari tiga senior itu masih terdengar jelas dari koridor. Seolah yang baru mereka hajar hanyalah sampah yang tak akan bangun lagi.

“Pingsan cuma segitu.”

“Hahaha! Besok pakai lagi buat hiburan.”

“Anak sampah memang cocok di Kelas Nol.”

Tatapan Raka berubah dingin, ia melangkah menuju pintu dan meraih gagangnya.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

Tiga senior itu menoleh bersamaan.

Brama—si Senior plontos menyeringai lebar, matanya penuh ejekan. “Eh, bangun lagi samp—”

WHOOSH!

Namun, kalimatnya terputus. Raka hanya berniat melangkah biasa, tetapi tubuhnya melesat jauh lebih cepat dari pikirannya.

Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di depan Brama.

Mata pria itu membelalak.

Raka sendiri ikut membeku sepersekian detik.

‘Cepat sekali…’ Brama mundur refleks sambil mengangkat tangan. “A-apa—”

Tubuh Raka bergerak sendiri, tinju kanannya meluncur lurus.

BUG! BRAKK!

Wajah Brama terpelintir ke samping, gigi bercampur darah muncrat ke udara. Tubuh besarnya terangkat lalu terbang menghantam dinding koridor hingga retak dan ambles.

Debu berjatuhan.

Lorong mendadak sunyi.

Raka menoleh ke arah dinding yang hancur, lalu ke tubuh besar yang kini terkapar tak bergerak. Setelah itu pandangannya turun ke kepalan tangannya sendiri, jari-jarinya masih mengepal kaku.

“Tunggu. Aku... melakukan itu?”

Barusan, ia tidak memakai seluruh tenaga. Bahkan ia tidak merasa sedang memukul sekeras itu.

Lalu kenapa hasilnya seperti ini?

Panas di dalam tubuhnya kembali berdenyut, lebih liar dari sebelumnya.

Dua senior lain membeku di tempat. Wajah mereka pucat, napas tercekat.

“Apa-apaan ini?!”

“Brama tumbang satu pukulan!”

“Sial! Dia bukan Grade E!”

Salah satu dari mereka meraung panik dan mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Raka.

Raka baru sempat menoleh, tubuhnya kembali bergerak lebih cepat dari kesadaran. Tangannya terangkat dan menangkap tongkat itu di udara.

TAK!

Benturan keras berhenti di telapak tangannya.

Mata Raka menyipit, ia menatap batang besi yang tertahan satu tangan, lalu tanpa sadar menggenggam sedikit lebih kuat.

KREKK!

Tongkat itu remuk seperti ranting kering, pecahan logam berjatuhan ke lantai. Senior yang memegangnya membelalak ngeri.

Raka ikut terdiam sesaat, bahkan cengkeramannya sendiri tak lagi ia kenali. Darah mengalir tipis di sela jari-jarinya.

Dengan refleks, ia menendang perut pria itu.

DUAGH!

Tubuh senior tersebut terbang menabrak pintu kamar di ujung lorong.

Pintu kayu pecah berkeping-keping. Pria itu jatuh berguling di antara serpihan dengan erangan menyakitkan.

Senior terakhir menjerit panik lalu berbalik hendak kabur.

Raka membeku sesaat di tempatnya sendiri. Napasnya masih berat, tetapi matanya dipenuhi kebingungan yang sulit disembunyikan. “Kekuatan macam apa ini...?”

Suaranya rendah dan serak. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

Panas di dalam tubuhnya kembali berdenyut liar, mengalir cepat dari dada menuju seluruh anggota tubuh. Urat di lengannya menegang, seolah tenaga itu menunggu perintah berikutnya.

Raka mengangkat kepala. Pandangannya menangkap sosok senior terakhir yang hampir mencapai tikungan lorong. Sorot matanya langsung berubah dingin.

“BERHENTI!”

Bentakan itu menggema keras di koridor.

Senior terakhir tersentak hebat, langkahnya kacau, lalu berhenti dengan tubuh gemetar sebelum perlahan menoleh ke belakang.

Raka menarik napas perlahan, tenaga liar di tubuhnya mulai mengikuti ritme napas.

Ia mengangkat kepala. Pandangannya menangkap sosok senior terakhir yang hampir mencapai tikungan lorong.

Sorot matanya langsung berubah dingin.

Senior terakhir itu menoleh ke belakang dengan wajah pucat, mata membelalak melihat Raka yang kini berdiri tegak di tengah lorong.

Raka tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menatapnya.

BRAKK!

Tatapan itu dingin, tajam, penuh tekanan, dan seolah ada sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.

Senior itu gemetar. Kakinya mundur satu langkah, lalu dua langkah, sampai akhirnya ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menyusuri lorong gelap. Langkahnya kacau, napasnya terengah, tidak berani menoleh lagi.

Raka tetap berdiri di tempat yang sama. Ia menatap lorong kosong itu beberapa saat, lalu menunduk ke telapak tangannya. Napasnya terdengar berat, kebingungan menerpa dirinya.

Kekuatan apa yang baru saja bangun dalam dirinya?

Ia mengepalkan tangan perlahan, mencoba memahami sensasi panas yang masih berdenyut di inti dadanya.

Lalu—

DUG!

Satu dentuman terdengar dari dalam dadanya.

Raka menegang, panas di aliran darahnya berkumpul menuju jantung, lalu menyebar lagi seperti gelombang merah. Tubuhnya terasa lemas sesaat, membuatnya terduduk dengan kaki gemetar.

Suara berat dan asing bergema langsung di benaknya.

[Pewaris terverifikasi.]

Raka mengangkat kepala, sorot matanya berubah tajam.

“Siapa?”

Tak ada siapa-siapa di lorong.

Namun suara itu kembali terdengar.

[Resonansi Darah Mahendra telah aktif.]

Di depan matanya, garis-garis cahaya merah perlahan mulai terbentuk di udara. Fragmen tulisan asing berputar.

[WARISAN TAHAP AWAL DIBUKA]

[JALUR NADI: PEMULIHAN DIMULAI]

[TEKNIK PERTAMA: INSTING TEMPUR]

Raka menatap simbol itu tanpa berkedip, kebingungan terlintas jelas di matanya.

“Simbol? Tulisan kuno…”

Suaranya nyaris tak terdengar. Perlahan tulisan itu tercerna ke dalam pikirannya, lalu berubah menjadi huruf yang bisa ia baca.

Napasnya tertahan, sorot matanya goyah. “Apa ini… Warisan…?”

Panas di dadanya masih berdenyut liar, dan terasa sangat nyata. Perlahan, luka-luka di tubuhnya menghilang dalam sekejap.

“Tunggu… lukaku…” suaranya tercekat, matanya terpaku pada telapak tangan yang tadi berlumur darah kini bersih, utuh, tanpa bekas, “Sembuh?”

Napasnya mulai kacau, naik turun tak beraturan, seolah tubuhnya belum siap menerima kenyataan yang terjadi begitu cepat. Pikirannya bergerak liar, menyusun ulang potongan demi potongan yang barusan ia alami. Tiga senior itu, satu hantaman, dinding yang hancur dalam satu benturan brutal.

Kalau ini efek dari hal yang tadi dikatakan sosok itu—

Kalau ini yang membuatnya bisa menjatuhkan mereka dalam satu gerakan—

Deg!

Jantungnya berdegup lebih keras, cepat, menghantam dadanya tanpa ampun.

Jari-jarinya mengepal tanpa sadar. “Kalau ini benar…”

Belum sempat ia mencerna semuanya—

WIUUU~ WIUUU~

Sirene darurat meraung ke seluruh gedung.

Lampu darurat menyala merah, memandikan lorong-lorong akademi dengan warna bahaya. Para murid terbangun dalam kekacauan, pintu-pintu terbuka, suara langkah berlarian bersahutan.

Di Gedung Pusat Akademi, seluruh layar pengawas berkedip bersamaan. Sistem yang semula stabil mendadak kacau, data berloncatan liar.

Seorang pria tua berjubah komandan bangkit dari kursinya dengan wajah pucat. Tatapannya tertuju pada monitor utama.

Di layar itu, data peserta ujian siang tadi muncul kembali secara otomatis. Nama yang seharusnya tak penting kini memenuhi pusat tampilan.

[Raka Mahendra—Bloodline Detected]

Tangan pria tua itu bergetar, napasnya tercekat. “Tidak mungkin!”

Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak bersuara. Matanya menatap layar tanpa berkedip, seolah takut tulisan itu akan hilang jika ia mengalihkan pandangan. “Garis darah Mahendra sudah punah!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bangkitnya Sampah Grade E   BAB 9

    “Semua bersiap!”Suara berat itu kembali menggema melalui pengeras suara, menghantam seluruh area hingga telinga para siswa berdengung.“Lari lintas medan bersenjata sejauh lima kilometer… Mulai sekarang!”Begitu perintah dijatuhkan, para instruktur di barisan depan langsung bergerak tanpa memberi waktu sedikit pun untuk bersiap. Langkah mereka cepat dan stabil, memimpin jalur lari seperti kawanan predator.Para siswa sempat terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berlari dalam kekacauan.“Cepat bergerak! Kalian belum makan, hah?!”“Sepuluh persen terakhir langsung tereliminasi! Tidak ada makan malam untuk sampah yang tertinggal!”Teriakan para instruktur terus mengguncang lapangan, membuat para siswa yang baru memasuki Akademi Tempur Garuda itu akhirnya memahami seperti apa kerasnya kehidupan militer di Republik Nusantara Raya. Lari baru dimulai beberapa menit, tetapi penderitaan sudah terasa jelas.Ransel berat di punggung mereka terus menghantam tubuh setiap kali langkah di

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 8

    “SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 7

    Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.BRAK!Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”Hening.Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Ra

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 6

    Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”TING!00:42Suara logam bergesek terdengar dari luar.KRRRK~Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 5

    Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.Hilang.“Duduk.”Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”Beberapa de

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 4

    WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.Raka Ma

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status