Share

Bangkitnya Sampah Grade E
Bangkitnya Sampah Grade E
Penulis: Imgnmln

Bab 1

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 22:47:36

Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.

Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor, drone pengawas, dan kristal pengukur Etherion berjejer seperti altar masa depan.

Di tempat itu, nasib ditentukan.

Siapa yang lulus akan memperoleh kekuasaan, uang, status, dan jalan menjadi kultivator militer. Dan bagi mereka yang gagal, akan kembali menjadi rakyat biasa, hidup di bawah kaki mereka yang kuat.

Di tengah lautan manusia itu, seorang pemuda berdiri tenang dengan seragam lusuh yang warnanya mulai pudar.

Raka Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra. Dua puluh tahun yang lalu, nama Mahendra membuat banyak orang menunduk. Sekarang, nama itu hanya mengundang tawa. Nama besar yang pernah mengguncang dunia bisnis dan militer, sebelum hancur dalam satu malam dan dicap sebagai keluarga pengkhianat.

Kini, pewaris terakhir keluarga itu hanya berdiri sendirian di antara ribuan orang yang menertawakannya.

Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya datar. Namun sepasang mata amber miliknya menatap panggung dengan ketajaman dingin.

“Peserta nomor 317, Reyhan Aditya!”

Sorak-sorai meledak.

Seorang pemuda tinggi melangkah maju dengan dagu terangkat. Rambutnya tertata rapi, jas akademi khusus menempel sempurna di tubuh atletisnya. Beberapa pengawal keluarga berdiri tak jauh di belakang.

Reyhan meletakkan telapak tangan di atas kristal ujian.

Nggg~

Cahaya biru meledak ke udara, diikuti tulisan besar muncul di layar hologram.

[Bakat Etherion : Grade A]

[Jalur Nadi : Stabil]

[Potensi Tempur : Sangat Tinggi]

“Gila!”

“Grade A!”

“Seperti dugaan, keluarga Aditya memang monster!”

Suara kagum itu muncul dari tengah kerumunan, lalu segera disusul bisik-bisik lain yang bernada sama.

“Reyhan luar biasa!”

“Bakat kelas atas.”

“Sudah pasti masuk divisi elit.”

Reyhan menampilkan senyum tipis yang santai dan percaya diri. Ia menikmati sorotan yang mengarah padanya seperti seseorang yang sudah terbiasa dipuja. Ketika pandangannya menyapu barisan peserta dan berhenti pada Raka, senyum itu perlahan berubah menjadi seringai tipis merendahkan.

Namun Raka tak memberi reaksi sedikit pun. Wajahnya tetap datar, sorot matanya tenang. Seolah Reyhan hanyalah angin lalu.

Satu per satu peserta kembali dipanggil.

Grade B.

Grade C.

Sesekali Grade A muncul dan memancing sorak kagum.

Plaza semakin panas. Udara dipenuhi ambisi, iri hati, gengsi, dan tekanan tak kasatmata. Setiap orang ingin naik, tak ada yang rela jadi sampah.

Lalu suara petugas kembali menggema.

“Peserta nomor 401, Raka Mahendra!”

Seketika kerumunan bergejolak.

“Mahendra? Si Sampah itu?”

“Bukannya itu keluarga pengkhianat?”

“Anak pengkhianat mau masuk akademi?”

Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sisi.

Raka berjalan maju tanpa menoleh sedikit pun. Setiap langkahnya stabil, seolah suara-suara itu tak pernah sampai ke telinganya. Ia berhenti tepat di depan kristal uji.

Seorang instruktur berjubah hitam memindai data di tablet, lalu mendecak pelan dengan wajah jijik. “Tidak ada sponsor, tidak ada rekomendasi. Riwayat pelatihan nihil.”

Dagunya terangkat, nada suaranya dingin. “Sentuh kristal itu.”

Raka tak menjawab, dengan ekspresi tenang, ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak ke permukaan kristal.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu kristal bergetar pelan.

Grrr~

Cahaya redup yang kecil muncul, seperti api lilin yang hampir padam diterpa angin. Hologram di atasnya berkedip sesaat, mati sepersekian detik, lalu menyala kembali.

[Bakat Etherion : Grade E]

[Jalur Nadi : Rusak]

[Potensi Tempur : Hampir Nol]

Sunyi menggantung sepersekian detik.

Lalu—

“HAHAHAHA!”

Ledakan tawa mengguncang plaza.

“Grade E?!”

“Sampah total!”

“Potensi hampir nol?!”

“Ngapain datang ke sini?”

“Balik kerja serabutan sana!”

Suasana berubah jadi arena penghinaan.

Instruktur berjubah hitam melirik Raka dengan muak. Ia menekan tablet dengan kasar. “Memalukan.” jeda singkat. “Lulus bersyarat, masuk Kelas Nol.”

Suara tawa semakin keras.

Kelas Nol, tempat pembuangan bagi peserta gagal yang masih dipertahankan demi kuota kasar, kerja kotor, atau sekadar jadi samsak hidup.

Raka menatap hasil uji beberapa detik. ‘Grade E… Lagi.’

Sejak kecil hasilnya selalu sama, tubuh gagal, jalur nadi rusak dan tidak punya masa depan. Namun ekspresinya tetap datar.

Ia berbalik hendak pergi, namun suara langkah mendekat lebih dulu.

Reyhan Aditya berhenti tepat di depannya, cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia sengaja menghalangi jalan. “Kau benar-benar datang.”

Nada suaranya santai, tetapi penuh ejekan. “Kalau aku jadi kau, aku akan mengubur nama Mahendra dan hidup diam-diam.”

Beberapa peserta langsung merapat, menunggu tontonan.

Reyhan menatap seragam lusuh Raka dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Dulu keluargamu membuat banyak orang menunduk.”

Ia mendekat sedikit. “Sekarang, pewarisnya bahkan tak layak menatap panggung yang sama denganku.”

Tawa kecil terdengar dari sekitar.

Raka tak menjawab. Ia hanya menatap Reyhan satu detik dengan mata datar, lalu berjalan melewatinya.

Reyhan menyipitkan mata. “Bagus,” katanya pelan. “Pewaris sampah memang tahu kapan harus diam.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 200

    Kekuatan pukulannya begitu besar hingga kepala Kevin terlempar ke samping dan darah langsung muncul di sudut bibirnya.Suasana mendadak membeku.Para kadet yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi langsung tercengang.Di mata mereka, Kevin baru saja berlari ke depan, lalu terdengar suara tamparan keras.Sesaat kemudian, dia sudah jatuh ke lantai.Inilah momen yang dia tunggu-tunggu.Kevin menutupi wajahnya dan mengerang kesakitan. Kemampuan aktingnya benar-benar pantas mendapat penghargaan."Ada yang dipukul! Raka Mahendra memukul orang!"Dia berguling-guling di lantai sambil berteriak sekuat tenaga."Instruktur! Instruktur, tolong saya! Raka memukul orang di depan umum! Tolong beri saya keadilan!"Benar-benar contoh sempurna seorang pelaku yang lebih dulu menuduh korbannya."Sial!"Bara dan yang lain melihat semuanya dengan jelas dan langsung meledak marah."Kau bohong! Kau yang memukul dirimu sendiri!"Bara begitu marah hingga seluruh tubuhnya gemetar. Dia menunjuk Kevin ya

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 199

    "Aku akan mengatakannya sekali lagi. Kembalikan uang tiga ratus juta itu hari ini. Kalau tidak...""Kalau tidak apa?"Melihat begitu banyak orang berada di pihaknya, Kevin kembali dipenuhi rasa percaya diri dan langsung memotong ucapan Raka. "Apa? Kau mau memukulku?""Raka Mahendra, kuberitahu sesuatu. Ini lingkungan militer! Di sini ada para kadet yang sedang menjalani pelatihan, sama seperti kita."Dia menunjuk ke arah orang-orang di belakangnya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling dengan ekspresi sombong. "Hari ini, coba saja sentuh aku sekali. Begitu banyak mata yang melihat. Mereka semua adalah saksi!"Melihat Raka tetap diam, Kevin mengira lawannya tidak berani bertindak. Kepercayaan dirinya langsung melonjak. Dia bahkan melangkah maju beberapa langkah dan mengangkat dagunya dengan angkuh."Ayo! Pukul aku!""Ayo…! Pukul aku kalau berani!"Serangkaian tindakan aneh Kevin membuat seluruh kantin tercengang. Ekspresi percaya dirinya yang berlebihan, ditambah ucapan yang begitu prov

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 198

    "Aku tidak melakukannya! Dia bohong!" Celine akhirnya tersadar dari keterkejutannya.Saat merasakan tatapan tajam dari segala arah, dia benar-benar panik."Tidak! Tidak! Tidak! Semua itu hanya karangan Raka!""Raka Mahendra! Kau sedang memfitnahku! Karena tidak bisa mendapatkan diriku, kau sengaja datang untuk merusak namaku! Semua yang kau katakan itu bohong!"Namun, bantahan tersebut terdengar begitu lemah dan tidak meyakinkan.Melihat dirinya sudah tidak bisa menyangkal lagi, mata Celine tiba-tiba berputar sebelum ekspresinya berubah sedih. Suaranya pun mulai bergetar seolah akan menangis. "Raka... aku tahu kau masih menyukaiku, bukan?""Kau melakukan semua ini, mengatakan semua hal itu, hanya untuk membuatku cemburu dan memaksaku memperhatikanmu...""Aku mengerti... sekarang aku mengerti semuanya..." Dia memegang dadanya dan menatap Raka dengan ekspresi penuh perasaan. "Sebenarnya... sebenarnya, aku juga selalu memiliki perasaan padamu. Hanya saja... aku tidak tahu bagaimana mengu

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 197

    Wajah Celine langsung memucat, sementara tubuhnya tanpa sadar mundur satu langkah. Raka sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Tatapannya beralih dan langsung menancap pada Kevin seperti bilah tajam. "Dan kau… Kau sibuk berlagak keren setiap hari, apa kau benar-benar menganggap dirimu tuan muda pewaris keluarga besar?""Apa kau sudah lupa pukulan yang kau terima terakhir kali? Atau kau memang menikmati berlutut di tanah?""Bukankah kau sangat hebat? Bukankah kau pelindung para wanita? Bukankah di depan semua orang kau mengatakan akan membayar tiga ratus juta itu?"Suara Raka tiba-tiba meninggi. Setiap katanya terasa seperti tamparan keras yang menghantam wajah Kevin."Mana uangnya?! Aku tanya, mana uangnya?!""Aku sudah menunggu cukup lama, dan kesabaranku hampir habis!"Wajah Kevin seketika memerah. Mulutnya terbuka beberapa kali, tetapi tidak satu kata pun keluar.Raka mencibir dingin sebelum menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Tatapannya melewati setiap wajah ya

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 196

    Dia semakin yakin bahwa dirinya benar. Sambil menunjuk ke arah Raka, dia berbicara lantang kepada orang-orang di sekitarnya. "Benar! Dia memang Raka Mahendra! Dia sudah mengejarku selama tiga tahun penuh!""Karena aku tidak pernah menerimanya, sekarang dia mulai memainkan trik kekanak-kanakan dan mencari berbagai cara untuk menarik perhatianku!""Wooohooo..."Sorakan dan cemoohan langsung meledak dari kerumunan.Melihat kesempatan itu, Reyhan dan Damar segera keluar dari kerumunan dan berpura-pura menjadi orang yang paling memahami situasi."Benar sekali! Aku bisa menjadi saksi!" Reyhan memasang ekspresi serius. "Raka memang hanya menyukai Celine dan terus mengejarnya selama ini!""Dia sengaja mengikuti kami sampai ke kantin hari ini!"Damar juga mengangguk berkali-kali dari samping. "Benar! Kami semua melihatnya! Dia benar-benar penguntit!"Dalam sekejap, opini publik sepenuhnya berpihak pada Celine dan langsung menekan Raka."Omong kosong!"Suara keras tiba-tiba meledak seperti gunt

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 195

    Sesampainya di sana, dia mengangkat tangan dan menunjuk ke salah satu sudut. Gerakannya tampak tenang dan elegan. Namun, arah yang ditunjuknya justru mengarah tepat ke formasi tempat Celine dan Kevin berada.Begitu melihatnya, Raka langsung membeku. “Hah?!”Rasanya seperti disambar petir."Komandan unit! Tidak! Ganti yang lain saja! Siapa pun boleh!" Dia langsung panik dan buru-buru mencoba bernegosiasi.Sayangnya, Arman sama sekali tidak memberinya kesempatan. Pria itu hanya menunjukkan senyum penuh arti sebelum berbalik dan menyelinap pergi ke tengah kerumunan. Kecepatannya bahkan lebih lincah daripada kelinci."Komandan unit! Jangan lari! Kita masih bisa membicarakannya! Tidak bisakah mencari orang lain?!" Raka meraung sambil mengejarnya.Pada saat itulah Celine yang sedang duduk di sudut sambil menggigit roti kukus, tanpa sengaja melihat pemandangan tersebut. “Raka... berlari ke arahku?” gumamnya.Bahkan larinya begitu cepat. Api kemarahan di dalam hatinya langsung menyala.‘Dasar

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 2

    Senja tenggelam perlahan di balik menara Akademi Tempur Garuda.Sorak-sorai plaza ujian sudah lama padam, digantikan suara langkah para peserta yang dibagi menuju gedung masing-masing. Mereka yang berbakat dibawa ke asrama utama. Mereka yang memiliki koneksi dijemput kendaraan keluarga.Dan mereka

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 88

    Jenderal tua itu mengetuk-ngetuk lembar laporan di depannya dengan ujung jari. "Profil psikologis anak ini bersih total tanpa noda. Tidak ada rekam jejak trauma, tidak ada anomali temperamen.""Bukankah itu indikator yang bagus, Jenderal?""Justru itulah letak masalah terbesarnya," tatapan mata san

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 8

    “SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Hali

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 7

    Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status