Share

Bab 120

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-06-16 21:54:43

Raka bersandar santai di kursinya, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan sempat memasukkan tangan ke dalam saku, lalu mengeluarkan sebatang coklat yang diberikan Jefri sehari sebelumnya. Bungkusnya terbuka perlahan.

Raka mematahkan sebagian cokelat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis segera menyebar di ujung lidahnya. Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang hanya melihat berita dan ketegangan politik, perhatian Raka sepenuhnya tertuju pada detail-detail yang nyaris tid
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 163

    Sebenarnya, waktu yang ia habiskan bersama pemuda itu tidaklah banyak. Namun entah sejak kapan, rasa penasaran yang semula hanya muncul sesaat perlahan berubah menjadi kekaguman. Kini, perasaan tersebut terus berkembang menjadi sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mampu pahami.Ada benih emosi baru yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya. Semakin ingin ia abaikan, semakin kuat perasaan itu berkembang.Tiara menghembuskan napas pelan. Dia tidak tahu harus menyebutnya sebagai apa. Yang ia tahu, setiap kali melihat Raka, hatinya selalu memberikan jawaban yang tidak mampu dijelaskan oleh pikirannya.Tiara tidak mampu menjelaskan perasaan yang memenuhi hatinya. Setiap kali melihat Raka terluka, dadanya ikut terasa sesak. Saat mendengar orang lain meremehkannya, amarah ikut membuncah. Bahkan kemenangan Raka menghadirkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan jika dirinya sendiri yang berdiri di posisi juara.Entah sejak kapan semua itu bermula, tetapi tanpa disadari seluruh perh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 162

    Semua orang menyaksikan siaran itu dari awal hingga akhir. Mereka melihat bagaimana Komandan Hendra menggunakan kemampuan pelacakan, senjata, pengalaman tempur, dan keunggulan medan untuk menekan Raka tanpa ampun. Mereka juga melihat bagaimana Raka berkali-kali dipaksa berada di ambang kekalahan sebelum akhirnya membalikkan keadaan melalui kecerdikan, keberanian, dan kemampuan tempur yang luar biasa.Tidak ada yang menganggap kemenangan itu kebetulan. Justru karena situasinya begitu mustahil, kemenangan tersebut terasa semakin mengejutkan. Pembicaraan di seluruh tenda kini hanya berpusat pada Raka.Setiap pujian, kekaguman, dan keterkejutan mengarah kepadanya. Sosok yang sebelumnya sudah menjadi pusat perhatian kini berubah menjadi legenda hidup di antara para mahasiswa baru.Sebaliknya, Reyhan dan Damar seperti menghilang dari perhatian semua orang. Perasaan itu membuat dada mereka terasa sesak.Mengapa selalu Raka?Mengapa setiap sorotan selalu jatuh kepadanya?Mengapa semua orang m

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 161

    Komandan Hendra menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Semakin lama ia menatap Raka, semakin sulit baginya menganggap pemuda itu sebagai mahasiswa baru biasa."Kau adalah mahasiswa paling aneh yang pernah kutemui," ujarnya terus terang. Sorot matanya dipenuhi kekaguman yang sama sekali tidak disembunyikan. "Jenius. Benar-benar jenius."Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan napas yang masih berat, sementara pistol latihan tetap berada dalam genggamannya. Meski tubuhnya hampir mencapai batas dan luka-luka di sekujur badan terus mengirimkan rasa nyeri, sorot matanya tetap tenang seperti sebelumnya.Sementara itu, suasana di tenda medis berubah total.Ketika tayangan siaran langsung memperlihatkan Komandan Hendra mengangkat tangan dan mengakui kekalahannya, seluruh ruangan mendadak membeku. Semua orang hanya menatap layar dengan ekspresi kosong seolah otak mereka belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi.Reyhan dan Damar menjadi yang paling terpukul. Ejekan ya

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 160

    Kilatan kesal langsung melintas di wajah Hendra. Alih-alih mundur atau memperbaiki pertahanan, ia memilih mengambil risiko. Dengan memanfaatkan jarak yang sangat dekat, tubuhnya melesat maju dan menghantamkan kepala ke arah wajah Raka.Gerakan itu muncul tiba-tiba dan sangat berbahaya. Namun reaksi Raka bahkan lebih cepat. Begitu membaca niat lawannya, ia langsung melepaskan pegangan pada belati, menarik tubuh ke belakang, lalu menghindari benturan tersebut dengan selisih yang sangat tipis.Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya. Tubuh Raka melonjak berdiri, sementara tangan kanannya menyambar sebuah pistol yang tergeletak di lumpur tidak jauh dari mereka.Dalam satu gerakan yang bersih dan tanpa keraguan, laras senjata itu terangkat dan berhenti tepat mengarah ke kepala lawannya.Suasana hutan mendadak sunyi.Hanya napas berat dua orang yang baru saja mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan tersebut.Pada saat yang sama, hujan yang mengguyur sejak tadi akhirnya berhenti. Tetesan

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 159

    Dengan refleks luar biasa, Hendra segera menarik tubuhnya ke belakang. Ujung belati hanya menyentuh jakunnya dan meninggalkan sensasi dingin sebelum melintas beberapa sentimeter dari kulitnya.Keduanya langsung bertukar serangan.Buk! Buk!Tinju menghantam udara, kaki menyapu tanah berlumpur, sementara kilatan belati terus muncul dan menghilang di tengah hujan yang mulai mereda. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap langkah, setiap serangan, dan setiap perubahan posisi dilakukan dengan tujuan yang jelas.Di dalam tenda medis, suasana berubah sunyi.Semua mata terpaku pada layar.Apa yang terjadi di hadapan mereka sudah jauh melampaui batas latihan militer biasa. Pertarungan itu tidak lagi terlihat seperti duel antara instruktur dan mahasiswa baru, melainkan bentrokan dua predator yang sama-sama berusaha mengambil kendali medan tempur.Wajah Reyhan dan Damar berubah pucat. Keduanya hanya bisa menatap layar tanpa berkedip saat menyaksikan bagaimana Raka terus memaksa Hendra bertahan. B

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 158

    Di dalam hutan, situasi mulai berubah secara perlahan.Hendra terpaksa menghentikan pengejaran sejenak untuk membersihkan lumpur yang menempel pada tangannya dan pegangan pistolnya. Waktu yang tampak singkat itu justru menjadi kesempatan emas bagi Raka untuk menghilang lebih jauh ke dalam rimbunnya hutan. Kali ini ia tidak melakukan kesalahan yang sama.Raka sengaja membungkus alas sepatunya menggunakan dedaunan besar agar bekas langkah menjadi samar. Saat bergerak, ia memilih melompati akar pohon, batu besar, dan area yang tidak meninggalkan jejak jelas, sementara hujan yang masih turun membantu menghapus sisa-sisa petunjuk yang mungkin tertinggal.Bahkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, ia beberapa kali berjalan mundur dan mengubah arah secara tiba-tiba. Siapa pun yang mencoba melacaknya hanya akan menemukan jejak palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.Ketika Hendra akhirnya selesai membersihkan tangannya dan kembali melanjutkan pengejaran, ekspresinya perlahan berub

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 110

    Sementara itu, anggota Unit Ketujuh juga mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Bara menghentikan ayunan sekopnya lalu menatap Raka dengan heran. "Raka, kenapa tidak mulai menggali?"Rio mengusap dagunya sambil mengamati beberapa saat sebelum tiba-tiba mengangguk seolah menemukan jawaban bes

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 109

    Damar juga ikut berteriak dengan wajah pucat. "Benar! Kami hanya berbicara beberapa kalimat! Dia yang lebih dulu menggunakan kekerasan!"Namun para instruktur sama sekali tidak menanggapi pembelaan mereka. Dua orang instruktur langsung mencengkeram bahu mereka dan mulai menyeret mereka keluar dari

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 106

    Petugas kantin sempat berkedip kebingungan sebelum mengikuti arah telunjuk Tiara. "Oh, yang itu?"Tiara mengangguk. "Iya."Tidak lama kemudian, makanan yang sama persis dengan milik Raka sudah tersusun di atas nampannya.Tanpa ragu sedikit pun, Tiara berbalik lalu berjalan menuju meja tempat Raka d

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 105

    Orang yang dipukul Raka di arena latihan kemarin adalah dirinya sendiri. Ekspresinya langsung berubah. Ia ingin menarik kembali ucapannya, tetapi semuanya sudah terlambat.Tiara lebih dulu mengangkat alis tipisnya seolah baru mengingat sesuatu. Gadis itu menatap Damar dengan tatapan tenang yang jus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status