Share

Bab 180

Author: _PenaKaisar
last update publish date: 2026-08-27 09:23:19

Xiao Fan tidak membuang waktu untuk merayakan kemenangan perang. Ia membawa Xuan'er kembali ke ibukota dengan kecepatan penuh menggunakan kereta terbang yang ditarik oleh Lei dalam wujud Qilin-nya yang besar. Sepanjang perjalanan, Xuan'er terbaring lemah di dalam kereta. Racun Pelahap Jiwa terus menyebar perlahan namun pasti, bergerak mendekati jiwanya sedikit demi sedikit. Batu roh surgawi yang menahannya mulai memudar cahayanya.

‎"Kakak Xiao Fan..." bisik Xuan'er, suaranya nyaris tak terden
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 180

    Xiao Fan tidak membuang waktu untuk merayakan kemenangan perang. Ia membawa Xuan'er kembali ke ibukota dengan kecepatan penuh menggunakan kereta terbang yang ditarik oleh Lei dalam wujud Qilin-nya yang besar. Sepanjang perjalanan, Xuan'er terbaring lemah di dalam kereta. Racun Pelahap Jiwa terus menyebar perlahan namun pasti, bergerak mendekati jiwanya sedikit demi sedikit. Batu roh surgawi yang menahannya mulai memudar cahayanya.‎‎"Kakak Xiao Fan..." bisik Xuan'er, suaranya nyaris tak terdengar. "Kalau aku... kalau aku tidak selamat... tolong jangan salahkan dirimu..."‎‎"Jangan bicara seperti itu." Xiao Fan menggenggam tangannya yang dingin. "Kau akan selamat. Aku akan memastikannya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi."‎‎"Kau selalu... terlalu keras kepala..."‎‎"Dan kau selalu suka memarahiku karena itu." Xiao Fan menatapnya. "Jadi bertahanlah. Kau masih harus memarahiku banyak hal setelah ini."‎‎Xuan'er tersenyum lemah. "Berjanji... jangan lakukan sesuatu yang bodoh..."‎‎

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 179

    ‎Xiao Fan meletakkan telapak tangannya yang menyala Api Suci Nirwana di atas luka di bahu Xuan'er. Api emas itu merembes masuk ke dalam tubuh gadis itu, mencari racun hitam yang sedang menyebar. Tapi begitu api suci menyentuh racun itu, reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan.‎‎"AAAAARGH!" Xuan'er menjerit. Tubuhnya menegang seperti tersengat petir. Matanya membelalak lebar, dan darah hitam mulai mengalir lebih deras dari lukanya.‎‎"Xuan'er!" Xiao Fan menarik tangannya dengan panik. "Apa yang terjadi?!"‎‎Racun Pelahap Jiwa tidak seperti racun-racun lain yang pernah ia hadapi. Racun ini bereaksi terhadap api. Bukannya lenyap atau dimurnikan, racun itu malah bergerak lebih dalam ke arah jiwa Xuan'er.‎‎"Jangan... jangan gunakan api suci..." desah Xuan'er disela napasnya ya g tersengal. "Racun ini... dia memakan energi... dia menjadi lebih kuat setiap kali kau mencobanya..."‎‎Xiao Fan mengepalkan tangannya. "Kalau Api Suci tidak berhasil, maka..." Ia menyalakan Api Kegelapan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 178

    ‎Tepat saat Kaisar Xiyuan terjatuh dan kontrak gelapnya melemahkannya, langit di atas lembah berubah. Tekanan berwarna keemasan yang berputar seperti matahari begitu kuat hingga semua orang yang hadir langsung merasakan kehadiran seorang kultivator yang berada di puncak dunia fana.‎‎Kaisar Tianyu turun dari langit. Jubah emasnya berkibar-kibar diterpa angin. Di sekelilingnya, aura Setengah Langkah Dao Transformation yang murni memancar dengan kekuatan yang membuat tanah di bawahnya retak dan udara di sekitarnya bergetar. Semua prajurit langsung jatuh berlutut, tidak mampu menahan tekanan itu. Bahkan Wei Zheng menundukkan kepalanya dalam-dalam.‎‎"Yang Mulia..." bisiknya.‎‎Kaisar Tianyu mendarat di hadapan Kaisar Xiyuan. Ekspresinya lebih dingin dari es, lebih tajam dari pedang. Ia menatap kaisar itu yang sedang berlutut dan merintih, dengan mata yang menunjukkan campuran antara kekecewaan dan kemarahan yang tertahan.‎‎"Kaisar Xiyuan," suaranya menggema di seluruh lembah. "Kau t

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 177

    Xuan'er jatuh berlutut. Darah hitam mengalir dari bahunya. Tapi Xiao Fan tidak bisa langsung menolongnya, terlalu banyak musuh di sekelilingnya. Ia menghantam pembunuh yang mencoba menusuknya dari samping, lalu melesat ke arah Xuan'er sambil berteriak pada Lei.‎‎"LEI! JAGA XUAN'ER!"‎‎"TAPI TUAN! MUSUH MASIH—"‎‎"SEKARANG!"‎‎Lei mendarat di samping Xuan'er, tubuhnya membesar hingga seukuran kuda. Petir menyambar-nyambar di sekelilingnya, menciptakan dinding listrik yang membuat para pembunuh tidak bisa mendekat. "Nona Xuan'er! Bertahanlah! Aku akan melindungimu! Jangan mati di sini!"‎‎Xuan'er tersenyum lemah. "Lei... kau benar-benar... tidak pernah berubah..."‎‎---‎‎Kaisar Xiyuan menyaksikan penyergapannya mulai gagal. Para pembunuh Kultus yang ia kirim jatuh satu per satu. Wei Zheng menebas mereka seperti ilalang. Xiao Fan membakar dan melahap mereka dengan dua apinya. Dan Lei menggagalkan setiap serangan dari atas.‎‎"MATI KALIAN!" teriak Kaisar Xiyuan, berdiri dari kur

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 176

    ‎Di tengah perundingan, Xiao Fan terus mengamati Kaisar Xiyuan dengan Mata Yin-Yang-nya. Perdana Menteri Zhao sedang membacakan syarat-syarat damai dengan suara monoton, tapi Xiao Fan tidak mendengarkannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada aura Kaisar Xiyuan yang semakin lama semakin jelas terlihat tidak stabil.‎‎Di permukaan, aura Kaisar Xiyuan tampak seperti aura kultivator Spirit Severing Puncak—kuat, mengintimidasi, dan penuh wibawa. Tapi di bawahnya, ada lapisan energi gelap yang berdenyut seperti jantung makhluk hidup.‎‎'Dia seharusnya berada di Setengah Langkah Dao Transformation,' pikir Xiao Fan. 'Setara dengan Kaisar Tianyu. Tapi kekuatannya sekarang hanya sekitar Spirit Severing Puncak. Sebagian besar energinya terkuras oleh sesuatu....'‎‎Matanya bergerak ke leher Kaisar Xiyuan. Di balik kerah jubahnya yang tinggi, tersembunyi sebuah tato hitam. Tato itu berbentuk mata dengan tiga pupil. Sama seperti simbol Kultus Mata Tiga.‎‎'Kontrak gelap,' Xiao Fan menyimpulka

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 175

    Di istana Kekaisaran Xiyuan yang megah, Kaisar Xiyuan duduk di singgasananya dengan wajah yang semakin gelap. Di hadapannya, Jenderal Besar Shang berdiri dengan tubuh penuh luka dan baju zirah yang hancur. Laporan kekalahan telah disampaikan. Benteng Pasir Hitam telah jatuh. Lebih dari setengah total pasukan Xiyuan telah musnah.‎‎"Setengah pasukanku..." Suara Kaisar Xiyuan dingin seperti es. "Kau bilang benteng itu tidak akan jatuh. Kau bilang pasukanmu tidak akan kalah. Dan sekarang... SETENGAH PASUKANKU MUSNAH!"‎‎Shang menundukkan kepalanya lebih dalam. "Yang Mulia, aku sudah melakukan yang terbaik. Tapi Xiao Fan... bocah itu berbeda. Dia memiliki kekuatan yang tidak berasal dari dunia ini. Dia—"‎‎"CUKUP!" Kaisar Xiyuan menghantamkan tinjunya ke sandaran singgasana. "Aku tidak mau mendengar alasan! Yang kumau adalah solusi!"‎‎Perdana Menteri Zhao melangkah maju. "Yang Mulia, sisa pasukan kita tidak akan mampu bertahan jika perang berlanjut. Kita sudah kehilangan terlalu bany

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 8 Jurus Pedang Sembilan Langit

    Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 7: Panggung Keemasan

    Alun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 6: Pagi Yang Menentukan

    Beberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga d

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 5: Senyuman yang Tak Pernah Terucap

    Latihan itu berlangsung hingga bulan bergeser ke barat. Xiao Fan akhirnya menyarungkan pedangnya, napasnya terengah-engah tapi matanya bersinar puas."Cukup," katanya pada diri sendiri. "Ini sudah cukup."Ia berjalan kembali ke anak tangga tempat Xuan'er duduk. Gadis itu telah tertidur, kepalanya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status