เข้าสู่ระบบKaisar Tianyu merasakan lonjakan kekuatan itu dari istananya. Tubuhnya menegang. Cangkir teh di tangannya bergetar. Ia meletakkan cangkir itu dan berdiri. Matanya menatap ke arah Balai Alkimia Awan Putih. Energi surgawi yang sangat kuat memancar dari sana. Energi yang tidak ia kenal. Energi yang membuat bulu tengkuknya berdiri.Ia melesat keluar dari istana. Para pengawal istana terkejut dan mencoba mengikutinya, namun ia melambaikan tangannya. "Jangan ikut! Jaga istana!"Ia terbang di atas atap-atap kota. Angin malam menerpa jubahnya. Dalam hitungan detik, ia mendarat di halaman Balai Alkimia Awan Putih. Debu beterbangan. Ia mendorong pintu balai dan berlari melewati koridor. Ketika ia sampai di kamar Xuan'er, ia melihat Xiao Fan berdiri di tengah ruangan. Lei berdiri di dekat pintu dengan tubuh gemetar. Luo Pang dan Tetua Bai Mei berdiri di sudut dengan wajah pucat. Dan di udara, Xuan'er melayang dengan cahaya perak menyelimuti tubuhnya."Apa yang terjadi?" Kaisar Tianyu m
Xiao Fan melesat di atas langit bersama Lei. Angin menerpa wajahnya. Awan-awan putih terbelah di depannya. Di bawah sana, hutan-hutan dan sungai-sungai melintas cepat seperti pita yang terurai. Ia tidak memperlambat langkahnya. Setiap detik begitu berharga."Tuan, kita hampir sampai!" Lei menunjuk ke arah kejauhan.Menara-menara Kota Tianyu mulai tampak di ufuk. Tembok-tembok batu yang menjulang tinggi. Bendera-bendera kekaisaran yang berkibar. Xiao Fan menajamkan pandangannya. Ia mempercepat lajunya. Lei mengikutinya dengan susah payah, napasnya memburu, namun ia tidak mengeluh sama sekali.Mereka mendarat di halaman Balai Alkimia Awan Putih. Debu beterbangan dari tanah yang menghantam kaki mereka. Beberapa pelayan terkejut dan mundur beberapa langkah. Xiao Fan tidak menghiraukan mereka. Ia berlari masuk ke dalam balai. Lei mengikutinya dari belakang."Di mana Xuan'er?" tanya Xiao Fan kepada pelayan pertama yang ia temui."Di kamar belakang, Tuan! Tetua Bai Mei sedang
Xiao Fan duduk bersila di depan Roh Pohon Kuno yang semakin transparan. Botol kristal berisi Getah Kehidupan terakhir ada di tangannya. Getah itu berdenyut pelan. Getah itu hangat. Getah itu hidup.Ia menyalakan getah itu dengan Api Suci Nirwana sebagai katalisnya. Api putih keemasan menyala di telapak tangannya. Api itu menyentuh getah di dalam botol. Getah itu bereaksi. Cahaya hijau menyala dari dalam botol. Cahaya itu tidak membakar. Cahaya itu menumbuhkan. Cahaya itu tidak melahap. Cahaya itu menghidupkan.Api hijau lahir dari getah itu. Api itu melayang ke udara. Api itu berputar pelan di atas telapak tangan Xiao Fan. Api itu berdenyut seperti jantung yang baru lahir."Api Kehidupan Hijau," bisik Xiao Fan.Untuk pertama kalinya dalam sejarah yang tercatat, seorang manusia memiliki tiga api primordial dalam satu tubuh. Emas untuk memurnikan. Ungu untuk melahap. Hijau untuk menyembuhkan.Api Kehidupan Hijau masuk ke dalam tubuh Xiao Fan. Api itu bergabung dengan dua
Roh Pohon Kuno menjerit. Suaranya memecah keheningan hutan. Tiga segel gelap yang tertanam di akar-akarnya menyala dengan cahaya merah kehitaman. Segel itu berdenyut cepat. Segel itu panas. Segel itu akan meledak.Ledakan pertama menghantam akar-akar pohon. Seluruh hutan bergetar hebat. Tanah berguncang. Pohon-pohon raksasa bergoyang. Daun-daun berjatuhan seperti hujan. Xiao Fan yang masih terikat oleh sisa-sisa akar pelindung dari ujian sebelumnya merasakan panas yang membakar tubuhnya. Kulitnya melepuh. Darahnya mendidih. Namun ia tidak melarikan diri."Tuan!" Lei berteriak dari kejauhan. Tubuhnya menegang. Ia melompat ke arah kolam. "Tuan, keluar dari sana!"Xiao Fan tidak mendengar. Ia mengerahkan seluruh kekuatan ketiga apinya. Api Suci Nirwana menyala di tangan kanannya. Api itu memurnikan energi gelap yang menyebar di udara. Api Kegelapan Nether berkobar di tangan kirinya. Api itu melahap kutukan yang merembes ke dalam tanah. Api Kehidupan Hijau berdenyut di dalam dad
Roh Pohon Kuno melangkah mundur. Kedua tangannya terangkat. Tanah di bawah kaki Xiao Fan bergetar hebat. Dari dalam tanah, akar-akar raksasa mulai menjulang. Daun-daun berputar di udara. Akar dan daun itu saling melilit, membentuk sesosok makhluk yang menjulang tinggi. Lima meter. Tubuhnya terbuat dari akar yang saling terkait. Matanya menyala hijau. Aura yang memancar darinya begitu kuat hingga Xiao Fan merasakan lututnya hampir menyerah."Ujian ketiga adalah ujian kekuatan," kata Roh itu. Suaranya menggema. "Kau harus bertarung melawanku. Bukan melawan ilusi. Bukan melawan bayangan. Melawan aku, dengan seluruh kekuatan yang kau miliki. Jika kau menang, Api Kehidupan Hijau akan menjadi milikmu. Jika kau kalah, kau akan mati di sini."Xiao Fan menatap manifestasi Roh itu. Tubuhnya masih lemah. Sepuluh tahun umurnya baru saja hilang. Kakinya gemetar. Namun ia tidak mundur. Ia menegakkan punggungnya. Ia menyalakan ketiga apinya secara bersamaan. Api Suci Nirwana menyala di tangan
Xiao Fan berdiri kaku di antara Xuan'er dan ayahnya. Tangannya gemetar. Napasnya memburu. Untuk beberapa saat yang terasa seperti selamanya, ia hanya bisa menatap kedua orang yang paling ia cintai di dunia ini. Xuan'er dengan senyumnya yang lembut. Ayahnya dengan mata yang penuh kasih sayang. Dan suara Roh Pohon Kuno terus menggema dari langit putih tanpa bentuk, menuntut agar ia membuat pilihan. Xuan'er melangkah maju. Gaun putihnya berkibar pelan meski tidak ada angin di tempat itu. Ia menatap Xiao Fan dengan suara yang tenang. "Kak Fan, kau harus memilih Ayah." Xiao Fan menoleh. Matanya terbelalak. "Xuan'er—" "Dengarkan aku." Xuan'er mengangkat tangannya. "Paman Xiao telah menemanimu sejak awal. Dia akan terus melindungimu. Dia adalah ayahmu. Dia adalah keluargamu." "Xuan'er, jangan—" "Itu tidak masuk akal!" Xiao Tianhe memotong. Suaranya keras. Ia melangkah maju dengan jubah birunya yang berkibar. "Kau adalah alasan Fan'er bertarung! Kau adalah alasan dia b
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang
Xiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan







