INICIAR SESIÓNKeesokan harinya, mereka bersiap untuk penyelaman kedua. Xiao Fan memeriksa tali. Wei Lian menajamkan pedangnya. Mo Cheng menyiapkan obat-obatan. Lei duduk di dek. Tubuhnya sudah pulih. Namun ia masih tidak suka air. Ia menatap laut dengan wajah masam."Matahari belum terlalu tinggi," kata Xiao Fan. "Kita berangkat sekarang."Namun sebelum mereka sempat bergerak, langit di atas mereka berubah. Beberapa perahu muncul dari arah barat. Perahu-perahu itu besar. Layar-layarnya hitam. Di atasnya berdiri puluhan orang. Pakaian mereka compang-camping. Wajah mereka keras. Mata mereka serakah.Di perahu paling depan, berdiri seorang pria berjubah merah. Tubuhnya tinggi. Wajahnya tajam. Auranya kuat. Spirit Severing Awal. Ia menatap Xiao Fan dengan senyum tipis."Jadi kalian yang menemukan Api Samudra?" kata pria itu. Suaranya lantang. "Aku sudah mendengar tentang api itu. Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Dan sekarang... kalian akan memberikannya padaku."Xiao Fan melan
Malam itu, mereka berkumpul di dek perahu. Ombak-ombak menghantam lambung. Angin laut bertiup pelan. Bintang-bintang memenuhi langit. Wei Lian duduk di tengah. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam lututnya sendiri. Ia menarik napas panjang."Ada sesuatu yang harus kuberitahu kalian semua," kata Wei Lian. Suaranya pelan.Xiao Fan duduk di seberangnya. Lei berbaring di samping Xiao Fan. Tubuhnya masih lemah setelah kejadian di dasar samudra. Namun ia tetap terjaga. Mo Cheng duduk di dekat kemudi. Ia menatap Wei Lian dengan mata penasaran."Aku sudah memberitahu Xiao Fan," kata Wei Lian. "Tapi kalian berdua belum tahu. Klan Wei... adalah keturunan dari seorang kultivator yang pernah mencoba mengambil Api Samudra."Mo Cheng menegang. Matanya terbelalak. "Apa?""Ratusan tahun lalu," kata Wei Lian. "Leluhur kami. Ia gagal. Ia tidak mati. Namun ia tidak berhasil. Dan kegagalan itu menjadi kutukan.""Kutukan apa?" tanya Mo Cheng."Klan Wei tidak pernah bisa memiliki ket
Mereka menyewa sebuah perahu. Perahu itu terbuat dari kayu jati. Layarnya putih. Tali-temalinya kuat. Pemilik perahu itu seorang nelayan tua yang tidak banyak bicara. Mereka berlayar dari dermaga Kota Pelabuhan Terakhir. Angin laut mendorong perahu itu ke timur. Ombak-ombak menghantam lambungnya.Tiga hari mereka berlayar. Matahari terbit dan tenggelam. Bintang-bintang muncul dan menghilang. Wei Lian duduk di buritan. Ia menajamkan pedangnya dengan batu asah. Mo Cheng berdiri di haluan. Ia mengawasi cakrawala. Lei duduk di dek. Ia menatap air. Ia tidak berkata banyak sejak mereka berlayar. Xiao Fan berdiri di kemudi. Ia menatap kompas di tangannya. Ia menatap langit. Ia menatap laut.Hari ketiga, air laut berubah. Warnanya berubah dari biru tua menjadi biru muda. Semakin ke timur, semakin jernih. Akhirnya, air itu begitu jernih hingga mereka bisa melihat dasar samudra. Dasar itu sangat dalam. Sangat gelap. Namun mereka bisa melihatnya. Pasir putih. Batu-batu karang. Reruntuhan
Mereka tiba di Kota Pelabuhan Terakhir setelah tiga hari perjalanan. Kota itu berdiri di tepi daratan. Di depannya terbentang Samudra Timur yang luas. Ombak-ombaknya menghantam dermaga. Angin laut bertiup kencang. Bau garam memenuhi udara. Suasana kota itu berbeda dari kota-kota lain. Penduduknya pendiam. Rumah-rumah mereka dibangun menghadap ke laut. Jendela-jendela mereka selalu tertutup. Di dinding-dinding kota terdapat ukiran-ukiran kuno. Ukiran itu menggambarkan makhluk-makhluk laut raksasa. Ada yang berbentuk ular. Ada yang berbentuk kura-kura. Ada yang berbentuk ikan bertanduk.Xiao Fan menyewa kamar di penginapan pelabuhan. Penginapan itu sederhana. Lantainya kayu. Dindingnya batu. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang. Ia menatap keluar jendela. Samudra Timur terlihat di kejauhan. Gelap. Dalam. Misterius."Aku akan mencari informasi," kata Xiao Fan kepada yang lain. "Kalian istirahat dulu."Ia melangkah keluar dari penginapan. Ia menuju pelabuhan. Di sana, para pelau
Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah desa kecil di tepi sungai. Desa itu sunyi. Tidak ada anak-anak bermain di jalan. Tidak ada pedagang menjajakan barang. Tidak ada orang tua duduk di teras rumah. Hanya ada beberapa sosok yang berjalan pelan di jalan tanah. Mereka berjalan seperti orang yang kehilangan jiwa. Mata mereka kosong. Tatapan mereka hampa. Mereka tidak menyapa. Mereka tidak menoleh. Mereka hanya berjalan tanpa tujuan.Xiao Fan menarik tali kuda. Kereta itu berhenti. Ia melompat turun. Lei, Wei Lian, dan Mo Cheng mengikutinya. Mereka menatap desa itu dengan wajah tegang."Apa yang terjadi di sini?" tanya Mo Cheng. Ia mengerutkan dahinya. "Kenapa mereka seperti itu?"Xiao Fan tidak menjawab. Ia mengaktifkan Mata Yin-Yang. Matanya berubah. Satu mata berwarna emas. Satu mata berwarna ungu. Ia menatap desa itu. Ia menatap penduduknya. Ia menatap sungai di dekat sana. Dan ia melihat sesuatu. Energi gelap. Energi itu merembes dari sungai. Energi itu menyelimuti de
Wei Lian berdiri di ruang sebelah. Ia sedang menyiapkan perbekalan. Tali-tali kulit. Kantong-kantong air. Roti kering. Obat-obatan. Tangannya sibuk. Namun telinganya mendengar. Dinding balai itu tipis. Suara Xiao Fan dan Lei menembusnya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Tentang Samudra Timur. Tentang Naga Laut. Tentang Api Samudra.Wei Lian berhenti menyiapkan perbekalan. Ia meletakkan kantong air di atas meja. Ia menatap dinding. Matanya kosong. Ia menarik napas panjang. Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Ia menuju ruang alkimia Xiao Fan. Ia mengetuk pintu."Masuk," kata Xiao Fan.Wei Lian membuka pintu. Ia melangkah masuk. Lei masih duduk di sudut ruangan. Matanya masih merah. Namun ia sudah tidak menangis. Xiao Fan berdiri di dekat meja. Ia menatap Wei Lian."Ada apa, Wei Lian?" tanya Xiao Fan.Wei Lian menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri tegak. Wajahnya dingin seperti biasanya. Namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang...
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







