Share

Bab 49 Menuangkan Racun

Author: _PenaKaisar
last update publish date: 2026-06-07 11:12:29

‎Seminggu kemudian, jamuan keluarga yang dikatakan Xiao Ren akhirnya di adakan.

‎Aula utama Klan Xiao malam itu dipenuhi cahaya lentera yang bergelantungan di langit-langit, cahaya dari lentera itu bahkan membuat bayangan-bayangan yang menari di dinding batu. Meja-meja panjang dari kayu ek disusun membentuk formasi setengah lingkaran, di masing-masing meja itu penuh dengan hidangan yang masih mengepulkan uap.

‎Semua anggota Klan Xiao hadir. Para tetua dengan jubah kebesaran mereka duduk di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 158

    ‎Malam harinya, perkemahan militer di pinggiran Kota Tianyu dipenuhi oleh api unggun yang menyala redup. Para prajurit tidur dengan gelisah di tenda-tenda mereka, tapi ada juga beberapa yang tidak bisa tidur sama sekali karena tahu bahwa besok mungkin adalah hari terakhir mereka di dunia ini.‎‎Lao Chen baru saja menyelesaikan tugasnya. Sebagai kepala juru masak, ia bertanggung jawab untuk memasak seratus ribu porsi makanan untuk para prajurit. Dan dengan bantuan puluhan asisten yang ia latih sendiri, ia berhasil melakukannya. Keringat masih membasahi dahinya ketika ia berjalan melewati tenda-tenda menuju sebuah batu besar di tepi perkemahan.‎‎Xiao Fan duduk di sana sendirian. Ia menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam. Tangannya terlipat di atas lututnya, dan Pedang Bintang Jatuh tersandar di sampingnya.‎‎Lao Chen mendekat dengan langkah pelan sembari membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. "Tuan Muda. Udara malam ini lumayan dingin. Hamba bawakan teh un

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 157

    ‎Dengan deklarasi perang yang sudah diumumkan secara resmi dan mobilisasi pasukan yang dimulai di seluruh kekaisaran, Xiao Fan mulai mengumpulkan orang-orang yang akan bertarung di sisinya. Ia berdiri di sebuah halaman luas di kompleks yang menjadi markas besar militer yang terletak di pinggiran Kota Tianyu. Di sinilah ia akan membentuk divisinya.‎‎Wei Lian adalah yang pertama tiba. Gadis berambut perak itu berjalan melewati gerbang dengan pedang tipisnya tersarung di pinggang. Posturnya tegak, matanya menatap sedingin es. Tapi ada tatapannya sudah tak sedingin dulu.‎‎"Aku akan bergabung sebagai komandan kavaleri," katanya singkat ketika berdiri di hadapan Xiao Fan. "Pasukan berkuda Klan Wei sudah siap. Kami akan memimpin serangan-serangan cepat ke jantung pertahanan musuh."‎‎Xiao Fan mengangguk. "Bagus. Gunakan keunggulan mu untuk melemahkan musuh-musuh kita."‎‎Wei Lian membalas dengan anggukan singkat. Lalu ia berjalan ke sudut halaman di tempat para prajurit kavaleri Klan W

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 156

    Ultimatum dari Kaisar Xiyuan tiba di Kota Tianyu tiga hari kemudian. Ketika seorang utusan pria tinggi berjubah merah dengan wajah arogan dan langkah yang dibuat-buat angkuh memasuki ruang singgasana dengan iringan dua belas pengawal pribadi. Ia berjalan melewati para pejabat yang berdiri di kedua sisi, dagunya terangkat tinggi seolah-olah ia bukan sedang berada di istana kekaisaran lain, melainkan di rumahnya sendiri.‎‎"Yang Mulia Kaisar Tianyu," Pria itu memulai dengan suara lantang tanpa sedikit pun kerendahan hati. "Aku datang membawa pesan dari Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan yang Jaya."‎‎Kaisar Tianyu duduk di singgasananya ketika ekspresinya tenang dan sulit dibaca. "Bacakan." Katanya dengan dingin dan juga penuh tekanan.‎‎Utusan itu membuka gulungan merah di tangannya dan mulai membaca.‎‎"Atas nama Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan, kepada Kaisar Tianyu." Suaranya menggema di seluruh ruang singgasana, didengar oleh puluhan pejabat, jender

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 155

    Berita tentang Mo Qian dan penangkapan Menteri Han menyebar keseluruh penjuru negri. Dan dalam waktu tiga hari saja, berita itu telah menyeberangi perbatasan barat dan sampai ke telinga Kaisar Xiyuan.‎‎Di sebuah aula raksasa dengan pilar-pilar emas dan dinding-dinding yang dihiasi ukiran naga, Kaisar Xiyuan duduk di singgasananya. Ia mengenakan Jubah merah tua ga g berkibar-kibar meskipun tidak ada angin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah laporan dari mata-mata mereka yang masih tersisa di Kota Tianyu. Dan semakin lama ia membaca laporan otu, semakin merah pula wajahnya.‎‎"Mo Qian dieksekusi di depan umum."‎‎"Menteri Han ditangkap dan dieksekusi."‎‎"Semua bukti pengkhianatan termasuk surat-surat dari Kaisar Xiyuan sendiri telah diserahkan kepada Kaisar Tianyu."‎‎"Rencana untuk melemahkan Tianyu dari dalam telah gagal total."‎‎Kaisar Xiyuan meremas laporan itu dengan tangannya. Wajahnya merah padam. "Mo Qian... Dasar ular tua bodoh! Aku sudah memberinya semua yang ia butu

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 154

    Keesokan paginya, Xiao Fan dibangunkan oleh suara ketukan keras di pintu kamarnya. Begitu ia membuka pintu, terlihatlah seorang pengawal istana yang berdiri dengan napas tersengal-sengal.‎‎"Jenderal Muda Xiao Fan! Perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar! Anda diminta hadir di istana segera!"‎‎Xiao Fan tidak perlu bertanya untuk apa ia dipanggil , karena ia sudah tahu bahwa hari ini adalah giliran Menteri Han.‎‎---‎‎Ketika Xiao Fan tiba di kediaman Menteri Han yang merupakan rumah mewah dengan taman luas dan pagar batu berukir dengan puluhan pengawal istana yang sudah mengepung seluruh area. Mereka bergerak cepat dan senyap ketika memblokir semua pintu keluar dan memastikan tidak ada yang bisa melarikan diri.‎‎Di dalam, Menteri Han sedang sarapan. Pria berusia lima puluhan dengan janggut tipis dan mata yang selalu tampak licik itu duduk di meja makannya yang panjang, ia mengarahkan sendok sup ke mulutnya ketika pintu depan rumahnya didobrak. Pengawal istana menerobos masuk d

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 153

    Algojo melangkah maju. Pria itu sudah menunggu di samping panggung sejak pengadilan dimulai. Pedang eksekusi raksasa dengan bilah yang berkilau diterpa sinar matahari miliknya terhunus di tangannya.‎‎Mo Qian didorong ke altar eksekusi. Ia berjalan dengan langkah gontai dengan kepala tertunduk dan tatapan mata kosong.‎‎Di antara kerumunan yang menyaksikan, Mo Cheng berdiri. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya ketika air matanya mengalir di pipinya yang kaku. Ia bukan menangis karena ia membela kakeknya. Kakeknya telah mengkhianati kekaisaran dan telah menghancurkan kehormatan keluarga mereka.‎‎Air mata Mo Cheng itu adalah ungkapan rasa marah pada kakeknya sendiri. Kakek yang seharusnya menjadi panutannya dan yang seharusnya melindungi kehormatan Klan Mo, alih-alih menghancurkannya.‎‎'Kenapa, Kakek? Apa yang mendorongmu melakukan ini? Menghancurkan segala warisan leluhur yang dibangun selama bergenerasi—hanya demi kuasa dan harta? Apakah semua itu sebanding dengan kehorm

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 42 Alkemis Fan

    Tujuh hari berlalu. Luka di bahu dan punggung Xiao Fan akhirnya sembuh, dan kini hanya meninggalkan bekas-bekas merah yang perlahan memudar. Selama masa pemulihan, ia tidak bisa berlatih fisik, jadi ia melakukan satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan: membaca gulungan Jurus Yin-Yang Abadi, ia

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 38 Racun Baru

    Malam itu, pasar malam Kota Tianyu dipenuhi oleh para pedagang yang menjajakan dagangan mereka di bawah cahaya lentera kertas. Aroma daging panggang, uap dari kuali sup, dan teriakan para penjual berbaur menjadi satu simfoni khas yang hanya bisa ditemukan di tempat seperti ini.‎‎Tapi Xiao Ren tid

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 35 Xiao Ren Mulai Curiga

    Xiao Ren duduk di kursi kehormatannya—kursi yang seharusnya di duduki oleh Xiao Fan. Tangannya memegang secangkir teh yang sudah mendingin, tapi ia tidak meminumnya. Matanya menatap keluar jendela, ke arah halaman belakang kompleks Klan Xiao.‎‎"Keponakan, Xiao Ren," suara Xiao Heng memecah keheni

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 23 Siapa Kau Sebenarnya, Xuan'er?

    Ia melepaskan kakinya dari tangan Mo Chen. Pemuda itu langsung menarik tangannya ke dada, meringkuk seperti anak kecil yang dimarahi. Darah terus mengalir dari bibirnya, juga dari hidung Jiang Li yang masih tergeletak di sampingnya, dan buku-buku jari Xuan'er yang terluka.Lalu Xuan'er berbalik dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status