MasukAxel menatap papan poster kehamilan di dinding—gambar janin, jadwal trimester, senyum pasangan bahagia. Ia memalingkan wajah cepat, rahangnya menegang. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Kalau… hasilnya positif,” suara Sarah memecah keheningan, lirih namun jelas, “Pokoknya kamu harus tanggung jawab.” Axel tidak langsung menjawab. Napasnya tertahan sesaat. “Kita lihat dulu hasilnya,” ucapnya akhirnya, datar. Sarah menoleh, menatapnya lama. Ada kecewa yang tak ia sembunyikan, tapi ia memilih diam. Tangannya kembali ke perutnya, gerakan kecil yang membuat Axel semakin gelisah. Nama Sarah dipanggil. Mereka berdiri. Axel mengangguk singkat, mengikuti perawat menuju ruang periksa. Lampu putih terasa menyilaukan. Sarah naik ke ranjang pemeriksaan, tirai ditarik separuh. Dokter perempuan itu tersenyum profesional, menanyakan riwayat singkat. Axel berdiri di sudut ruangan, punggungnya kaku. Setiap bunyi—gesekan alat, klik layar—terdengar terlalu keras di telinganya. “Tarik napas pelan,” u
Ruang rapat itu dipenuhi suara penjelasan dan proyektor yang menampilkan grafik demi grafik. Beberapa staf duduk rapi mengelilingi meja panjang, fokus menyimak presentasi yang sedang berjalan. “…jadi untuk kuartal ini, kita usulkan efisiensi di divisi operasional—” Skala duduk di kursi utama, jasnya rapi, posturnya tegak. Namun fokusnya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Di sela-sela penjelasan staf, tangannya beberapa kali bergerak ke ponsel di atas meja. Layarnya menyala. Tidak ada notifikasi. Skala kembali mematikannya, lalu menatap layar presentasi… hanya untuk beberapa detik kemudian kembali melirik ponselnya. “Luina udah makan belum ya…” batinnya. “Masih mual nggak…? Kalau kenapa-kenapa, dia pasti telepon,” batinnya lagi. Presentasi berlanjut, tapi pikiran Skala terpecah antara angka-angka di layar dan bayangan Luina yang sendirian di apartemen. “Pak Skala?” suara salah satu staf tiba-tiba terdengar. Skala masih menatap ponselnya, alisnya sedikit berkeru
Luina tersenyum merekah melihat beberapa kue yang Ajeng letakkan di atas meja. Matanya berbinar bagai anak kecil yang menemukan harta karun. Tangannya sudah lebih dulu bergerak, mengambil satu potong cheese cake tanpa ragu.“Kamu punya kabar gembira apa? Cepat cerita,” ucap Luina antusias sambil langsung mencicipinya.Begitu sendok menyentuh lidahnya, ia memejamkan mata sejenak.“Hmm… ini enak banget,” gumamnya puas. “Sumpah, jauh lebih enak dari bubur pagi tadi.”Ajeng menyilangkan tangan di dada, senyum penuh rahasia terbit di wajahnya.“Tapi lo jangan kaget ya.”Luina membuka mata, masih mengunyah santai. Ia mengangguk singkat, sama sekali belum curiga.“Udah biasa aku dikagetin sama hidup,” ucapnya.Ajeng menarik napas sebentar, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.“Farhan… nembak gue.”Sendok di tangan Luina berhenti di udara.Detik berikutnya, Luina tersedak hebat. Ia menepuk dadanya sendiri sambil batuk-batuk kecil.“Far—han?!” Matanya membelalak sempurna menatap Ajeng. “Farhan
Skala sudah lebih dulu bangun pagi-pagi sekali. Ia menyiapkan segalanya—semangkuk bubur jagung hangat, segelas susu, serta obat yang harus diminum Luina—lalu menatanya rapi di atas meja kecil di samping tempat tidur.Ia mendekat, duduk di tepi ranjang. Dengan lembut jemarinya mengelus rambut Luina yang terurai di bantal.“Luina… bangun, sayang,” bisiknya pelan.Luina mengerjap, lalu membuka mata. Begitu kesadarannya penuh, ia langsung terkejut melihat Skala sudah rapi dengan kemeja dan jasnya.“Mas…” suaranya masih serak. “Kamu mau berangkat ke kantor?” tanyanya sambil perlahan mengubah posisi tubuhnya, bersandar pada bantal.“Iya, Sayang. Ini udah jam sembilan,” jawab Skala lembut.“Tapi sebelum ke kantor, Mas mau kamu makan dan minum susu dulu," lanjutnya.Pandangan Luina berpindah ke meja kecil di samping ranjang. “Bubur?” tanyanya. “Kamu beli?”Skala tersenyum kecil. “Mas bikin sendiri. Bubur jagung. Spesial buat istri Mas yang lagi hamil.”Ia meraih mangkuk itu, hendak menyuapkan
Axel mondar-mandir di kamarnya. Liburan Tahun Baru yang seharusnya dihabiskan dengan berpesta kini terasa mencekik. Ia tidak bisa diam saja menerima kenyataan bahwa Luina hamil dan ia mungkin harus berurusan dengan kehamilan Sarah. “Gue harus cari cara,” desisnya, amarah dan frustrasi membakar dirinya. Axel meraih ponselnya, lalu dengan tangan gemetar, ia mengetikkan pencarian di internet. "Bagaimana cara menggugurkan kandungan?" Axel membaca satu per satu artikel yang muncul. Artikel itu memuat tentang berbagai metode, baik alami maupun medis, namun disela-sela artikel itu, lagi-lagi ia membaca peringatan berbahaya soal menggugurkan kandungan, risiko pada ibu, dan konsekuensi hukum yang berat. Wajah Axel semakin mengeras, urat lehernya menegang. Kekalahan ini tidak bisa ia terima. “Sarah nggak boleh hamil! Gue nggak mau anak itu! Gue cuma main-main sama dia! Gue cuma mau sama Luina. Luina juga nggak boleh hamil anak Skala! Gue harus bisa gugurin kandungan Sarah dan Luina. H
Luina duduk menunggu Skala. Sabuk pengaman masih terpasang rapi. Tangannya memegang ponsel, jarinya sibuk menscroll layar—membaca pesan masuk, lalu berpindah ke media sosial tanpa benar-benar fokus. Sesekali ia tersenyum sendiri, sesekali menghela napas ringan. Namun tiba-tiba… Luina berhenti. Alisnya berkerut pelan. Tangannya refleks berhenti bergerak. “Eh… kok…” gumamnya lirih. Perutnya mendadak terasa tidak enak. Tangannya perlahan turun dari ponsel, berpindah menekan perutnya. “Mas…” panggilnya pelan, meski tahu Skala belum ada di mobil. Rasa mual itu semakin kuat. Kepalanya ikut terasa ringan, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Luina menutup mata, mencoba menarik napas dalam-dalam seperti yang diajarkan perawat. “Tarik… hembus…” bisiknya pada diri sendiri. Tapi mual itu tidak juga mereda. Luina cepat-cepat meraih tisu dari dashboard, lalu membuka sedikit jendela mobil, berharap udara segar bisa membantu. Tangannya gemetar saat menekan kaca. “Kok







