Home / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 32 Tipu Daya atau Janji Suci

Share

Bab 32 Tipu Daya atau Janji Suci

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-10-09 22:21:52

Malam beranjak semakin larut, diselimuti aroma dupa yang tipis dan pendar rembulan yang sesekali menerobos sela-sela pepohonan tua. Upacara pernikahan Rukma dan Mayang Salewang telah mencapai puncaknya. Di bawah naungan atap ilalang dan di hadapan Pendeta yang terhormat serta beberapa tokoh sesepuh desa, janji suci terangkai dalam kesederhanaan namun sarat makna. Api suci berkobar lembut, menerangi wajah-wajah yang penuh khidmat. Cahaya itu seolah menari di mata Mayang, memantulkan kilau harapan.

"Nimas Madujingga," suara Rukma bergaung, berat dan penuh tekad, memecah kesunyian yang menghantui. Tatapannya terpaku pada Mayang, wanita di sisinya yang kini resmi menjadi miliknya. Mayang, dalam balutan kemben sutra berwarna gading yang anggun, membalas pandangan itu dengan malu-malu, rona merah menjalar di pipinya yang ayu.

Kerudungnya yang tipis menari seirama napasnya yang tertahan. "Mulai malam ini dan seterusnya," lanjut Rukma, sembari menumpahkan butiran uang emas, beras yang melimpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 206: Titah di Ambang Senja

    Di dalam Balairung Agung Kerajaan Medang, atmosfer terasa sarat, mencekam laksana selubung kelam meskipun genderang kemenangan atas rongrongan pemberontakan baru saja menggema dari medan laga. Sorot mata Maharaja Samarattungga, yang bertahta agung di atas singgasana berukirkan intan permata, tidak lagi terpaku pada kemegahan duniawi atau simbol kekuasaan fana, melainkan meresapi kedalaman makna dharma, cahaya abadi yang menjadi pedoman dalam setiap langkah titahnya. Setiap detak jarum waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi keputusan-keputusan fundamental yang akan mengukir nasib Medang. Para pembesar kerajaan, menteri, dan panglima, duduk di tempat masing-masing dengan sikap tertunduk, menanti titah Sang Prabu dengan napas tertahan, seolah menggantung di udara.“Para pembesar kerajaan, para panglima perkasa, dan para menteri yang bijaksana,” titah Maharaja Samarattungga, suaranya, meski tenang, mengandung gema yang memenuhi setiap relung balairung. Aura wibawa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 205: Stempel Kepemilikan Sang Pangeran

    Keheningan malam yang pekat di Puri Walaing, Song Ranu, sejatinya bukanlah keheningan yang menenangkan. Malam itu menjadi saksi bisu bagi kemelut jiwa dan nafsu yang gelap, sebuah badai yang tak kunjung mereda di relung hati Sang Pangeran. Balaputeradewa, putra mahkota yang dihormati, telah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya. Harga dirinya, yang semula kokoh tak tertandingi, kini hancur berkeping-keping di bawah tekanan kekalahan dan rasa cemburu yang mematikan.Amarah membakar setiap sel darahnya, melebur bersama gairah yang telah lama dipendam namun kini meledak dalam rupa paling purba. Dengan kekuatan yang dipupuk oleh keputusasaan, ia mengangkat tubuh Mayang Salewang, istrinya, dan mengikat kedua tangan perempuan itu pada tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Simpul tali kulit rusa yang keras itu mengencang, melambangkan belenggu tak kasat mata yang menjerat Mayang dalam kungkungan amarah sang suami.Ia memasuki tubuh Mayang dengan dorongan-dorongan yang memi

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 204: Amarah Sang Naga Baruna

    Di balik pintu kayu jati yang kokoh dan tebal, Windri Sageni berdiri dengan tubuh menggigil hebat, bagai daun lontar yang disapu badai tak berkesudahan. Butiran air mata mengalir pilu membasahi pipi yang kini tampak pucat pasi, bercampur dengan butiran keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Setiap rintihan samar, setiap desahan ancaman kejam, dan setiap jeritan tertahan yang berhasil meloloskan diri dari celah pintu yang rapat itu, bagaikan bilah-bilah belati tajam yang tanpa ampun menusuk hingga ke jantungnya, mengoyak jiwanya. Ia mengenal suara-suara itu. Itu adalah suara tuan putrinya, Mayang Salewang, yang kini kembali menjadi tawanan nafsu dan amarah suaminya.Sejak berhari-hari dalam pelarian yang melelahkan, Windri telah dengan setia mendampingi sang putri dengan loyalitas tak tergoyahkan. Ia melihat Mayang tumbuh dari gadis ceria yang polos menjadi wanita yang dipenuhi kepahitan, lalu kini harus kembali menyaksikan wanita yang amat dicintainya itu terpuruk dalam duka

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 203 Sumpah di Atas Nampan Emas

    Pagi di Song Ranu tidak jua mampu membawa kehangatan yang merasuk hingga ke tulang bagi Mayang Salewang. Dalam selubung dingin embun pagi dan gemerisik daun-daun pinus, seolah alam turut meratapi nasibnya. Di kamar utama puri yang dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Mahamentri I Halu, ia duduk terpaku, matanya menatap hampa pada lukisan langit-langit berukir. Jiwanya tercabik di antara kebencian yang mendalam dan membara terhadap suaminya, serta kenyataan pahit yang kini kembali menghantamnya: ia terperangkap sebagai permaisuri Balaputeradewa, layaknya burung dalam sangkar emas, terpisah dari kebebasan yang pernah sebentar ia rengkuh. Hati Mayang berteriak, merindukan embusan angin pegunungan yang ia rasakan bersama Rukma dan Gardikaraja, namun kini ia terkurung dalam dinding kemewahan yang terasa seperti nisan hidup.Balaputeradewa berdiri kokoh di dekat jendela tinggi, parasnya memancarkan ketegasan dan otoritas. Pandangannya menerawang ke arah kabut tipis yang menyelimuti permukaan

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 202: Cengkeraman Sang Pangeran

    Langkah kaki pasukan Walaing yang mundur dengan tergesa-gesa terhenti sejenak di perbatasan hutan yang gelap. Debu tipis dari sisa pertempuran sebelumnya masih melayang di udara, membawa aroma amis darah dan kehancuran. Balaputeradewa, pemimpin yang baru saja menerima pengkhianatan pedih dari Jentra dan adiknya, Gagak Rukma, merasakan hatinya terhimpit oleh beban ganda: kekalahan di medan perang dan tusukan penghianatan sanak saudara. Dalam kepahitan itu, matanya yang tajam menyapu tepian rimbun semak, mencari jejak musuh atau sisa-sisa sekutu yang setia. Di balik rerimbunan daun, sesosok wanita dengan keanggunan yang tak bisa disembunyikan tampak terpaku mengamati sisa-sisa pertempuran yang menyayat. Kerudung yang semula membingkai wajahnya telah tersingkap, memperlihatkan rona kulit seputih pualam yang sangat dikenalnya. Hatinya, yang hancur berkeping-keping oleh Jentra dan Rukma, mendadak menajamkan pandangannya pada sosok itu. Kerinduan dan amarah laksana badai yang mengamuk."Jad

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 201: Darah Lebih Kental daripada Amarah

    Medan laga yang menganga luas bak rahang neraka, kini bergetar hebat di bawah injakan kaki ribuan prajurit dan amuk kekuatan sakti. Asap tebal bercampur debu mengepul ke angkasa, mewarnai senja dengan spektrum kelabu nan suram. Di satu sisi arena, seorang pendekar berwibawa, Kunara Sancaka, mengamuk laksana banteng terluka. Setiap sabetan cambuk sakti yang berapi-api miliknya meledak dengan daya hancur luar biasa, menciptakan parit-parit api yang menganga di permukaan tanah. Nyala apinya bagaikan napas naga purba yang murka, melumat apa pun yang dilewatinya. Namun, gempuran dahsyat itu kini dihadapkan pada ketenangan seorang mahaguru strategi sekaligus pendekar tanpa tanding, Jentra Kenanga.Cakram Jentera Biru miliknya berdesing tajam di udara, menari-nari memantulkan cahaya senja yang memudar. Benda pusaka itu, yang bergerak dengan presisi mematikan, beradu dengan setiap lecutan cambuk Kunara, menghasilkan denting logam dan kilatan energi yang menyambar-nyambar. Jentera bagai perwuj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status