Share

Bab 45 Madujingga

Author: Alexa Ayang
last update Huling Na-update: 2025-10-15 22:11:03

Dengan kehati-hatian, jemari kokoh Sang Mahamantri I Halu Pangeran Balaputeradewa mengusap pipi pucat wanita itu. Sentuhan itu demikian lembut, seolah menyentuh sehelai kelopak bunga yang rentan, berbanding terbalik dengan kekuatannya yang mampu membanting buaya raksasa.

Aroma rempah dari balsam yang sempat dioleskan di tangan Pangeran dan aroma bunga melati samar yang menyeruak dari rambut sang wanita bercampur menjadi satu, menciptakan nuansa khidmat di dalam bilik. Namun, justru sentuhan ringan itu yang memecah tirai pingsannya. Kelopak mata wanita itu bergetar, lalu perlahan terbuka. Sinar remang yang masuk melalui celah jendela seolah terlalu terang bagi matanya yang baru tersadar.

Pandangannya mengerjap, menyesuaikan diri. Ketika ia mendapati wajah tampan Sang Pangeran yang begitu dekat dengannya, dengan sepasang mata meneduhkan namun menyimpan wibawa, tubuhnya sontak terkesiap. Sebuah kejutan yang besar, menggulirkan kepanikan. Ia segera beringsut mundur, punggungnya menyentuh
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 216: Racun di Pisowanan Ageng

    Kemenangan atas Kunara Sancaka, pengukuhan kedaulatan Bhumi Medang atas bumi Mataram, serta kelahiran sang penerus takhta yang mulia, Dyah Lokapala – seorang pangeran yang kelak dikenal dengan gelar agung Rakai Kayuwangi – seharusnya menjadi penanda bagi datangnya era kedamaian abadi bagi seluruh persada Medang. Ibu kota diselimuti suasana suka cita dan harapan, dengan upacara-upacara adat nan meriah yang silih berganti diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas karunia Sang Hyang Widi. Namun, di balik kemegahan perayaan yang menyilaukan mata dan riuhnya genderang kemenangan, sebuah riak kegelisahan yang halus namun mendalam, bak racun yang menyusup ke dalam sari kehidupan, mulai tumbuh subur dari celah-celah di dalam tubuh wangsa Sanjaya itu sendiri, mengancam untuk meretakkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.Puncak dari serangkaian perayaan dan konsolidasi kekuasaan tersebut adalah Pisowanan Ageng, sebuah pertemuan akbar yang menghimpun seluruh pembesar watak, para pa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 215: Perayaan di Bhumi Mataram

    Bhumi Mataram berdandan, menyongsong hari besar yang terukir dalam sejarahnya. Di jantung kerajaan, kota Medang bersolek dalam kemegahan yang tak tertandingi, melampaui segala perayaan yang pernah ada. Janur kuning melengkung anggun di setiap gerbang istana, menyambut kedatangan para pembesar dari segala penjuru, para bupati dan nayaka praja, para sanak saudara, serta rakyat jelata yang berkumpul memenuhi alun-alun. Setiap hiasan, setiap untai bunga melati yang harum semerbak, seolah bercerita tentang kebahagiaan. Hari ini adalah hari ketika dua hati tulus, Wulung dan Wulan, menyatukan ikatan suci, setulus pengabdian mereka pada negara dan raja.Di pelataran utama Pendopo Ageng, Wulung berdiri gagah dalam balutan dodot kebesaran berwarna keemasan, sulaman benang perak melukis motif batik dengan simbol kekuasaan dan kebijaksanaan. Sebuah keris bertahta permata Zamrud Katon menyelinap gagah di pinggangnya, memancarkan aura ketegasan sekaligus kharisma yang mendalam. Di sampingnya, Wulan

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 214 Gugurnya Ular Syailendra

    Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 213 Kepulangan dan Rahasia Darah

    ​Perjalanan Mudra yang panjang menuju kediaman sementara Mpu Kumbhayoni di pinggiran Giri Watangan membawa serta kabar yang tidak hanya mengejutkan secara politis, tetapi juga menggetarkan sisi emosional keluarga Sanjaya. Di sana, di antara hiruk pikuk persiapan dan kesibukan daerah transisi, Kumbhayoni sedang duduk menyendiri, menatap punggung pegunungan yang menjulang dengan perasaan campur aduk setelah kepergian adiknya, Mayang Salewang, ke tanah seberang. Kabar bahwa Mayang memutuskan untuk mengikuti suaminya dan anak-anaknya menyeberangi lautan menuju wilayah di bawah kekuasaan Rakai Warak tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga rasa penyesalan yang dalam di benak Kumbhayoni. Ia tahu adiknya pergi untuk mencari ketenangan dan harapan baru, jauh dari intrik yang membelit wangsa mereka, namun kepergian itu seolah menegaskan isolasi dirinya yang semakin parah.​Kesendirian Kumbhayoni pecah ketika Mudra, dengan rombongan pengiring yang tak terlalu mencolok namun tetap menunj

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 212: Fajar Penataan Medang

    Gema terompet keberangkatan kapal menuju Swarna Bhumi perlahan sirna di cakrawala, mengantarkan seberkas hening yang menyelubungi Bhumi Medang. Kegemparan peperangan dan gejolak intrik kekuasaan kini berangsur pudar, digantikan oleh keheningan penuh harap dan tanggung jawab. Rakai Pikatan, sang penguasa baru Bhumi Medang, tak sedikit pun membuang waktu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa fondasi stabilitas kerajaan tak lain bergantung pada kecepatan serta ketepatan langkahnya dalam mengisi kekosongan kekuasaan dan menata kembali pilar-pilar yang retak.Di dalam balairung utama keraton, yang kini terasa lebih lapang namun juga sarat dengan beban tugas negara, Rakai Pikatan duduk di atas singgasana bersama Pramodhawardhani, Ratu Permaisuri yang memancarkan ketenangan serta kearifan. Di hadapan mereka, Mahesa Seta, kini diangkat sebagai Panglima Utama Bhumi Medang yang baru, berdiri tegap dengan sikap penuh hormat. Aura kesetiaan dan kesigapan terpancar dari wajahnya. Udara balairung dipenuhi

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 211: Fajar Baru di Bhumi Medang

    Pada fajar yang menyingsing di atas Bhumi Medang, balairung agung istana Poh Pitu, yang biasanya dihiasi dengan gelak tawa dan nyanyian pujian, kini diselimuti keheningan yang mencekam. Aroma dupa wangi bercampur dengan ketegangan yang pekat, memenuhi setiap sudut ruang yang diukir dengan relief para dewa. Para petinggi kerajaan, dengan busana kebesaran yang sarat makna, telah memadati balairung sejak sebelum sang surya memancarkan keemasan sepenuhnya. Raut wajah mereka mencerminkan campuran rasa lega, khawatir, dan antisipasi terhadap keputusan maha penting yang akan segera diumumkan.Di undakan tertinggi singgasana, Maharaja Samarattungga berdiri tegak, namun sebuah perbedaan mencolok nampak pada penampilannya. Mahkota kebesarannya yang bertahtakan permata kini tidak lagi menghiasi kepalanya, menandakan sebuah fase transisi yang tak terelakkan. Pakaiannya yang lebih sederhana namun tetap berwibawa menyiratkan kerendahan hati seorang pemimpin yang bersiap melepaskan bebannya. Di hada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status