MasukKasatriyan Balaputeradewa, sebuah ruang megah yang biasanya dihiasi bisikan keangkuhan politik, malam ini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan, seolah seluruh udara telah dicuri oleh dua sosok di tengahnya. Lilin-lilin obor yang terpancang di dinding tampak berkedip tak sabar, menciptakan bayangan menari-nari yang aneh pada pahatan di pilar-pilar batu. Sebuah aura yang mengancam keluar dari diri Wiku Sasodara. Wajahnya yang biasanya teduh, kini mengeras bak granit, menatap tajam pada sosok pangeran muda di hadapannya.
"Apa yang telah kau lakukan, Mahamentri I Halu, Pangeran Balaputeradewa?" Suara Wiku Sasodara bagai guruh yang membelah keheningan malam, berat dan menggelegar seperti dentingan gong raksasa. "Kau membakar desa Song dan menfitnah Rakai Walaing Mpu Regdaya untuk menguasainya? Bukankah itu terlalu jauh?"
Balaputeradewa, dengan perawakan tampan dan atletis khas wangsa Syailendra, segera menunduk hormat. "Guru!" jawabnya, meski nada suaranya sedikit gemetar, bukan karena takut melainkan karena menghadapi salah satu orang yang paling dihormatinya. Wiku Sasodara adalah bukan hanya Paman, Penasihat Raja, sekaligus gurunya.
Seorang biksu muda berusia 35 tahun, yang dengan wajah halus dan kebijaksanaannya, seringkali disebut sebagai salah satu harapan spiritual kerajaan. Ketinggian tubuhnya yang atletis hanya menambah kewibawaan alami sang Wiku.
"Aku tidak memfitnah, Guru," sahut Sang Mahamentri I Halu, mencoba mengatur napasnya. Kerongkongannya terasa tercekat oleh tatapan mata sang Guru yang begitu dalam. "Itu hanya siasat agar Kakangmas Maharaja Samarattungga setuju untuk menyerahkan Walaing padaku. Tidak dimaksudkan untuk menyerang dan membumihanguskannya," Balaputeradewa berusaha menjelaskan, kata-katanya terdengar tergesa-gesa dan kurang yakin di telinganya sendiri.
Meskipun secara struktur kekuasaan duniawi Wiku Sasodara bukanlah setara dengan dirinya, kedudukan spiritual dan kekerabatan Wiku membuat Balaputeradewa selalu menempatkannya di posisi yang lebih tinggi, bahkan terkadang melampaui rasa hormat.
"Tapi kau lihat hasilnya bukan?" Wiku Sasodara menukas, jemarinya terkepal di samping tubuhnya, mencerminkan gejolak dalam hatinya. "Pembunuhan. Penghancuran. Apakah begitu hukum welas asih kita bekerja? Atau sudahkah kau lupa pada ajaran cinta kasih yang aku tanamkan dalam dirimu sejak kau masih kanak-kanak, Balaputeradewa?"
Pangeran Balaputeradewa mengangkat wajahnya perlahan, memaksakan senyum tipis. "Maaf Guru, tapi ini hanya strategi politik semata. Tak ada hubungannya dengan agama," ujarnya, mencoba melampaui kekecewaan yang terlihat jelas di wajah Wiku. Namun matanya sendiri, mengkhianati sedikit kegelisahan di balik topeng keberaniannya.
"Strategi politik kau bilang?" Wiku Sasodara mendekat satu langkah, suaranya kini terdengar menusuk. "Tapi kau menggunakan isu agama untuk menyerang. Bukankah Mpu Regdaya memiliki perjanjian denganku untuk tidak saling menghancurkan? Kau membuat pandangan orang menjadi buruk pada keyakinan kita, memicu keraguan. Lalu welas asih yang mana yang sedang kau gaungkan, Pangeran?" pertanyaan itu mengunci Balaputeradewa dalam sudut ruangan, udara di sekitarnya terasa semakin menekan.
Sebelum Balaputeradewa sempat memberikan dalih, atau sebelum Sang Wiku bisa melanjutkan perkataannya, langkah-langkah tergesa terdengar dari ambang pintu Kasatriyan. Sosok Kunara Sancaka, pemimpin pasukan Balaputeradewa, muncul dengan wajah datar namun sorot mata yang penuh informasi, memancarkan kengerian dan kejayaan sekaligus. Ia berlutut di hadapan Balaputeradewa.
"Yang Mulia Pangeran, hamba datang dengan kabar dari Walaing," lapornya, suaranya rendah. "Semuanya telah terlaksana seperti perintah. Walaing telah tunduk, hamba persembahkan kepala pembangkang utamanya, Mpu Regdaya."
Di tangan Kunara Sancaka, terangkatlah sebuah bungkusan kain yang kini terbuka perlahan. Sebuah kepala dengan rambut yang mulai memutih dan janggut yang telah lusuh tersembul, pandangan kosongnya menatap lurus ke arah langit-langit yang remang. Aroma amis darah dan kematian segera memenuhi ruangan, menenggelamkan aroma kemenyan dan melati yang semula menghiasi Kasatriyan.
"Astaga... Paman Regdaya!"
Wiku Sasodara memekik tertahan, lututnya lemas, ia terduduk dengan guncangan hebat. Bibirnya bergetar tak terkendali. Mata elangnya yang tajam kini memerah, mengabur oleh air mata yang jatuh perlahan. Wajah yang biasanya teduh itu, kini terlukis nyata kepedihan dan syok.
"Balaputeradewa," desis Wiku Sasodara, air mata mengalir deras di pipinya. Matanya yang pedih beralih ke wajah Balaputeradewa yang pucat pasi, terguncang. "Kau... kau sungguh tak berhati. Aku sangat, sangat kecewa."
Dengan isakan pelan dan air mata yang tak henti bercucuran, Sang Wiku memberikan hormat terakhir kepada jasad yang tak lagi berbentuk sempurna itu, seolah-olah seluruh dunia di sekelilingnya hancur. Kemudian, dengan hati yang remuk dan rahang yang mengeras,
Wiku Sasodara bangkit. Langkahnya berat, namun tegar. Kemarahan yang dingin kini tampak begitu jelas membeku di matanya, suatu kemarahan yang membayangi hati Balaputeradewa bahkan ketika sosok gurunya itu berbalik, meninggalkan Kasatriyan, menghilang di balik ambang pintu, menyisakan kekosongan yang membekukan. Suara desiran jubahnya saat ia melangkah menjauh seakan adalah bunyi kepak sayap kematian.
Balaputeradewa hanya bisa menatap punggung Gurunya yang menghilang, dengan sebuah penyesalan pahit, serta sesuatu yang lain... sesuatu yang kejam, dingin, dan baru saja terbangun dalam jiwanya. Ia menoleh perlahan pada Kunara Sancaka, bibirnya membentuk senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Kunara," desisnya, suaranya kini dingin membeku, tanpa jejak penyesalan. "Siapkan orang-orang terbaikmu. Temukan Wiku Sasodara. Aku ingin dia dikembalikan ke Kasatriyan... hidup atau mati."
Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma
Perjalanan Mudra yang panjang menuju kediaman sementara Mpu Kumbhayoni di pinggiran Giri Watangan membawa serta kabar yang tidak hanya mengejutkan secara politis, tetapi juga menggetarkan sisi emosional keluarga Sanjaya. Di sana, di antara hiruk pikuk persiapan dan kesibukan daerah transisi, Kumbhayoni sedang duduk menyendiri, menatap punggung pegunungan yang menjulang dengan perasaan campur aduk setelah kepergian adiknya, Mayang Salewang, ke tanah seberang. Kabar bahwa Mayang memutuskan untuk mengikuti suaminya dan anak-anaknya menyeberangi lautan menuju wilayah di bawah kekuasaan Rakai Warak tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga rasa penyesalan yang dalam di benak Kumbhayoni. Ia tahu adiknya pergi untuk mencari ketenangan dan harapan baru, jauh dari intrik yang membelit wangsa mereka, namun kepergian itu seolah menegaskan isolasi dirinya yang semakin parah.Kesendirian Kumbhayoni pecah ketika Mudra, dengan rombongan pengiring yang tak terlalu mencolok namun tetap menunj
Gema terompet keberangkatan kapal menuju Swarna Bhumi perlahan sirna di cakrawala, mengantarkan seberkas hening yang menyelubungi Bhumi Medang. Kegemparan peperangan dan gejolak intrik kekuasaan kini berangsur pudar, digantikan oleh keheningan penuh harap dan tanggung jawab. Rakai Pikatan, sang penguasa baru Bhumi Medang, tak sedikit pun membuang waktu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa fondasi stabilitas kerajaan tak lain bergantung pada kecepatan serta ketepatan langkahnya dalam mengisi kekosongan kekuasaan dan menata kembali pilar-pilar yang retak.Di dalam balairung utama keraton, yang kini terasa lebih lapang namun juga sarat dengan beban tugas negara, Rakai Pikatan duduk di atas singgasana bersama Pramodhawardhani, Ratu Permaisuri yang memancarkan ketenangan serta kearifan. Di hadapan mereka, Mahesa Seta, kini diangkat sebagai Panglima Utama Bhumi Medang yang baru, berdiri tegap dengan sikap penuh hormat. Aura kesetiaan dan kesigapan terpancar dari wajahnya. Udara balairung dipenuhi
Pada fajar yang menyingsing di atas Bhumi Medang, balairung agung istana Poh Pitu, yang biasanya dihiasi dengan gelak tawa dan nyanyian pujian, kini diselimuti keheningan yang mencekam. Aroma dupa wangi bercampur dengan ketegangan yang pekat, memenuhi setiap sudut ruang yang diukir dengan relief para dewa. Para petinggi kerajaan, dengan busana kebesaran yang sarat makna, telah memadati balairung sejak sebelum sang surya memancarkan keemasan sepenuhnya. Raut wajah mereka mencerminkan campuran rasa lega, khawatir, dan antisipasi terhadap keputusan maha penting yang akan segera diumumkan.Di undakan tertinggi singgasana, Maharaja Samarattungga berdiri tegak, namun sebuah perbedaan mencolok nampak pada penampilannya. Mahkota kebesarannya yang bertahtakan permata kini tidak lagi menghiasi kepalanya, menandakan sebuah fase transisi yang tak terelakkan. Pakaiannya yang lebih sederhana namun tetap berwibawa menyiratkan kerendahan hati seorang pemimpin yang bersiap melepaskan bebannya. Di hada
Malam di penjara bawah tanah istana Medang terasa begitu dingin dan pengap, melukiskan bayangan kegelapan yang pekat di setiap sudutnya. Bau apak tanah dan kelembapan yang menyengat menelisik hingga ke tulang, menambah suram suasana yang sudah menindas. Namun, suasana di dalam jeruji besi tempat Balaputeradewa mendekam jauh lebih menyesakkan secara batin. Sang Pangeran, yang kini statusnya tak lebih dari seorang terpidana yang menunggu vonis, duduk bersandar pada dinding batu yang lembab dan kasar. Matanya kosong, menatap lantai batu yang kotor, seolah tak lagi ada harapan yang tersisa di lubuk jiwanya. Ia adalah seekor singa yang terperangkap, energinya terkuras, semangatnya padam, dan kehormatannya tercabik. Pikirannya melayang tanpa arah, berkecamuk dalam labirin penyesalan dan ketidakberdayaan.Keheningan yang memekakkan telinga dipecahkan oleh suara gemerincing kunci dan langkah kaki halus yang terdengar semakin mendekat di lorong selasar yang remang-remang. Suara itu seolah-olah
Ibu kota Medang diliputi suasana mencekam yang belum pernah terasa sepekat ini sebelumnya. Sebuah berita tersiar bak badai menggerus ketenangan, kabar tentang kepulangan Wiku Sasodara dan Wiku Amasu yang tidak membawa berita suka cita. Alih-alih merayakan kemenangan atau penumpasan pemberontakan, keduanya justru tiba dengan membawa Pangeran Balaputeradewa, sang Mahamentri I Halu, dalam kondisi yang memprihatinkan. Pangeran yang dahulunya angkuh dan perkasa itu kini tak lebih dari seonggok raga lemah, kekuatannya terkikis habis, terenggut entah oleh penderitaan fisik atau badai di dalam batinnya. Ia diseret ke hadapan Samgat Agung, dewan hakim tertinggi kerajaan yang terdiri dari para pendeta dan ahli hukum terkemuka, kumpulan cendekia dengan kearifan usia dan kebijakan tak terbantahkan.Ruang Mahkamah Agung, yang biasanya dipenuhi gema petuah-petuah bijaksana, kini terjejali ketegangan yang pekat. Udara terasa begitu berat, membebani setiap dada yang hadir. Tiang-tiang ukiran jati men







