Home / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 83: Kekhawatiran Rakai Panaraban dan Kabar dari Tumenggung Alap-alap

Share

Bab 83: Kekhawatiran Rakai Panaraban dan Kabar dari Tumenggung Alap-alap

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-11-01 21:39:34

Watak Panaraban terasa damai, jauh dari hiruk pikuk politik Keraton Medang yang senantiasa bergolak. Di kediaman utama, pendopo agung yang memancarkan ketenangan arsitektur khas Jawa, Rakai Panaraban menatap istrinya, Dyah Ayu Manohara, dengan kehangatan dan rasa syukur yang mendalam. Kehadiran Dyah Ayu Manohara telah membawa nuansa tentram ke dalam kehidupannya yang sering kali diselimuti kekhawatiran akan takdir wangsa.

Sementara itu, di ruangan terpisah yang telah disiapkan secara khusus, Mpu Kumbayoni telah ditempatkan di tempat tidur yang nyaman. Lukanya yang menganga kini dirawat dengan cermat oleh tabib kerajaan Panaraban, sementara para abdinya yang setia berjaga di ambang pintu. Laturana, Megarana, dan Wiyuhmega, yang menyertai Manohara dalam perjalanan melelahkan itu, juga mendapatkan tempat peristirahatan yang layak, guna memulihkan diri dari keletihan.

"Aku sungguh merasa lega atas kepulanganmu yang selamat, Diajeng," ujar Rakai Panaraban, suaranya mengandung kehangatan tu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 208: Badai di Atas Song Ranu

    Di bawah kanopi langit yang menggerutu, bergemuruh oleh benturan energi purba yang baru saja pecah di cakrawala, Pangeran Balaputeradewa berdiri kokoh di tepi selasar puri, rambut panjangnya terurai liar, bagaikan helai-helai hitam dalam pusaran angin badai. Pandangan matanya nanar, membakar dengan bara ambisi yang tidak tergoyahkan, melirik setiap sudut halaman Puri Walaing yang kini dilanda kekacauan.Dengan gestur yang megah namun penuh ketegangan, ia menggerakkan kedua tangannya dalam pola melingkar, memanggil kekuatan yang nyaris tak terbayangkan. Seketika, permukaan danau Song Ranu yang jernih bergolak hebat, jutaan galon air menuruti perintahnya, merayap naik ke angkasa, memadat dalam wujud yang menakutkan.Di hadapan mata Wiku Sasodara dan Wiku Amasu yang tak berkedip, air tersebut mengeras, menjelma menjadi tujuh kepala naga raksasa yang transparan namun padat, mendesis-desis garang, siap memangsa apa pun yang menghalangi jalannya.Pusaran kekuatan elemental terpancar kuat da

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 207 Prahara di atas Telaga

    Lembah Song Ranu, yang selama ini termasyhur akan ketenangan dan keheningan sakralnya, kini tercekam dalam selubung kegelapan pekat yang menggulir dari puncak-puncak batu cadasnya. Kabut yang lazim menyelimuti permukaan Telaga Song Ranu pada dini hari, seakan berubah wujud menjadi jumbai-jumbai ancaman, merambat pelan menuruni pepohonan raksasa. Di dalam Puri Walaing, Pangeran Balaputeradewa bersemayam dalam arogansi tak tergoyahkan. Ia merasa di atas angin, percaya bahwa kekuasaannya, yang terikat erat pada Baruna Warih, adalah absolut dan tak terbandingi, bahkan tak menyadari bahwa dua sosok agung, takdir berjalan, tengah melintasi hutan perbatasan dengan kecepatan yang melampaui segala nalar insani.Wiku Sasodara dan Wiku Amasu, dalam jubah putih kehormatan mereka, bergerak menyusuri belantara sunyi. Setiap langkah mereka tidak menyentuh tanah, melainkan seolah menapaki rongga udara tipis yang terbentuk sesaat di bawah telapak kaki mereka. Gerak-gerik mereka menguarkan aura kebijak

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 206: Titah di Ambang Senja

    Di dalam Balairung Agung Kerajaan Medang, atmosfer terasa sarat, mencekam laksana selubung kelam meskipun genderang kemenangan atas rongrongan pemberontakan baru saja menggema dari medan laga. Sorot mata Maharaja Samarattungga, yang bertahta agung di atas singgasana berukirkan intan permata, tidak lagi terpaku pada kemegahan duniawi atau simbol kekuasaan fana, melainkan meresapi kedalaman makna dharma, cahaya abadi yang menjadi pedoman dalam setiap langkah titahnya. Setiap detak jarum waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi keputusan-keputusan fundamental yang akan mengukir nasib Medang. Para pembesar kerajaan, menteri, dan panglima, duduk di tempat masing-masing dengan sikap tertunduk, menanti titah Sang Prabu dengan napas tertahan, seolah menggantung di udara.“Para pembesar kerajaan, para panglima perkasa, dan para menteri yang bijaksana,” titah Maharaja Samarattungga, suaranya, meski tenang, mengandung gema yang memenuhi setiap relung balairung. Aura wibawa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 205: Stempel Kepemilikan Sang Pangeran

    Keheningan malam yang pekat di Puri Walaing, Song Ranu, sejatinya bukanlah keheningan yang menenangkan. Malam itu menjadi saksi bisu bagi kemelut jiwa dan nafsu yang gelap, sebuah badai yang tak kunjung mereda di relung hati Sang Pangeran. Balaputeradewa, putra mahkota yang dihormati, telah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya. Harga dirinya, yang semula kokoh tak tertandingi, kini hancur berkeping-keping di bawah tekanan kekalahan dan rasa cemburu yang mematikan.Amarah membakar setiap sel darahnya, melebur bersama gairah yang telah lama dipendam namun kini meledak dalam rupa paling purba. Dengan kekuatan yang dipupuk oleh keputusasaan, ia mengangkat tubuh Mayang Salewang, istrinya, dan mengikat kedua tangan perempuan itu pada tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Simpul tali kulit rusa yang keras itu mengencang, melambangkan belenggu tak kasat mata yang menjerat Mayang dalam kungkungan amarah sang suami.Ia memasuki tubuh Mayang dengan dorongan-dorongan yang memi

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 204: Amarah Sang Naga Baruna

    Di balik pintu kayu jati yang kokoh dan tebal, Windri Sageni berdiri dengan tubuh menggigil hebat, bagai daun lontar yang disapu badai tak berkesudahan. Butiran air mata mengalir pilu membasahi pipi yang kini tampak pucat pasi, bercampur dengan butiran keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Setiap rintihan samar, setiap desahan ancaman kejam, dan setiap jeritan tertahan yang berhasil meloloskan diri dari celah pintu yang rapat itu, bagaikan bilah-bilah belati tajam yang tanpa ampun menusuk hingga ke jantungnya, mengoyak jiwanya. Ia mengenal suara-suara itu. Itu adalah suara tuan putrinya, Mayang Salewang, yang kini kembali menjadi tawanan nafsu dan amarah suaminya.Sejak berhari-hari dalam pelarian yang melelahkan, Windri telah dengan setia mendampingi sang putri dengan loyalitas tak tergoyahkan. Ia melihat Mayang tumbuh dari gadis ceria yang polos menjadi wanita yang dipenuhi kepahitan, lalu kini harus kembali menyaksikan wanita yang amat dicintainya itu terpuruk dalam duka

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 203 Sumpah di Atas Nampan Emas

    Pagi di Song Ranu tidak jua mampu membawa kehangatan yang merasuk hingga ke tulang bagi Mayang Salewang. Dalam selubung dingin embun pagi dan gemerisik daun-daun pinus, seolah alam turut meratapi nasibnya. Di kamar utama puri yang dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Mahamentri I Halu, ia duduk terpaku, matanya menatap hampa pada lukisan langit-langit berukir. Jiwanya tercabik di antara kebencian yang mendalam dan membara terhadap suaminya, serta kenyataan pahit yang kini kembali menghantamnya: ia terperangkap sebagai permaisuri Balaputeradewa, layaknya burung dalam sangkar emas, terpisah dari kebebasan yang pernah sebentar ia rengkuh. Hati Mayang berteriak, merindukan embusan angin pegunungan yang ia rasakan bersama Rukma dan Gardikaraja, namun kini ia terkurung dalam dinding kemewahan yang terasa seperti nisan hidup.Balaputeradewa berdiri kokoh di dekat jendela tinggi, parasnya memancarkan ketegasan dan otoritas. Pandangannya menerawang ke arah kabut tipis yang menyelimuti permukaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status