LOGINMikhaila Ameera Violetta POV Setelah Bara pulang dari tour bersama band-nya kemarin siang, ia menjadi suami yang lebih banyak gelendotan pada istri. Meskipun aku tidak mempermasalahkan hal itu, namun ini membuatku tidak bisa pergi ke mana-mana selain hanya berkeliling kamar kami dan kamar mandi saja. Apalagi Bara baru saja menuntut nafkah batinnya padaku sejak sore sampai pagi dini hari tadi. Meksipun sebenarnya aku ingin menolak karena ini sudah hari ke tujuh aku telat kedatangan tamu, tapi aku tidak tega padanya. Sudah empat hari ia meninggalkan rumah dan aku tahu bahwa Bara tidak akan kuat jika menahannya lebih lama lagi.Kini saat Bara belum bangun dari tidurnya, aku memilih menyingkirkan tangannya pelan-pelan dari atas pinggangku. Pelan-pelan aku bangun dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Baru beberapa langkah aku tapaki, suara Bara sudah membuatku menghentikan langkah ini."Kamu mau ke mana, Yang?""Kamar mandi, Bar," jawabku sambil menoleh ke arahnya."Nanti aja. Bali
Bara Nareswara POVKami adalah pria pria kesepianJauh dari rumah dan ditinggalkan cintaJreng....jreng.... Jreng...Demi apapun telingaku rasanya sudah pekak sejak tadi karena mendengar suara Kafka yang baru saja menyanyikan lagu Pria kesepian milik band Sheila on Seven. Andai saja suaranya semerdu suara sang vokalis asli, tentu saja aku tidak akan protes seperti ini. Ini sudah suaranya seperti kodok kegencet pintu, fals lagi. Benar-benar tidak enak didengarkan di telinga."Lo doang kesepian. Gue mah kagak. Bini gue di rumah lagi hamil," cetus El yang tidak terima dengan nyanyian Kafka.Sudah tiga hari ini kami mulai tour lagi. Meskipun hanya dua kota dan bukan tour panjang, namun ini cukup sebagai hiburan bagiku selama weekend. Selama di rumah aku tidak bisa mengabaikan Mikha yang sering merengek karena ia tak kunjung mendapatkan garis dua. Semua semakin menjadi-jadi semenjak Rara positif hamil. Ingin rasanya kala itu aku mementung kepala El. Kenapa ia harus pamer di story WhatsApp?
Mikhaila Ameera Violetta POVSetelah aku dan Bara dipijat, kami memilih menyewa hotel di daerah Gunung Kidul ini. Anggap saja kami sedang staycation tipis-tipis. Sayangnya kami tidak bisa bersilaturahmi di atas ranjang karena tukang pijat itu mengatakan kepada kami jika dua hari setelah dipijat, sebaiknya kami baru melakukan pergulatan di atas ranjang.Kini saat Bara mulai masuk ke kamar mandi, aku mulai membongkar tas ransel yang Bara siapkan sendiri. Aku tidak tahu apa saja yang ia packing. Semoga saja keperluan pribadiku tidak ketinggalan sama sekali.Aku tersenyum kala melihat apa saja yang Bara bawa. Ternyata semua keperluanku ada semua. Meskipun hanya baju ganti satu setel untuk besok pagi dan satu buah lingeri
Bara Nareswara POVPukul lima sore akhirnya aku dan Mikha pamit dari rumah orangtua Sofia. Meksipun mereka menawarkan kepada kami untuk menginap, namun rasanya kami akan lebih nyaman dan bebas jika tinggal di hotel saja.Selama perjalanan menuju ke hotel, kami mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu seperti telaga yang tidak jauh dari rumah Sofia untuk melihat keindahan sunset di sana. Setelah itu, Mikha sempat mengajak diriku mampir di sebuah minimarket. Awalnya bukan untuk berbelanja, namun untuk numpang di toiletnya. Entahlah, istriku itu lebih suka menumpang toilet di minimarket kala kami berpergian daripada di pom bensin. Meksipun pada akhirnya tetap saja akan berbelanja minimal adalah air mineral. Tujuan selanjutnya adalah warung pinggir jalan untuk makan malam. Cukup nyaman juga aku di sini karena tidak ada yang menyadari siapa diriku. Mungkin karena tempatnya tidak terlalu ramai dan pedagangnya sudah paruh baya."Pak, mie gorengnya satu, mie kuahnya satu. Minumnya jeruk pana
Mikhaila Ameera Violetta POV"Kamu sama Bara jauh-jauh ke sini tapi malah mau ke Wonosari. Eyang masih kangen sama kamu."Aku tersenyum mendengar perkataan Eyang Putri. Memang sejak Chava meninggal, aku adalah cucu perempuan satu-satunya yang Eyang miliki. Kedua sepupuku yang merupakan anak Om Chandra adalah laki-laki, sedangkan Tante Retno, sampai sekarang juga belum ada tanda-tanda akan memberikanku sepupu baru."Besok aku pulang ke sini, Eyang.""Kamu mau nginap di sana?""Iya. Di sana 'kan ada hotel baru. Si Bara ngajakin staycation."Aku bisa melihat Eyang yang tampa
Bara Nareswara POVSelama satu bulan ini aku sudah mengurangi jadwal manggungku di saat weekend dan tentunya berusaha pulang tepat waktu dari kantor setiap hari. Itu semua demi suksesnya program memiliki momongan dengan Mikha. Sebenarnya sedikit heran juga, kenapa dulu saat kami tidak merencanakan untuk memiliki momongan, yang ada Tuhan justru dengan mudahnya memberikan garis dua untuk Mikha, sedangkan sekarang? Sudah minum vitamin setiap hari, bercinta dengan posisi yang memungkinkan untuk hamil lebih besar sampai makan makanan yang sehat, tapi Mikha masih kedatangan tamu juga. Mungkin benar kata orang jika setelah menikah, perjuangan memiliki anak bukan hanya sebatas enak-enak di atas ranjang semata."Bar, aku masuk masa subur ini. Kamu pulang on time ya?"







