Home / Young Adult / Bara di Hati Mikha / 4. One Night stand

Share

4. One Night stand

last update publish date: 2026-06-17 08:29:10

Mikhaila Ameera Violetta POV

Malam ini aku merasa baru saja terbang ke awang-awang tatkala Mas Rio mulai mencumbu diriku dengan ciuman yang begitu memabukkan. Dari ciumannya aku bisa merasakan rasanya dicintai dengan begitu tulus oleh seorang laki-laki. Mas Rio memperlakukan diriku dengan begitu lembut malam ini. Bahkan aku baru pertama kalinya diperlakukan semanis ini oleh laki-laki. Saat ia mulai membelai wajahku dengan tangannya, aku bisa melihat sorot matanya yang diselimuti kabut gairah. Gairahnya bersambut, aku juga merasakan apa yang Mas Rio rasakan saat ini.

Persetan, aku tidak peduli apa kata orang jika mengetahui semua ini karena aku bukan seorang perawan yang belum pernah mencicipi surga dunia. Pertama kali aku melakukan itu adalah dengan mantan pacar SMA-ku sebagai hadiah pesta kelulusan kami berdua. Sayangnya setelah kami melakukan hubungan itu, yang ada bukan rasa kebahagiaan yang menyelimuti diriku namun rasa penyesalan yang begitu memuncah hingga aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama Eyang-ku dari pihak Papa. Aku melarikan diri ke Jogja dengan alasan melanjutkan pendidikan serta menemani Eyang Kakung dan Eyang Putri. Bagaimanapun juga aku adalah cucu pertama yang paling istimewa diantara saudaraku yang lain. Padahal andai aku bisa jujur alasan sebenarnya adalah aku mau melarikan diri dari Devon. Iya, Devon, laki-laki yang merenggut keperawananku dan ia begitu ketagihan dengan kegiatan silaturahmi di atas ranjang berdua dengan diriku. Aku tidak mau menjadi objek fantasi sex baginya. Dan akhirnya aku baru bisa  benar-benar move on saat bertemu dengan laki-laki yang kini sedang menyapu setiap inci leher jenjangku dengan bibirnya.

Aku melenguh panjang dibuatnya bahkan kepalaku mendongak dan kedua mataku tertutup dengan rapat. Dalam keadaan mataku yang tertutup, aku bisa merasakan Mas Rio yang sedang menurunkan kursi yang aku duduki hingga aku saat ini dalam posisi rebahan dengan dirinya yang ada di atas tubuhku.

Saat ia menarik bibirnya dari atas bibirku, aku membuka kedua mataku. Pemandangan yang bisa aku temukan dalam keadaan mataku yang masih sulit untuk fokus ini adalah wajah tampannya yang memiliki rahang tegas dan jambang yang begitu menggoda imanku sebagi seorang wanita dewasa.

Aku angkat kedua tanganku dan aku tempatkan pada kedua belah pipinya.

"Since i meet you. I always believe if you are my destiny."

Akhirnya aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada Mas Rio. Bukannya mengatakan terimakasih karena aku telah mengutarakan rasa cintaku kepadanya entah untuk yang keberapa kalinya, yang ada kini Mas Rio justru melesatkan bibirnya kembali ke atas bibirku. Ia menciumiku dengan ciuman yang panas dan menuntut balas, berbeda dengan ciumannya yang tadi.

Ciumannya berhasil membuat intiku berdenyut-denyut dan celana dalamnya seakan baru saja kebakaran. Kini yang aku inginkan adalah Mas Rio secepatnya akan memadamkan rasa panas yang ada di dalam diriku dengan sentuhan tangannya, bibir, lidah hingga selang miliknya yang mungkin tidak hanya mengalirkan air namun juga benih. Aku akan dengan senang hati menerima benih miliknya di ladangku. Aku akan bahagia jika aku bisa menjadi ibu dari anak-anaknya.

"Ah...," Aku melenguh panjang tatkala aku merasakan lidah Mas Rio yang mulai berekspedisi menyusuri tubuh bagian depanku dan ia baru berhenti saat hampir saja mencapai puncak gunung kembarku. Gunung kembarku yang begitu besar, padat dan menjadi salah satu aset terbaik pada diri dan tubuhku ini benar-benar magnet yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh kaum Adam. Aku tersenyum bahagia ketika menyadari mas Rio ternyata cukup mudah aku dapatkan hanya dengan bersikap layaknya seorang jalang seperti ini.

"Can i start?"

Alamak....

Mimpi apa aku semalam? Sudah kepalang tanggung begini tapi Mas Rio masih memiliki pikiran untuk meminta ijin kepada diriku? Kiyowo sekali Mas Rio ini...

"Sayang?" Panggilnya kembali saat aku hanya diam saja.

Aku hanya bisa merespon dirinya dengan anggukan kepala. Setelah aku menganggukkan kepala, yang bisa aku rasakan adalah Mas Rio yang mulai menghadirkan surga dunia yang sudah cukup lama aku impikan hadir kembali di hidupku. Kali ini aku akan menyambutnya dengan suka cita karena aku akan melalui semua ini dengan dirinya. Laki-laki yang aku cintai dengan segenap hati dan jiwaku. Untuknya, aku akan menghadirkan surga dunia yang mungkin tak pernah Tante Retno berikan kepadanya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara di Hati Mikha   153. Kisah perjalanan cinta mertua

    Mikhaila Ameera Violetta POVSiang ini aku dan Bara sudah berada di ruang keluarga rumah Grandma Bara yang ada di Sydney. Sejak beberapa hari sebelum kami berangkat ke sini, suasana hatiku jauh lebih baik setelah aku berbicara dengan Mama Belinda. Mungkin aku beruntung karena memiliki ibu mertua yang bisa serasa jadi ibu kandung. Dengannya aku bisa mencurahkan apa yang aku rasakan. Saran dari Mama adalah aku cukup berhenti melihat akun media sosial ataupun televisi. Aku harus menikmati hidup dan waktu yang masih aku miliki dengan Bara sebelum kami akhirnya sama-sama sibuk dengan kegiatan kami lagi.Jadi siang ini aku dan Bara memilih duduk bersama Grandma Barbara di sini. Dasarnya Bara memang kurang ajar, bisa-bisanya ia memanggil Grandma-nya dengan panggilan Barbie. Sumpah, aku sempat tidak enak kepada Grandma ketika pertama kali aku mendengar Bara memanggil begitu. Tapi menurut Grandma, Bara sudah memangilnya begitu sejak ia kecil. Ia bahkan memangil Bara dengan panggilan Ken. Kelua

  • Bara di Hati Mikha   152. Perdebatan Mikha dan Papa Rey

    Bara Nareswara POVSejak pulang dari kondangan hampir satu Minggu yang lalu, Mikha lebih sering menyibukkan dirinya sendiri dan jarang ada di rumah bersamaku. Aku tahu memang dia lebih sering pergi ke panti asuhan dan rumah sakit dari pagi sampai sore. Malam hari kadang saat ia sampai di rumah, ia memilih mengabaikan aku. Entah kenapa Mikha tidak bisa menerima alasanku yang aku tidak memberitahu masalah kedekatan Papanya dengan Fiorella. Model muda pendatang baru yang sedang naik daun.Bahkan hasil wawancara diriku dan Mikha saja kala di kondangan itu kalah booming dengan berita Fio yang menggandeng Papa Rey. Justru karena Fio mengaku terang-terangan bila ia sedang menjalin hubungan dengan Papa Rey, akhirnya latar belakang Papa Rey yang sudah memiliki dua orang anak dikulik habis-habisan. Tidak hanya itu saja, akun sosial media Mikha juga penuh sekali dengan orang yang menginvite dirinya untuk berteman. Sayangnya Mikha memilih meng-uninstal aplikasi sosial medianya.Selama seminggu ju

  • Bara di Hati Mikha   151. Bertemu dengan Fiorella

    Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku sudah siap dengan gown berwarna merah rancangan salah satu designer langganan Mama Belinda. Sebenarnya aku sedikit tidak percaya diri dengan model gaun berbelahan tinggi seperti ini, tapi memang aku akui, ini membuat aset-aset terbaik di tubuhku menonjol dengan maksimal. Termasuk badanku yang mulai menyusut meskipun belum kembali ke berat badan awal sebelum hamil."Kamu kenapa sih, Yang ngaca terus?""Enggak PD, Bar. Badan masih melar, takut juga kalo ASI-nya rembes."Memang sejak Langit meninggal, aku masih rajin memompa asiku yang aku berikan kepada salah satu bayi di rumah sakit karena ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya

  • Bara di Hati Mikha   150. Gagal casting

    Bara Nareswara POVSetelah menunggu kabar selama beberapa waktu, akhirnya aku tidak lolos seleksi jadi aktor. Bukannya kecewa, aku justru bahagia. Bahkan aku dan Mikha bisa tertawa bersama karena menertawakan kebodohanku ini. Toh sudah jelas aku tidak bisa berakting, penulisnya saja yang sedikit aneh, mau memakai aku menjadi pemeran utama prianya hanya karena namaku baru saja wara-wiri lagi di media namun dengan masalah yang berbeda dengan biasanya. Jika dulu biasanya aku digosipkan dengan banyak perempuan, namun saat ini justru karena aku kehilangan anakku untuk selama-lamanya. Sudah tahu kehilangan itu sakit, tapi ada aja yang tega mengatakan jika ini karma untukku. Tanpa mereka harus mengatakan itu juga aku sadar kalo aku pantas mendapatkan balasan dari apa yang aku perbuat dulu, tapi jangan bawa-bawa kondisi Langit itu sebagai karma. Karena Lan

  • Bara di Hati Mikha   149. Mudik sekalian piknik?

    Mikhaila Ameera Violetta POVAku tidak mengerti dengan sikap Bara yang membuatku harus bekerja dua kali saat ini. Bisa-bisanya ia melarang aku memberikan barang-barang Langit ke panti asuhan. Memang sih hanya yang Mama Belinda belikan saja yang tidak boleh aku berikan ke panti, namun tetap saja itu membuatku harus bongkar-bongkar lagi bersama Mbak Lia. Padahal kami sudah mem-packing ajak kemarin."Pantas aja mas Bara enggak kasih ijin barang-barang dari ibu untuk dikasih ke panti, Mbak.""Memangnya kenapa, Mbak Lia?" Tanyaku sambil sibuk memilah-milah baju bayi ini dari kardus."Satu baju ini aja harganya mungkin lebih mahal daripada gaji saya sebulan."

  • Bara di Hati Mikha   148. Tawaran gila dari Mas Tri

    Bara Nareswara POVDi balik kemudi mobil, aku terus berpikir tentang ide gila yang Mikha katakan kepadaku tadi. Mendaki gunung, oh my God... Rasanya aku tidak yakin dengan ide gila ini. Apalagi jika harus mendaki berdua dengan Mikha saja. Sepertinya akan benar-benar menguras emosi daripada tenaga jika sampai ide gila itu terealisasi. Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena Mikha sebelas dua belas dengan Mama sifatnya. Dulu ketika aku masih SMP, Papa pernah mengajakku dan Mama menaiki gunung Rinjani dan hasilnya adalah Mama yang setiap saat lebih banyak mengomel daripada menikmati pemandangan indah yang bisa kami nikmati di sana.Lagipula sejak Langit meninggal, aku lebih sering pergi ke makamnya dari pagi sampai sore. Entah kenapa ada rasa tidak tega membiarkannya sendirian di tem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status