MasukMikhaila Ameera Violetta POV
Malam ini aku merasa baru saja terbang ke awang-awang tatkala Mas Rio mulai mencumbu diriku dengan ciuman yang begitu memabukkan. Dari ciumannya aku bisa merasakan rasanya dicintai dengan begitu tulus oleh seorang laki-laki. Mas Rio memperlakukan diriku dengan begitu lembut malam ini. Bahkan aku baru pertama kalinya diperlakukan semanis ini oleh laki-laki. Saat ia mulai membelai wajahku dengan tangannya, aku bisa melihat sorot matanya yang diselimuti kabut gairah. Gairahnya bersambut, aku juga merasakan apa yang Mas Rio rasakan saat ini.
Persetan, aku tidak peduli apa kata orang jika mengetahui semua ini karena aku bukan seorang perawan yang belum pernah mencicipi surga dunia. Pertama kali aku melakukan itu adalah dengan mantan pacar SMA-ku sebagai hadiah pesta kelulusan kami berdua. Sayangnya setelah kami melakukan hubungan itu, yang ada bukan rasa kebahagiaan yang menyelimuti diriku namun rasa penyesalan yang begitu memuncah hingga aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama Eyang-ku dari pihak Papa. Aku melarikan diri ke Jogja dengan alasan melanjutkan pendidikan serta menemani Eyang Kakung dan Eyang Putri. Bagaimanapun juga aku adalah cucu pertama yang paling istimewa diantara saudaraku yang lain. Padahal andai aku bisa jujur alasan sebenarnya adalah aku mau melarikan diri dari Devon. Iya, Devon, laki-laki yang merenggut keperawananku dan ia begitu ketagihan dengan kegiatan silaturahmi di atas ranjang berdua dengan diriku. Aku tidak mau menjadi objek fantasi sex baginya. Dan akhirnya aku baru bisa benar-benar move on saat bertemu dengan laki-laki yang kini sedang menyapu setiap inci leher jenjangku dengan bibirnya.
Aku melenguh panjang dibuatnya bahkan kepalaku mendongak dan kedua mataku tertutup dengan rapat. Dalam keadaan mataku yang tertutup, aku bisa merasakan Mas Rio yang sedang menurunkan kursi yang aku duduki hingga aku saat ini dalam posisi rebahan dengan dirinya yang ada di atas tubuhku.
Saat ia menarik bibirnya dari atas bibirku, aku membuka kedua mataku. Pemandangan yang bisa aku temukan dalam keadaan mataku yang masih sulit untuk fokus ini adalah wajah tampannya yang memiliki rahang tegas dan jambang yang begitu menggoda imanku sebagi seorang wanita dewasa.
Aku angkat kedua tanganku dan aku tempatkan pada kedua belah pipinya.
"Since i meet you. I always believe if you are my destiny."
Akhirnya aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada Mas Rio. Bukannya mengatakan terimakasih karena aku telah mengutarakan rasa cintaku kepadanya entah untuk yang keberapa kalinya, yang ada kini Mas Rio justru melesatkan bibirnya kembali ke atas bibirku. Ia menciumiku dengan ciuman yang panas dan menuntut balas, berbeda dengan ciumannya yang tadi.
Ciumannya berhasil membuat intiku berdenyut-denyut dan celana dalamnya seakan baru saja kebakaran. Kini yang aku inginkan adalah Mas Rio secepatnya akan memadamkan rasa panas yang ada di dalam diriku dengan sentuhan tangannya, bibir, lidah hingga selang miliknya yang mungkin tidak hanya mengalirkan air namun juga benih. Aku akan dengan senang hati menerima benih miliknya di ladangku. Aku akan bahagia jika aku bisa menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Ah...," Aku melenguh panjang tatkala aku merasakan lidah Mas Rio yang mulai berekspedisi menyusuri tubuh bagian depanku dan ia baru berhenti saat hampir saja mencapai puncak gunung kembarku. Gunung kembarku yang begitu besar, padat dan menjadi salah satu aset terbaik pada diri dan tubuhku ini benar-benar magnet yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh kaum Adam. Aku tersenyum bahagia ketika menyadari mas Rio ternyata cukup mudah aku dapatkan hanya dengan bersikap layaknya seorang jalang seperti ini.
"Can i start?"
Alamak....
Mimpi apa aku semalam? Sudah kepalang tanggung begini tapi Mas Rio masih memiliki pikiran untuk meminta ijin kepada diriku? Kiyowo sekali Mas Rio ini..."Sayang?" Panggilnya kembali saat aku hanya diam saja.
Aku hanya bisa merespon dirinya dengan anggukan kepala. Setelah aku menganggukkan kepala, yang bisa aku rasakan adalah Mas Rio yang mulai menghadirkan surga dunia yang sudah cukup lama aku impikan hadir kembali di hidupku. Kali ini aku akan menyambutnya dengan suka cita karena aku akan melalui semua ini dengan dirinya. Laki-laki yang aku cintai dengan segenap hati dan jiwaku. Untuknya, aku akan menghadirkan surga dunia yang mungkin tak pernah Tante Retno berikan kepadanya.
***
Mikhaila Ameera Violetta POVSetelah tiga hari pulang dari jepang dan baru saja aku selesai mengirimkan semua barang-barang jastip ke alamat para pelangganku, kini aku harus packing lagi. Bagaimana tidak, aku harus segera menuju ke Jogja karena kemarin aku mendapatkan kabar jika cafe-ku baru saja mendapatkan sebuah masalah. Ada seorang kasir yang membawa kabur uang sebesar 50 juta. Total uang yang seharusnya disetor ke bank, justru ia bawa kabur. Mungkin itu bukan uang yang besar sekali bagi pengusaha kelas kakap, namun bagiku yang masih merintis bisnis tentu saja tidak seperti itu. Uang segitu sangat penting bagiku terlebih sebentar lagi aku harus membayar gaji dan insentif para karyawan."Yang, kamu beneran harus ke Jogja hari ini?"
Bara Nareswara POVSetelah seminggu meninggalkan negara tercinta ini, akhirnya aku dan Mikha sampai di Jakarta lagi. Ketika kami keluar dari bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, ternyata Mama sudah menjemput kami. Saat melihat kami berdua, Mama langsung memeluk kami secara bergantian. Mamaku tentu saja langsung bertanya tentang bagaimana kabar kami ketika berada di sana selama seminggu. Yang lebih banyak Mama tanyakan tentu saja kondisi Mikha, bukan aku. Saat aku protes mengenai hal itu, yang ada Mama justru mengatakan bahwa Mikha sedang hamil, sedangkan aku tidak. Jadi wajar saja jika Mama lebih mengkhawatirkan menantunya daripada anaknya sendiri.Saat sudah sampai di parkiran mobil, aku meminta remote kunci mobil pada Mama. Setelah itu aku memilih memasukkan koper-koper milikku dan Mikha yang
Mikhaila Ameera Violetta POVAku tersenyum kala melihat rumah-rumah di sekitarku yang benar-benar hampir semuanya mirip dengan rumah-rumah dan lapangan di film kartun Doraemon. Sungguh, aku kira Bara akan mengajakku untuk berfoto di tempat-tempat yang umumnya dijadikan tempat foto prewedding seperti di Zoyoji Park, Shinjuku Gyoen, Shibuya, Stasiun Tokyo, dan masih banyak lagi tempat di mana aku sering melihat banyak orang yang berfoto di tempat ini.Satu setengah bulan menjalani biduk rumah tangga dengan Bara membuatku cukup mengenal dirinya sedikit demi sedikit. Terutama satu bulan belakangan ini di mana Bara lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk membantuku mengurus persyaratan nikah KUA hingga beres seluruhnya. Kami juga sudah menghadiri penataran dan ternyata kami berha
Bara Nareswara POV Sejak pulang dari rumah Eyang kemarin, moodku menjadi berantakan. Entah karena Mikha yang ternyata tidak memercayai jika aku sudah berubah atau justru karena Eyang Yuni yang tidak percaya jika aku memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menghidupi cucunya. Come on, aku bekerja di dunia entertainment bukan hanya baru satu dua hari saja, namun sudah sejak aku lulus sekolah. Sebagai seorang anak dari Alfred Jones, tentu aja aku sudah ditanamkan tentang investasi sejak aku masih kecil. Hal ini yang membuatku tidak kalang kabut saat harus menikah secara mendadak dengan Mikha.Siang ini aku turun dari kamar dan menemukan Mikha yang baru saja pulang ke rumah. Andai dalam keadaan biasa, mungkin aku akan bertanya dari mana saja dia sejak pagi, tapi tidak kali ini. Aku
Mikhaila Ameera Violetta POVHari ini aku mengajak Bara untuk pergi ke rumah Tante Retno. Benar-benar Bara ini seperti anak kecil yang sedang merajuk. Diajak berkunjung ke rumah keluarga saja banyak sekali alasannya. Yang mengatakan jika ia malas bertemu Mas Rio, sampai dengan alasan ia sudah capek. Sedangkan saat aku memintanya menurunkan aku di pinggir jalan agar aku bisa mengorder taxi online, Bara menolaknya. Katanya ia ingin ikut denganku ke mana saja aku pergi. Sumpah, laki-laki kalo sudah cemburu tapi gengsi memang kekakuannya aneh-aneh saja. Dari awalnya terlihat biasa saja berubah menjadi sangat absurd seperti ini.Saat kami tiba di depan pintu gerbang rumah Tante Retno yang ada di daerah Jakarta Timur saja Bara tidak mau turun dari mobil. Ini membuatku mau
Bara Nareswara POVSudah empat hari aku menghabiskan waktu di rumah. Siapa sangka jika aku akan bisa kuat untuk tidak menyentuh minuman beralkohol bahkan tidak pergi ke club malam hanya sekedar untuk mencari kesenangan sesaat. Sungguh, aku rasanya bahkan tidak percaya jika aku bisa sekuat ini menahan godaannya. Sebagai pengalihannya, aku dan Mikha selalu menyatukan seluruh partikel-partikel atom di dalam diri kami bersama selama aku libur. Kami akan bercinta di mana saja dan kapan saja selama kami menginginkannya. Ternyata seenak ini ketika kita menikah. Meskipun terkadang juga ada konflik yang membuat kami harus duduk bersama untuk mencari solusinya.Aku beruntung karena pada akhirnya Mikha tidak pernah mengalami flek lagi. Semoga saja ini pertanda baik. Meskipun aku tetap membuang b







