MasukMikhaila Ameera Violetta POV
Sialan, rasanya semua nama hewan yang ada di kebun binatang sudah keluar dari bibirku namun aku tetap masih merasa kurang puas. Oh, mungkin saja karena seharusnya aku menyebutkan nama-nama hewan itu di depan muka Bara, baru aku akan merasa puas. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Bara dan Mamanya sampai di rumah orangtuaku? Un
Mikhaila Ameera Violetta POVAku menunggu Mak Inung yang memasak di dapur dengan perasaan bahagia. Aku berhasil mengerjainya habis-habisnya hari ini. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu semua, tentu saja aku butuh memastikan jika dirinya benar-benar asisten rumah tangga di apartemen Maureen ini. Aku penasaran dengan apa yang dia masak di dapur. Kenapa lama sekali belum jadi-jadi? Padahal aku sudah lapar sejak tadi.Pelan-pelan aku segera berdiri dari posisi dudukku dan berjalan menuju ke arah Mak Inung yang sedang berada di dapur."Masak apa, Mak kok lama banget jadinya?" Tanyaku kepada Mak Inung sambil aku melihat apa yang sedang ia masak di dalam panci.Aku langsung mengernyitkan k
Inung Sulastri POVAduh, kenapa Mas Bara tidak pernah mengatakan jika Mbak Mikha itu cukup mirip bunga hydrangea? Cantik, memikat hati tapi mengandung racun yang mematikan. Bedanya jika hydrangea mengandung sianida, maka Mbak Mikha mengandung racun di setiap kata yang keluar dari bibirnya. Memang benar-benar lawan yang sepadan dengan ibu Belinda. Aku yakin pasti seru jika ibu mertua seperti ibu Belinda memiliki menantu seperti Mbak Mikha. Aku pasti akan menonton pertengkaran mereka sambil menggelar tikar di dapur dan mulutku mengunyah peyek kacang.Oh tentu saja, aku bukan orang bodoh hingga aku bisa membongkar semua rahasia majikan tampanku di depan Mbak Mikha. Aku tetap selicin belut di hadapannya. Bahkan saat kami duduk bersebelahan di dalam taxi online, tidak ada satupun dia
Mikhaila Ameera Violetta POVSore ini aku bangun tidur dengan perasaan yang lebih baik daripada sebelumnya. Kini pelan-pelan aku bangun dari ranjang yang aku tiduri dan segera berjalan menuju ke arah kamar mandi. Aku cuci wajahku, kemudian menggosok gigi dan kemudian keluar lagi dari kamar mandi untuk menuju ke dapur.Saat sampai di dapur, aku membuka kulkas Maureen yang isinya sungguh membuatku geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, semua yang ada di sana sebagian besar adalah makanan cepat saji. Maureen benar-benar tidak jauh berbeda parahnya daripada aku dan Kania jika sudah menyangkut urusan dapur. Sama saja dengan aku dan Kania Maureen juga tidak terlalu pandai mengolah bahan-bahan masakan di dapur.Saat aku memikirkan apa yang bisa a
Bara Nareswara POVDengan sedikit mengiba bagai anjing jalanan yang minta dipungut, akhirnya Maureen mau mendengarkan dan membantu diriku. Tiga hari aku berjuang untuk terus memintanya agar menerima asisten rumah tangga Mama yang bernama Mak Inung untuk menjadi asisten rumah tangga di apartemen miliknya. Awalnya Maureen menolak karena ia sudah memiliki langganan jasa bersih-bersih apartemen tapi aku terus memaksanya agar menerima Mak Inung dengan berbagai alasan. Dari alasan yang logis hingga alasan yang sama sekali tidak logis. Bodo amat, namanya juga sedang berjuang meluluhkan tembok beton di hati Mikha. Apa saja akan aku lakukan demi Mikha dan calon anak kami yang ada di dalam rahimnya.Aku mengatakan kepada Maureen jika dirinya tidak perlu memikirkan gaji Mak Inung setiap bulannya. Aku yan
Mikhaila Ameera Violetta POVEmpat hari di rawat di rumah sakit ini, akhirnya aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Seharusnya aku bahagia ketika mengetahui jika aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sayangnya tidak kali ini. Aku sedikit tidak bahagia dengan kabar itu. Karena aku tidak punya tujuan ke mana aku akan pulang selain ke apartemen Maureen. Aku bersyukur karena tidak ada pihak keluargaku yang datang ke sini selama aku di rawat. Rasanya semuanya lebih tenang dengan seperti ini walau mungkin bagi sebagian orang ini terdengar sangat mirip. Memiliki keluarga lengkap namun mereka mengabaikan anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.Kini bersama dengan Maureen yang tengah mendorong koper kecilku, aku mulai melangkahkan kakiku untuk keluar dari ruang perawatanku ini. Aku memilih unt
Mikhaila Ameera Violetta POVAku cukup terkejut ketika melihat kamar yang aku tempati begitu luas dan mewah. Dengan sisa tenaga, aku bertanya kepada perawat yang mengantarkan aku pindah ke ruangan ini."Sus, ini yakin kamarnya kelas VVIP biasa?""Betul, kak. Ini kamar VVIP biasa."Aku mengernyitkan kening. Bagaimana bisa kamar ini sangat berbeda dengan kamarku yang VVIP di bangsal ibu hamil dan melahirkan tadi? Andai otakku secetek otak Maureen, mungkin aku akan percaya begitu saja dengan kata-kata perawat ini. Sayangnya otakku terlalu realistis untuk bisa menerima semua ini. Masa kamar lebih luas, fasilitas walau sama-sama lengkap tapi tempat ini terasa lebih modern, baru d







