LOGINBara Nareswara POV Setelah tiga minggu aku harus bermain solo, akhirnya Mikha mau membantuku mengeluarkan benihku meskipun hanya dengan bantuan tangan dan mulutnya saja. Sejujurnya ini masih kurang tapi aku harus cukup puas dengan semua ini. Apalagi Mikha masih dalam masa nifas. Di saat aku merasa bahagia, namun ada hal yang mengganjal di dalam hatiku. Ya, apalagi kalo bukan kelakuan Mikha yang merasa insecure dengan tubuhnya. Padahal aku tidak mempermasalahkan perutnya yang menghitam dan tidak sedatar dulu. Bagiku wajar saja seorang wanita memiliki tubuh seperti ini apalagi ia baru saja melahirkan. Jangankan untuk berdandan dan merawat diri, menyisir rambutnya saja Mikha terkadang tidak sempat jika Langit sudah mulai menangis.Meksipun kami di rumah menyewa jasa perawat khusus bayi
Mikhaila Ameera Violetta POVTiga minggu sudah Langit berada di rumah sakit. Kondisinya tiga hari ini cukup baik hingga dokter membolehkan aku untuk membawanya pulang jika besok kondisinya sudah lebih baik daripada hari ini. Sambil menunggu jadwal ambulance pesawat Langit tiga hari lagi untuk terbang ke Singapura, kami akan menunggu di rumah. Semua peralatan medis yang Langit perlukan sudah kami siapkan di rumah. Kami terpaksa memodifikasi kamar bayi Langit dengan standart kamar Langit di rumah sakit ini.Saat pulang besok, aku bisa meninggalkan Langit di rumah beberapa jam dalam penjagaan Bara dan keluarga kami. Semua harus aku lakukan karena Eyang Kakung sudah terus memintaku membalik nama rumah yang ia berikan. Saat aku desak alasannya kenapa Eyang Kakung terus menerus mem
Bara Nareswara POVAkhirnya konflik antara Mama dan Mikha tercipta. Untuk pertama kalinya sejak Mikha resmi menjadi istriku, ia berkonflik dengan Mama. Percayalah, hal paling tidak enak menjadi laki-laki adalah ketika istri dan ibu kandung kita berselisih paham. Karena tentu saja kita tidak bisa memihak salah satu diantara mereka.Apalagi Mikha juga sama kerasnya dengan Mama. Ia memilih mengambil keputusan sepihak dengan tetap membawa Langit ke Singapura. Menghadapi semua kondisi Langit memang cukup melelahkan hati, pikiran dan tentunya stamina. Tapi aku percaya ini hanya sementara. Langit tidak akan lama berada di kondisi ini. Secepatnya ia akan sembuh."Istri kamu benar-benar susah diberitahu, Bar. Mama hanya mau dia itu paham kalo kond
Mikhaila Ameera Violetta POVSatu minggu sudah aku berada di rumah sakit dan kondisi Langit belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan kesehatan yang signifikan. Seharusnya Langit bisa sembuh dengan beberapa prosedur operasi yang dijalani, tapi yang ada Langit justru semakin sering sesak napas, beratnya juga sulit untuk naik ditambah jika minum asi, ia sering tersedak. Sampai sekarang bahkan aku belum pernah menggendongnya. Nasibku sungguh mengenaskan sebagai seorang ibu baru.Aku beruntung memiliki Bara yang mau mengurus berkas milik Langit ke sana ke sini. Mungkin juga gosip di luaran sana tentang Bara dan diriku mulai muncul kepermukaan lagi. Terlebih Bara mengurus semuanya sendiri tanpa meminta bantuan keluarga. Terserah, aku sudah tidak peduli dengan semuanya. Bagiku prioritas utama adalah ke
Bara Nareswara POVBegitu Mikha keluar dari ruangan Langit di rawat saat ini, aku bisa melihat matanya yang berlinangan air mata. Melihat semua itu hatiku menjadi sesak sendiri. Aku tidak perlu bertanya-tanya kenapa ia bisa seperti ini? Tentu saja itu karena melihat kondisi Langit yang memperhatikan.Begitu kursi roda yang di duduki Mikha sampai di hadapanku, aku langsung berlutut di hadapannya. Sambil terisak, Mikha memanggil namaku."Kenapa, Yang?""Malam ini aku mau nangis. Cuma untuk malam ini aja. Tolong jangan minta aku untuk berhenti."Aku sedikit heran dengan permintaan Mikha ini, namun aku memilih menganggukkan kepalaku. Kini aku usap air mata yang membasahi wajahnya, namun aku tidak me
Mikhaila Ameera Violetta POVKenapa kondisi Langit seperti itu? Kenapa ia tidak menangis ketika lahir? Kenapa tubuhnya membiru? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku. Ambyar sudah afirmasi positif yang selalu diberikan oleh suami, sahabat bahkan psikolog yang aku ajak berkonsultasi selama ini. Ya, Langit seperti ini mungkin karena salahku. Karena aku bukan ibu yang baik dan tidak bisa menjaganya ketika berada di dalam kandungan. Aku tahu jika diriku seperti orang gila dan tidak jelas pemikirannya, tapi inilah yang aku rasakan saat ini. Rasanya aku benar-benar bukan ibu yang baik apalagi jika aku harus bertemu dengan Bara. Aku tidak sanggup melihat wajahnya. Karena itu aku memilih untuk tidak melihatnya sama sekali.Aku kira keluargaku akan mendukungku seperti apa yang orangtua







