LOGINMikhaila Ameera Violetta POV Setelah pemeriksaan hari ini, aku tinggal di rumah sakit, sedangkan Bara pamit untuk pulang karena ia akan menyiapkan tas berisi barang-barang dan dokumen yang aku butuhkan. Akhirnya harapanku untuk bisa melahirkan secara normal yang kedua kalinya pupus sudah. Mau tidak mau aku harus melakukan operasi secar. Kenyataan bahwa operasi secar pun kini bisa sembuh lebih cepat dengan menggunakan metode eracs, nyatanya itu tidak membuatku jauh lebih baik. Apalagi aku ini orang yang takut disuntik. Tidak mungkin jika aku tidak dibius. Mana ini tidak dibius total pula. Dari perut ke atas aku masih sadar. Entahlah, aku takut menghadapi ini semua melebihi ketakutanku kala menghadapi persalinan Langit dulu.Kini aku segera mengambil handphone milikku dan aku menghubungi Eyang
Bara Nareswara POVSelama 37 Minggu ini aku menemani Mikha menjalani masa-masa kehamilannya. Selama itu juga aku vakum dari dunia entertainment yang membesarkan namaku. Meskipun sesekali tawaran manggung datang, namun kami hanya melakukannya di daerah Jabodetabek saja. Untung saja Kafka mengerti pilihan yang aku ambil dan El ambil kali ini. Kami ingin menemani istri terlebih dahulu. Rasanya sudah cukup 'ngamen' ke sana ke sini bertahun-tahun. Mungkin kini prioritas kami sudah lain. Tidak lagi karier yang nomer satu namun keluarga. Lagipula tabungan yang kami kumpulkan sejak muda sebagian sudah diinvestasikan. Mungkin karena kami bertiga berasal dari keluarga yang melek investasi sehingga untuk masa tua kami kelak sudah diajarkan untuk mempersiapkannya sejak muda. Apalagi dunia entertainment ini hanya sementara, selalu ada wajah baru yang h
Mikhaila Ameera Violetta POVAku menatap hasil pemeriksaan antenatal yang sudah aku lakukan. Ada perasaan lega kala mengetahui jika calon anak kedua ini kondisinya jauh berbeda dengan Langit dulu. Semua sehat dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Entah kenapa hal ini membuatku bahagia."Kalian sudah bisa tenang sekarang. Calon anak kalian baik-baik saja di dalam sana."Aku angkat pandanganku untuk menatap dokter Hans yang ada di hadapanku dan Bara. Kami berdua bisa tersenyum. Tanpa aku sadari setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Cepat-cepat aku menghapusnya sebelum Bara terlebih dokter Hans menyadarinya."Terimakasih, Dok untuk bantuan dokter selama ini," ucapku pada dokter Hans."Sama-sama, Mikh
Mikhaila Ameera Violetta POVHari demi hari aku lewati dan akhirnya kini kandunganku tepat berusia empat bulan. Hari ini aku dan Bara berencana untuk menggelar acara pengajian empat bulanan kehamilanku di rumah kami. Ya, jika dulu saat hamil Langit, semua dilakukan di rumah orangtuaku, maka kali ini kami menggelarnya di rumah kami sendiri. Untuk acara hari ini, aku bahkan sudah mengundang Maureen sejak sebulan yang lalu. Tidak hanya Maureen, namun juga Mamaku yang memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dengan travelling, aku pun mengundangnya jauh-jauh hari.Pagi ini saat Mama sampai di rumahku, aku dan Bara menatapnya dengan tatapan penuh keheranan. Sungguh, Mamaku berbeda sekali dengan dirinya yang dulu. Penampilan bak sosialita, segala barang branded yang melekat di tubuhnya juga sudah hilang. Kini ia hanya tampak seperti
Mikhaila Ameera Violetta POVBaru aku sadari kini jika yang namanya rasa ketika hamil itu berbeda-beda. Dulu di kehamilan pertama, aku benar-benar lemah, bahkan kondisiku cukup mengkhawatirkan, tapi saat ini aku justru tidak merasa sedang mengandung. Aneh memang, tapi kenyataan ini yang aku rasakan kali ini dan karena semua ini, Bara menjadi sedikit tidak percaya jika aku hamil. Padahal sudah aku berikan hasil pemeriksaan USG, tapi dia tetap saja meragukannya. Daripada berdebat terus menerus dalam tiga hari belakangan ini, akhirnya aku menyetujui keinginan Bara untuk memeriksakan lagi kondisi kehamilanku ke rumah sakit.Meksipun aku sudah berjanji untuk bertemu dokter Hans bulan depan, tapi hari ini aku sudah duduk di ruang tunggu pasien rumah sakit. Berbeda dengan dulu, kini di sampingku ada B
Bara Nareswara POVAku melihat jam yang ada di pergelangan tangan kiriku. Aku gelengkan kepala kala menyadari jika aku baru sampai di rumah pukul sebelas malam. Aku yakin pasti Mikha sudah tidur jam segini. Anehnya, sejak aku pulang dari tour, Mikha menjadi istri yang tidak terlalu banyak bertanya di mana aku berada. Jika aku tidak menghubunginya tadi sore untuk mengatakan jika aku akan pulang terlambat, dia bahkan tidak meneleponku sekedar untuk menanyakan apakah aku sudah makan atau belum? Sedikit aneh tapi semoga saja ini hanya sementara bukan untuk selamanya.Rasanya diabaikan olehnya seperti ini membuatku sedikit merasa kecewa. Mungkin di mana-mana laki-laki itu sama saja. Meskipun tidak suka pada perempuan yang terlalu cemburuan, tapi mereka senang jika diperhatikan dengan detail.







