Home / Young Adult / Bara di Hati Mikha / 97. Resepsi pernikahan

Share

97. Resepsi pernikahan

last update publish date: 2026-08-15 09:01:29

Bara Nareswara POV

Alhamdulillah, akhirnya aku dan Mikha sudah sah menjadi suami istri yang diakui oleh negara serta agama sekitar setengah jam yang lalu. Kami juga sekarang sudah memiliki buku bersampul Garuda dan bisa memamerkannya. Minimal dipamerkan kepada Maureen dan Kafka. Eh, tunggu-tunggu, kepada Kania juga bisa, karena dia juga belum memiliki buku i

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara di Hati Mikha   130. Berusaha membujuk Mikha

    Bara Nareswara POVEntah berapa lama aku duduk sambil memperhatikan Mikha yang kini tengah tidur dalam posisi miring ke kiri. Rasanya ada rasa tidak tega meninggalkannya di rumah seorang diri bersama Mbak Lia dan Pak Pur. Ingin meminta Mikha tinggal bersama Mama juga sama saja, pasti dia tolak. Mama memiliki kesibukan seabrek yang mungkin akan membuatnya jarang ada di rumah. Meminta Chava tinggal di rumah juga akan membuat Mikha tidak nyaman. Sungguh, pusing rasanya seperti ini. Andai Mikha itu bukan orang yang sulit untuk menerima orang baru di hidupnya, mungkin mudah saja aku menitipkannya ke keluarganya atau keluargaku. Apesnya, keluarganya sendiri saja kadang ia anggap bukan keluarga. Mikha juga terang-terangan mengatakan kepadaku jika ia lebih mencintai dan menyayangi Eyangnya daripada kedua orangtuanya.

  • Bara di Hati Mikha   129. Aktivitas hari kedua

    Mikhaila Ameera Violetta POVAku kira setelah kami kemarin seharian berada di Ubud, hari terakhir babymoon kali ini Bara akan mengajakku untuk berleha-leha di villa saja, tapi ternyata tidak pemirsa. Dia mengajak diriku untuk menghabiskan waktu di pinggir pantai Kuta. Beuh, aku berharap hari ini akan mendung, ternyata harapan tinggal harapan, siang ini panasnya luar biasa. Bahkan aku sampai mencari warung yang menyediakan kelapa muda dan menikmatinya seorang diri sambil menunggu Bara yang sedang menyalurkan hoby lamanya, surfing.Meskipun aku cuek dan tidak terlalu mementingkan apakah kulitku akan gosong atau tidak, tetapi tetap saja rasanya aku tidak terlalu menikmati siang ini. Sedangkan Bara? Dia sudah sibuk surfing sejak satu jam yang lalu bersama teman-

  • Bara di Hati Mikha   128. Menghabiskan waktu di Ubud

    Bara Nareswara POVSetelah semalam kami tidur di dalam tenda berdua, pagi ini akhirnya kami bisa duduk di ruang makan berdua. Karena semalam Mikha menyantap menu tidak sehat, maka pagi ini aku meminta Pak Ketut untuk membelikan kami soto. Untung saja Pak Ketut berhasil mendapatkannya."Kok kamu enggak makan, Bar? Katanya kita mau jalan-jalan.""Iya, Yang. Aku lagi lihatin kamu makan.""Bukan tontonan kali, Bar. Enggak usah dilihat.""Kamu itu lucu, Yang. Dulu badan kamu langsing, sintal, sekarang gemoy, chubby dan makannya banyak."Bukannya marah, Mikha justru tertawa di ha

  • Bara di Hati Mikha   127. Bermalam di Tenda

    Mikhaila Ameera Violetta POVHembusan angin malam ini membuatku cukup merinding hebat. Namun Bara yang tidur di sampingku bisa tidur dengan nyenyak seakan tidak terganggu dengan kondisi ini semua sekali. Melihatnya yang tidur dengan nyaman sambil memeluk perutku yang besar ini, aku hanya bisa mengasihi nasibku sendiri.Kami hanya memakai satu selimut yang apesnya selimut lebih banyak dipakai oleh Bara. Sumpah, jika ada yang bilang berbagi selimut itu romantis, mungkin mereka harus mengedit kata-kata itu mulai saat ini. Karena nyatanya berbagi selimut itu jauh dari kata romantis dan ujungnya salah satu pasti tidak kebagian porsi yang cukup. Tidak kuat menahan rasa dingin ini untuk lebih lama lagi, akhirnya aku mencoba memanggil Bara meskipun suaraku bahkan terdengar bergetar ketika memanggil na

  • Bara di Hati Mikha   126. Tenda di samping villa

    Bara Nareswara POVSetelah hampir satu jam berkutat di dapur bersama Mikha untuk membuat sayur asem, akhirnya masakan kami selesai juga. Kini Mikha memilih untuk membawa menu masakan kami ini ke meja makan sedangkan aku membawa dua minuman untuk kami. Aku membuat teh panas untuk diriku sedangkan Mikha aku bawakan jus alpukat."Kayanya enak banget deh, Bar. Buruan makan, yuk?" Kata Mikha kala aku baru saja sampai di meja makan dan menaruh dua minuman untuk kami.Aku anggukkan kepalaku dan kini aku memilih duduk di hadapan Mikha. Setelah beberapa bulan menikah, pelan-pelan Mikha mulai mendalami perannya sebagai seorang istri. Ia mau mengambilkan nasi untuk suaminya dan setelahnya baru dirinya mengambil untuk piringnya sendiri.

  • Bara di Hati Mikha   125. Ternyata suami sakit

    Mikhaila Ameera Violetta POVAku menginjakkan kakiku untuk yang kesekian kalinya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Begitu aku keluar dari bandara, aku langsung menelepon Bara. Beberapa kali aku mencoba meneleponnya tetapi tidak juga diangkat. Rasa kesal mulai timbul di dalam hatiku karena suamiku sendiri kini justru tidak bisa dihubungi. Aku mencoba menunggunya selama satu jam namun tetap saja ia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya apalagi mengangkat teleponnya. Kini satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah menelepon teman-temannya. Aku mencoba menghubungi Kafka terlebih dahulu dan ia mengatakan jika Bara memilih pulang ke villa orangtuanya, bukan di hotel bersama teman-temannya sejak semalam.Mencoba memahami situasi ini dengan baik, aku memilih mengatakan terimakasih dan segera me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status