Share

Bab 3

Penulis: Lailiela
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 13:50:10

“Bay … kuat banget kamu hari ini,” ujar Adi sambil membantu menahan ujung karung sebelum dilepas sepenuhnya ke bahu Bayu. “Kupikir kamu nggak bakal masuk kerja setelah … ya, kejadian itu.”

Bayu hanya tersenyum tipis. Keringat memang membasahi pelipisnya, tapi tubuhnya terasa ringan. Bahkan lebih ringan dari sebelumnya.

“Mungkin lagi bagus aja staminaku hari ini,” jawab Bayu dengan santai.

Ia tak mungkin menceritakan soal batu sakti itu. Soal kilau aneh di bawah cahaya bulan. Soal sengatan yang masih seperti berdenyut halus di balik kulitnya. Bayu juga yakin tidak akan ada yang percaya.

Bayu melangkah membawa karung itu masuk ke toko, meninggalkan Adi yang masih memandanginya dengan heran.

Sedangkan Tarji tersenyum puas saat semua beras sudah dipindahkan oleh Bayu. “Bagus,” katanya singkat. “Kuat juga kamu.”

Ia menyelipkan selembar uang merah ke tangan Bayu. “Ini upahmu hari ini.”

Bayu menerima tanpa protes. Seratus ribu rupiah bayaran untuk tenaga yang diperas habis-habisan.

Adi yang melihat itu mengeratkan rahangnya. Dadanya terasa panas. Bayu menyelesaikan seluruh pekerjaan sendirian. Namun, upahnya tetap diperlakukan seperti buruh kasar perorangan. Padahal Bayu layak dapat upah lebih yang seharusnya lima kali lipat dari bayaran.

Tak ada bonus, tak ada tambahan.

Di tempat itu, tenaga Bayu dihargai murah seolah keringat dan tulangnya memang pantas dibayar serendah itu.

Adi maju mencoba bicara pada Tarji.

“Tapi Pak Tarji itu—”

“Sudah-sudah ambil aja uang ini. Sana kalian pergi, besok datang lagi ya,” potong Tarji ia mendorong pelan Adi dan Bayu untuk pergi dari tokonya.

“Bay, kamu gak ngerasa kalo itu kurang?” Adi melihat Bayu.

“Nggak apa, lagian ini udah cukup buat makan hari ini.” Bayu tersenyum iklas menerima upah yang diberikan.

“Aku pulang duluan ya,” pamit Bayu. Sedangkan Adi hanya mengangguk menatap punggungnya yang berjalan pergi.

Kali ini Bayu kembali melewati gang-gang kotor itu jalur yang sama menuju rumahnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Sepanjang jalan, banyak pasang mata tertuju padanya. Bukan lagi tatapan jijik atau takut seperti biasanya, melainkan pandangan tertegun yang sulit disembunyikan. Wajah Bayu kini tampak jelas tampan. Angin berhembus pelan, menyingkirkan rambut yang dulu menutupi wajahnya.

Tubuhnya yang kekar semakin mencolok. Kaos yang basah oleh keringat menempel di badan, mempertegas otot-otot hasil kerja kerasnya selama ini. Perutnya yang padat terlihat jelas, bahu dan lengannya tegap. Dulu, tubuh seperti itu tak pernah dilirik siapa pun karena wajahnya dianggap buruk. Kini, justru sebaliknya, Bayu memiliki keduanya. Baik wajah maupun badan semuanya terlihat menarik.

Suasananya sebenarnya masih sama, gang kotor dengan bau lembab dan hiruk-pikuk malam. Namun pendengaran Bayu kembali menangkap lebih dari sekadar keramaian. Di sela suara langkah dan tawa kasar, terselip desahan samar pelan, tertahan, tapi cukup untuk menggelitik telinganya.

Semua itu bercampur menjadi satu. Bayu yang biasanya menunduk kini tanpa sadar mengangkat pandangan. Matanya menangkap bayangan tubuh-tubuh yang saling melekat di sudut gang sempit, gerakan liar yang dipenuhi gairah.

Pemandangan itu seperti menarik sesuatu dari dalam dirinya hasrat yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kini berdenyut, mendesak untuk dilepaskan.

Sesaat, pikirannya melayang. Bayu membayangkan dirinya berada di sana, merasakan panas tubuh, menjadi bagian dari permainan gelap yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Fantasi itu singkat, tapi cukup untuk membuat nafasnya terasa lebih berat.

Napas Bayu kian berat, dadanya naik turun tak beraturan. Wajahnya terasa panas, darah berdesir cepat. Ia refleks menutup hidung dan mulut, seakan ingin menahan sesuatu yang hampir lepas kendali.

“Sadar, Bayu … apa yang barusan kau pikirkan?” gumamnya tercekik.

Tangannya menepuk pipi sendiri, sekali dua kali cukup keras untuk memaksa pikirannya kembali jernih. Nafasnya masih tersengal, jantungnya berdentum liar.

Tiba-tiba, di antara desahan dan hiruk-pikuk gang, terdengar teriakan yang berbeda.

“Aahh … nggak mau! Jangan mendekat!”

Suara itu pecah, panik, dan penuh ketakutan. Bayu membeku sesaat. Dunia di sekelilingnya seakan meredup ketika ia memusatkan pendengaran, menangkap arah asal suara seorang gadis.

Tanpa sadar, kakinya bergerak mengikuti teriakan itu.

Tap … tap …!

Langkahnya menggema di gang sempit yang gelap.

Ia tiba di sebuah gang buntu.

Lampu jalan redup berkedip di atas kepala, menerangi pemandangan yang membuat darah Bayu membeku. Lima pria berdiri memojokkan, mengurung satu sosok perempuan di tengahnya. Dari celah tubuh mereka, Bayu mengenali wajah itu.

Mila.

“Jangan …,” rengek Mila dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram bajunya erat-erat.

Salah satu pria menarik baju Mila dengan kasar.

Srek!

Suara robekan terdengar tajam, memecah keheningan gang. Mila tersentak, tubuhnya mundur sampai punggungnya membentur dinding. Tangannya gemetar saat ia menyatukan kedua telapak, memohon dengan mata basah.

“Aku mohon … aku tidak mau ….”

Permohonannya tenggelam oleh tawa.

“Udahlah,” kata Tomi, pemimpin mereka, suaranya dingin dan meremehkan. “Lagian sebentar lagi Mami Riska juga bakal jual ‘malam pertamamu’. Apa bedanya?”

Tawa kasar menyusul dari yang lain.

“Iya! Anggap aja latihan. Biar nggak kaget nanti,” sahut salah satu pria, melangkah lebih dekat.

Mila menjerit tertahan, tubuhnya gemetar ketakutan.

Saat itulah suara lain memotong suasana.

“Permisi.”

Lima pria itu terdiam.

Bayu berdiri di belakang mereka, tubuhnya tegap, tatapannya tajam. Udara di sekelilingnya terasa berubah lebih berat, lebih dingin.

“Bukankah dia sudah memohon?” suara Bayu rendah, tapi mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk meremang.

Para pria menoleh satu per satu.

“Cuih!” Tomi meludah ke tanah, lalu melangkah mendekat. Lampu gang yang remang-remang membuat bayangannya tampak panjang dan bengkok.

“Bukannya dia si buruk rupa yang katanya baru saja membunuh ibunya sendiri?” ejek Beni sambil ikut maju.

Tatapan Tomi penuh hinaan. “Jadi monster ini datang mau jadi pahlawan?”

Ucok menyeringai, memperlihatkan gigi tonggosnya. “Si Jelek berani-beraninya ganggu kesenangan kita.”

“Hajar dulu aja, Bang,” gumam Beni, matanya melirik ke Bayu dengan niat buruk.

Tanpa peringatan, Tomi melangkah maju dan melayangkan tinju sekuat tenaga ke arah wajah Bayu. Akan tetapi …

Dunia di mata Bayu berubah.

Tinju itu bergerak … melambat. Otot Tomi berkontraksi sedikit demi sedikit, urat-urat tangannya terlihat jelas, udara seperti terbelah oleh gerakan yang tertunda. Detik terasa memanjang.

Bayu bisa melihat segalanya arah pukulan, celah di antara langkah Tomi, bahkan nafas lawannya yang terhembus kasar. Otaknya bekerja cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Dengan satu gerakan ringan, Bayu memiringkan kepala. Tinju itu meleset, hanya menyapu angin di samping wajahnya.

Di mata Tomi dan yang lain, Bayu hanya menghindar.

Tapi bagi Bayu, ia baru saja melangkah ke dunia di mana setiap pukulan bisa ia baca, dan setiap serangan bisa ia patahkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 5

    “A-aku …” Mila menelan ludah. Ia memaksa dirinya mendongak, menatap wajah Bayu di bawah cahaya lampu teras yang pucat.“Ada apa?” Bayu berhenti. Ia menoleh.Dalam jarak sedekat itu, ia menyadari betapa kecil tubuh Mila di hadapannya namun berisi. Dari atas belahan dada Mila terlihat jelas dari celah leher kaos longgar itu. Sehingga membuat Bayu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.Mila meremas ujung kaos yang dikenakannya, jari-jarinya gelisah. “Baju ini … bagaimana aku mengembalikannya?” tanyanya pelan, seakan takut suaranya sendiri terlalu keras.“Kalau kamu tak bisa mengembalikannya,” jawab Bayu, suaranya rendah dan tertahan. “Kamu bisa membuangnya. Lagi pula baju itu—”Kalimatnya terhenti.Bayu kembali menatap Mila.Pandangan mereka saling mengunci. Untuk sesaat, dunia di sekitar terasa memudar. Mata Bayu terlihat jernih di bawah cahaya lampu, bening dengan kilau kebiruan yang samar tenang, tapi menyimpan sesuatu yang dalam. Mila tertegun, nafasnya tersendat tanpa ia sadari.Dada

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 4

    “Hah … jadi selambat ini?” gumam Bayu, suaranya nyaris datar, sementara tubuhnya bergerak ringan menghindari pukulan.“Bajingan! Sini kau!” Ucok menerjang, mencoba menangkapnya dengan kedua tangan. Namun Bayu sudah berpindah posisi bahkan sebelum sentuhan itu mendekat seperti bayangan yang lolos dari genggaman.Serangan datang bertubi-tubi. Dari kanan, dari kiri. Bersamaan.Semuanya meleset.“Jangan cuma ngindar! Brengsek!” teriak Beni. Tangannya menyusup ke saku celana, lalu muncul sebilah pisau kater. “Rasakan ini!”Beni mengibaskan pisaunya tanpa henti, gerakannya liar dan terburu-buru. Namun di mata Bayu, semuanya terbaca jelas arah ayunan, jeda nafas, celah kecil di antara langkah. Bayu menggeser tubuhnya sepersekian detik lebih cepat, membuat bilah itu hanya membelah udara.Tomi dan Ucok ikut menyerang bersamaan, disusul dua orang lainnya. Gang sempit itu berubah menjadi pusaran kekacauan.Bayu berputar, menunduk, melangkah menyamping.Satu gerakan terlalu dekat …Bugh!Siku B

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 3

    “Bay … kuat banget kamu hari ini,” ujar Adi sambil membantu menahan ujung karung sebelum dilepas sepenuhnya ke bahu Bayu. “Kupikir kamu nggak bakal masuk kerja setelah … ya, kejadian itu.” Bayu hanya tersenyum tipis. Keringat memang membasahi pelipisnya, tapi tubuhnya terasa ringan. Bahkan lebih ringan dari sebelumnya. “Mungkin lagi bagus aja staminaku hari ini,” jawab Bayu dengan santai.Ia tak mungkin menceritakan soal batu sakti itu. Soal kilau aneh di bawah cahaya bulan. Soal sengatan yang masih seperti berdenyut halus di balik kulitnya. Bayu juga yakin tidak akan ada yang percaya. Bayu melangkah membawa karung itu masuk ke toko, meninggalkan Adi yang masih memandanginya dengan heran. Sedangkan Tarji tersenyum puas saat semua beras sudah dipindahkan oleh Bayu. “Bagus,” katanya singkat. “Kuat juga kamu.” Ia menyelipkan selembar uang merah ke tangan Bayu. “Ini upahmu hari ini.” Bayu menerima tanpa protes. Seratus ribu rupiah bayaran untuk tenaga yang diperas habis-habisan. Ad

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 2

    Malam itu, Bayu merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lelah. Ada sisa getaran aneh di tubuhnya halus, tapi tak hilang. Ia kembali memandangi batu di tangannya lalu menyimpannya ke saku.Ia mencoba menepis pikiran tentang apa yang baru saja terjadi, saat ia memegang batu itu barusan.Sesampainya di rumah, ia membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tubuhnya justru terasa hangat. Entah karena suhu malam atau karena sesuatu dalam dirinya belum benar-benar tenang.Ia mengenakan pakaian bersih. Kain itu terasa lebih hangat dari biasanya.Namun kantuk menyerang cepat. Tanpa banyak pikir, Bayu merebahkan diri. Besok ia harus bangun sebelum fajar seperti biasa.Akan tetapi esok hari ketika matanya terbuka, cahaya sudah menembus jendela rumahnya yang repot dengan tajam.Bayu mengerjap, bangkit, melihat cahaya terang.Tak ada suara ayam berkokok. Tak ada hiruk-pikuk subuh. Yang terdengar hanya aktivitas siang yang samar dari kejauhan.Ia bangkit mendadak.“Hah …? Aku terlamb

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 1

    Langkah cepat menggema dari dalam gang sempit.Tap … tap!Seorang pemuda menerobos lorong lembab ketika fajar belum menyingsing. Langit masih gelap kebiruan, lampu-lampu jalan berkedip. Udara dingin terasa di permukaan kulit.Ia berjalan cepat hampir seperti berlari dengan nafas teratur dan bahu tegap. Bajunya lusuh, kusut, penuh jejak kerja kasar. Bawah sandalnya yang tipis menghantam aspal retak, memercik genangan air sisa hujan semalam.Dengan kepala tertunduk, tapi matanya tajam mengawasi jalan di depan. Wajahnya jauh dari kata tampan, rahang keras, kulit kusam, ekspresi dingin yang membuat orang enggan menatap lama. Rambut gondrongnya terurai menutup sebagian wajah, seperti sengaja dipasang sebagai topeng untuk menutupi kejelekan wajah itu.Dari gang gelap menuju jalanan lebar, ia melangkah tanpa ragu.Meski pagi belum datang.Tapi dia sudah bergerak, untuk mengais rejeki lebih awal sebelum ada yang mendahuluinya.Begitu tiba, keramaian pasar langsung menyergap. Pikap-pikap berda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status