Mag-log in“Bay … kuat banget kamu hari ini,” ujar Adi sambil membantu menahan ujung karung sebelum dilepas sepenuhnya ke bahu Bayu. “Kupikir kamu nggak bakal masuk kerja setelah … ya, kejadian itu.”
Bayu hanya tersenyum tipis. Keringat memang membasahi pelipisnya, tapi tubuhnya terasa ringan. Bahkan lebih ringan dari sebelumnya. “Mungkin lagi bagus aja staminaku hari ini,” jawab Bayu dengan santai. Ia tak mungkin menceritakan soal batu sakti itu. Soal kilau aneh di bawah cahaya bulan. Soal sengatan yang masih seperti berdenyut halus di balik kulitnya. Bayu juga yakin tidak akan ada yang percaya. Bayu melangkah membawa karung itu masuk ke toko, meninggalkan Adi yang masih memandanginya dengan heran. Sedangkan Tarji tersenyum puas saat semua beras sudah dipindahkan oleh Bayu. “Bagus,” katanya singkat. “Kuat juga kamu.” Ia menyelipkan selembar uang merah ke tangan Bayu. “Ini upahmu hari ini.” Bayu menerima tanpa protes. Seratus ribu rupiah bayaran untuk tenaga yang diperas habis-habisan. Adi yang melihat itu mengeratkan rahangnya. Dadanya terasa panas. Bayu menyelesaikan seluruh pekerjaan sendirian. Namun, upahnya tetap diperlakukan seperti buruh kasar perorangan. Padahal Bayu layak dapat upah lebih yang seharusnya lima kali lipat dari bayaran. Tak ada bonus, tak ada tambahan. Di tempat itu, tenaga Bayu dihargai murah seolah keringat dan tulangnya memang pantas dibayar serendah itu. Adi maju mencoba bicara pada Tarji. “Tapi Pak Tarji itu—” “Sudah-sudah ambil aja uang ini. Sana kalian pergi, besok datang lagi ya,” potong Tarji ia mendorong pelan Adi dan Bayu untuk pergi dari tokonya. “Bay, kamu gak ngerasa kalo itu kurang?” Adi melihat Bayu. “Nggak apa, lagian ini udah cukup buat makan hari ini.” Bayu tersenyum iklas menerima upah yang diberikan. “Aku pulang duluan ya,” pamit Bayu. Sedangkan Adi hanya mengangguk menatap punggungnya yang berjalan pergi. Kali ini Bayu kembali melewati gang-gang kotor itu jalur yang sama menuju rumahnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sepanjang jalan, banyak pasang mata tertuju padanya. Bukan lagi tatapan jijik atau takut seperti biasanya, melainkan pandangan tertegun yang sulit disembunyikan. Wajah Bayu kini tampak jelas tampan. Angin berhembus pelan, menyingkirkan rambut yang dulu menutupi wajahnya. Tubuhnya yang kekar semakin mencolok. Kaos yang basah oleh keringat menempel di badan, mempertegas otot-otot hasil kerja kerasnya selama ini. Perutnya yang padat terlihat jelas, bahu dan lengannya tegap. Dulu, tubuh seperti itu tak pernah dilirik siapa pun karena wajahnya dianggap buruk. Kini, justru sebaliknya, Bayu memiliki keduanya. Baik wajah maupun badan semuanya terlihat menarik. Suasananya sebenarnya masih sama, gang kotor dengan bau lembab dan hiruk-pikuk malam. Namun pendengaran Bayu kembali menangkap lebih dari sekadar keramaian. Di sela suara langkah dan tawa kasar, terselip desahan samar pelan, tertahan, tapi cukup untuk menggelitik telinganya. Semua itu bercampur menjadi satu. Bayu yang biasanya menunduk kini tanpa sadar mengangkat pandangan. Matanya menangkap bayangan tubuh-tubuh yang saling melekat di sudut gang sempit, gerakan liar yang dipenuhi gairah. Pemandangan itu seperti menarik sesuatu dari dalam dirinya hasrat yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kini berdenyut, mendesak untuk dilepaskan. Sesaat, pikirannya melayang. Bayu membayangkan dirinya berada di sana, merasakan panas tubuh, menjadi bagian dari permainan gelap yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Fantasi itu singkat, tapi cukup untuk membuat nafasnya terasa lebih berat. Napas Bayu kian berat, dadanya naik turun tak beraturan. Wajahnya terasa panas, darah berdesir cepat. Ia refleks menutup hidung dan mulut, seakan ingin menahan sesuatu yang hampir lepas kendali. “Sadar, Bayu … apa yang barusan kau pikirkan?” gumamnya berpekik. Tangannya menepuk pipi sendiri, sekali dua kali cukup keras untuk memaksa pikirannya kembali jernih. Nafasnya masih tersengal, jantungnya berdentum liar. Tiba-tiba, di antara desahan dan hiruk-pikuk gang, terdengar teriakan yang berbeda. “Aahh … nggak mau! Jangan mendekat!” Suara itu pecah, panik, dan penuh ketakutan. Bayu membeku sesaat. Dunia di sekelilingnya seakan meredup ketika ia memusatkan pendengaran, menangkap arah asal suara seorang gadis. Tanpa sadar, kakinya bergerak mengikuti teriakan itu. Tap … tap …! Langkahnya menggema di gang sempit yang gelap. Ia tiba di sebuah gang buntu. Lampu jalan redup berkedip di atas kepala, menerangi pemandangan yang membuat darah Bayu membeku. Lima pria berdiri memojokkan, mengurung satu sosok perempuan di tengahnya. Dari celah tubuh mereka, Bayu mengenali wajah itu. Mila. “Jangan …,” rengek Mila dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram bajunya erat-erat. Salah satu pria menarik baju Mila dengan kasar. Srek! Suara robekan terdengar tajam, memecah keheningan gang. Mila tersentak, tubuhnya mundur sampai punggungnya membentur dinding. Tangannya gemetar saat ia menyatukan kedua telapak, memohon dengan mata basah. “Aku mohon … aku tidak mau ….” Permohonannya tenggelam oleh tawa. “Udahlah,” kata Tomi, pemimpin mereka, suaranya dingin dan meremehkan. “Lagian sebentar lagi Mami Riska juga bakal jual ‘malam pertamamu’. Apa bedanya?” Tawa kasar menyusul dari yang lain. “Iya! Anggap aja latihan. Biar nggak kaget nanti,” sahut salah satu pria, melangkah lebih dekat. Mila menjerit tertahan, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat itulah suara lain memotong suasana. “Permisi.” Lima pria itu terdiam. Bayu berdiri di belakang mereka, tubuhnya tegap, tatapannya tajam. Udara di sekelilingnya terasa berubah lebih berat, lebih dingin. “Bukankah dia sudah memohon?” suara Bayu rendah, tapi mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk meremang. Para pria menoleh satu per satu. “Cuih!” Tomi meludah ke tanah, lalu melangkah mendekat. Lampu gang yang remang-remang membuat bayangannya tampak panjang dan bengkok. “Bukannya dia si buruk rupa yang katanya baru saja membunuh ibunya sendiri?” ejek Beni sambil ikut maju. Tatapan Tomi penuh hinaan. “Jadi monster ini datang mau jadi pahlawan?” Ucok menyeringai, memperlihatkan gigi tonggosnya. “Si Jelek berani-beraninya ganggu kesenangan kita.” “Hajar dulu aja, Bang,” gumam Beni, matanya melirik ke Bayu dengan niat buruk. Tanpa peringatan, Tomi melangkah maju dan melayangkan tinju sekuat tenaga ke arah wajah Bayu. Akan tetapi … Dunia di mata Bayu berubah. Tinju itu bergerak … melambat. Otot Tomi berkontraksi sedikit demi sedikit, urat-urat tangannya terlihat jelas, udara seperti terbelah oleh gerakan yang tertunda. Detik terasa memanjang. Bayu bisa melihat segalanya arah pukulan, celah di antara langkah Tomi, bahkan nafas lawannya yang terhembus kasar. Otaknya bekerja cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Dengan satu gerakan ringan, Bayu memiringkan kepala. Tinju itu meleset, hanya menyapu angin di samping wajahnya. Di mata Tomi dan yang lain, Bayu hanya menghindar. Tapi bagi Bayu, ia baru saja melangkah ke dunia di mana setiap pukulan bisa ia baca, dan setiap serangan bisa ia patahkan.“Habis putaran ini kamu main dong sama kita,” ajak Tomang dengan girang kepada Bayu.Bayu mengangguk. “Boleh, tapi satu putaran saja ya.” “Hah … satu saja?” protes Tomang.“Kalo Bang Tomang nggak mau aku nggak jadi main deh!” Mendengar itu Tomang tidak bisa membiarkan Bayu tidak ikut main. Dengan terpaksa akhirnya ia pun setuju meski Bayu hanya main satu putaran.“Iya-iya satu putaran saja. Jadi kamu ikut main ya!”“Kalo gitu aku jadi ikut main!” Bayu langsung setuju.Permainan yang baru saja selesai kini baru akan dimulai lagi putaran berikutnya. Bayu mulai membantu mengumpulkan kartu yang berserakan di atas meja.Basri memundurkan kursi tempat duduknya agak ke belakang sedikit sedangkan Bayu geser maju ke depan. Saat semua kartu sudah dikumpulkan ia menunggu giliran kartunya dibagikan ke depan.Lembaran demi lembaran kini sudah pas dibagikan oleh bandar. Permainan sudah dimulai beberapa pemain mula
Suara dari tembakan sangat keras memekakan telinga. Meski memakai penutup telinga tetap saja Bayu bisa mendengar lebih jelas seperti tidak memakai penutup telinga. Namun, Alex memperhatikannya dengan seksama setiap peluru yang ditembakkan Bayu.Alex berdiri di samping dengan melipat kedua tangannya sambil terus mengamati. Dari gerakan Bayu, caranya mengarahkan senjatanya, posisi berdirinya. Semuanya memiliki proporsi yang bagus.Latihan Bayu berlanjut terus sampai akhirnya senjata yang di atas meja sudah dicobanya semua. Barulah ia berhenti lalu menoleh ke arah Alex. “Ini lap pakai handuk ini keringatmu. Lalu ambil air di meja itu.” Alex menunjuk letak air berada.“Terima kasih,” sahut Bayu.Kain handuk kecil itu langsung digunakannya. Tubuh Bayu memang bercucuran keringat meski tidak terlalu banyak. Mereka sama-sama duduk di kursi yang berada di samping rak. Ada dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia air botol
Selvi yang masih memakai baju singlet dan celana pendek berdiri di depan Bayu dengan wajah yang baru bangun tidurnya. Namun, wajahnya tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur dan belum cuci muka.“Iya, dia lagi nyapu di ruang tv di sana!” Tunjuk Bayu.“Jadi aku harus nunggu dulu.”“Kamu mau jus apa?” tanya Bayu sambil membuka kulkas yang berisikan banyak buah-buahan segar di dalamnya.“Emm … mau yang rasa apel tapi …” lagi-lagi Selvi melirik ke arah tempat Sri bekerja.Bayu melirik ke blender tempat Sri biasa membuatkan jus untuk mereka. “Biar aku aja yang buatkan mau nggak?” Kedua alis Selvi terangkat. “Kamu emang bisa?” “Belum dicoba, tapi aku sering lihat cara Mbak Sri buat kok. Tenang saja sedikit paham lah.” Bayu mulai memotong buah apel ke dalam blender dan menambahkan sedikit gula. Biasanya Sri menambahkan susu kental manis ke dalamnya. Namun, Bayu bingung apakah Selvi juga mau dibuatkan seperti i
“Kamu sudah bekerja keras hari ini, jadi tidurlah dalam perjalanan. Nanti saat sampai rumah aku akan membangunkanmu,” ucap Bayu sambil melihat ke pantulan kaca.Mobil pun mulai melaju di jalan raya menuju kediaman Stevia. Butuh waktu beberapa menit jika harus sampai jadi Stevia pun sempat tertidur di jalan.Tidak lama akhirnya mobil pun sampai di rumah, Bayu menoleh ke belakang mencoba untuk memanggil membangunkan Stenia tapi sayangnya dia tidak bangun.Akhirnya Bayu pun keluar dari mobil dan membuka pintu samping lalu menyentuh pundak Stevia lalu menggoyangkannya pelan. “ … Stevia, Nona Stevia!” seru Bayu di samping Stevia.Sentuhan di pundak dan suara yang memanggil namanya dengan lembut membuat Stevia akhirnya terbangun. Ia menoleh perlahan pada Bayu lalu mengucek matanya untuk memperbaiki pandangannya yang masih belum stabil.“Hmm … Bayu apa kita udah sampai?” tanya Stevia sambil menguap dan meregangkan tubuhnya sebentar.
“Ya, aku mengerti. Lalu apa kamu tidak mempertimbangkan kondisiku saat ini. Seperti yang kamu lihat seminggu yang lalu aku baru saja selesai dioperasi. Bahkan luka tusuk yang aku terima masih belum benar-benar sembuh.”Farhat duduk di tepi ranjang melihat ke arah perut yang dipegang Stevia. Di mana bekas jahitan luka itu berada. “Kamu bisa mengurusnya meskipun kondisimu seperti itu. Aku tahu kamu punya jaringan hukum yang kuat untuk membackup tuntutan itu.”“Lalu apa yang akan kamu berikan padaku jika aku menyelesaikan permasalahmu? Kamu tidak mungkin hanya menyuruhku saja kan? Setidaknya aku juga butuh imbalan.” Stevia memiliki sisi yang sangat ambisius tentu tidak ingin menjadi wanita bodoh yang hanya akan dimanfaatkan saja. Jadi karena sudah terlanjur berurusan dengan orang seperti Farhat kenapa tidak sekalian saja mendapatkan keuntungan juga, pikirnya.Namun, tetap saja pria yang di hadapannya ini sangat bengis dan merupakan orang y
Suara air keran dan dentingan piring terdengar sampai ruang tamu tempat Rini mengelap meja. Sedangkan Sri baru saja mengantarkan makan siang pada Stevia di lantai atas dan kini ia menuruni tangga.Berjalan sedikit lalu melihat Bayu yang baru saja selesai mencuci piring kini sedang menyusun rapi piring di rak dapur. “Kamu udah cuci sendiri? Padahal bisa tunggu aku yang cucikan.” Sri langsung mencuci satu piring yang dibawah barusan dari kamar Stevia.“Nggak apa-apa Mbak, lagian ini kan cuma dikit aja jadi sekalian aku yang cucikan,” jawab Bayu santai. Ia baru saja selesai meletakkan piring di rak.“Kalo gitu aku pergi dulu ya, Mbak!”Sri hanya mengangguk saat melihat Bayu keluar dari area dapur. Meninggalkan istri yang masih berdiri mengelak piring. Di luar Bayu berjalan ke arah tempat Arif bekerja. Ternyata sesampainya di sana Arif tidak sedang bekerja Bayu melihat kalau dia sudah menyelesaikan semuanya sudah beres dikerjakan.







