MasukMalam itu, Bayu merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lelah. Ada sisa getaran aneh di tubuhnya halus, tapi tak hilang. Ia kembali memandangi batu di tangannya lalu menyimpannya ke saku.
Ia mencoba menepis pikiran tentang apa yang baru saja terjadi, saat ia memegang batu itu barusan. Sesampainya di rumah, ia membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tubuhnya justru terasa hangat. Entah karena suhu malam atau karena sesuatu dalam dirinya belum benar-benar tenang. Ia mengenakan pakaian bersih. Kain itu terasa lebih hangat dari biasanya. Namun kantuk menyerang cepat. Tanpa banyak pikir, Bayu merebahkan diri. Besok ia harus bangun sebelum fajar seperti biasa. Akan tetapi esok hari ketika matanya terbuka, cahaya sudah menembus jendela rumahnya yang repot dengan tajam. Bayu mengerjap, bangkit, melihat cahaya terang. Tak ada suara ayam berkokok. Tak ada hiruk-pikuk subuh. Yang terdengar hanya aktivitas siang yang samar dari kejauhan. Ia bangkit mendadak. “Hah …? Aku terlambat!” Langkahnya cepat menuju pintu. Ia membukanya dan cahaya matahari hampir tepat di atas kepala menyambutnya. Hari sudah siang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia kesiangan. Bayu menepuk jidatnya berulang kali. “Astaga … kok bisa?” Dengan cepat Bayu tetap harus berangkat kerja meski sudah kesiangan. Ia menyusuri jalan pinggir kota yang mulai ramai, mencoba mengabaikan tatapan orang-orang. Tapi suasana pagi terasa berbeda. Topik lain mulai didengarnya. Beberapa warga meliriknya, lalu saling mendekat dan berbisik. Anehnya, meski suara mereka dipelankan, Bayu mendengarnya jelas seolah mereka berbicara tepat di samping telinganya. “Bunuh diri? Apa mungkin?” bisik Ratna, tetangga samping rumahnya. “Dia kan cuma gila … masa sampai bunuh diri?” “Siapa peduli?” sahut yang lain. “Jangan-jangan anak itu yang membunuh ibunya.” “Tampangnya saja sudah menyeramkan …” Tuduhan itu mengalir makin tajam, makin berani, seiring suara mereka yang justru makin pelan. Entah dari mana rumor itu berasal, tapi itu sudah sering dibicarakan sejak seminggu lalu setelah ibunya meninggal. Padahal jarak mereka tidak dekat. Seharusnya bisikan itu tenggelam oleh suara langkah, motor lewat, dan obrolan pagi. Akan tetapi ... Setiap kata terdengar utuh. Rahasia. Tuduhan. Hinaan. Langkah Bayu melambat. Rahangnya mengeras. Sebelum menoleh ia menutupi wajahnya dengan rambut. Seketika mereka terdiam. Bisikan itu putus begitu saja, digantikan senyum canggung dan tatapan pura-pura tak bersalah. “Apa ini?” Bayu menutup telinganya. “Kenapa aku masih mendengar suara yang mereka ucapkan dari jarak sejauh ini?” Bayu kebingungan tapi tetap melanjutkan jalannya. Suara riuh gang sempit itu terdengar, hingga suara setiap langkah kaki terdengar jelas. Bukan hanya telinganya yang bisa mendengar super jelas, tapi matanya melihat sekeliling telah berubah. Waktu seakan melambat semua gerakan memiliki kelambatan yang tidak normal. Seekor kucing yang sedang lewat terlihat melangkah dengan sangat lambat. Bayu mengucek kedua matanya lalu kembali melihat tapi gerakannya masih sama. “Apa yang terjadi? Semuanya jadi lambat!” Bayu menggerakkan dirinya tapi hanya gerakan dirinya sendirilah yang terasa normal. Dengan kata lain Bayu bisa bergerak lebih cepat saat semuanya melambat. Ia pun mencoba berlari, benar saja saat semua melambat Bayu terlihat seperti berlari kencang. Di detik berikutnya semuanya kembali normal. Suara dan setiap gerakan yang dilihatnya kembali seperti semula. “Kembali normal?” gumam Bayu. Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan yang baru saja dirasakannya itu bisa tiba-tiba berhenti. ‘Apakah itu ada limitnya?’ pikir Bayu. Langkah Bayu tetap stabil. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, batu yang diberikan pria tua itu. Kilauannya, sengatan seperti aliran listrik, dan sensasi ganjil yang masih tersisa di tubuhnya. Perubahan itu terasa jelas bahkan baru saja ia merasa ada kekuatan dari dalam dirinya. Itu sulit dipercaya, tapi lebih sulit lagi dijelaskan. Namun semua tanda mengarah pada batu itu. Saat melewati deretan rumah warga, ia tak sengaja melihat pantulan wajahnya di kaca jendela saat rambut di wajahnya diterpa oleh angin. Bayu berhenti. “Siapa pria itu?” gumamnya pelan. Wajah di kaca tampak lebih tegas, lebih bersih, bahkan … tampan. Ia mengerjap, mendekat sedikit. “Heh, nggak mungkin itu aku.” Ia terkekeh kecil, mencoba menepis pikiran aneh itu. Bayangan itu terlalu berbeda dari dirinya yang biasa. Lalu kembali melangkah menuju pasar. Tapi karena hari sudah siang, para kuli lain telah mengambil alih pekerjaan. Pasar sudah penuh, tak ada lagi lapak yang membutuhkan tenaga tambahan. Di sana tidak ada kerjaan tersisa untuknya. Akhirnya Bayu berbelok menuju toko beras tempat ia bekerja kemarin. Di sana, karung-karung beras masih menumpuk tinggi, menunggu untuk diangkut. Ia pun memberanikan diri untuk menemui bos Tarji. “Pak … saya masih boleh kerja, kan?” tanya Bayu hati-hati. Tarji menatapnya sekilas, lalu mendengus. “Boleh. Tapi hati-hati! Jangan sampai beras jatuh lagi kayak kemarin.” Ia hendak berbalik, namun langkahnya terhenti. Tatapannya kembali ke wajah Bayu, menyipit seolah mencoba mengenali sesuatu. Biasanya wajah pemuda itu tertutup poni kusut yang berantakan. Kini rambutnya tersibak tipis, memperlihatkan garis wajah yang terasa … berbeda. Tarji mengerutkan kening, tapi tak lama kemudian mengibaskan tangan, mengabaikan perasaannya sendiri. “Sudah, sana angkat beras itu masuk!” katanya sambil menunjuk dua truk yang terparkir di depan toko. “Hari ini banyak yang nggak datang. Entah pada malas atau memang sengaja bolos!” Ia menggerutu pelan, sementara Bayu sudah melangkah mendekati truk, bersiap memulai pekerjaan. Seorang pekerja keluar dari dalam toko. Dia adalah pria yang dikenal Bayu. Tanpa banyak bicara, Bayu langsung mengangkat karung beras dari atas truk. Keanehan kembali ia rasakan karung seberat dua puluh lima kilo itu terasa ringan di pundaknya. Biasanya ia memang mampu memanggul dua karung sekaligus, tapi kali ini beban itu seperti tidak berarti apa-apa. “Di, tambahin satu lagi,” pinta Bayu dengan posisi masih membungkuk menunggu karung berikutnya. Adi yang bertugas menurunkan beras menatap ragu. “Kamu yakin kuat?” Bayu mengangguk. Tanpa bertanya lagi, Adi menyusun satu karung tambahan di punggungnya. Meski karung bertambah dan semakin berat, tetapi Bayu merasa kalau itu tidak terasa berat sama sekali. Ia bahkan terpikir untuk membawa lima karung beras dalam sekali angkat. Akhirnya Bayu membawa tiga sampai lima karung beras sekaligus. Ia berjalan bolak-balik tanpa jeda, mengulanginya lagi dan lagi, sampai truk benar-benar kosong. Keringat memang mengalir deras, tapi langkahnya tetap stabil, seolah tenaganya tak habis-habis. Tarji memperhatikan dari kejauhan dengan mata menyipit. Seorang diri, Bayu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya membutuhkan lima orang. Karung terakhir diangkat ke punggung Bayu tanpa banyak usaha. Otot lengannya menegang, tapi nafasnya tetap stabil bahkan terlalu ringan untuk beban seberat itu. Adi yang berdiri di sampingnya sampai melongo. Ia sendiri bahkan terengah-engah dengan nafas hampir terputus karena lelah, tapi Bayu tetap terlihat sama seperti sebelumnya. Tanpa rasa lelah sedikit pun.“A-aku …” Mila menelan ludah. Ia memaksa dirinya mendongak, menatap wajah Bayu di bawah cahaya lampu teras yang pucat.“Ada apa?” Bayu berhenti. Ia menoleh.Dalam jarak sedekat itu, ia menyadari betapa kecil tubuh Mila di hadapannya namun berisi. Dari atas belahan dada Mila terlihat jelas dari celah leher kaos longgar itu. Sehingga membuat Bayu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.Mila meremas ujung kaos yang dikenakannya, jari-jarinya gelisah. “Baju ini … bagaimana aku mengembalikannya?” tanyanya pelan, seakan takut suaranya sendiri terlalu keras.“Kalau kamu tak bisa mengembalikannya,” jawab Bayu, suaranya rendah dan tertahan. “Kamu bisa membuangnya. Lagi pula baju itu—”Kalimatnya terhenti.Bayu kembali menatap Mila.Pandangan mereka saling mengunci. Untuk sesaat, dunia di sekitar terasa memudar. Mata Bayu terlihat jernih di bawah cahaya lampu, bening dengan kilau kebiruan yang samar tenang, tapi menyimpan sesuatu yang dalam. Mila tertegun, nafasnya tersendat tanpa ia sadari.Dada
“Hah … jadi selambat ini?” gumam Bayu, suaranya nyaris datar, sementara tubuhnya bergerak ringan menghindari pukulan.“Bajingan! Sini kau!” Ucok menerjang, mencoba menangkapnya dengan kedua tangan. Namun Bayu sudah berpindah posisi bahkan sebelum sentuhan itu mendekat seperti bayangan yang lolos dari genggaman.Serangan datang bertubi-tubi. Dari kanan, dari kiri. Bersamaan.Semuanya meleset.“Jangan cuma ngindar! Brengsek!” teriak Beni. Tangannya menyusup ke saku celana, lalu muncul sebilah pisau kater. “Rasakan ini!”Beni mengibaskan pisaunya tanpa henti, gerakannya liar dan terburu-buru. Namun di mata Bayu, semuanya terbaca jelas arah ayunan, jeda nafas, celah kecil di antara langkah. Bayu menggeser tubuhnya sepersekian detik lebih cepat, membuat bilah itu hanya membelah udara.Tomi dan Ucok ikut menyerang bersamaan, disusul dua orang lainnya. Gang sempit itu berubah menjadi pusaran kekacauan.Bayu berputar, menunduk, melangkah menyamping.Satu gerakan terlalu dekat …Bugh!Siku B
“Bay … kuat banget kamu hari ini,” ujar Adi sambil membantu menahan ujung karung sebelum dilepas sepenuhnya ke bahu Bayu. “Kupikir kamu nggak bakal masuk kerja setelah … ya, kejadian itu.” Bayu hanya tersenyum tipis. Keringat memang membasahi pelipisnya, tapi tubuhnya terasa ringan. Bahkan lebih ringan dari sebelumnya. “Mungkin lagi bagus aja staminaku hari ini,” jawab Bayu dengan santai.Ia tak mungkin menceritakan soal batu sakti itu. Soal kilau aneh di bawah cahaya bulan. Soal sengatan yang masih seperti berdenyut halus di balik kulitnya. Bayu juga yakin tidak akan ada yang percaya. Bayu melangkah membawa karung itu masuk ke toko, meninggalkan Adi yang masih memandanginya dengan heran. Sedangkan Tarji tersenyum puas saat semua beras sudah dipindahkan oleh Bayu. “Bagus,” katanya singkat. “Kuat juga kamu.” Ia menyelipkan selembar uang merah ke tangan Bayu. “Ini upahmu hari ini.” Bayu menerima tanpa protes. Seratus ribu rupiah bayaran untuk tenaga yang diperas habis-habisan. Ad
Malam itu, Bayu merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lelah. Ada sisa getaran aneh di tubuhnya halus, tapi tak hilang. Ia kembali memandangi batu di tangannya lalu menyimpannya ke saku.Ia mencoba menepis pikiran tentang apa yang baru saja terjadi, saat ia memegang batu itu barusan.Sesampainya di rumah, ia membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tubuhnya justru terasa hangat. Entah karena suhu malam atau karena sesuatu dalam dirinya belum benar-benar tenang.Ia mengenakan pakaian bersih. Kain itu terasa lebih hangat dari biasanya.Namun kantuk menyerang cepat. Tanpa banyak pikir, Bayu merebahkan diri. Besok ia harus bangun sebelum fajar seperti biasa.Akan tetapi esok hari ketika matanya terbuka, cahaya sudah menembus jendela rumahnya yang repot dengan tajam.Bayu mengerjap, bangkit, melihat cahaya terang.Tak ada suara ayam berkokok. Tak ada hiruk-pikuk subuh. Yang terdengar hanya aktivitas siang yang samar dari kejauhan.Ia bangkit mendadak.“Hah …? Aku terlamb
Langkah cepat menggema dari dalam gang sempit.Tap … tap!Seorang pemuda menerobos lorong lembab ketika fajar belum menyingsing. Langit masih gelap kebiruan, lampu-lampu jalan berkedip. Udara dingin terasa di permukaan kulit.Ia berjalan cepat hampir seperti berlari dengan nafas teratur dan bahu tegap. Bajunya lusuh, kusut, penuh jejak kerja kasar. Bawah sandalnya yang tipis menghantam aspal retak, memercik genangan air sisa hujan semalam.Dengan kepala tertunduk, tapi matanya tajam mengawasi jalan di depan. Wajahnya jauh dari kata tampan, rahang keras, kulit kusam, ekspresi dingin yang membuat orang enggan menatap lama. Rambut gondrongnya terurai menutup sebagian wajah, seperti sengaja dipasang sebagai topeng untuk menutupi kejelekan wajah itu.Dari gang gelap menuju jalanan lebar, ia melangkah tanpa ragu.Meski pagi belum datang.Tapi dia sudah bergerak, untuk mengais rejeki lebih awal sebelum ada yang mendahuluinya.Begitu tiba, keramaian pasar langsung menyergap. Pikap-pikap berda







