Share

Bab 2

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-02-03 13:49:06

Malam itu, Bayu merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lelah. Ada sisa getaran aneh di tubuhnya halus, tapi tak hilang. Ia kembali memandangi batu di tangannya lalu menyimpannya ke saku.

Ia mencoba menepis pikiran tentang apa yang baru saja terjadi, saat ia memegang batu itu barusan.

Sesampainya di rumah, ia membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tubuhnya justru terasa hangat. Entah karena suhu malam atau karena sesuatu dalam dirinya belum benar-benar tenang.

Ia mengenakan pakaian bersih. Kain itu terasa lebih hangat dari biasanya.

Namun kantuk menyerang cepat. Tanpa banyak pikir, Bayu merebahkan diri. Besok ia harus bangun sebelum fajar seperti biasa.

Akan tetapi esok hari ketika matanya terbuka, cahaya sudah menembus jendela rumahnya yang repot dengan tajam.

Bayu mengerjap, bangkit, melihat cahaya terang.

Tak ada suara ayam berkokok. Tak ada hiruk-pikuk subuh. Yang terdengar hanya aktivitas siang yang samar dari kejauhan.

Ia bangkit mendadak.

“Hah …? Aku terlambat!”

Langkahnya cepat menuju pintu. Ia membukanya dan cahaya matahari hampir tepat di atas kepala menyambutnya.

Hari sudah siang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia kesiangan.

Bayu menepuk jidatnya berulang kali.

“Astaga … kok bisa?”

Dengan cepat Bayu tetap harus berangkat kerja meski sudah kesiangan. Ia menyusuri jalan pinggir kota yang mulai ramai, mencoba mengabaikan tatapan orang-orang.

Tapi suasana pagi terasa berbeda. Topik lain mulai didengarnya.

Beberapa warga meliriknya, lalu saling mendekat dan berbisik. Anehnya, meski suara mereka dipelankan, Bayu mendengarnya jelas seolah mereka berbicara tepat di samping telinganya.

“Bunuh diri? Apa mungkin?” bisik Ratna, tetangga samping rumahnya.

“Dia kan cuma gila … masa sampai bunuh diri?”

“Siapa peduli?” sahut yang lain.

“Jangan-jangan anak itu yang membunuh ibunya.”

“Tampangnya saja sudah menyeramkan …”

Tuduhan itu mengalir makin tajam, makin berani, seiring suara mereka yang justru makin pelan. Entah dari mana rumor itu berasal, tapi itu sudah sering dibicarakan sejak seminggu lalu setelah ibunya meninggal.

Padahal jarak mereka tidak dekat. Seharusnya bisikan itu tenggelam oleh suara langkah, motor lewat, dan obrolan pagi.

Akan tetapi ...

Setiap kata terdengar utuh.

Rahasia. Tuduhan. Hinaan.

Langkah Bayu melambat. Rahangnya mengeras. Sebelum menoleh ia menutupi wajahnya dengan rambut.

Seketika mereka terdiam.

Bisikan itu putus begitu saja, digantikan senyum canggung dan tatapan pura-pura tak bersalah.

“Apa ini?” Bayu menutup telinganya. “Kenapa aku masih mendengar suara yang mereka ucapkan dari jarak sejauh ini?” Bayu kebingungan tapi tetap melanjutkan jalannya.

Suara riuh gang sempit itu terdengar, hingga suara setiap langkah kaki terdengar jelas. Bukan hanya telinganya yang bisa mendengar super jelas, tapi matanya melihat sekeliling telah berubah. Waktu seakan melambat semua gerakan memiliki kelambatan yang tidak normal.

Seekor kucing yang sedang lewat terlihat melangkah dengan sangat lambat. Bayu mengucek kedua matanya lalu kembali melihat tapi gerakannya masih sama.

“Apa yang terjadi? Semuanya jadi lambat!” Bayu menggerakkan dirinya tapi hanya gerakan dirinya sendirilah yang terasa normal. Dengan kata lain Bayu bisa bergerak lebih cepat saat semuanya melambat.

Ia pun mencoba berlari, benar saja saat semua melambat Bayu terlihat seperti berlari kencang.

Di detik berikutnya semuanya kembali normal. Suara dan setiap gerakan yang dilihatnya kembali seperti semula.

“Kembali normal?” gumam Bayu. Ia mengepalkan tangannya.

Kekuatan yang baru saja dirasakannya itu bisa tiba-tiba berhenti. ‘Apakah itu ada limitnya?’ pikir Bayu.

Langkah Bayu tetap stabil. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, batu yang diberikan pria tua itu. Kilauannya, sengatan seperti aliran listrik, dan sensasi ganjil yang masih tersisa di tubuhnya.

Perubahan itu terasa jelas bahkan baru saja ia merasa ada kekuatan dari dalam dirinya. Itu sulit dipercaya, tapi lebih sulit lagi dijelaskan. Namun semua tanda mengarah pada batu itu.

Saat melewati deretan rumah warga, ia tak sengaja melihat pantulan wajahnya di kaca jendela saat rambut di wajahnya diterpa oleh angin.

Bayu berhenti.

“Siapa pria itu?” gumamnya pelan.

Wajah di kaca tampak lebih tegas, lebih bersih, bahkan … tampan. Ia mengerjap, mendekat sedikit.

“Heh, nggak mungkin itu aku.” Ia terkekeh kecil, mencoba menepis pikiran aneh itu. Bayangan itu terlalu berbeda dari dirinya yang biasa.

Lalu kembali melangkah menuju pasar. Tapi karena hari sudah siang, para kuli lain telah mengambil alih pekerjaan. Pasar sudah penuh, tak ada lagi lapak yang membutuhkan tenaga tambahan. Di sana tidak ada kerjaan tersisa untuknya.

Akhirnya Bayu berbelok menuju toko beras tempat ia bekerja kemarin.

Di sana, karung-karung beras masih menumpuk tinggi, menunggu untuk diangkut. Ia pun memberanikan diri untuk menemui bos Tarji.

“Pak … saya masih boleh kerja, kan?” tanya Bayu hati-hati.

Tarji menatapnya sekilas, lalu mendengus. “Boleh. Tapi hati-hati! Jangan sampai beras jatuh lagi kayak kemarin.”

Ia hendak berbalik, namun langkahnya terhenti. Tatapannya kembali ke wajah Bayu, menyipit seolah mencoba mengenali sesuatu. Biasanya wajah pemuda itu tertutup poni kusut yang berantakan. Kini rambutnya tersibak tipis, memperlihatkan garis wajah yang terasa … berbeda.

Tarji mengerutkan kening, tapi tak lama kemudian mengibaskan tangan, mengabaikan perasaannya sendiri.

“Sudah, sana angkat beras itu masuk!” katanya sambil menunjuk dua truk yang terparkir di depan toko. “Hari ini banyak yang nggak datang. Entah pada malas atau memang sengaja bolos!”

Ia menggerutu pelan, sementara Bayu sudah melangkah mendekati truk, bersiap memulai pekerjaan. Seorang pekerja keluar dari dalam toko. Dia adalah pria yang dikenal Bayu.

Tanpa banyak bicara, Bayu langsung mengangkat karung beras dari atas truk. Keanehan kembali ia rasakan karung seberat dua puluh lima kilo itu terasa ringan di pundaknya. Biasanya ia memang mampu memanggul dua karung sekaligus, tapi kali ini beban itu seperti tidak berarti apa-apa.

“Di, tambahin satu lagi,” pinta Bayu dengan posisi masih membungkuk menunggu karung berikutnya.

Adi yang bertugas menurunkan beras menatap ragu. “Kamu yakin kuat?”

Bayu mengangguk. Tanpa bertanya lagi, Adi menyusun satu karung tambahan di punggungnya.

Meski karung bertambah dan semakin berat, tetapi Bayu merasa kalau itu tidak terasa berat sama sekali. Ia bahkan terpikir untuk membawa lima karung beras dalam sekali angkat.

Akhirnya Bayu membawa tiga sampai lima karung beras sekaligus. Ia berjalan bolak-balik tanpa jeda, mengulanginya lagi dan lagi, sampai truk benar-benar kosong. Keringat memang mengalir deras, tapi langkahnya tetap stabil, seolah tenaganya tak habis-habis.

Tarji memperhatikan dari kejauhan dengan mata menyipit. Seorang diri, Bayu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya membutuhkan lima orang.

Karung terakhir diangkat ke punggung Bayu tanpa banyak usaha. Otot lengannya menegang, tapi nafasnya tetap stabil bahkan terlalu ringan untuk beban seberat itu.

Adi yang berdiri di sampingnya sampai melongo. Ia sendiri bahkan terengah-engah dengan nafas hampir terputus karena lelah, tapi Bayu tetap terlihat sama seperti sebelumnya. Tanpa rasa lelah sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 170

    “Hnggh …!” desahan yang hampir saja keluar dari mulutnya segera Sri tutup dengan tangannya.Plak! Plok! 3xBayu menghentakkan dirinya lebih dalam di tubuh Sri, gerakannya cepat karena sangat terburu-buru. Sambil melihat ke sekeliling Sri menahan suara desahannya tapi disaat yang sama ia merasakan batang Bayu bergerak maju mundur dengan sangat cepat.Kakinya terangkat ke atas meja saat Bayu menghentakkan dirinya masuk lebih dalam. Ritemnya semakin cepat hingga keduanya sama-sama merasakan klimaks dan menyelesaikannya lebih cepat.“Jangan dicabut!” pinta Sri. “Biarkan di dalam saja agar cairannya tidak menetes ke mana-mana.”Dengan nafas yang sama-sama masih tersengal Bayu masih belum mengeluarkan miliknya. Hingga akhirnya cairannya keluar di dalam membuat tubuh Sri sempat menggeliat.Tap, tap!Langkah suara kaki berjalan masuk dari pintu belakang terdengar. Saat itu juga jantung Sri dan Bayu berdebar kencang dan mereka me

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 169

    “Ahh … uhunghh, ahh … dalamnya! Cepat gerakin aja langsung!”Mendengar rengekan Selvi membuat jiwa Bayu semakin tertantang untuk membuatnya semakin gacor. Bayu menambahkan goyangan pinggulnya lebih cepat dan hentakan di dalam sana semakin terasa jelas meski beberapa kali Selvi cum sendirian. “Aku masih sensitif, jangan terlalu di tekan dan hentakkan! Aahhnggh …!”Bayu menarik tangan Selvi agar tubuhnya bisa lebih dekat masuk ke dalam saat hentakan di pinggulnya bergerak. Dengan lubang yang berdenyut-denyut menghisap batang Bayu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.“Mau ini mau itu, tadi mau digerakin cepat. Sekarang giliran dicepetin langsung teriak. Kamu gimana sih?” bisik Bayu sambil tersenyum dan bergerak lebih liar lagi.Nafas Selvi sampai terengah-engah merasakan hentakkan di dalam tubuhnya secara bertubi-tubi. Namun, karena nikmat ia hanya semakin mendesah lebih kuat lagi memenuhi sudut kamar.“Akkhh … aahh! Bayu

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 168

    Akan tetapi, meski sadar kalau ternyata ada yang harus dibayar jika menggunakan kekuatan itu Bayu tetap melakukannya. Karena dengan bercumbu dengan wanita dapat menambahkan energi kekuatannya. Menurut Bayu itu adalah hal yang sangat mudah.Dengan wajahnya yang saat ini berubah menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya tentu saja tidak susah bagi Bayu untuk menaklukkan hati wanita manapun. Dan itu semua berkat batu yang sangat berharga baginya, meski sekilas tampak seperti batu perhiasan murahan. Namun, kekuatan yang dimilikinya membuat banyak keuntungan bagi Bayu. Mengingat asal usul batu itu yang hanya didapatkan dari pemberian seorang pria tua yang dibantunya kala itu. Jujur saja Bayu sangat penasaran dengan pria tua yang sudah memberikannya batu itu. Akan tetapi sayangnya jika ingin mengetahui keberadaan pria itu ia harus pergi ke wilayah pinggiran kota untuk mencarinya yang merupakan seorang pedagang keliling.Memikirkan itu membuat Bayu menghela nafa

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 167

    “Hmm … ah, ya. Aku sih pernah dengar soal itu tapi nggak nyangka kalau Tante masih mengurus tempat itu.” Selvi mengetahuinya tapi sengaja tidak menyebutkan gedung Delune.Meski tidak terlalu banyak komentar tentang Delune tapi Selvi sampai menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia bahkan duduk dengan tenang di kursinya sambil mengusap rambut panjangnya ke belakang. Tapi Selvi kembali menatap Bayu. “Jadi apa yang kamu lakukan di sana?” “Apa kamu pernah tahu tentang lantai paling bawah gedung itu? Di sana ada sebuah arena pertarungan tinju bebas, dan aku salah satu petarung yang beradu tinju setiap seminggu sekali.”Mata Selvi membola saat menatap Bayu. “Pantas saja kamu sangat pandai berkelahi.”Mengingat Bayu yang pernah menghajar pars pria yang mengganggu Selvi malam itu. Jadi tidak heran kalau ternyata dia adalah seorang petarung tinju. Fakta itu baru saja diketahui Selvi hari ini.“Lalu Tanteku apa dia tahu? Atau karena itu di

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 166

    “Iya, karena itu juga aku tidak mau makan makan di rumah sakit. Jadi karena itu Sri selalu buatkan aku makanan dari rumah saat aku di opname di rumah sakit.”Tanpa terasa ternyata Stevia sudah selesai makan. Ia lalu ngemil dengan santainya setelah selesai barulah Stevia bersandar di ranjang.“Ahh … kenyangnya, rasanya puas sekali setelah sarapan.” Stevia memegang perutnya kekenyangan.Dari sofa Bayu berjalan ke arah Stevia lalu terlihat sibuk mengemasi beberapa barang-barang Stevia.“Bayu, apa yang kamu lakukan?” tanya Stevia sambil menoleh ke arahnya.“Tentu saja bersiap, besokkan kamu akan pulang dari rumah sakit. Iya kan?”“Ah, iya. Aku hampir lupa kalau hari ini, hari terakhir aku di rumah sakit.” Tangan Stevia menepuk jidatnya padahal kemarin lusa ia yang memberitahukan pada Bayu kalau dirinya dirawat seminggu saja di rumah sakit. Namun, Stevia sendiri malah lupa akan hal itu. Ia juga kembali mengingat ucapan ayah

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 165

    “Mba, yang mau dibawa ke rumah sakit nanti udah disiapin?” tanya Bayu saat baru sampai.“Ini masih dimasak, belum matang,” jawab Sri.“Kalo gitu aku naik ke atas dulu ya, nanti turun lagi.” “Iya, siap. Nanti bentar lagi matang kok ini.” Sri melihat Bayu yang masih memakai baju kemarin dan menaiki tangga menuju kamarnya.Sri berpikir dalam hati pasti Bayu baru saja menginap di luar karena dari semalam dia juga tidak kunjung pulang. Padahal semalam Sri yang sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih lambat agar bertemu Bayu tapi karena tidak kunjung pulang jadi ia pun kembali ke kamarnya.“ … Mbak! Mbak Sri lagi mikirin apa sih?” Rini menepuk bahu Sri karena melihatnya melamun.“Ah … nggak kok. Cuman kepikiran sama cucian bajuku di luar belum diangkat,” jawab Sri dengan asal.Rini melihat ke jendela. “Aman kok, nggak hujan ini. Mbak kepikiran ada-ada saja.”Akhirnya Rini membawakan sarapan Selvi ke meja makan sedangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status