Share

Batu Akik Penakluk Wanita
Batu Akik Penakluk Wanita
Penulis: Lailiela

Bab 1

Penulis: Lailiela
last update Tanggal publikasi: 2026-02-03 13:48:47

Langkah cepat menggema dari dalam gang sempit.

Tap … tap!

Seorang pemuda menerobos lorong lembab ketika fajar belum menyingsing. Langit masih gelap kebiruan, lampu-lampu jalan berkedip. Udara dingin terasa di permukaan kulit.

Ia berjalan cepat hampir seperti berlari dengan nafas teratur dan bahu tegap. Bajunya lusuh, kusut, penuh jejak kerja kasar. Bawah sandalnya yang tipis menghantam aspal retak, memercik genangan air sisa hujan semalam.

Dengan kepala tertunduk, tapi matanya tajam mengawasi jalan di depan. Wajahnya jauh dari kata tampan, rahang keras, kulit kusam, ekspresi dingin yang membuat orang enggan menatap lama. Rambut gondrongnya terurai menutup sebagian wajah, seperti sengaja dipasang sebagai topeng untuk menutupi kejelekan wajah itu.

Dari gang gelap menuju jalanan lebar, ia melangkah tanpa ragu.

Meski pagi belum datang.

Tapi dia sudah bergerak, untuk mengais rejeki lebih awal sebelum ada yang mendahuluinya.

Begitu tiba, keramaian pasar langsung menyergap. Pikap-pikap berdatangan membawa sayur dan buah dalam keranjang besar.

Bayu segera berlari menghampiri. Ia lega karena tiba lebih awal.

“Bayu! Angkat ini dulu. Saya mau buka lapak!” teriak Pak Tejo.

“Siap, Pak!”

Tanpa banyak bicara, Bayu memanggul karung, mengangkat keranjang, lalu mondar-mandir mengantar barang ke tiap lapak dari penjual lainnya juga. Sampai semuanya siap jualan.

Beberapa saat kemudian, Pak Tejo menyodorkan uang yang sudah digulung.

“Nah, ini upahmu.”

“Wah … makasih Pak!” Bayu meraihnya. Matanya berbinar lalu membuka gulungan uang yang ternyata bernilai tiga puluh ribu rupiah.

Keringat membasahi tubuh Bayu hingga bajunya menempel di kulit. Nafasnya naik turun lebih cepat seiring teriknya siang yang kian meninggi. Ia berjalan menuju tempat penjual beras, di mana para buruh sibuk mengangkat karung-karung yang baru dipasok. Saat namanya dipanggil, Bayu segera ikut memanggul beras itu tanpa banyak bicara.

Sayangnya kali ini Bayu salah langkah saat memanggul beras.

Ujung kaki Bayu tersangkut sesuatu.

Sebuah batu kecil yang menonjol dari permukaan tanah tak terlihat karena rambutnya menghalau penglihatan.

Tubuhnya oleng, keseimbangannya jadi tidak stabil.

Bugh!

Dua karung beras yang dipikulnya terhempas keras. Dirinya juga ikut tersungkur ke tanah. Salah satu karung robek di bagian bawah putih-butir beras mengalir keluar, berserakan di atas tanah kotor.

Ia menahan nafas sebentar, dengan cepat menutupi lubang di karung.

Lalu suara menggelegar.

“HAH! Kamu gimana sih?!” bentak Tarji dari depan toko. “Yang bener dong angkatnya! Lihat tuh! Berasnya berserakan!”

Telunjuk Tarji seakan menancap ke arah Bayu.

Sementara Bayu sudah berlutut sebelum makian selesai. Tangannya bergerak cepat, memunguti butiran beras yang tercampur di tanah.

“Maaf, Pak. Saya bereskan sekarang.”

“Maaf, maaf! Kalau gini siapa yang rugi?!” Tarji turun dari teras toko, wajahnya merah. “Cepat bersihin! Hari ini kamu nggak dapat upah! Dengar?!”

Bayu diam, kembali menunduk. Jemarinya tetap bekerja.

“Dan sisa beras yang rusak itu kamu ganti!” lanjut Tarji tajam.

Butiran beras menempel di telapak tangan Bayu yang kasar. Keringat mulai turun dari pelipisnya, bukan karena panas melainkan karena tekanan.

Di sekelilingnya, para buruh lain hanya melirik sekilas. Lalu kembali mengangkat karung masing-masing. Tak ada yang membantu ataupun mendekat, mereka terlalu sibuk bekerja keras dan lebih hati-hati agar tidak seperti Bayu.

Meski begitu Bayu tetap bertanggung jawab. Membereskan dan memberikan uang ganti rugi pada Tarji. Lalu membawa beras yang tidak layak jual itu.

Hingga hari semakin sore kini sudah waktunya Bayu untuk pulang ke rumah. Ia memikul sekarung beras tadi untuk dibawa pulang.

Jalanan pinggiran kota memiliki banyak gang sempit yang tampak hidup dengan cara yang kotor. Di balik bayangan tembok lembab, sepasang pria dan wanita saling berhimpitan di dalam salah satu gang yang dilaluinya. Desahan tak tertahan, bisikan serak, gerakan tergesa-gesa membuat suara gesekan kulit. Udara terasa berat oleh bau keringat dan parfum murahan tercium.

“Hmmh … ya! Lebih dalam lagi!” suara desahan itu semakin terdengar jelas. Suara decakan terdengar dari tubuh yang beradu semakin cepat.

Bayu mendengar semuanya dengan jelas bukan sekadar suara, tetapi juga suasana yang menyertainya. Ia bahkan sempat, tanpa sengaja, bertatap mata dengan para pelacur yang sedang melayani di gang kotor itu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengabaikannya, atau setidaknya berpura-pura tak peduli. Bayu menunduk, langkahnya dipercepat, tak berani menoleh lagi.

Namun tetap saja, ia tergoda. Kerap menarik sudut matanya untuk melirik sekilas tentang sesuatu yang sering ia lihat, karena itu membuatnya tidak bisa menahan rasa penasaran.

Akhirnya ujung matanya sempat melirik lekukan tubuh yang menggoda, bahkan pakaian dari wanita itu tanggal dari tubuhnya. Wajahnya basah karena keringat tetapi justru itu menjadi semakin menggairahkan. Ia menatap Bayu dengan wajah cantik yang sedang merasa kenikmatan.

Gluk!

Bayu hanya menelan ludah, lalu kembali menunduk. Jantungnya berdebar begitu cepat saat menyaksikan adegan itu. Meski dalam keramaian hal-hal tidak senonoh itu sudah dianggap biasa di sana.

Saat melewati rumah yang dipenuhi para pelacur, Bayu tetap berjalan menunduk. Akan tetapi, mata-mata di sekitarnya tak melewatkannya begitu saja. Tatapan hina dan merendahkan mengiringi langkahnya.

Viona pelacur yang dikenal sombong berdiri paling depan. Tubuhnya terawat dan mencolok, membuatnya selalu merasa berada di atas yang lain. Berbeda dengan Mila, gadis berusia dua puluh tahun yang masih tampak pemalu. Ia belum melayani siapapun; malam pertamanya masih dianggap “barang mahal” oleh Mami Riska, mucikari licik yang mengatur semuanya dengan hitung-hitungan dingin.

Viona melirik dengan sudut matanya. “Lihat pria menjijikkan itu,” desisnya. “Paling jelek di gang ini. Bagaimana bisa Mbak Sari melahirkan anak seperti itu?”

“Padahal dulu almarhum mbak Sari adalah pelacur paling cantik nomor satu di sini. Tapi bisa-bisanya dia melahirkan anak sejelek itu!” timpal yang lain.

“Sudah,” sela Mila pelan, gadis muda yang masih tampak canggung.

“Nanti dia dengar.” Mila melirik Bayu sekilas, lalu berpaling cepat ada ragu, ada takut. Di matanya, Bayu terlihat menyeramkan.

Bayu Saputra adalah anak dari seorang pelacur bernama Sari. Hingga detik ini, tak seorang pun tahu siapa ayah biologisnya. Dulu, Sari dikenal sebagai pelacur paling cantik dan paling laris di tempat itu, tetapi ia baru saja meninggal akibat penyakit yang dideritanya.

Hari mulai gelap. Bayu tetap melanjutkan langkahnya berjalan pulang.

Bruk!

Sebuah gerobak pedagang terguling tepat di depan Bayu. Perhiasan murahan dan batu-batu akik berhamburan ke jalan.

Tanpa pikir panjang, Bayu berjongkok dan membantu memungutinya satu per satu. Seorang pria tua berambut putih ikut menunduk, wajahnya penuh rasa syukur karena ada yang mau membantunya.

“Terima kasih, Nak. Banyak yang lihat, tapi cuma kamu yang mau bantu,” ucapnya tulus.

“Sama-sama, Pak. Hati-hati, jalannya nggak rata,” jawab Bayu singkat sambil membantu menegakkan dan mendorong gerobak ke sisi jalan.

Pria tua itu lalu membuka kotak kecil di gerobaknya. Ia mengambil sebuah batu akik kecil berwarna kebiruan dan meletakkannya di telapak tangan Bayu, lalu menutupkan jarinya.

“Terimalah. Hanya batu biasa … siapa tahu ada gunanya.”

Bayu baru akan menolak. “Pak, ini—”

“Sudah,” potongnya lembut.

Tanpa menunggu balasan, pria tua itu mendorong gerobaknya pergi.

Bayu berdiri diam, menatap batu kecil di genggamannya yang terasa aneh tapi terasa dingin, seolah menyimpan sesuatu.

Detik berikutnya, batu itu memantulkan cahaya bulan dan tiba-tiba bersinar kebiruan.

Silau hingga ia refleks memejamkan mata. Saat membuka mata lagi, batu itu kembali tampak biasa, kusam, tidak istimewa.

Namun dalam dadanya berdebar keras.

Ia mencengkram dada, nafasnya tercekat. Dari telapak tangannya, sensasi seperti sengatan listrik menjalar cepat ke lengan, lalu ke seluruh tubuh.

Singkat tapi membuat nafasnya tercekat seolah hampir terputus. Tapi jelas Bayu merasa sesuatu yang baru saja berubah dalam dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 198

    Bab 198 “Aku hnggh … tidak tahan. Bayu, ayo masukkan saja!” Selvi sampai akhirnya ia terus mengeluarkan cairannya. Rasa lengket dan basah dirasakan Bayu. “Ini aku rasa sudah mulai melebar, sekarang saatnya aku mulai memasukinya!” Selvi merasakan kedua jari Bayu yang sudah dicabutnya dan digantikan oleh batang berukuran pergelangan tangannya sedang menggesek, karena licin berlendir gesekannya semakin intens. “Bayu, aku baru saja keluar akkh … di bagian sana masih terasa sensitif!” Kedua tangan Selvi berpegangan pada pundak Bayu. Penampilan Selvi yang terlihat berantakan karena dirinya membuat Bayu semakin bergairah. Ia juga sudah tidak bisa menahannya lagi. “Kamu baru saja merasakan nikmat lalu bagaimana denganku?” Bayu akhirnya mulai mengarahkan benda pusakanya untuk masuk. Jleb! “Aahh … akhh! Hnggh … aahh dalam banget!” Selvi merasakan batang Bayu mulai menghujan

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 197

    “Jadi kamu mau tidur langsung?” Selvi bergeleng pelan. “Nggak kok, aku masih mau belajar dulu. Kan Tante yang nyuruh aku rajin belajar.”“Ah iya, benar juga. Jadi pergilah naik sekarang aku tidak akan menghentikanmu di sini lama-lama.” Stevia menarik kursi di meja makan lalu mendudukkan dirinya.Sementara Selvi mulai menaiki tangga, sedangkan Sek mulai menata makan malam yang disukai Stevia bahkan lengkap dengan rujak mangga yang sering dimakannya.Sri perlahan mundur ke belakang setelah menyajikan makanan di meja. “Silahkan dinikmati Nom!” ucapnya.“Ya, makasih Mbak,” sahut Sri.Suara di ruang makan sangat hening hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling berdentingan. Rasa yang pas dengan selera Stevia membuatnya makan lebih banyak. Porsinya bertambah lebih banyak dari biasanya dan begitu juga dengan nafsu makannya.Sementara Bayu yang baru saja keluar lewat pintu belakang tadinya hendak menemui Ari

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 196

    “Ah, benar juga bagaimana bisa aku lupa itu!” Pegangan Bayu semakin kuat pada stir mobil. Hal yang selama berhari-hari ini selalu dipikirkannya bagaimana bisa ia lupa.“Jadi aku harap nanti kita bersama-sama ke rumah sakit. Tapi seandainya ini benar-benar anakmu apa kamu tidak masalah?” Mobil berhenti di depan rumah tanpa disadari Stevia mereka telah sampai. Bayu belum sempat menjawab dia sudah keluar dari mobil untuk membukakan pintu.Di sekeliling sepi hanya ada Bayu dan Stevia yang berada di depan rumah. Tubuh Bayu masih berdiri di tempat saat Stevia berbalik hampir melanjutkan langkah.Bayu mulai bersuara, “Aku tidak mempermasalahkannya. Justru aku akan sangat merasa senang atas kelahirannya sebagai anakku. Hanya saja …”Wajah Bayu menunduk dengan tangan yang mengepal di kedua sisi. “Seperti yang kamu ketahui kalau hubungan kita sangat tidak menguntungkan bagimu. Ditambah lagi kamu akan segera menikahi pria lain, aku hanya

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 195

    Pandangan Bayu langsung kembali ke pintu masuk persidangan, dengan langkah cepat ia segera berdiri di samping pintu masu lalu melihat ke arah jam.Tidak lama pintu dibuka dan persidangan akhirnya selesai. Stevia dan Clara berjalan keluar sedangkan Bayu langsung menghampiri keduanya.“Bayu, kamu bikin kaget aja!” Clara memukul pelan bahu Bayu.“Ah, maaf! Aku cuma mau jalan bareng. Kamu kan tahu tiga Minggu lalu Nona Stevia sudah pernah ditikam oleh seseorang jadi sebagai pengawalnya aku harus ekstra hati-hati menjaganya.” Bayu langsung bergeser ke samping Stevia, ia berjalan sambil mengikuti kelambatan langkah kaki mereka. “Bayu benar, dia harus ekstra menjagaku setidaknya untuk saat ini,” bela Stevia ikut menambahkan.Apa yang dikatakan Stevia dan Bayu itu benar jadi Clara pun mengangguk. “Hmm … ya, aku juga berpikiran sama. Dia emang harus lindungin Kak Stevia. Kejadian waktu itu juga benar-benar tidak terduga banget

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 194

    “Kamu yakin nona dia mau yang itu?” tanya Arif kembali memastikan. “Justru itu nona mau yang masih belum matang. Ngomong-ngomong apa aku harus memanjat ke atas?” Bayu mulai menyentuh pohong mendongak ke atas. “Tidak, sini biar aku saja yang panjat. Sekarang kamu tunggu aku di bawah.” Arif mulai memanjat pohon mangga. Bayu masih mendongak ke atas menunggu Arif memetik buahnya. Tidak lama Arif akhir menjatuhkannya ke bawah. Sedangkan Bayu yang menunggu tadi segera menangkap buah yang sengaja dijatuhkan. Kemudian memasukkan buah mangga yang masih muda itu ke dalam keranjang buah. Dari atas pohon Arif bisa melihat keranjang kecil tempat buah mangga. “Mangganya masih mau berapa buah lagi?” tanya Arif dengan suara nyaring. “Sudah segini aja kayaknya sudah cukup. Nanti kalau sudah habis tinggal datang ke sini ambil lagi,” seru Bayu dari bawah. “Jadi kamu udah bisa turun sekarang!” “Aku

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 193

    “Jadi apa yang perlu kamu cemaskan?” tanya Stevia sambil meraih lengan Bayu. Berpegang pada Bayu lalu berjalan menuju ranjang. Stevia duduk di tepi ranjangnya dengan Bayu yang ikut duduk di sampingnya. “Apa kamu yakin tidak masalah jika melahirkan bayi itu nanti? Aku hanya merasa mungkin saja kamu ingin menggugurkannya atau bagaimanapun tadinya aku berpikir seperti itu.” “Seminggu lagi aku akan membawamu ke rumah sakit untuk tes DNA nanti. Karena hari ini sudah malam jadi aku ingin istirahat lebih awal.” Stevia pun akhirnya membaringkan tubuhnya. “Kalau begitu selamat malam. Aku akan keluar dari sini kembali ke kamarku dulu,” balas Bayu. Dengan langkah pelan Bayu meninggalkan kamar Stevia lalu tidak lupa ia menutup kembali pintu kamar. Di luar Bayu menuju dapur karena harus meletakkan gelas kosong yang dibawa Sri untuk membawa air minum tadi. Sedangkan Sri yang juga berada di dapur melihat Bayu berjalan mendekati area dapur. “Bayu, gimana non Stevia udah mendingan mualnya? Ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status