Share

Bab 4

Author: Lailiela
last update publish date: 2026-02-03 13:50:52

“Hah … jadi selambat ini?” gumam Bayu, suaranya nyaris datar, sementara tubuhnya bergerak ringan menghindari pukulan.

“Bajingan! Sini kau!” Ucok menerjang, mencoba menangkapnya dengan kedua tangan. Namun Bayu sudah berpindah posisi bahkan sebelum sentuhan itu mendekat seperti bayangan yang lolos dari genggaman.

Serangan datang bertubi-tubi. Dari kanan, dari kiri. Bersamaan.

Semuanya meleset.

“Jangan cuma ngindar! Brengsek!” teriak Beni. Tangannya menyusup ke saku celana, lalu muncul sebilah pisau kater.

“Rasakan ini!”

Beni mengibaskan pisaunya tanpa henti, gerakannya liar dan terburu-buru. Namun di mata Bayu, semuanya terbaca jelas arah ayunan, jeda nafas, celah kecil di antara langkah. Bayu menggeser tubuhnya sepersekian detik lebih cepat, membuat bilah itu hanya membelah udara.

Tomi dan Ucok ikut menyerang bersamaan, disusul dua orang lainnya.

Gang sempit itu berubah menjadi pusaran kekacauan.

Bayu berputar, menunduk, melangkah menyamping.

Satu gerakan terlalu dekat …

Bugh!

Siku Bayu menghantam wajah Ucok tanpa disengaja. Tubuh Ucok terpental dan jatuh menghantam dinding, lalu terjerembab ke tanah.

“Sial!” pekiknya, menahan rasa nyeri.

Bayu berdiri tegak di tengah gang, nafasnya stabil.

“Aku tidak ingin melanjutkan ini,” kata Bayu datar namun tegas. “Pergilah dengan tenang. Lepaskan gadis itu.”

Tatapannya mengeras. Ada tekanan tak kasatmata yang keluar dari sorot matanya cukup untuk membuat siapa pun ragu melangkah lebih jauh.

Tomi dan keempat anak buahnya sudah kehabisan napas. Bayu tak sekalipun menyerang, tapi kecepatan dan ketepatan gerakannya membuat mereka frustasi. Setiap pukulan meleset. Setiap terjangan kosong. Wajah Tomi memerah oleh amarah dan malu.

“Ahh … Bayu! Awas, di belakangmu!” teriak Mila panik.

Hap!

Bayu berputar setengah langkah. Tangannya terangkat tepat waktu, menangkap pergelangan Ucok di udara. Serangan yang seharusnya menghantam perutnya terasa lambat terlalu lambat.

Bayu menggenggam lebih kuat, menghentikan gerakan itu sepenuhnya.

Di saat yang sama, empat orang lainnya menyerbu bersamaan.

Bayu bergerak.

Kakinya terangkat, lalu …

Dugh! Dugh! Dugh! Dugh!

Satu ayunan kaki menyapu keempatnya. Tubuh-tubuh itu terpental dan menghantam tanah gang dengan suara berat, terkapar tanpa sempat bangkit.

Bayu kembali berdiri tegak. Nafasnya stabil. Matanya dingin.

Tomi menggertakkan gigi. Dengan sisa harga diri yang dipaksakan, ia bangkit dan melancarkan pukulan terakhir.

Namun Bayu sudah membaca segalanya.

Ia menggeser tubuh setipis rambut, lalu …

Bugh!

Satu tinju Bayu menghantam pipi Tomi. Dampaknya langsung. Tubuh Tomi terpelintir dan ambruk ke tanah, tak bergerak. Pingsan.

Bayu menurunkan tangannya perlahan.

Gang kembali sunyi menyisakan tubuh-tubuh terkapar dan satu gadis yang selamat.

Saat keempat anak buah Tomi sibuk membangunkannya, Bayu melangkah mendekati Mila.

Tubuh Bayu yang tinggi dan besar membuat Mila refleks menelan ludah. Selama ini, pria itu selalu ia kenal sebagai sosok kasar dan menyeramkan seseorang yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Namun kini, sosok yang sama berdiri di hadapannya sebagai penyelamat.

“Ayo, keluar dari sini,” ucap Bayu terdengar dingin.

Mila mengangguk pelan. Tubuhnya masih gemetar hebat. Kedua tangannya reflek menutupi dirinya yang terekspos. Saat Bayu menoleh, ia langsung menyadari kondisinya.

Bajunya telah dirobek paksa. Garis tubuh Mila terlihat jelas di bawah cahaya lampu gang yang temaram. Bayu terdiam sepersekian detik. Pandangannya tertahan bukan karena niat buruk, melainkan karena dorongan naluriah yang tiba-tiba muncul, panas dan sulit ditekan.

Mila mendongak. Tatapan mereka bertemu. Ia tahu. Ia sadar Bayu sedang melihat tubuhnya yang nyaris tak tertutup. Wajahnya memanas, nafasnya kian pendek.

Bayu segera mengalihkan pandangan. Tidak ada pilihan lain.

Ia menarik kaos yang dikenakannya masih lembab oleh keringat lalu menyodorkannya pada Mila. Saat kaos itu terlepas, otot-otot tubuh Bayu terekspos jelas. Dada dan lengannya yang padat membuat Mila tanpa sadar menatap, lalu buru-buru menunduk, malu.

“Pakai ini,” kata Bayu rendah. “Maaf … mungkin baunya nggak enak. Tapi cuma ini yang bisa nutupin tubuhmu untuk sementara.”

Ia berbalik, memberi Mila ruang.

“I-iya …” Mila meraih kaus itu dengan tangan gemetar. “A-aku akan memakainya.”

Kain itu terasa hangat di jemarinya hangat oleh tubuh Bayu tapi ada rasa sedikit lembab. Aroma keringat yang maskulin menyelimuti dirinya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Saat Bayu berbalik, ia melihat anak buah Tomi mengangkat tubuh pemimpin mereka dan menyeretnya pergi dari gang itu. Langkah mereka tergesa, tak berani menoleh lagi.

Namun bayangan lain justru menetap di benak Bayu.

Lekuk tubuh Mila yang barusan ia lihat masih tertinggal jelas terlalu jelas. Ingatan itu muncul tanpa izin, memancing denyut hangat yang membuat pikirannya goyah. Ada dorongan liar yang berusaha naik ke permukaan, membuat nafasnya sedikit tercekat.

“Tidak. Hentikan,” batinnya.

Plak!

Bayu menampar pipinya sendiri. Bunyi tamparan itu menggema singkat di gang yang sepi.

Ia memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, berusaha memutus arus pikiran yang hampir lepas kendali.

Suara itu membuat Mila terkejut. Ia berdiri di belakang Bayu, sudah mengenakan kaos miliknya. Kaos itu terlalu besar di tubuhnya, jatuh longgar hingga tampak seperti pakaian oversize yang menyisakan garis leher dan pundak.

Tangannya menggenggam ujung kain, ragu.

“Kenapa … kenapa kamu memukul diri sendiri?” tanyanya pelan, bingung. Dia tidak paham dengan tindakan Bayu barusan.

Bayu membuka mata. Untuk sesaat, ia tidak menjawab.

“Maaf … kalau aku menakutimu,” ucap Bayu akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Aku hanya berusaha mengendalikan diriku sendiri. Apa … kamu sudah pakai bajunya?”

“Su-sudah …”

Jawaban Mila terdengar kecil, nyaris tenggelam di antara dinding gang yang lembab.

Bayu mengangguk singkat. “Ayo. Aku antar sampai depan rumah Mami Riska.”

Ia berjalan lebih dulu. Langkahnya mantap, bahunya lebar, punggungnya tegak seperti tembok yang tak mudah runtuh. Mila mengikutinya dari belakang. Setiap kali Bayu melangkah, ada rasa aneh yang merayap di dadanya campuran lega dan gugup.

Entah sejak kapan, pria yang dulu selalu ia hindari karena aura kasarnya itu tak lagi terasa menakutkan. Justru sebaliknya. Di belakangnya, Mila merasa aman … terlindungi. Perasaan itu membuatnya menggigit bibir, menahan sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah Mami Riska bangunan tua yang menjadi tempat para wanita “bekerja” dan tinggal.

Suasana sepi. Terlalu sepi. Lampu-lampu depan menyala redup, pintu-pintu tertutup rapat. Bayu menghela nafas lega. Ia tak perlu menghadapi tatapan merendahkan yang sering ia terima setiap kali berdiri di tempat ini.

“Masuklah,” kata Bayu singkat. “Dan lain kali … jangan berkeliaran sendirian seperti tadi.”

Ia berbalik, hendak pergi.

Namun tiba-tiba …

Jari Mila meraih telapak tangannya.

Genggamannya tidak kuat, tapi cukup berani. Hangat. Ragu, namun tegas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 342

    Menulis “Heh... lihat itu!” Ray menyeringai penuh kemenangan. “Pasti orang-orang ketua kami mulai bergerak. Sebentar lagi kantor ini bakal gempar!” Ia tertawa keras bersama anak buahnya. Namun, beberapa detik kemudian, senyum para polisi yang semula santai perlahan memudar. “Ya... baik, Pak!” Seorang anggota polisi yang menerima telepon langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah pucat. Belum sempat ia meletakkan gagang telepon, sambungan lain kembali berdering. “Siap, Jenderal!” Kali ini suara polisi itu bahkan terdengar bergetar. Ray mulai mengernyitkan dahi. "Ada apa?" gumamnya pelan. Belum selesai rasa penasarannya, telepon di meja kepala komisaris ikut berdering. Kepala komisaris menghela napas, lalu mengangkatnya dengan wajah kesal. “Ya, saya sendiri.” Beberapa detik kemudian... Ekspresinya berubah drastis. “Ba-Baik, Pak! Siap laksanakan!” Tangannya gemetar saat menutup telepon. Ruangan yang tadi dipenuhi suara tawa kini berubah sunyi. Kepala k

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 341

    Tetapi Bambang juga berpikir bagaimana jika para rekan bisnisnya merasa risih terlalu banyak bodyguard di sampingnya jadi itulah mengapa dia ingin yang lainnya mengawasi dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi tidak juga terlalu jauh. Brak! Suara meja yang dibanting seorang pria datang sambil menghembuskan asap rokok ia tidak sendirian melainkan satu rombongan masuk ke dalam restoran lalu mereka melihat ke arah Bambang yang sedang duduk baru saja menandatangani kontraknya dengan Hendra. “Mana yang namanya Bambang?!” teriak pria sarkas yang sedang menuju ke meja tempat Bambang duduk. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menggigil ketakutan. Mereka takut para pria itu akan menyerang mereka semua. “Kamu Bambang? Huh!” Pria berbadan besar tinggi itu menarik seorang pria di antara pelanggan yang tidak tahu apa-apa. “Bu-bukan, ampun pak!” Pria berbadan besar bernama Ray itu l

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 340

    Mereka bersama selama beberapa hari saat menenani Bambang tidak hanya Bayu saja tapi ada satu orang lagi yaitu sekretarisnya. Jadi kemanapun mereka pergi Bayu dan sekretarisnya tetap ikut menemani Bambang.“Di sini tempatnya?” tanya Bambang pada sekretarisnya yang sedang menyetir saat mobil akan sampai di sebuah restoran cepat saji untuk pertemuannya dengan seorang pengusaha setempat.Pria berkacamata dengan tubuh tinggi kurus, ia beranam Romi sang sekretaris seorang pegawai setia di perusahaan Bambang dan sekarang usianya sudah tiga puluhan tahun.“Ya, Pak! Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan pada kita. Jadi aku akan berhenti di sini lali Pak Bambang bisa masuk ke dalam lebih dulu bersama Bayu karena aku akan memarkirkan mobil setelahnya.” Setelah mobil berhenti Romo keluar untuk membukakan pintu untuk Bambang. Sedangkan Bayu sudah keluar bersamaan dengannya dan selalu siaga, berjaga memantau kondisi sekitar.“Bayu gimana

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 339

    “Kalian sudah sampai!” Joni menghampiri Sandro, Rian, Doni.“Iya dong, kan misi kita udah selesai. Kalian gimana? Kapan sampainya?” tanya Sandro sambil menoleh pada Bayi dan Teo setelah melihat Joni.“Sampai kemarin malam. Jadi kalian kenapa baliknya lama?” Joni duduk sambil balik bertanya.“Itu karena mobil yang menjemput kami lama. Kan mobilnya kalian yang pakai,” sindir Doni.“Hehehe … iya juga ya!” Joni malah tertawa.Rian melihat ke arah Teo dan Bayu. “Kalian habis dari mana?” “Dari kantin kok, biasa sarapan.” Bayu menjawab cepat.“Ah, iya kami lupa sarapan di bawah.” Doni menepuk jidatnya lalu menoleh ke arah Rian dan Sandro. “Kita turun yuk!” ajaknya.“Turun?” Rian menoleh.“Kita belum sarapan, cepat nanti kita kehabisan makanan di bawah!” Rian segera bergegas lalu mengajak Sandro. “Aku juga mau sarapan! San, ayo cepat kamu juga belum makan kan?”“Tapi aku mau masaka masa kali

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 338

    Melihat itu Bayu juga ikut karena mumpung ada di bawah sekalian saja makan di kantin. “Aku juga mau sarapan, ah!” Mereka sama-sama mengambil makanan secara prasmanan. Jadi bisa pilih sendiri mau makan lauk yang mana. Makanan yang tersaji di atas meja semuanya masih panas karena baru matang, uap panasnya mengepul tipis di usaha tepat di setiap atas makanannya. Sedangkan Bayu ambil yang lauk daging tumis dan seporsi nasi, lalu ada buah pisang. Tidak lupa air mineral diambilnya juga membuat di kedua tangannya penuh pegangan.“Ayo kita duduk di sini saja lebih dekat!” Joni yang tidak mau lama-lama pilih tempat duduk.“Ya aku rasa sebaiknya kita duduk dekat sini. Aku udah laper banget.” Melihat Teo dan Joni, Bayu pun ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua. Mereka mulai makan sarat masing-masing sambil mengunyah.“Tadi kamu makan sayur sawi nggak?” tanya Teo saat menepikan sayur sawi di piringnya.Melihat sayur itu Bayu lan

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 337

    Makanan yang dipesan Bayu tadi koni sudah diletakkan di atas meja dengan sangat rapi. Setelah itu barulah pelayan hotel keluar dari kamar mereka.Klek!Di saat yang sama Rara pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja belum mengelap karena membiarkan sisah air.“Sini cepat duduk di sini kita mau makan. Sebaiknya kamu cepat ke sini b_-_–;¡¡iar nanti aku bantu keringkan rambutmu.” Bayu menggeser kursi di depannya agar Rara bisa langsung duduk.Drek!Suara tarikan kursi yang baru saja digeser Bayu, kemudian Rara akhirnya mendudukinya kursi tersebut Mereka mulai menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela.“Gimana, makanannya?” Bayu bertanya setelah dirinya selesai makan.Rara mengangguk. “Enak, banget rasanya. Aku sampai kenyang sekali setelah makan.” “Karena makannya sudah selesai sini aku akan batu kamu mengeringkan rambutmu.” Bayu segera mengambil handuk kecil lalu berdiri di belakang Rara yang masih duduk di kursinya.Den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status