مشاركة

Bab 5

مؤلف: Lailiela
last update تاريخ النشر: 2026-02-03 13:51:50

“A-aku …” Mila menelan ludah. Ia memaksa dirinya mendongak, menatap wajah Bayu di bawah cahaya lampu teras yang pucat.

“Ada apa?” Bayu berhenti. Ia menoleh.

Dalam jarak sedekat itu, ia menyadari betapa kecil tubuh Mila di hadapannya namun berisi. Dari atas belahan dada Mila terlihat jelas dari celah leher kaos longgar itu. Sehingga membuat Bayu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

Mila meremas ujung kaos yang dikenakannya, jari-jarinya gelisah. “Baju ini … bagaimana aku mengembalikannya?” tanyanya pelan, seakan takut suaranya sendiri terlalu keras.

“Kalau kamu tak bisa mengembalikannya,” jawab Bayu, suaranya rendah dan tertahan. “Kamu bisa membuangnya. Lagi pula baju itu—”

Kalimatnya terhenti.

Bayu kembali menatap Mila.

Pandangan mereka saling mengunci. Untuk sesaat, dunia di sekitar terasa memudar. Mata Bayu terlihat jernih di bawah cahaya lampu, bening dengan kilau kebiruan yang samar tenang, tapi menyimpan sesuatu yang dalam. Mila tertegun, nafasnya tersendat tanpa ia sadari.

Dadanya naik turun perlahan.

Tanpa berpikir panjang, Mila melangkah maju. Tubuhnya condong mendekat, seolah ditarik oleh sesuatu yang tak kasatmata. Jarak di antara mereka menyusut, begitu dekat hingga Bayu bisa merasakan hangat nafas Mila menyentuh kulitnya, begitu pula sebaliknya.

Untuk pertama kalinya, Bayu merasakan jarak sedekat ini dengan seorang wanita. Terlalu dekat. Nafas Mila semakin terasa hangat mengenai wajahnya, membawa aroma tubuh yang samar. Pandangannya tanpa sadar tertambat pada bibir Mila lembab, sedikit terbuka, seolah mengundang sekaligus menantang kendali dirinya.

Ada dorongan aneh yang menguat di dadanya. Naluri primitif yang membuat jemarinya gatal, ingin menggenggam, ingin memastikan bahwa kehangatan itu nyata bahkan hanya sekilas, meski hanya sekali.

“Mila!”

Suara tajam itu memecah udara.

Panggilan dari dalam rumah membuat Mila tersentak. Namanya seolah seperti cambuk menariknya kembali ke kenyataan. Mata Mila membesar, lalu segera menunduk. Jantungnya berdegup kencang, hampir menenggelamkan suara langkahnya sendiri.

“A-aku … akan mengembalikannya setelah dicuci,” ucapnya tergesa sambil mundur dua langkah. Wajahnya memanas, pipinya merona tanpa bisa ia kendalikan.

Bayu tak bergerak. Masih berdiri di tempat, menahan nafas yang terasa berat di dadanya.

“Ka-kalau begitu … aku masuk dulu!” Mila berbalik cepat, langkahnya hampir berlari sebelum pintu menelannya ke dalam rumah.

Sunyi kembali ia rasakan.

Bayu menghembuskan napas kasar, tangannya mengepal pelan.

Hampir saja.

Satu tarikan nafas lagi, satu detik lagi dan segalanya mungkin sudah berbeda. Bayangan bibir Mila masih tertinggal di benaknya, begitu dekat hingga terasa menyiksa.

Dengan langkah gontai, Bayu akhirnya berbalik dan melanjutkan jalan pulang. Punggungnya perlahan menghilang ditelan lorong gelap, sementara pikirannya masih dipenuhi sisa-sisa kehangatan yang belum sempat terjadi.

Namun ia tak tahu dari kejauhan, sepasang mata telah menjadi saksi bisu.

Dari balik jendela kamar lantai dua, seorang wanita bersandar pada kusen dengan tubuh setengah terbalut cahaya lampu temaram. Asap rokok tipis melayang di udara ketika matanya menyipit, mengikuti sosok Bayu yang menjauh.

Rara.

Pelacur paling terkenal di wilayah itu. Cantik, berpengaruh, dan terbiasa menjadi pusat perhatian.

Tatapannya kembali ke arah Mila yang baru saja masuk ke dalam rumah.

“Siapa pria tampan itu …?” gumamnya pelan.

Alis Rara terangkat tipis, kepalanya dimiringkan penuh selidik. Ia melihat dengan jelas jarak mereka yang terlalu dekat, cara Mila menatap pria itu, dan baju pria yang kini membungkus tubuh gadis muda itu.

“Mengantar Mila sampai ke sini … bahkan memberikan bajunya?”

Bibir Rara melengkung tipis, bukan senyuman biasa tapi lebih mirip tanda bahaya.

Ada sesuatu yang terlewat olehnya.

Dan Rara tidak suka ketinggalan sesuatu yang menarik.

Esoknya di siang itu udara pasar terasa lebih berat dari biasanya.

Bayu melangkah mendekati toko beras milik Tarji dan langsung menyadari ada yang janggal. Para buruh angkut yang biasanya sibuk mondar-mandir kini hanya berdiri bergerombol di depan toko. Tidak ada karung yang diangkat, tidak ada teriakan aba-aba hanya bisik-bisik dan wajah-wajah tegang.

Bayu menangkap sosok Adi di antara

mereka. Ia segera menghampiri.

“Di, kenapa kalian nggak masuk kerja?” tanya Bayu pelan.

Adi menoleh. Raut wajahnya kusut, matanya lelah.

“Gini, Bay … Pak Tarji udah nggak mau pakai buruh banyak-banyak lagi.”

Bayu mengernyit. “Maksudnya?”

Adi menghela nafas panjang. “Kayaknya gara-gara kemarin. Kamu ngangkat semua sendirian. Pak Tarji mikir … cukup kamu aja.”

Kata-kata itu jatuh seperti beban di dada Bayu.

Beberapa buruh lain menoleh ke arahnya. Tatapan mereka campur aduk kecewa, kesal, dan sedikit iri. Bukan kebencian, tapi rasa tersingkirkan. Bayu merasakannya dengan jelas.

“Eh, Bayu!”

Suara Tarji memecah suasana.

Bayu menoleh. “Iya, Pak.”

Tarji melangkah keluar dari toko dengan wajah sumringah. “Hari ini kamu bisa masukin semua beras itu, kan? Seperti kemarin.”

Bayu terdiam. Pandangannya beralih ke tumpukan karung beras … lalu ke para buruh yang berdiri diam, menunggu nasib.

Tangannya mengepal pelan.

“Maaf, Pak,” ucap Bayu akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. “Saya nggak bisa kerja sendirian.”

Senyum Tarji langsung menghilang.

“Hah?” matanya membelalak. “Kamu yakin? Jangan sok idealis, Bayu. Kalau kamu nolak, kamu nggak bisa kerja di sini lagi.” Nada itu dingin. Ancaman yang tidak disembunyikan.

Bayu mengangguk pelan. Tidak ada keraguan di matanya.

“Kalau begitu … hari ini saya pulang, Pak.”

Ia berbalik.

Langkahnya mantap. Di belakangnya, suasana mendadak senyap. Para buruh menatap punggung Bayu kali ini bukan dengan kecewa, melainkan rasa respek karena tindakannya membuat Tarji mau tak mau menerima semua buruh itu untuk bekerja kembali.

Namun, dalam hati Bayu kini ia tidak bisa mendapatkan uang tambahan. Berkat bekerja sebagai buruh di toko beras Tarji. Dia selama ini bisa mendapatkan penghasilan lebih.

Seperti biasa ia kembali berjalan melewati jalan yang sama. Di berbagai gang, berbagai aktifitas terjadi. Beberapa tindakan ilegal seperti seperti transaksi penjualan obat terlarang, seseorang yang dipululi, hingga hal tak senonoh yang sering dilihatnya.

Bahu Bayu menurut, keringatnya mengalir, mulutnya beberapa menghela nafas kasar. Kali ini Bayu berniat untuk tidak terpancing oleh suara-suara wanita pelacur yang mendesah.

Tak, tak!

Suara sepatu hak tinggi, meski tidak terlalu tinggi.

Di hadapannya terlihat Rara berhenti tepat di depan Bayu. Sedangkan pandangan Bayu yang menunduk. Kini melihat kaki jenjang seorang wanita. Sangat mulus hingga membuatnya penasaran.

Perlahan ia menatap dari ujung kaki lalu naik perlahan. Gaun ketat pendek sepaha, dengan lingkaran leher yang terbuka. Menampilkan lekukan aset berharga yang montok, padat. Jika disentuh satu tangan akan terasa penuh.

Gluk!

Bayu menelan ludah, kali ini ia berhadapan dengan pelacur paling cantik.

“Apa sudah puas, liat-liatnya?” Rara mendekat. Entah apa yang dilakukannya. Tapi ia mencoba mengendus bau di butuh Bayu.

Sementara Bayu menahan nafas, ikut mencium bau tubuhnya sendiri.

“Tidak bau, tapi kenapa mereka bilang kau bau?” Mata Rara menelisik wajah Bayu yang separuh tertutup rambut. “Perlihatkan wajahmu!”

Kipas Rara sengaja mengenai dagu Bayu.

Sebenarnya ia sempat menanyai siapa pria yang ditemu Mila sebelumnya. Tapi gadis itu bilang kalau yang ditemuinya adalah Bayu. Pria paling jelek di kawasan itu.

Bayu mengikuti perintah Rara. Ia mengusap rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. Wajahnya kini terlihat jelas, tampan tidak seperti yang orang lain katakan.

“Apa kau sengaja menyembunyikan wajah tampan ini?” Rara menarik baju bayu hingga membuatnya jinjit. Bukan hanya itu kali ini ia menarik Bayu masuk ke dalam gang sempit itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Godong alas
Bayu oh bayu
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 342

    Menulis “Heh... lihat itu!” Ray menyeringai penuh kemenangan. “Pasti orang-orang ketua kami mulai bergerak. Sebentar lagi kantor ini bakal gempar!” Ia tertawa keras bersama anak buahnya. Namun, beberapa detik kemudian, senyum para polisi yang semula santai perlahan memudar. “Ya... baik, Pak!” Seorang anggota polisi yang menerima telepon langsung berdiri tegak. Wajahnya berubah pucat. Belum sempat ia meletakkan gagang telepon, sambungan lain kembali berdering. “Siap, Jenderal!” Kali ini suara polisi itu bahkan terdengar bergetar. Ray mulai mengernyitkan dahi. "Ada apa?" gumamnya pelan. Belum selesai rasa penasarannya, telepon di meja kepala komisaris ikut berdering. Kepala komisaris menghela napas, lalu mengangkatnya dengan wajah kesal. “Ya, saya sendiri.” Beberapa detik kemudian... Ekspresinya berubah drastis. “Ba-Baik, Pak! Siap laksanakan!” Tangannya gemetar saat menutup telepon. Ruangan yang tadi dipenuhi suara tawa kini berubah sunyi. Kepala k

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 341

    Tetapi Bambang juga berpikir bagaimana jika para rekan bisnisnya merasa risih terlalu banyak bodyguard di sampingnya jadi itulah mengapa dia ingin yang lainnya mengawasi dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi tidak juga terlalu jauh. Brak! Suara meja yang dibanting seorang pria datang sambil menghembuskan asap rokok ia tidak sendirian melainkan satu rombongan masuk ke dalam restoran lalu mereka melihat ke arah Bambang yang sedang duduk baru saja menandatangani kontraknya dengan Hendra. “Mana yang namanya Bambang?!” teriak pria sarkas yang sedang menuju ke meja tempat Bambang duduk. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menggigil ketakutan. Mereka takut para pria itu akan menyerang mereka semua. “Kamu Bambang? Huh!” Pria berbadan besar tinggi itu menarik seorang pria di antara pelanggan yang tidak tahu apa-apa. “Bu-bukan, ampun pak!” Pria berbadan besar bernama Ray itu l

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 340

    Mereka bersama selama beberapa hari saat menenani Bambang tidak hanya Bayu saja tapi ada satu orang lagi yaitu sekretarisnya. Jadi kemanapun mereka pergi Bayu dan sekretarisnya tetap ikut menemani Bambang.“Di sini tempatnya?” tanya Bambang pada sekretarisnya yang sedang menyetir saat mobil akan sampai di sebuah restoran cepat saji untuk pertemuannya dengan seorang pengusaha setempat.Pria berkacamata dengan tubuh tinggi kurus, ia beranam Romi sang sekretaris seorang pegawai setia di perusahaan Bambang dan sekarang usianya sudah tiga puluhan tahun.“Ya, Pak! Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan pada kita. Jadi aku akan berhenti di sini lali Pak Bambang bisa masuk ke dalam lebih dulu bersama Bayu karena aku akan memarkirkan mobil setelahnya.” Setelah mobil berhenti Romo keluar untuk membukakan pintu untuk Bambang. Sedangkan Bayu sudah keluar bersamaan dengannya dan selalu siaga, berjaga memantau kondisi sekitar.“Bayu gimana

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 339

    “Kalian sudah sampai!” Joni menghampiri Sandro, Rian, Doni.“Iya dong, kan misi kita udah selesai. Kalian gimana? Kapan sampainya?” tanya Sandro sambil menoleh pada Bayi dan Teo setelah melihat Joni.“Sampai kemarin malam. Jadi kalian kenapa baliknya lama?” Joni duduk sambil balik bertanya.“Itu karena mobil yang menjemput kami lama. Kan mobilnya kalian yang pakai,” sindir Doni.“Hehehe … iya juga ya!” Joni malah tertawa.Rian melihat ke arah Teo dan Bayu. “Kalian habis dari mana?” “Dari kantin kok, biasa sarapan.” Bayu menjawab cepat.“Ah, iya kami lupa sarapan di bawah.” Doni menepuk jidatnya lalu menoleh ke arah Rian dan Sandro. “Kita turun yuk!” ajaknya.“Turun?” Rian menoleh.“Kita belum sarapan, cepat nanti kita kehabisan makanan di bawah!” Rian segera bergegas lalu mengajak Sandro. “Aku juga mau sarapan! San, ayo cepat kamu juga belum makan kan?”“Tapi aku mau masaka masa kali

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 338

    Melihat itu Bayu juga ikut karena mumpung ada di bawah sekalian saja makan di kantin. “Aku juga mau sarapan, ah!” Mereka sama-sama mengambil makanan secara prasmanan. Jadi bisa pilih sendiri mau makan lauk yang mana. Makanan yang tersaji di atas meja semuanya masih panas karena baru matang, uap panasnya mengepul tipis di usaha tepat di setiap atas makanannya. Sedangkan Bayu ambil yang lauk daging tumis dan seporsi nasi, lalu ada buah pisang. Tidak lupa air mineral diambilnya juga membuat di kedua tangannya penuh pegangan.“Ayo kita duduk di sini saja lebih dekat!” Joni yang tidak mau lama-lama pilih tempat duduk.“Ya aku rasa sebaiknya kita duduk dekat sini. Aku udah laper banget.” Melihat Teo dan Joni, Bayu pun ikut duduk berhadapan dengan mereka berdua. Mereka mulai makan sarat masing-masing sambil mengunyah.“Tadi kamu makan sayur sawi nggak?” tanya Teo saat menepikan sayur sawi di piringnya.Melihat sayur itu Bayu lan

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 337

    Makanan yang dipesan Bayu tadi koni sudah diletakkan di atas meja dengan sangat rapi. Setelah itu barulah pelayan hotel keluar dari kamar mereka.Klek!Di saat yang sama Rara pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang sengaja belum mengelap karena membiarkan sisah air.“Sini cepat duduk di sini kita mau makan. Sebaiknya kamu cepat ke sini b_-_–;¡¡iar nanti aku bantu keringkan rambutmu.” Bayu menggeser kursi di depannya agar Rara bisa langsung duduk.Drek!Suara tarikan kursi yang baru saja digeser Bayu, kemudian Rara akhirnya mendudukinya kursi tersebut Mereka mulai menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela.“Gimana, makanannya?” Bayu bertanya setelah dirinya selesai makan.Rara mengangguk. “Enak, banget rasanya. Aku sampai kenyang sekali setelah makan.” “Karena makannya sudah selesai sini aku akan batu kamu mengeringkan rambutmu.” Bayu segera mengambil handuk kecil lalu berdiri di belakang Rara yang masih duduk di kursinya.Den

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status