تسجيل الدخولMobil pun melaju di jalanan yang sudah lenggang tidak lagi ramai. Namun lampu kota menghiasi sepanjang jalan yang mereka lalui hingga tidak terasa akhirnya mobil pun sampai di kediaman Manoban. Berhenti area parkir namun ternyata stevia malah bersikap manja terhadap Bayu. Saat Bayu membukakan pintu dia bukannya keluar malah menarik tangan Bayu masuk kembali ke dalam mobil.“Ah, Non! Eh, Stevia kenapa menarikku ke dalam?” Bayu menahan diri yang hampir saja jatuh menindih tubuh Stevia.Kedua tangannya menahan di kedua sisi agar tidak menindih Stevia yang berada di bawahnya. Nafasnya sempat bertahan ia takut jika sampai membuat wanita di bawahnya terluka.“Stevia, nggak apa-apa kan? Aku hampir menindihmu!” Bayu terdengar khawatir.Dengan senyum nakal di bibir Stevia, ia malah menyentuh wajah Bayu dengan lembut. Tatapannya begitu dalam seolah sedang memberitahukan keinginannya.Di bawah sana tangan Stevia menyentuh benda milik Bayu,
Tinju Bayu menghantam dada Arjuna. Serangan itu sangat cepat, dua kali lebih cepat dari kecepatan pukulan normalnya. Arjuna terdorong mundur dua langkah. Sorakan penonton di arena semakin keras. “Serang dia, Arjuna!” “Bayu! Hajar dia!” Namun Arjuna kembali maju tanpa ragu. Ia menurunkan sedikit tubuhnya lalu meluncurkan kombinasi pukulan bertubi-tubi. Satu ke perut. Satu ke rahang. Satu lagi ke arah bahu. Bayu menangkis sebagian serangan itu, namun satu pukulan tetap mengenai tubuhnya. Dukh! Tubuh Bayu terdorong mundur lagi. Nafasnya mulai berat. Di sisi lain, Arjuna juga mulai terlihat kelelahan. Keringat menetes dari wajahnya dan nafasnya semakin kasar. Namun tatapan mereka tetap tajam. Tidak ada yang ingin menyerah. Arjuna kembali melangkah maju. Bayu juga maju keduanya mengayunkan tinju pada saat yang sama. Bugh!! Tinju mereka kembali saling mengenai wajah masing-masing. Lalu mereka terpental mundur. Bayu mundur tiga langkah. Arjuna juga mundur tiga langkah. Ked
Pantas saja Basri tidak diberitahu siapa lawan yang akan melawan Bayu. Staf yang biasanya memberitahu Basri kalau pertarungan Bayu akan dimulai biasanya dia memberitahukan siapa lawannya. Namun, kali ini tidak diberitahukan. Basri hanya mengira tidak mungkin bagi mereka untuk menyandingkan Bayu untuk sementara melawan Arjuna. Akan tetapi ternyata ini di luar dugaan dan pertarungan akan segera dimulai. Ting, Ting! Tanda pertarungan dimulai dan wasit yang menghitung di tengah antara dua petarung kini mulai mundur. Lalu membiarkan kedua petarung itu mulai bertarung. Udara di antara keduanya terasa berat bahkan Bayu merasa kalau atmosfer yang dirasakannya dari lawan cukup mengintimidasi. Saat keduanya maju dan saling menyerang satu sama lain, pukulan dari Arjuna langsung melesat tanpa aba-aba mengarah ke wajah Bayu. Mata Bayu mengoreksi kecepatan dari kepalan tinju Arjuna yang hampir saja mengenai tulang pipinya untungnya detik terakhir ia menghindar tepat waktu. Hampir saja …
Saat matanya menatap ke kerumunan ternyata terlihat Basri baru saja datang, Dia terlihat berjalan cepat sambil melihat ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sosok yang dicarinya. Lalu saat pandangannya melihat ke depan ia melihat Bayu yang berdiri tepat di hadapannya.“Ah, Bayu. Akhirnya aku nemuin kamu di sini! Oh ya, aku dengar kamu datang ke sini dengan sama orang itu. Apa … dia itu si Nona seperti dugaanku?”Meski nafas Basri masih ngos-ngosan tapi ia tetap memastikan ucapannya pada Bayu karena baru saja mendengar kalau Bayu datang bersama Stevia.“Eum … ya, seperti yang Bang Basri dengar. Aku datang bersama nona Stevia,” jawab Bayu sambil mengangguk. Basri baru saja hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara dentingan dari arena tiba-tiba berdentang.Ting, ting!Suara itu menggema ke seluruh ruangan, menandakan pertarungan di ring baru saja berakhir.Perhatian mereka langsung teralihkan. Semua kepala di
Ia kembali melanjutkan, “Jadi, kamu meragukan Bayu?” “Eum … yah. Aku sebenarnya masih agak meragukannya tapi sama sekali tidak ada bukti mengarah kalau Bayu itu sering memegang senapan atau pistol.”Tangan Alex mengepal. “Namun, sepertinya … aku harus menerima kenyataan, kalau Bayu memang memiliki kemampuan dan juga bakat alami.”Stevia hanya menghela nafas. “Kamu ini ada-ada aja, nggak mungkin lah Bayu itu pernah pegang senjata kayak gitu. Apalagi menjadi salah satu dari kelompok jahat di di luar sana. Aku tahu kamu mencemaskan itu.”“Ya harus aku akui, awalnya aku juga sempat mengira kalau Bayu itu mungkin saja adalah seorang bawahan seseorang yang menyamar.”“Itu nggak mungkin,” protes Stevia langsung. “Aku sendiri yang sudah memeriksa semua latar belakangnya, sebelum aku menjadikannya orangku.”“Ya itu sudah tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi, aku dengar Dia berasal dari daerah kumuh pinggir kota.” Alex mengangkat dagu,
“Selesai dong, aku udah siap-siap dari tadi tahu!” Stevia menggandeng tangan Bayu. “Kalau gitu, kita berangkat sekarang.” Stevia mengangguk lalu mereka pun menuruni tangga bersama. Saat tiba di garasi mobil terlihat Pak Jo sedang mengelap mobil yang akan dibawa oleh Bayu. “Eh Pak Jo,” sapa Bayu. Pak Jo langsung menoleh. “Mobilnya mau dipakai sekarang ya?” “Iya nih, Pak!” Bayu membuka pintu belakang lalu Stevia pun masuk ke dalam.“Eh nona ikut juga ya,” bisik pak Jo. “Iya, soalnya katanya sih mau lihat tempat itu.” “Kalau gitu hati-hati ya, Bayu!” Bayu hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, ia menyalakan mesin dan mobil pun bergerak meninggalkan kediaman. Di perjalanan Bayu menoleh ke belakang sebentar lalu bertanya, “Nona nggak apa nih, ikut aku ke sana? Kayaknya latihannya nanti bakal lama loh!”Stevia yang sedang duduk santai di belakang hanya mengangguk pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. “Iya nggak apa. Lagian kan aku pengen lihat sejauh mana kamu sudah
Deru kendaraan melintas cepat di sampingnya. Angin dari mobil yang lewat mengibaskan ujung rambut gondrongnya. Matahari mulai condong ke barat, menyiramkan cahaya keemasan yang memantul di keringat yang membasahi leher dan lengannya.Saat lampu lalu lintas memberi celah, Bayu melangkah m
Dan lebih mengejutkan lagi sinyal penuh terpampang di sudut layar. Artinya, kartu jaringan sudah terpasang.Nama penelepon tertera jelas. Nonaku yang cantik.Jantung Bayu berdetak lebih keras.Siapa …? Ia menelan ludah. Ibu jarinya yang sedikit gemetar menggeser layar hijau
Basri menepuk jidatnya. Ia ingat betul kalau Stevia tertarik pada Bayu bahkan sampai melihat langsung ke pertandingan dan berdiri di antara penonton. Hanya saja tidak ada yang melihatnya waktu itu atau mungkin hanya Manajer Soma yang mengetahuinya.“Menurutku, kamu itu ganteng lo! Cuman agak gimana
Sementara kondisi Tasya kini semakin gawat. Ia mulai lemas karena darahnya terus menetes. Stevia dengan cepat menahan bagian darah yang keluar dari perut Tasya.“Tasya, aku akan membawamu ke rumah sakit. Kamu harus bertahan sebentar!” Suara Stevia terdengar panik.Bayu buru-buru mendekati mereka da







