ANMELDENAkhirnya Welas kembali diantar ibunya untuk tidur ke atas ranjang. Tapi ranjang anaknya terlihat berantakan dan ada bekas cairan di sprei terlihat seperti ompol.“Nak kamu nggak ngompol? Di sprei banyak bekas—”Dengan cepat Welas memotong, “Ah ini nggak kok Bu! Ini keringat barusan kan Ibu pegang aku memang banyak berkeringat.”“Iya juga ya, jadi ibu cuma salah sangka aja barusan. Ya udah kalau gitu kamu istirahat lagi saja, oh iya udah minum obat belum?”“Udah kok tadi,” jawab Welas dengan cepat.Mendengar itu sang ibu langsung menghela nafas lega sambil mengelus pelan dadanya.“Tidur yang nyenyak ya, Nak!” ucap si Ibu lalu di balas anggukan oleh Welas.Kemudian pintu kamar pun kembali tertutup dengan rapat. Seketika Welas langsung menghela nafas lega, ia yang sejak tadi merasa deg-degan karena takut jika salah kata atau meninggalkan bekas bercinta yang membuat ibunya mencurigainya. Sudah membuatnya sangat takut jika sa
“Kamu menjempitku dengan kuat, apa kamu berniat untuk membuat milikku putus?”Bisikan Bayu di telinga Welas membuat gadis itu semakin bergairah. Sedangkan Bayu yang merasakannya ikut membuat batangnya agak membesar di dalam sehingga Welas merasa sesak di dalam sana.“Hnggaah … aah, ahh! Enak, rasanya enak banget! Hnggh … haah, ahh!” Goyangan pinggul Bayu semakin cepat membuat Welas merem melek merasakan nikmatnya bercinta. Welas tidak pernah merasakan senikmat ini sebelumnya, Bayu benar-benar membuatnya keenakan hingga ia sudah muncrat duluan berulang kali.Saking nikmatnya tubuh Welas sampai menggeliat keenakan. Namun …Plok, plok!Bayu tetap menghujam lubang miliknya meski tahu Welas baru saja muncrat.“Aahh … Bayu! Tu-tunggu sebentar, aku baru saja muncrat dan masih sensitif ahhnghh!”Bayu sama sekali tidak mendengarkannya ia hanya mencium bibir Welas agar membuatnya diam.Bayu melepaskan ciuman. “U
Dari jarak dekat Welas dapat melihat dengan jelas wajah Bayu yang memerah, belum lagi tubuh Bayu terasa tegang saat ia menyentuh dada bidangnya lalu pindah meraih wajahnya agar menunduk ke bawah.Matanya menatap Bayu dan begitupun sebaliknya. Pantulan sinar bulan di mata Welas membuat Bayu larut dalam tatapannya. Belum lagi penerangan di sana yang agar remang-remang karena di pedesaan tidak terlalu terang, tidak seperti di kota yang mana banyak lampu-lampu.Lama kelamaan Bayu akhirnya terpikat akan godaan dan wajah cantik Welas yang sejak tadi terus mendekatinya. Sehingga perlahan wajah mereka berdekatan sampai akhirnya Bayu tidak bisa menahan dorongan untuk tidak mencium Welas.Awalnya ia coba mengecup bibir mungil gadis itu lalu menjatnya, Bayu merasa bibir Welas terasa manis akhirnya ia pun mulai membuka mulut gadis itu dan memasukkan lidahnya.Lidah mereka saling melumat satu sama lain. Perlahan membuat ciuman terasa semakin panas dan terasa g
“Makanya aku panggil kalian untuk pergi ke sini. Tadinya mau aku sendiri yang panggil tapi Warso bilang lebih baik suruh anak-anak itu.” Bayu pun menoleh pada Warso. “Oh iya, ini uang mu tadi aku ganti.”Warso melihat Bayu yang mengeluarkan uang lima puluh ribu. Ia sontak langsung menolaknya.“Tidak usah, lagian cuma dikit aja kok. Jadi nggak perlu diganti kalian ini kan tamu terhormat di desa ini.” Tangan Warso mendorong pelan tangan Bayu yang menyodorkan uang padanya.“Kalau gitu makasih, udah bantuin aku dari kemarin kamu selalu bantu terus aku jadi nggak enak.” Bayu kembali memasukkan uang ke dalam sakunya.“Sudahlah lagian kan kalian duluan yang udah bantu kami. Jadi ini bukan apa-apa santai saja ayo kita nikmati acara tari malam ini.”Mereka pun kembali menonton tarian dengan tenang. Hingga sampai ke akhir acara di mana banyak para pria yang ikut serta menari bersama penari. Mereka menari sambil menyawer pars penari yang ada di
“Sip pokoknya besok kita beli joran pancing. Terus nanti Bayu kasih tahu tempat kamu mancing ya!” Bayu yang baru saja selesai makan langsung minum lebih dulu lalu menjawab, “Siap besok kita berangkat pagi-pagi soalnya kalo pagi pasti sungainya sepi.”“Iya, mereka kan akan sibuk di ladang,” tambah Teo.“Oh iya, aku habis makan mau mandi dulu nanti mau pergi keluar.” Bayu masuk ke dalam kamar mandi.Sedangkan Joni langsung mencuci piring dan Teo pergi merokok ke teras rumah. Malam harinya … Di desa Bayu yang sedang berjalan-jalan melihat beberapa anak-anak yang sedang bermain berlarian. Lampu-lampu juga terlihat lebih terang dari biasanya, beberapa orang dewasa juga sedang berkumpul beramai-ramai. Mereka semua tampak sangat bergembira.Tapi Bayu malah terlihat senang melihat suasana desa yang ramai tidak seperti sebelumnya. Karena sebelumnya desa itu selalu sepi ketika malam hari mereka juga jarang keluar dari rumah. Ja
Ikan yang berukuran sama seperti sebelumnya kembali didapat Warso. Ikan itu bahkan masih menyentak-nyentak dengan kail belum lepas di mulutnya. Warso pun sigap melepaskannya lalu memasukkan ikan ke dalam embernya.“Wah … mantap kamu udah dapat dua!” Bayu ikut senang melihat ikan tangkapan itu, ia pun menoleh ke dalam ember melihat ikan itu berenang-renang di ember kecil.“Tenang bentar lagi kamu juga dapat tunggu aja.” Warso kembali memasang umpan baru setelah itu melemparkannya lagi ke dalam air.Dengan sabar Bayu masih menunggu sembari melihat keadaan sekitar, banyak pepohonan yang rindang sehingga mereka tidak kepanasan saat dudu di sana.Meski air sungai tidak jernih, warnanya memang butek tapi sungai itu terkenal karena banyak ikannya. Sehingga banyak yang sering memancing di sana.Pandangan mata Bayu masih setia melihat pancingan miliknya hingga pada akhirnya joran pancing bergerak sedikit ujungnya lali mulai perlahan tali pancing







