Compartilhar

Ban 73

Autor: Lailiela
last update Data de publicação: 2026-03-17 09:35:29

Jadi sekarang Bayu langsung pergi menemui Basri lebih awal dari biasanya.

Bis sampai di tempat tujuan, Bayu segera turun setelah ia membayar ongkos.

Gedung tua yang di sebut Delune itu tampak tidak menarik jika dilihat dari luar tapi saat Bayu sudah berada di dalamnya. Di sana bagaikan surganya para penjudi.

Suara ramai langsung menyambutnya saat ia menginjakkan kaki di dalamnya. Deretan meja judi dikelilingi para penjudi yang sedang bermain, bertaruh deng
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 172

    “Tidak,” protes Bayu. “Biar aku saja yang bawakan Mbak. Soalnya Mbak juga pasti lagi ada kerjaan lain.” “Kalau dipikir-pikir iya juga sih. Aku masih ada kerjaan banyak, tumpukan baju yang belum disetrika dan dilipat masih berada di ruang gosok. Kalau gitu kamu aja yang antar.”Sri jadi lesu karena mengingat tumpukan pakaian yang belum disetrikanya. Sedangkan Bayu melihat sekeliling mencari keberadaan Rini yang biasanya membantu Sri tapi tidak ada.“Mbak Rini tumben nggak keliatan,” celetuknya.“Oh … tadi aku menyuruhnya untuk pergi membeli belanjaan dapur mungkin nanti pulangnya. Tadi sih dia pergi ikut sama Non Selvi dan Pak Jo, jadi kayaknya nanti diantar sama pak Jo lagi pulangnya.”“Pantesan aku nggak lihat dia. Soalnya biasanya kan Mbak Rini yang bantuin.” “Iya, biar dia belajar pergi sendiri. Soalnya kemarin-kemarin kan belanjanya sama aku terus bahkan udah aku ajarin juga.” Sri mulai mematikan kompor hingga berbunyi ‘cet

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 171

    “Nona, sudah bersiap?” tanya Bayu lalu segera ikut meraih tangan Stevia untuk membantunya berjalan.“Ayo pegangan sama aku saja. Dokter bilang Nona sudah bisa benar-benar pulang sekarang?” “Iya, barusan dokternya masuk ke sini terus kamu masuk saat dia udah keluar,” jawab Stevia.“Urusan administrasi sudah selesai?” Bayu meraih kursi roda yang dibawa suster lalu mendudukkan Stevia dia tasnya.“Udah, semuanya sudah diurus jadi aku bisa keluar dari rumah sakit hari ini.” Stevia mulai bersandar di kursi rodanya.“Kalau gitu aku akan mendorong Nona sampai ke mobil.” “Ya, tolong ya. Eh, satu lagi aku lupa memberitahukanmu.”Bayu menunduk sebentar lalu melihat ke depan lagi sambil terus berjalan di lorong. “Apa yang belum Nona beritahu?” “Hari ini mungkin pria itu akan datang ke rumah.” Pria itu yang dimaksud Stevia adalah Farhat—tunangannya sendiri. Tentu tanpa menyebutkan nama Bayu juga sudah

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 170

    “Hnggh …!” desahan yang hampir saja keluar dari mulutnya segera Sri tutup dengan tangannya.Plak! Plok! 3xBayu menghentakkan dirinya lebih dalam di tubuh Sri, gerakannya cepat karena sangat terburu-buru. Sambil melihat ke sekeliling Sri menahan suara desahannya tapi disaat yang sama ia merasakan batang Bayu bergerak maju mundur dengan sangat cepat.Kakinya terangkat ke atas meja saat Bayu menghentakkan dirinya masuk lebih dalam. Ritemnya semakin cepat hingga keduanya sama-sama merasakan klimaks dan menyelesaikannya lebih cepat.“Jangan dicabut!” pinta Sri. “Biarkan di dalam saja agar cairannya tidak menetes ke mana-mana.”Dengan nafas yang sama-sama masih tersengal Bayu masih belum mengeluarkan miliknya. Hingga akhirnya cairannya keluar di dalam membuat tubuh Sri sempat menggeliat.Tap, tap!Langkah suara kaki berjalan masuk dari pintu belakang terdengar. Saat itu juga jantung Sri dan Bayu berdebar kencang dan mereka me

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 169

    “Ahh … uhunghh, ahh … dalamnya! Cepat gerakin aja langsung!”Mendengar rengekan Selvi membuat jiwa Bayu semakin tertantang untuk membuatnya semakin gacor. Bayu menambahkan goyangan pinggulnya lebih cepat dan hentakan di dalam sana semakin terasa jelas meski beberapa kali Selvi cum sendirian. “Aku masih sensitif, jangan terlalu di tekan dan hentakkan! Aahhnggh …!”Bayu menarik tangan Selvi agar tubuhnya bisa lebih dekat masuk ke dalam saat hentakan di pinggulnya bergerak. Dengan lubang yang berdenyut-denyut menghisap batang Bayu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.“Mau ini mau itu, tadi mau digerakin cepat. Sekarang giliran dicepetin langsung teriak. Kamu gimana sih?” bisik Bayu sambil tersenyum dan bergerak lebih liar lagi.Nafas Selvi sampai terengah-engah merasakan hentakkan di dalam tubuhnya secara bertubi-tubi. Namun, karena nikmat ia hanya semakin mendesah lebih kuat lagi memenuhi sudut kamar.“Akkhh … aahh! Bayu

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 168

    Akan tetapi, meski sadar kalau ternyata ada yang harus dibayar jika menggunakan kekuatan itu Bayu tetap melakukannya. Karena dengan bercumbu dengan wanita dapat menambahkan energi kekuatannya. Menurut Bayu itu adalah hal yang sangat mudah.Dengan wajahnya yang saat ini berubah menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya tentu saja tidak susah bagi Bayu untuk menaklukkan hati wanita manapun. Dan itu semua berkat batu yang sangat berharga baginya, meski sekilas tampak seperti batu perhiasan murahan. Namun, kekuatan yang dimilikinya membuat banyak keuntungan bagi Bayu. Mengingat asal usul batu itu yang hanya didapatkan dari pemberian seorang pria tua yang dibantunya kala itu. Jujur saja Bayu sangat penasaran dengan pria tua yang sudah memberikannya batu itu. Akan tetapi sayangnya jika ingin mengetahui keberadaan pria itu ia harus pergi ke wilayah pinggiran kota untuk mencarinya yang merupakan seorang pedagang keliling.Memikirkan itu membuat Bayu menghela nafa

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 167

    “Hmm … ah, ya. Aku sih pernah dengar soal itu tapi nggak nyangka kalau Tante masih mengurus tempat itu.” Selvi mengetahuinya tapi sengaja tidak menyebutkan gedung Delune.Meski tidak terlalu banyak komentar tentang Delune tapi Selvi sampai menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia bahkan duduk dengan tenang di kursinya sambil mengusap rambut panjangnya ke belakang. Tapi Selvi kembali menatap Bayu. “Jadi apa yang kamu lakukan di sana?” “Apa kamu pernah tahu tentang lantai paling bawah gedung itu? Di sana ada sebuah arena pertarungan tinju bebas, dan aku salah satu petarung yang beradu tinju setiap seminggu sekali.”Mata Selvi membola saat menatap Bayu. “Pantas saja kamu sangat pandai berkelahi.”Mengingat Bayu yang pernah menghajar pars pria yang mengganggu Selvi malam itu. Jadi tidak heran kalau ternyata dia adalah seorang petarung tinju. Fakta itu baru saja diketahui Selvi hari ini.“Lalu Tanteku apa dia tahu? Atau karena itu di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status