แชร์

Ban 72

ผู้เขียน: Lailiela
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-16 17:37:24

Sementara di luar kamar terlihat Selvi sedang berdiri di depan kamar Bayu. Pintu kamar agak terbuka sedikit karena Stevia tidak menutupnya dengan rapat saat masuk.

Tangan Selvi mengeremas ujung dres piyama yang dipakainya. Tadinya ia berniat untuk masuk lebih dulu ke kamar Bayu. Namun, karena sebelumnya ia menyempatkan mandi terlebih dahulu jadi agak lama.

Selvi berniat untuk tidur bersama Bayu. Namun, itu tidak bisa dilakukannya karena Stevia sedang bersama Bayu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 274

    Dari jarak dekat Welas dapat melihat dengan jelas wajah Bayu yang memerah, belum lagi tubuh Bayu terasa tegang saat ia menyentuh dada bidangnya lalu pindah meraih wajahnya agar menunduk ke bawah.Matanya menatap Bayu dan begitupun sebaliknya. Pantulan sinar bulan di mata Welas membuat Bayu larut dalam tatapannya. Belum lagi penerangan di sana yang agar remang-remang karena di pedesaan tidak terlalu terang, tidak seperti di kota yang mana banyak lampu-lampu.Lama kelamaan Bayu akhirnya terpikat akan godaan dan wajah cantik Welas yang sejak tadi terus mendekatinya. Sehingga perlahan wajah mereka berdekatan sampai akhirnya Bayu tidak bisa menahan dorongan untuk tidak mencium Welas.Awalnya ia coba mengecup bibir mungil gadis itu lalu menjatnya, Bayu merasa bibir Welas terasa manis akhirnya ia pun mulai membuka mulut gadis itu dan memasukkan lidahnya.Lidah mereka saling melumat satu sama lain. Perlahan membuat ciuman terasa semakin panas dan terasa g

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 273

    “Makanya aku panggil kalian untuk pergi ke sini. Tadinya mau aku sendiri yang panggil tapi Warso bilang lebih baik suruh anak-anak itu.” Bayu pun menoleh pada Warso. “Oh iya, ini uang mu tadi aku ganti.”Warso melihat Bayu yang mengeluarkan uang lima puluh ribu. Ia sontak langsung menolaknya.“Tidak usah, lagian cuma dikit aja kok. Jadi nggak perlu diganti kalian ini kan tamu terhormat di desa ini.” Tangan Warso mendorong pelan tangan Bayu yang menyodorkan uang padanya.“Kalau gitu makasih, udah bantuin aku dari kemarin kamu selalu bantu terus aku jadi nggak enak.” Bayu kembali memasukkan uang ke dalam sakunya.“Sudahlah lagian kan kalian duluan yang udah bantu kami. Jadi ini bukan apa-apa santai saja ayo kita nikmati acara tari malam ini.”Mereka pun kembali menonton tarian dengan tenang. Hingga sampai ke akhir acara di mana banyak para pria yang ikut serta menari bersama penari. Mereka menari sambil menyawer pars penari yang ada di

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 272

    “Sip pokoknya besok kita beli joran pancing. Terus nanti Bayu kasih tahu tempat kamu mancing ya!” Bayu yang baru saja selesai makan langsung minum lebih dulu lalu menjawab, “Siap besok kita berangkat pagi-pagi soalnya kalo pagi pasti sungainya sepi.”“Iya, mereka kan akan sibuk di ladang,” tambah Teo.“Oh iya, aku habis makan mau mandi dulu nanti mau pergi keluar.” Bayu masuk ke dalam kamar mandi.Sedangkan Joni langsung mencuci piring dan Teo pergi merokok ke teras rumah. Malam harinya … Di desa Bayu yang sedang berjalan-jalan melihat beberapa anak-anak yang sedang bermain berlarian. Lampu-lampu juga terlihat lebih terang dari biasanya, beberapa orang dewasa juga sedang berkumpul beramai-ramai. Mereka semua tampak sangat bergembira.Tapi Bayu malah terlihat senang melihat suasana desa yang ramai tidak seperti sebelumnya. Karena sebelumnya desa itu selalu sepi ketika malam hari mereka juga jarang keluar dari rumah. Ja

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 271

    Ikan yang berukuran sama seperti sebelumnya kembali didapat Warso. Ikan itu bahkan masih menyentak-nyentak dengan kail belum lepas di mulutnya. Warso pun sigap melepaskannya lalu memasukkan ikan ke dalam embernya.“Wah … mantap kamu udah dapat dua!” Bayu ikut senang melihat ikan tangkapan itu, ia pun menoleh ke dalam ember melihat ikan itu berenang-renang di ember kecil.“Tenang bentar lagi kamu juga dapat tunggu aja.” Warso kembali memasang umpan baru setelah itu melemparkannya lagi ke dalam air.Dengan sabar Bayu masih menunggu sembari melihat keadaan sekitar, banyak pepohonan yang rindang sehingga mereka tidak kepanasan saat dudu di sana.Meski air sungai tidak jernih, warnanya memang butek tapi sungai itu terkenal karena banyak ikannya. Sehingga banyak yang sering memancing di sana.Pandangan mata Bayu masih setia melihat pancingan miliknya hingga pada akhirnya joran pancing bergerak sedikit ujungnya lali mulai perlahan tali pancing

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 270

    Ningsih hanya sibuk melihat ke wajah Bayu, bahkan ketika dia berbalik Ningsih masih tetap menatap punggungnya hingga tidak terlihat di ujung jalan.“Ningsih!” panggil Hasan.Suaranya terdengar dari dapur, Ningsih yang mendengar itu tentu langsung berlari menuju ayahnya. Setelah di dapur Ningsih melihat ayahnya sudah berdiri dapur.“Bapak! Maaf Ningsih masuk ke kamar barusan ambil ikat rambut. Tapi nggak nemu karena lupa tadi ditaro dimana.”“Ohh … nggak apa, kirain kamu pergi ke mana tadi.” Hasan kembali berjalan keluar dari area dapur.Ningsih pun kembali melanjutkan mencuci piring sambil sesekali ia bersenandung ria.Sementara itu di tempat lain Bayu dan teman-temannya akhirnya sampai di rumah tempat mereka tinggal sementara.“Haah …! Akhirnya kita sampai juga di rumah!” Teo menghela nafas lega lalu duduk di teras depan.“Ahh, ho'oh mana cape banget lagi plus ngantuk. Untung kita udah makan jadi kenyang dan ng

  • Batu Akik Penakluk Wanita    Bab 269

    Pria paruh baya dengan tubuh yang tidak gemuk tapi juga tidak kurus, kulit sawo matang. Rambutnya tampak masih berwarna hitam meski di pangkalnya ada putih karena rambut tumbuh baru. Karena warna hitamnya sebenarnya itu karena semir.Hasan adalah nama dari kepala desa, ia menghampiri ketiganya. “Kalian ikut denganku, aku akan membawa kalian ke rumahku untuk membicarakan hal penting.”Joni mengangguk. “Baik, kalau begitu kami akan ikut ke sana.” Pandangan Joni melihat ke belakang teman-temannya dan memberi isyarat agar ikut berjalan bersama di belakang.Baik Bayu ataupun Teo langsung mengikuti Joni dan pak kepala desa dari belakang. Hingga pada akhirnya mereka sampai di rumah yang lumayan besar dengan pagar besi. Tok, tok, tok!Hasan mengetuk pintu depan rumahnya samberi menunggu di luar, ia menunggu seseorang membukanya karena pintu terkunci dari dalam.“Ndok! Bukain Bapak, Nak!” Suara Hasan lebih keras lagi karena pin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status