LOGINSementara di luar kamar terlihat Selvi sedang berdiri di depan kamar Bayu. Pintu kamar agak terbuka sedikit karena Stevia tidak menutupnya dengan rapat saat masuk.
Tangan Selvi mengeremas ujung dres piyama yang dipakainya. Tadinya ia berniat untuk masuk lebih dulu ke kamar Bayu. Namun, karena sebelumnya ia menyempatkan mandi terlebih dahulu jadi agak lama. Selvi berniat untuk tidur bersama Bayu. Namun, itu tidak bisa dilakukannya karena Stevia sedang bersama Bayu“Semalam, kamu menginap di rumah siapa?” Stevia membuka suara saat ia selesai makan. “Uhuk, haah air!” Selvi segera meraih segelas air lalu meminumnya. “Makanya pelan-pelan dong!” Setvia mengusap pelan punggung Selvi. “Mau, minum air lagi?” tawarnya. Selvi langsung bergeleng. “Nggak, ini udah mendingan kok.” “Jadi semalam—” “Arni, aku menginap di rumahnya semalam,” potong Selvi langsung dengan lantang. Wajah Stevia terlihat lega dan tampak tidak curiga sedikitpun. “Ohh … gitu, terus Bayu dikasih tempat untuk tidur juga kan?” “Ya, aku menyuruhnya. Tante kan tahu Keluarga Wijaya itu juga cukup kaya. Jadi nggak mungkin kalau mereka nggak bisa nyediain satu kamar doang!” “Iya juga sih. Yah, pokoknya bagus deh. Kalo gitu aku naik dulu. Kamu habiskan makanannya baru boleh ke kamar.” Drek! Suara kursi bergerak mundur ke belakang saat Stevia mulai beranjak dari sana. Ia lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Selvi yang sedang makan tampak lega. Ia segera menghabiskan ma
Bayu hanya mengangguk setelah Stevia menyuruhnya untuk diam di luar ruangan khusus. Tapi karena hanya diam menunggu di sana sepertinya akan cukup lama maka Bayu pun keluar.Baru saja ia berdiri di depan pintu masuk kantor tapi langkah suara kaki seseorang terdengar dari belakang.“Eh, Bayu. Kamu di sini juga!” Suara itu dikenalnya dan ketika ia menoleh ternyata Alex.“Iya, aku datang sama Nona Stevia,” jawab Bayu langsung.“Ah, iya-ya. Stevia kan tadi ada di dalam pantas saja kamu juga ada di sini.” Alex langsung ambil posisi berdiri di samping Bayu.“Tapi, kamu ada urusan apa di sini?”Alex tertawa pelan. “Aku, cuman lagi urus surat izin pengguna senjata aja kok. Eh, kamu gak buat juga? Apa Stevia belum izinin?”Bayu bergeleng pelan. “Aku belum buat, nona juga belum bahas soal itu juga sih.”“Mungkin nanti, tapi mengingat itu sepertinya dia bakal segera bantu kamu urus surat izin.”Tangan Ale
Suara panggilan selesai, Bayu melemparkan ponselnya ke samping masih berada di atas kasur.Selvi menoleh ke belakang. “Gimana, apa dia percaya?” “Ya, dia menitipkanmu padaku untuk dijaga. Tapi lihat ini, kamu bahkan sedang mendesah di bawahku.”Bayu semakin menghentakkan dirinya di sana hingga akhirnya sampai klimaks. Mereka melakukannya di berbagai sudut kamar.“Aahh … aahh! Hnghh … haa!” Tangan Selvi sampai mencengkram kuat kain sprei sambil terus mengeluarkan desahan dan decakan mesuk dari tubuh mereka.Beberapa posisi dalam berhubungan juga mereka coba. Namun, akhirnya mereka selesai juga saat tengah malam di mana Selvi sudah benar-benar lemas tak berdaya lagi.Namun, mulut Bayu masih menghisap salah satu ujung buah dada Selvi sambil meremas sisi yang lainnya.Malam berlalu menyisakan pegal-pegal di tubuh Selvi ketika ia baru saja terbangun dari ranjang. Namun, ia tidak melihat Bayu di sampingnya dan di sudut lain kamar pun tidak ada.Akan tetapi Selvi tidak langsung mencarinya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam dan Bayu pun memesan satu kamar yang cukup luas dan nyaman. “Ada kalo itu untuk satu malam harganya sekitar tiga ratus ribu. Itu yang paling mahal di sini,” jawab staf administrasi yang bekerja.“Boleh deh, saya pesan itu.” Bayu membayar lalu menerima kunci kamar.Ia pun membawa Selvi ke kamar itu, di sepanjang lorong menuju kamar terdengar suara rintihan, desahan, decakan tubuh yang terdengar sampai keluar kamar karena tidak dilengkapi peredam suara yang kedap.Selvi yang pertama kali ke tempat seperti itu langsung merinding mendengarnya.“Apa jika kita melakukannya maka suara kita akan terdengar keluar?” “Untuk apa memikirkan hal itu? Bukankah jika sampai terdengar keluar itu akan semakin menarik? Kamu suka sensasi itukan. Aku yakin bagian dalam mu akan langsung mengetat saat kita melakukan itu nanti.”Meski cara bicara Bayu mulai kotor terhadapnya. Namun, Selvi justru semakin senang karena itu berarti mereka akan berhubungan penuh gairah ke depannya
“Kalo diingat-ingat iya juga ya. Tapi anak itu nggak bikin kamu kesusahan kan?” Stevia mengusap rambutnya ke belakang. “Maksudku, kamu tahu lah sifat manja dan banyak maunya itu. Aku aja nggak sanggup.” “Nggak kok,” jawab Bayu singkat dengan senyum canggung. Dalam hati jika saja Stevia tahu apa yang ia lakukan dan keponakannya itu barusan di mobil. Atau seberapa bergairahnya Selvi saat menggerakkan pinggulnya di atas Bayu. Kebenaran itu pasti akan membuat Stevia tidak menyangka hal itu dan mungkin saja akan membuatnya mengusir atau menyingkirkan Bayu. Tidak lama kemudian mobil sampai di rumah, dengan cepat Bayu membukakan pintu mobil. Stevia yang baru saja keluar dari mobil saat itu juga ponselnya berada dering karena panggilan masuk. Tangannya langsung merokok isi dalam tas dan mengeluarkan ponsel, di layarnya tertulis nama Farhat Pratama. Ekspresi di wajah Stevia tampak enggan untuk mengangkatnya. Sambil berjalan masuk ke rumah Stevia akhirnya menjawab telepon dari calon su
Namun, pria diluar itu tampaknya tidak tahu dengan apa yang terjadi di dalam mobil. Dia terus berjalan pergi jika dipikir-pikir kaca mobil mereka berwarna hitam dan gelap mustahil jika bisa melihat ke dalam.Sementara itu bagian dinding dalam Selvi semakin mengencang, menghimpit milik Bayu di dalam sana.Plok, plok!Tapi itu tidak menghentikan Bayu untuk menghentakkan miliknya hingga mentok di dalam.“Aahh … aahhh, uhh! Rasanya enak banget. Terasa sangat dalam aahh!”Selvi kembali mencium bibir Bayu dengan penuh gairah. Aktivitas panas itu benar-benar semakin membuat keduanya bergairah.Rangsangan kuat dari mulut, dada yang diremas Bayu, belum lagi hentakkan di bawah sana membuat Selvi merasakan kepuasan dalam berhubungan.Dengan tubuh Selvi yang begitu menggoda dan reaksi tubuh yang sensitif membuat Bayu juga merasa nikmat.“Tidak, ini terlalu cepat!”Akhirnya mereka pun sama-sama mencapai klimaks. Cai
Bab ini mengandung 🔞🔞 harap bijak saat berpuasa!“Biarkan aku masuk,” ucapnya dengan terus terang menatap Bayu. Tangan Rara bahkan menahan ujung pintu agar Bayu mau membiarkannya masuk.“Tapi ….” Bayu menoleh ke arah Mila yang sudah kelelahan di atas kasur. “Bagaiman
Bayu meletakkan baju-baju itu di atas kasur miliknya untuk sementara. Lalu dengan cepat setidaknya sebelum pergi kerja ia harus mandi terlebih dahulu.Dinginnya air terasa sangat menyegarkan, Bayu kembali memakai baju yang baru saja diangkatnya dari jemuran. Baju yang tampak kusut itu tetap dipakai
Mengandung 🔞🔞 bagi yang berpuasa harap skip atau baca nanti saat berbuka. Awalnya terasa menyakitkan, hingga entah mengapa rangsangannya menjadi lebih terasa nikmat.“Bayu, aku merasa aneh! Hmmh!” Mila mengigit bibir bawahnya. Rasa aneh yang disebutkannya berubah jadi sensasi
Tentu saja Bayu mengikuti keinginannya, bahkan ia menghentakkan lebih keras hingga mentok.Beberapa kali Bayu ejakulasi di dalam. Sedangkan Rara merasakan sensasi orgasme yang memuaskan hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kali ini gantian Rara sudah lemas, ia melihat Bayu y







