Share

Bab 2

Penulis: Fes
Setelah itu tetap saja asistennya yang mengantarkan obat dan bubur.

Waktu itu dia bahkan membela pria itu, beralasan kalau pria itu memang selalu mementingkan pekerjaan, jadi dia harus mengerti ....

Pesawat mendarat, Yulia langsung kembali ke kantor. "Gerry, draft tulisan soal dugaan manipulasi keuntungan oleh investor Sanjaya udah aku selesaikan."

"Yulia?" Gerry mendongak dari balik komputernya. "Bukannya kamu ambil cuti nikah seminggu? Ini baru hari kedua ...."

"Pekerjaan lebih penting." Dia menyodorkan satu surat permohonan lagi ke hadapan pria itu. "Ini permohonan ke Inggris. Bukannya kantor pusat selalu punya kuota pertukaran? Aku mau ikut."

Pandangan Gerry tertuju pada surat permohonan itu, lalu berhenti di tangan kiri Yulia yang bersandar di tepi meja.

Jari manisnya kosong, padahal sebelumnya ada cincin kawin platinum di sana.

Pria itu paham situasi yang terjadi, lalu membubuhkan tanda tangan di kolom penanggung jawab.

"Perusahaan sebenarnya memang berniat mengutus kamu. Dengan bakatmu, pergi membuka wawasan ke luar bakal bikin kamu punya tempat di dunia jurnalistik nanti."

Yulia tersenyum tipis. "Makasih."

Seharian penuh, dia menenggelamkan diri di antara tumpukan dokumen yang menggunung. Baru setelah punggungnya terasa pegal akibat terlalu lama duduk, dia menarik diri dari pekerjaannya.

Layar ponselnya sudah dipenuhi berbagai pesan yang belum dibaca.

Panggilan tak terjawab dari ayahnya diikuti rentetan pesan singkat bernada emosi, ada juga pertanyaan dari teman-temannya, serta pesan dari Hendra.

Dia mematikan layar ponsel, berjalan keluar dari gedung kantor redaksi, lalu berbelok ke gang kecil yang sudah tidak asing lagi.

Papan nama "Kedai Mie Candi" menyala dengan cahaya kuning hangat.

"Nona Yulia datang?" Ibu pemilik kedai yang sedang merapikan meja tersenyum saat melihatnya. "Hari ini sendirian? Nggak bareng Pak Hendra?"

"Dia sibuk." Yulia berjalan ke tempat biasanya lalu duduk. "Pesan menu andalan satu porsi."

Kedai mie tidak begitu ramai. Tidak berapa lama, semangkuk besar mie dihidangkan. Uap putih membubung menerpa wajahnya, membuat pandangannya agak kabur. Dalam keheningan sejenak, dia seolah melihat Hendra duduk di hadapannya. Itu adalah momen pertama kali dia membawa Hendra ke tempat ini.

Saat itu, rencananya mendekati Hendra baru menunjukkan kemajuan nyata. Pria itu akhirnya mau diajak makan bareng.

Restoran dengan pemandangan indah yang sudah dia pesan beberapa bulan sebelumnya, justru terlewat begitu saja karena dia harus mengintai berita mendadak sampai larut malam.

Melihat restoran yang sudah tutup, rasa kesal dan keputusasaan melingkupinya. Tapi, saat mengeluarkan ponsel, sebuah pesan dari pria itu sudah muncul duluan di layar: [Udah selesai sibuknya? Kirim lokasimu.]

Pria itu ternyata masih menunggu.

Padahal saat itu sudah dini hari dan hanya kedai mie ini yang masih buka. Kencan pertama mereka pun berlalu dengan tidak sempurna seperti itu.

Belakangan, tempat ini menjadi lokasi yang sesekali mereka kunjungi.

Waktu itu dia sempat berpikir, orang dari kalangan elite seperti Hendra mau duduk di kursi plastik menemaninya menghabiskan semangkuk mie, setidaknya pria itu punya sedikit rasa padanya.

Sekarang dia baru sadar, jawabannya sudah tertulis di papan nama. Semua itu hanya karena rasa kuah di sini mirip sekali dengan kedai mie di Jalan Candi Kota Tirta, tempat yang menyimpan kenangan Hendra bersama perempuan lain.

Perutnya mendadak merasa mual, dia memaksakan diri makan beberapa suapan.

Pintu kayu didobrak kasar. Angin dingin berembus mengiringi beberapa pria berpenampilan preman yang menerobos masuk, dipimpin oleh seorang pria berambut pirang.

"Hei tua bangka, cuma kedai kalian di sepanjang jalan ini yang nggak bayar jatah, ya!"

Para pengunjung yang tersisa ketakutan dan berhamburan kabur. Dalam sekejap, hanya Yulia yang masih duduk di tempatnya.

Melihat orang-orang sudah kabur, si rambut pirang mengangkat dagunya. "Hancurkan!"

Meja dan kursi dibalikkan, piring dan mangkuk pecah berantakan. Ibu pemilik kedai dan koki didorong keluar, lalu dikepung oleh rombongan itu yang bersiap main fisik.

"Hentikan." Yulia berdiri dan mengeluarkan kartu identitasnya. "Aku wartawan. Kalau kalian teruskan, foto kalian bakal terpajang di halaman utama berita kriminal besok."

"Ada yang nggak takut mati lagi?" Si rambut pirang menyipitkan mata, melangkah mendekatinya perlahan dengan tatapan mesum. "Mukanya lumayan juga. Tapi, sebelum ikut campur urusan orang, mending pikirkan dulu cara menyelamatkan diri sendiri."

"Jauh-jauh dari aku!" Ekspresi Yulia mendingin.

"Galak juga ya." Si rambut pirang mengulurkan tangan hendak merabanya.

Yulia mengibaskan tangannya dengan keras. Suara tamparan nyaring bergema, seketika membuat seluruh kedai hening.

Si rambut pirang memalingkan wajah, bekas tamparan kemerahan membekas di pipinya.

"Sialan, dikasih hati malah minta jantung!" Pria itu memaki marah sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap membalas tamparan dengan keras.

"Cukup."

Suara berat seorang pria terdengar dari arah pintu. Pada saat yang sama, tangan si rambut pirang ditahan. Dua pria berjas muncul di ambang pintu, salah satu dari merekalah yang menahan pergelangan tangan preman itu.

Di antara kedua pria berjas itu, seorang pria berbalut mantel melangkah masuk. Dia adalah Hendra.

Pandangannya menyapu kekacauan di dalam kedai, lalu terhenti sejenak di tubuh Yulia.

Situasi berbalik seketika. Rombongan si rambut pirang diangkut oleh polisi, sementara ibu pemilik kedai memapah koki sambil berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Hendra dan Yulia.

Ekspresi Hendra tampak datar, dia memberi perintah, "Bawa mereka berdua ke rumah sakit buat diperiksa."

Kedai mie kembali hening. Angin malam bertiup menerpa tubuh, membuat Yulia refleks mencengkeram bahunya yang kedinginan.

Sebuah mantel hangat perlahan dilingkarkan ke bahunya. Hendra berdiri di sampingnya, suaranya terdengar sedikit lebih lembut dibanding tadi, "Aku antar kamu pulang."

Yulia tidak melangkah. Dia menunduk, menatap pecahan keramik di lantai.

"Marah?" tanya Hendra pelan. "Soal pernikahan itu, aku yang salah ...."

"Aku nggak marah." Yulia memotong ucapannya. Tepat saat kalimat yang sudah tertahan lama di tenggorokannya hendak diucapkan, suara dingin seorang perempuan mendadak memotong, "Hendra, kamu buru-buru balik cuma buat ketemu dia?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status