Share

Bayang Asmara yang Pudar
Bayang Asmara yang Pudar
Author: Fes

Bab 1

Author: Fes
Pintu bar didobrak, beberapa anak buah bernoda darah merangkak masuk sambil berteriak marah, "Hendra! Kamu udah pensiun belasan tahun dan hari ini melanggar pantangan demi cewek, apa nggak takut kena karma?"

Hendra berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan sombong.

"Takutlah. Udah sumpah nggak bakal main darah lagi dan mau jadi pengusaha baik-baik."

"Tapi kamu udah tahu Reni itu bekas cewekku, masih berani usik dia dan maksa aku turun tangan?"

Hendra di depannya terasa sangat asing, hingga meskipun suasana bar hening mencekam, telinga Yulia justru terasa berdengung.

"Reni kerja nggak pakai aturan! Udah memutus tiga jalur rezeki kami!" Pria di barisan depan memaki menahan sakit, "Hendra, kamu keparat malah bela kejahatan! Demi cewek kayak gini kamu bikin heboh, apa nggak takut kedengaran sama wartawan yang mau kamu nikahi itu?"

Hendra mengangkat tangan tanpa ekspresi. Orang-orang di belakangnya langsung maju. Setelah beberapa suara benturan keras, kekacauan pun berakhir.

"Bawa beberapa orang ini, serahkan ke Reni buat diurus," perintahnya sambil menoleh.

Tepat saat dia berbalik hendak pergi, pandangannya terhenti ketika menyapu sudut ruangan.

Yulia mengira Hendra melihatnya.

Namun, seseorang di samping Hendra justru datang melapor.

"Kak Reni udah sadar, tapi emosinya histeris dan megang pecahan kaca mau melukai diri sendiri!"

Hendra seketika memindahkan pandangannya, lalu buru-buru melangkah pergi.

Musik kembali terdengar, orang-orang di lantai dansa mulai menggoyangkan tubuh lagi.

Hanya Yulia yang berdiri di tempatnya, menatap punggung Hendra yang telah menghilang, dengan seluruh tubuh terasa dingin.

"Nona, kamu nggak apa-apa?" tanya bartender dengan niat baik.

Dia menggelengkan kepala.

Bartender itu tersenyum dan berkata, "Baru pertama kali datang terus ketakutan itu wajar. Tapi udah lama juga nggak lihat Kak Hendra bikin keributan sebesar ini. Kami kira hubungan cinta masa kecil mereka udah beneran putus, nggak nyangka ya."

Ujung jarinya gemetar. "Cinta masa kecil?"

"Iya." Bartender itu mengelap gelas. "Kak Hendra sama Kak Reni itu dulu berjuang bareng dari dunia mafia. Habis itu mereka bagi kekuasaan, bahkan Kak Hendra rela pensiun demi Kak Reni."

Dia menghela napas. "Cuma sayangnya, dua-duanya terlalu gengsi. Waktu berantem, nggak ada yang mau ngalah. Belakangan Kak Hendra pergi dan nggak pernah balik lagi. Nggak nyangka kali ini begitu Kak Reni bahaya, dia malah rela ninggalin tunangannya demi ke sini."

Tenggorokan Yulia terasa tercekat.

Bartender itu membungkuk dan mencari-cari di bawah meja kasir, lalu mengeluarkan sebuah foto lama.

"Nih, tempat kami masih simpan foto waktu Kak Hendra lamar dulu. Coba lihat, cocok banget, 'kan?"

Di tengah foto itu, Hendra berlutut dengan satu kaki. Kaos hitam polosnya memancarkan jiwa muda yang liar dan bebas. Dia mendongak menatap Reni, dengan senyuman lebar yang tampak lepas dan menyala-nyala.

Sangat berbeda dengan "Pak Hendra" yang dia kenal, yang kancing kemejanya selalu terpasang rapi sampai atas, lengan bajunya tak berkerut sedikit pun, sudut senyumnya selalu terukur sempurna.

Dan wajah perempuan itu .…

Dia mendadak mengalihkan pandangan, sementara tangannya yang memegang gelas agak gemetar.

Tatapan bartender bolak-balik antara wajahnya dan foto tersebut. "Kamu sama Kak Reni lumayan mirip ya. Tapi pembawaannya beda banget. Kak Reni itu galak berduri, kalau kamu kelihatan banget kayak orang terpelajar."

Malam itu, dia duduk di depan meja bar, mendengarkan masa lalu Hendra dan Reni dari bartender secara bertubi-tubi hingga menyakiti dirinya sendiri. Saat itulah dia baru menyadari, ternyata begini rasanya kalau Hendra benar-benar menyukai seseorang.

Bukannya seperti saat memperlakukannya, yang ramah dan lembut, tapi tidak pernah memasukkannya ke dalam hati.

Fajar menyingsing, Yulia berjalan keluar ke gang belakang. Ponselnya bergetar, menampilkan panggilan dari ayahnya, Arif Andria.

Cecaran omelan langsung menyergapnya, "Kamu gimana sih, jaga cowok aja nggak becus? Udah dikejar-kejar sekian lama, pas hari pernikahan malah ditinggal gitu aja. Muka Keluarga Andria udah habis kamu permalukan!"

"Kamu cepat suruh Pak Hendra balik buat bereskan pernikahan, kalau nggak, Ayah anggap nggak punya anak kayak kamu!"

"Aku nggak mau nikah lagi."

Setelah mengucapkan hal itu, tanpa peduli pada makian ayahnya, Yulia langsung mematikan telepon.

Saat menyeberang jalan, dari kejauhan dia melihat kedai bubur di pinggir jalan. Tampak Hendra dan seorang wanita duduk di dekat jendela.

Rambut wanita itu terurai panjang, dialah Reni yang ada di dalam foto. Dia sedang menyantap buburnya perlahan, sementara Hendra merobek-robek cakwe di piring menjadi potongan kecil dengan telaten, lalu menggesernya ke dekat tangan wanita itu.

Ini adalah kebiasaan yang hanya bisa terbentuk setelah bertahun-tahun bersama.

Yulia mendadak teringat, saat dia demam tinggi tahun lalu dan merasa sangat menderita, dia tidak tahan untuk menelepon Hendra, tapi yang didapatkannya hanyalah kalimat untuk beristirahat dengan baik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status