แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Fes
Yulia menoleh.

Ini pertama kalinya dia dan Reni bertemu.

Alis Hendra bertaut. "Kok nggak istirahat baik-baik?"

"Siapa juga yang butuh kamu atur?" Reni menyunggingkan senyum sinis. "Lagian kamu juga nggak peduli, tapi sok-sokan balik demi jadi pahlawan kesiangan."

Pria itu melangkah mendekati Reni, lalu membujuknya dengan suara pelan, "Jangan bikin ulah, lukamu belum sembuh, aku suruh orang antar kamu pulang."

Ekspresi seperti itu membuat Yulia melihat sisi hidup yang tidak pernah dimiliki oleh "Pak Hendra". Dia tidak mengatakan apa-apa, lalu pergi sendirian dengan tenang.

Esok paginya, dia menerima telepon dari perencana pernikahan.

"Halo Nona Yulia, maaf mengganggu. Mengenai beberapa barang berharga yang dibutuhkan untuk pernikahan Anda dan Pak Hendra, saat ini masih tersimpan di ruang besi hotel kami. Izin bertanya, apa Anda ada waktu dalam waktu dekat untuk mengambilnya."

Yulia memijat pelipisnya. "Tolong kirim aja."

Nada bicara pihak sana terdengar serbasalah, "Nona Yulia, nilai barang-barang ini sangat tinggi. Peraturan hotel kami mewajibkan barang seperti ini dipastikan dan diambil langsung oleh pengantin."

Dia hening beberapa saat. "Baiklah, aku ambil."

Penanggung jawabnya adalah seorang wanita muda. Begitu melihatnya, wanita itu langsung tersenyum.

"Nona Yulia, silakan lewat sini."

Dia diantar ke ruang penerimaan tamu yang privat. Di atas meja pamer berbahan beludru, barang-barang berkilauan memancarkan cahaya memukau.

Tepat di bagian tengah terdapat sepasang cincin berlian yang memantulkan kilau memikat di bawah sorotan lampu. Cincin ini pernah dimenangkan Hendra dalam sebuah lelang. Waktu itu, karena merasa warna berlian merah muda ini sangat cocok dengan pembawaannya, Yulia sempat diam-diam merasa bahagia dalam waktu yang lama.

Di sampingnya terdapat dua set gaun. Keliman gaunnya dihiasi sulaman tangan bermotif bunga lili yang rumit, dikirim langsung oleh Hendra menggunakan armada udara dari Paris, padahal dia menyukai bunga napas bayi.

Ada pula perhiasan yang senada, tudung pengantin .... Setiap barang itu nilainya tidak main-main.

Nada bicara wanita itu menyiratkan rasa sayang, tapi Yulia hanya menatapnya dalam diam.

"Oh iya, ada ini juga." Penanggung jawab menyalin rekaman video dari komputer lalu menyerahkannya. "Ini video tanya jawab kekompakan yang kami jadikan agenda rekaman. Perencana acara bilang hasilnya bagus banget, tadinya mau diputar saat pembukaan acara."

Yulia tertegun sejenak, baru teringat hal ini.

Waktu itu, perencana acara mengusulkan untuk menambah sesi yang seru. Mereka masing-masing diberi lima pertanyaan untuk menguji kekompakan. Jawabannya akan diumumkan saat pernikahan.

"Makasih." Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tanpa sengaja entah siapa yang menyenggol komputer, layar besar menyala dan video mulai berputar.

Sosok Hendra muncul di layar.

Pria itu duduk di ruang wawancara berhias hangat, mengenakan kemeja putih polos. Ini adalah penampilan santai pria itu yang jarang dia lihat secara pribadi.

Suara di luar layar adalah suara ceria sang perencana acara. "Pak Hendra, udah siap? Pertanyaan pertama, kapan Anda pertama kali jatuh hati sama Nona Yulia?"

Hendra di layar tampak jeda sejenak. "Pertanyaan ini, jawabanku dan Yulia mungkin beda. Soalnya waktu itu, dia nggak lihat aku."

"Oh?" Perencana acara mendesak penjelasannya. "Bisa diceritakan lebih detail? Apa Nona Yulia waktu itu kelihatan sangat cantik sampai membuat Anda jatuh cinta pada pandangan pertama?"

Hendra terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala.

"Nggak, penampilannya waktu itu bisa dibilang jauh dari kata bagus, malah agak berantakan. Rambutnya acak-acakan dan mukanya penuh luka."

Perencana acara heran. "Lalu kenapa?"

"Waktu itu dia dipojokkan dan diancam orang, disuruh belajar berita mana yang boleh ditulis dan mana yang nggak boleh. Tapi dia?" Senyum di sudut bibir Hendra makin dalam. "Dia cuma menatap orang itu sambil tersenyum tipis, lalu bilang kalau apa yang dia tulis adalah apa yang memang harus ditulis."

"Saat itu aku berpikir, kok bisa ada cewek yang tetap kelihatan begitu santai dalam situasi seperti itu."

Perencana acara kaget. "Astaga, nggak kelihatan ya, Nona Yulia yang kelihatan lembut begini ternyata bisa mengucapkan kalimat seperti itu."

Video masih terus berputar, tapi Yulia sudah tidak bisa mendengarnya lagi.

Telinganya berdengung, digantikan oleh suara lain yang bercampur dengan bisingnya latar belakang bar. Suara itu adalah nada santai dari bartender.

"Jangan lihat Kak Hendra yang kayak sekarang, kalau ngomong kalimat manis juga jago banget. Waktu itu rombongan mereka lagi main kejujuran atau tantangan di sini, ada yang tanya ke Kak Hendra, sebenarnya suka apa dari Kak Reni, secara sifat Kak Reni 'kan galak banget."

"Kak Hendra bilang, itu karena Kak Reni punya jiwa santai yang nggak dimiliki orang lain."

"Waktu itu ada orang yang menculik Kak Reni. Buat mempermalukan Kak Hendra, orang itu menyuruhnya berlutut baru mau melepaskan Kak Reni. Tapi, Kak Reni nggak membiarkannya. Dia bilang ke Kak Hendra, 'Cuma masalah hidup dan mati, apa yang perlu ditakuti?', lalu memutuskan tali berbekal usahanya sendiri."

"Kak Hendra bilang, saat itu dia merasa, di saat benar-benar sendirian tanpa bantuan, ternyata masih ada cewek yang bisa berucap begitu tenang dan santai."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status