Share

Bab 6

Author: Fes
Yulia memegang ponselnya, merasakan rasa dingin yang merembes dari sela-sela tulang hingga menenggelamkan dirinya.

Di balik Sanjaya Kapital ada Hendra. Jadi, meskipun tahu betul kalau laporan itu nyata, pria itu tetap memilih memakai cara ini untuk membantahnya.

Tapi, dia tidak punya waktu buat bersedih.

Dia bergegas kembali ke kantor redaksi, merapikan dan mencadangkan ulang semua sumber data, lalu bersiap merilis klarifikasi. Dia tidak boleh membiarkan reputasi kantor redaksi rusak dan kerja keras rekan-rekannya terbuang sia-sia cuma gara-gara dirinya.

Tapi, pas membawa draf tulisan itu untuk menemui Gerry, yang dia lihat justru sorot mata pria itu yang menghindar.

Pria itu menggeser sebuah amplop ke hadapannya, tempat tulisan "Surat Pengunduran Diri" terukir jelas baris demi baris.

"Maaf." Suara Gerry terdengar serak dan kering, "Kamu dibimbing oleh tanganku sendiri. Melihatmu tumbuh jadi wartawan yang begitu hebat, aku sangat bangga."

Bagi Yulia, Gerry adalah atasan, mentor, sekaligus pembimbing jalannya.

Karena itu, dia cuma bertanya satu kalimat, "Apa ada orang yang menekan Anda?"

Gerry mengangguk. "Yulia, aku harap kamu bisa mengerti, orang yang harus aku lindungi masih ada banyak."

Yulia paham, lalu menerima surat pengunduran diri itu dengan kedua tangannya.

Kemudian, dia mundur satu langkah dan membungkuk dalam-dalam ke arah Gerry.

Mata Gerry memerah, dia memalingkan wajah baru bisa menenangkan suaranya. "Tapi, permohonan studi ke Inggris berhasil aku pertahankan buat kamu. Kamu bisa pergi atas nama pribadi, berangkat tiga hari lagi."

"Makasih."

Yulia melangkah keluar dari gedung kantor redaksi, bersandar di pagar tepi jalan, lalu menatap ke kejauhan dalam diam.

Tidak jauh dari sana, terdengar keributan dan makian kasar.

Seorang lansia yang berjualan barang-barang kecil sedang didorong dan diusir orang, barang-barangnya berserakan di tanah.

Yulia refleks berlari ke sana, tangannya terulur ke dalam saku, dan kalimat "aku wartawan" hampir saja terlontar dari mulutnya.

Namun, ujung jarinya cuma menyentuh kain saku yang kosong.

Tangan yang terulur itu kaku di udara.

Pria yang mendorong lansia itu meliriknya dengan mata menyipit, nada bicaranya tidak sabaran, "Lihat-lihat apa? Kalau nggak ada urusan jangan halangi jalan!"

Pada saat itu, dia merasa agak linglung.

Pada akhirnya dia tidak bisa melakukan apa-apa, cuma membantu lansia itu memungut barang-barang yang berserakan dalam diam, lalu kembali ke apartemen tempat tinggalnya bersama Hendra, karena semua dokumen pentingnya ada di sana.

Dia pikir pada jam segini Hendra harusnya ada di kantor.

Tapi setelah membuka pintu, dia justru melihat Hendra mengenakan celemek abu-abu tua di dapur terbuka, sedang menyajikan sepiring ikan kukus ke atas meja bar dapur.

Reni duduk di kursi tinggi, menopang dagu sambil agak memiringkan kepala menatap pria itu.

"Garamnya kebanyakan."

"Masa, sih?" Hendra mencicipinya langsung dari tangan Reni. "Lumayan kok, lidahmu aja yang kebiasaan hambar."

"Jelas-jelas kebanyakan, dulu kamu nggak pernah bikin salah begini," keluh Reni.

"Udah lama nggak masak, makanya kaku." Hendra menyahut menuruti kemauannya.

"Nggak mungkin, 'kan?" Reni mengangkat alis, matanya melirik Yulia yang mematung di ambang pintu, "Biasanya kamu nggak pernah masak buat dia? Dulu kamu 'kan tiap hari masak dengan berbagai variasi menu buat aku, kok giliran ganti orang malah pilih kasih gini?"

Kalimat itu membuat udara seketika membeku.

Hendra yang pertama kali bereaksi, menatap ke arah Yulia. "Kok pulang cepat banget?"

"Iya, di kantor lagi nggak ada urusan." Yulia menjawab asal, lalu berjalan lurus menuju kamar tidur. Dia cuma ingin mengambil dokumennya lalu pergi.

"Karena udah pulang, sekalian makan bareng aja." Suara Hendra terdengar dari belakang.

Yulia melirik ke meja makan, empat masakan dan satu sup, lengkap secara warna maupun aroma.

Kenal Hendra selama tiga tahun, ini pertama kalinya dia tahu kalau ternyata kemampuan memasak pria itu sebagus ini.

"Nggak usah."

Yulia menemukan tas dokumennya di dalam laci kamar tidur, lalu bergegas pergi.

Di belakangnya terdengar suara Reni yang penuh tawa serta sahutan pelan dari Hendra. Detail pembicaraannya sudah tidak terdengar jelas olehnya, dia juga tidak ingin mendengarnya lagi.

Melangkah keluar dari rumah, ponsel di dalam tasnya mulai bergetar.

Ibunya yang menelepon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status