Short
Aku Menyaksikan Hatinya yang Perlahan Menjadi Tandus

Aku Menyaksikan Hatinya yang Perlahan Menjadi Tandus

By:  MickeyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
1.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku memiliki sebuah rahasia. Setiap kali bersentuhan dengan siapa pun, aku bisa melihat wajah orang yang paling mereka cintai. Sejak Nadhil pindah ke sebelah rumahku saat kami berusia tujuh tahun, di dalam hatinya hanya ada aku. Pada usia delapan belas tahun, saat dia menggenggam tanganku, orang yang ada di hatinya adalah aku. Saat berusia dua puluh dua tahun dan melamarku, yang di hatinya tetap aku. Pada malam pertama pernikahan kami, saat dia menciumku, yang ada di hatinya tetap aku. Pagi hari saat hari peringatan tiga tahun pernikahan kami, aku merapikan kerah bajunya. Saat ujung jariku menyentuh jakunnya, seperti biasa aku memejamkan mata sejenak. Namun, saat itu aku melihat dua wajah. Satu adalah wajahku, satunya lagi wajah seorang perempuan yang asing. Malam itu, layar ponsel Nadhil menyala. [Kak Nadhil, makasih ya, sudah menemaniku hari ini.] Dua puluh satu tahun, seratus ribu kali sentuhan. Untuk pertama kalinya, kemampuanku meleset.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku sudah memesan restoran sejak sebulan sebelumnya untuk merayakan hari peringatan pernikahan kami.

Aku mengenakan gaun merah yang pernah dia puji, serta sepasang anting mutiara yang dia hadiahkan kepadaku.

Pukul enam sore, aku baru selesai berganti pakaian dan sedang memasang antingku di depan cermin.

Telepon darinya masuk.

“Ada perjalanan dinas mendadak. Malam ini aku nggak bisa pulang.”

Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa. Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup teleponnya.

Ini pertama kalinya dia menutup telepon lebih dulu dariku.

Aku menatap diriku di dalam cermin. Satu anting sudah terpasang, sementara yang satunya lagi masih bergoyang di bawah telingaku.

Nayara meneleponku dan berkata, “Kalau begitu, aku yang akan menemanimu.”

Dia datang menjemputku dan mengajakku makan di sebuah restoran Barat.

Mobil berhenti di depan restoran itu. Saat hendak mendorong pintu, tanganku tiba-tiba terhenti di gagang pintu.

Nadhil tampak di kursi dekat jendela.

Seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh lima atau dua puluh enam tahun duduk di hadapannya. Saat tersenyum, lesung pipi kecil muncul di sudut bibirnya.

Nadhil mengulurkan tangan, lalu mengusap krim di sudut bibir perempuan itu dengan ibu jarinya.

Sejak kami berusia delapan belas tahun hingga sekarang, dia selalu melakukan gerakan itu kepadaku.

Nayara juga melihatnya dan langsung ingin menerobos masuk.

Aku segera menahan tangannya. “Jangan masuk.”

“Siapa perempuan itu?”

“Aku juga nggak tahu.”

Pukul sebelas malam dia pulang sambil membawa seikat mawar merah, sama seperti setiap hari peringatan pernikahan kami.

Setelah selesai mandi, dia memelukku dari belakang, dagunya bertumpu di atas kepalaku.

“Viona, maaf soal hari ini. Aku janji akan menebusnya di lain waktu.”

Aku memejamkan mata sejenak. Ada dua wajah yang muncul bergantian, wajahku dan wajah perempuan itu. Masing-masing menempati separuhnya.

Selama dua puluh satu tahun, untuk pertama kalinya aku melihat ada orang lain di dalam hatinya.

Setelah dia tertidur, aku memeriksa ponselnya.

Kata sandinya masih tanggal lahirku dan belum diubah.

Percakapan dengan Angela disematkan paling atas.

Percakapan mereka dimulai sejak setengah tahun lalu. Dari urusan pekerjaan perlahan berubah menjadi obrolan sehari-hari, dari sekadar [baik, mengerti] perlahan berubah menjadi [selamat tidur].

Ada salah satu pesan darinya, [Hari ini suasana hatiku sedang buruk. Aku mau makan yang manis.]

Lalu, dia membalas, [Nanti, aku belikan kue krim berlapis dari toko yang di bawah.]

Pesan lain berbunyi, [Restoran yang waktu itu kamu rekomendasikan, aku sudah coba sendiri. Rasanya nggak enak. Lain kali temani aku ke sana, ya.]

Pesan terbaru adalah yang dikirim malam ini, [Kak Nadhil, makasih, ya, sudah menemaniku hari ini.]

Aku meletakkan ponsel itu dan kembali berbaring di tempat tidur.

Dia membalikkan badan, lalu seperti biasa merangkulku ke dalam pelukannya dan menggumamkan sesuatu dalam tidurnya.

Aku bertanya padanya, “Hari ini kamu menemani siapa?”

Dalam tidurnya, dia hanya bergumam pelan, lalu memelukku semakin erat.

“Menemani klien.”

Aku tidak bertanya lagi.

...

Keesokan paginya, dia mengecup keningku sebelum berangkat.

“Sayang, kemarin aku benar-benar nggak sempat. Akhir pekan nanti aku akan mengajakmu berendam di pemandian air panas.”

Senyumnya sama persis seperti dulu.

Aku menatapnya beberapa saat, lalu menjawab, “Baiklah.”

Setelah dia pergi, aku melipat gaun merah itu dengan rapi dan menyimpannya di bagian paling bawah lemari.

Siang harinya, Nayara menelepon dan menanyakan keadaanku.

Selama beberapa detik, tak ada suara dari seberang telepon.

“Viona, sejak usia tujuh tahun, hanya dia yang ada di matamu.”

“Ya, aku tahu.”

“Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan?”

Aku memandang ke luar jendela. Langit membentang biru, tanpa sehelai awan pun.

“Aku juga nggak tahu.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status