Share

Bab 5

Author: Fes
Rilisnya siaran pers tentang Sanjaya Kapital langsung memicu gelombang keributan besar.

Perbincangan publik soal masalah ini terus memanas, hingga pihak kapital misterius itu mengirimkan surat undangan kepada Yulia dan menyatakan, "Berharap bisa mendiskusikan beberapa detail laporan secara baik-baik."

Pelayan membimbingnya melewati koridor berkarpet peredam suara, lalu berhenti di depan pintu kayu mahoni yang tebal.

Ruangan privat itu berdesain klasik bergaya oriental, di dalamnya sudah ada seseorang yang berdiri.

Menatap wajah itu, Yulia hampir kehilangan kemampuan untuk berpikir.

Reni.

"Bu Yulia yang terhormat, senang bertemu denganmu." Reni melangkah maju sambil mengulurkan tangan. "Perkenalkan, aku Reni dari Sanjaya Kapital."

Dia memaksakan dirinya mengulurkan tangan, berjabat tangan sejenak dengan wanita itu.

"Kamu ... kenapa bisa ada di sini?"

Reni bersikap anggun. "Ngapain pura-pura kaget gitu? Kamu 'kan udah tahu dari awal kalau bos sebenarnya dari Sanjaya Kapital itu Hendra. Kamu sengaja mendekati dia, ngejar dia habis-habisan, bahkan nikah sama dia, bukannya cuma buat menyelidiki rahasia internal dan dapat informasi dari tangan pertama?"

Tuduhan yang merendahkan itu membuat Yulia tanpa sadar mengepalkan tangan. Dia menggunakan rasa sakit di telapak tangannya untuk mengembalikan kesadaran.

"Aku nggak pernah punya pikiran kayak gitu."

"Nggak penting." Reni sama sekali tidak peduli. "Aku cuma kasihan aja sama kamu. Udah membuang semua harga diri cewek demi ngejar cowok, tapi pas hari pernikahan, tetap aja dibuang gitu aja kayak sampah."

Sudut bibir Reni terangkat tipis. "Cewek itu harusnya lebih jual mahal sedikit. Dulu pas Hendra tahu dia suka sama aku, dia langsung ngejar dengan berbagai cara. Mau itu nembak atau ngelamar, dia yang selalu ngomong duluan. Soalnya dia bilang, hal kayak gini harus cowok yang lakukan, dia nggak tega biarkan cewek yang dia cintai melakukan hal begitu."

Kata-kata seperti ini sudah sering Yulia dengar dalam berbagai versi dari banyak orang sejak dia memutuskan untuk mengejar Hendra.

Harusnya dia sudah kebal, tapi saat ini, mendengarnya langsung dari mulut Reni membuatnya merasa sangat malu dan pedih yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tapi, dia segera merapikan emosinya dan menyambut tatapan Reni.

"Aku nggak pernah berpikir kalau menyukai seseorang dan mengejarnya dengan berani itu sesuatu yang pantas diejek. Sedangkan kamu …." Nada suara Yulia tenang, tapi menyimpan getaran tipis yang sulit disadari. "Merebut hubungan orang lain, lalu punya hak apa kamu mengejek ketulusanku di sini?"

Tatapan mata Reni seketika dingin, lalu dia tertawa.

"Mental wartawan besar memang beda dari yang lain ya." Dia berdiri, melangkah pelan ke sisi lain ruangan privat. "Cuma aku nggak tahu, sebentar lagi kamu masih bisa setenang ini atau nggak."

Dia mengulurkan tangan, menekan dinding dengan pelan. Panel dinding bergeser tanpa suara, memperlihatkan ruangan privat yang lebih besar di baliknya. Lewat kaca satu arah yang khusus ini, suara dari dalam ruangan terdengar jelas.

"Hendra tetaplah Hendra. Udah pensiun belasan tahun, sekali bertindak langsung mengganti semua penguasa gang belakang. Keberanian kayak gini nggak ada yang bisa menandingi kamu di sini." Seorang pria dengan suara yang agak familier berseloroh.

"Aku dengar-dengar, Nona Yulia itu menjual semua perhiasan dan gaun pernikahan sebagai barang bekas. Aksi kaburmu pas nikahan beneran bikin dia marah besar. Kalian masih mau lanjut nikah nggak?" Yang berbicara adalah seorang pemuda kaya raya.

Setelah keheningan singkat, terdengar suara Hendra.

"Makanya, cari waktu lain buat dilanjutkan."

"Masih mau lanjut?" Nada suara pemuda kaya itu penuh dengan ketidaksetujuan. "Hendra, bukannya aku mau ikut campur, mending batalkan aja. Toh di hatimu isinya cuma Reni, mending manfaatkan kesempatan ini buat putus total sama Keluarga Andria itu."

"Meskipun kakekmu nggak suka sama Reni, tapi udah bertahun-tahun berlalu, asal sikapmu tegas, kakekmu cepat atau lambat pasti bakal luluh. Ngapain menyeret cewek itu lagi? Dia cuma wartawan baik-baik, nggak sejalan sama kamu."

Yulia merasa sampai ujung jarinya mulai mati rasa. Menatap profil wajah Reni yang tampak tenang dan puas, dia memahami tujuan dari jebakan ini.

"Dia orang yang sangat cocok buat dinikahi." Suara Hendra terdengar melewati pembatas, dingin dan rasional. "Latar belakang keluarganya bersih, sifatnya lembut, tahu batasan, bisa menjalankan peran sebagai Nyonya Hendra dengan baik, punya perasaan sama aku, apalagi ...."

Dia berhenti sejenak. "Aku nggak mau pernikahan mengikat Reni, dia harusnya bebas."

Bunyi "duar" bergema.

Telinga Yulia mendadak berdengung keras, pandangannya menggelap hingga membuatnya hampir tidak bisa berdiri tegak.

Semua imajinasi dan harapannya hancur berkeping-keping oleh kalimat yang diucapkan secara santai itu.

Dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, lalu melarikan diri dengan panik.

Koridor masih terasa tenang. Barulah setelah keluar dari pintu utama kelab, dia bisa berhenti. Matanya terasa sangat sembap dan perih, tapi tidak ada satu tetes air mata pun yang keluar.

Tepat pada saat itu, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat. Dia refleks mengangkatnya, dan suara Gerry langsung meledak di telinganya.

"Yulia, kamu di mana? Sanjaya Kapital baru aja mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka membantah total laporanmu, bilang sumber datamu nggak benar, ada dugaan jahat, mereka mau menuntut kamu secara hukum."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status