Share

Bab 7

Author: Fes
"Yulia, udah makan belum? Kapan mau balik bareng Hendra lagi? Masalah pernikahan 'kan tetap harus dibicarakan bareng ...."

"Bu." Yulia memotong pembicaraannya. "Aku nggak akan nikah sama dia."

Ujung telepon hening beberapa detik. Suara ibunya terdengar lagi, penuh ketakutan yang sudah menjadi kebiasaannya. "Hendra itu kriterianya bagus banget, sama kamu juga baik. Nggak gampang loh ketemu orang kayak gitu. Kamu jangan manja, asal orangnya baik, hal lainnya tahan-tahan aja nanti juga lewat."

Tahan lagi.

Ibunya bertahan seumur hidup, bertahan sampai kehilangan seluruh harga diri, bertahan sampai mengira memang inilah takdir yang harus dijalani seorang wanita.

Dada Yulia terasa sesak dan sakit luar biasa.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya, "Bu, Ibu mau nggak ikut pergi sama aku?"

"Pergi?" Ibunya ragu-ragu. "Ayahmu baru saja bersikap agak baik sama Ibu belakangan ini. Kalau Ibu pergi, mau ke mana? Yulia, kamu jangan impulsif. Nikah sama Hendra, ayahmu sangat puas sama dia. Dengan begitu keluarga kita ...."

Kata-kata selanjutnya tidak Yulia dengarkan lagi.

Dia memejamkan mata, menahan rasa sesak di tenggorokannya, lalu berbisik pelan, "Nanti aku telepon lagi," lalu mematikan telepon.

Tidak jauh dari sana, layar LED raksasa sedang menayangkan berita bisnis. Presenter wanita berbicara dengan artikulasi yang mantap dan jelas.

"Kabarnya, Ibu Reni dari Kota Tirta belakangan ini tampil dengan sikap tegas dan resmi menjabat sebagai CEO Sanjaya Kapital. Menurut sumber internal, Ibu Reni mendapat dukungan dari kapital misterius di belakangnya."

"Selain itu, menurut wawancara eksklusif wartawan kami, wartawan bermarga Andria yang sebelumnya memicu keributan karena melaporkan manipulasi keuntungan Sanjaya Kapital telah mengundurkan diri hari ini. Saat ini belum jelas apakah pihak Sanjaya Kapital akan tetap mengajukan tuntutan hukum terhadap yang bersangkutan."

"Di samping itu, stasiun kami memahami bahwa wartawan ini memang memiliki reputasi yang kontroversial, pernah beberapa kali memanfaatkan statusnya untuk menekan orang lain, bahkan sesumbar akan menyeret orang yang tidak disukainya ke berita sosial ...."

Layar menampilkan potongan wawancara malam itu di warung mie, tempat pria rambut kuning meluapkan kekesalannya sambil menuding.

Pejalan kaki yang berhenti menonton mulai bergosip.

"Wartawan zaman sekarang, demi cari perhatian apa saja berani ditulis!"

"Betul, nggak bertanggung jawab, harusnya dituntut aja!"

"Dengar-dengar cewek pula, kok bisanya se-angkuh itu."

Yulia berdiri di tempatnya, menatap berita yang bergulir di layar dan mendengarkan perkataan orang-orang itu, merasa tidak paham dengan perasaannya saat ini.

Dia menekuni profesi wartawan selama bertahun-tahun. Setiap laporan disusun dengan menimbang tiap kata, setiap data diverifikasi berulang kali. Dia tidak pernah memalu-malukan kartu pers di dadanya, tidak pernah mempermalukan hati nuraninya.

Namun sekarang, kebenaran ditutupi dengan mudahnya, keteguhannya dianggap sebagai "tindakan semena-mena" oleh orang lain.

Tanpa peringatan, tetesan hujan seukuran biji jagung jatuh menimpa bumi.

Pejalan kaki berteriak kaget dan berlarian mencari tempat berteduh, hanya Yulia yang tetap berdiri di tempatnya.

Air hujan dengan cepat mengaburkan pandangannya.

Dalam keburaman itu, dia melihat di seberang sudut jalan, sekeluarga bertiga berlindung di bawah satu payung. Ayahnya mengangkat anak perempuannya tinggi-tinggi ke atas bahu sambil tertawa renyah.

Melihat pasangan kekasih muda berdesakan di bawah satu payung, pria merangkul pasangannya ke dalam pelukannya ....

Setiap orang punya tempat untuk pulang, hanya dia yang seperti dibuang di tengah tirai hujan yang dingin.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa kembali ke apartemennya. Tanpa mengganti pakaiannya yang basah kuyup, dia melangkah sempoyongan ke samping sofa, lalu ambruk seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis.

Sebelum kesadarannya tenggelam dalam kegelapan, dia cuma merasakan seluruh tubuhnya menggigil kedinginan.

Dia tahu dirinya demam, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan, bahkan untuk mengangkat satu jari pun tidak ada tenaga.

Kesadarannya mengapung di antara setengah mimpi dan setengah sadar. Dalam linglung, dia seolah melayang ke udara, melihat semuanya dari atas ....

Dia melihat ibunya dibujuk hanya dengan beberapa kalimat oleh ayahnya hingga mengumbar senyum puas, lupa akan penghinaan yang baru saja terjadi.

Melihat Hendra berdiri di samping Reni, mewanti-wanti poin-poin yang perlu diperhatikan saat rapat baris demi baris.

Melihat gedung kantor redaksi terang benderang, rekan-rekannya tetap sibuk, dan kepergiannya tidak meninggalkan bekas apa pun ....

Pada akhirnya, kesadaran yang samar itu baru jatuh kembali ke dalam raga ini.

Saat membuka mata kembali, cahaya terang sudah menyinari luar jendela.

Tenggorokannya terasa kering dan sakit. Dia berjuang untuk duduk, meraba ponselnya, lalu melihat tanggal.

Tiga hari sudah berlalu.

Yulia menopang tubuhnya yang lemas menuju kamar mandi. Cermin memantulkan wajah yang pucat dan lesu, sangat berantakan dan tidak enak dipandang.

Dia menatap dirinya di dalam cermin, lalu menyalakan pancuran air.

Setelah membasuh diri, dia berjalan ke ruang tamu, mengambil koper yang sudah dirapikan sejak lama, lalu pergi tanpa menyisakan penyesalan sedikit pun.

Di aula bandara, suara pengumuman terdengar merdu.

Yulia melewati pemeriksaan keamanan, melangkah menuju gerbang keberangkatan internasional.

Di balik dinding kaca raksasa yang megah, pesawat lepas landas dan mendarat bergantian, melintasi belahan langit yang berbeda.

Panggilan naik ke pesawat terdengar, dia pun berdiri.

Pesawat menderu menembus awan. Di luar jendela kabin, sinar matahari menembus lautan awan, memancarkan kilau emas yang begitu indah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 17

    Setengah tahun kemudian.Yulia berdiri di tengah panggung, tangannya menggenggam piala penghargaan wartawan terbaik tahunan yang terasa berbobot.Di bawah panggung dipenuhi oleh kerumunan orang, tepuk tangan bergema bagaikan gelombang ombak, dan kilatan lampu kamera menyatu tanpa henti.Suara pembawa acara yang penuh semangat bergaung di seluruh aula melalui pengeras suara. "Rangkaian laporan investigasi dari Bu Yulia tidak hanya membeberkan rahasia kelam sistemik Sekolah Internasional Medistra yang sudah berlangsung lama, tapi juga mendorong diskusi legislasi terkait dan pembenahan industri, menampilkan keberanian dan nurani paling berharga dari seorang pekerja berita!"Yulia mengangguk pelan, pandangannya menyapu bawah panggung dengan tenang."Terima kasih kepada dewan juri, terima kasih kepada semua rekan sejawat yang memberi dukungan di sepanjang jalan ini." Suaranya mengalir lewat mikrofon, terdengar jernih dan stabil. "Penghargaan ini milik setiap orang yang berani mengejar keben

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 16

    Suara ancaman dari luar pintu baru saja terhenti, bel sambungan apartemen berbunyi.Yulia mengangkatnya, suara satpam resepsionis terdengar. "Nona Yulia, ada dua orang mencurigakan yang mencoba masuk pakai identitas palsu, udah kami cegah. Tapi jumlah orang dari pihak sana mungkin nggak cuma mereka aja. Kami udah melapor ke polisi, kami sarankan Anda jangan keluar rumah dulu buat sementara waktu, juga jangan bukakan pintu buat siapa pun."Hampir di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar, panggilan dari Zaki muncul di layar."Tetap di dalam rumah, kunci pintunya yang rapat, siapa pun yang mengetuk pintu jangan dibukakan." Suara Zaki terdengar lebih berat dari biasanya. "Orang-orangku tiga menit lagi sampai. Pihak Hendra juga udah dengar kabar, orang-orangnya lagi menyusul ke tempatmu.""Udah ada kabar soal Melisa belum?" Yulia paling memedulikan hal ini."Pihak Swiss udah ada perkembangan. Udah mengunci lokasi spesifiknya, polisi setempat udah turun tangan, tapi butuh waktu." Nada bica

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 15

    Yulia menjelaskan situasi Melisa dan kekhawatirannya secara singkat.Balasan Zaki sangat singkat dan jelas: [Kirim nama dan informasi yang kamu tahu ke aku, aku bakal minta orang buat cari tahu. Hati-hati, jangan jalan sendirian.]Setelah menyelesaikan semua ini, ufuk timur sudah mulai memutih.Dia tahu, pertarungan selanjutnya akan jauh lebih berbahaya dibanding laporan sebelumnya.Ini bukan lagi sekadar adu kebenaran berita, melainkan ada kemungkinan kekuatan di belakangnya yang mulai nekat karena terdesak.Jam 9 pagi, beberapa media internasional yang sangat berpengaruh dan beberapa platform berita independen dalam negeri, secara bersamaan merilis laporan pelacakan mendalam mengenai Sekolah Internasional Medistra beserta kelompok kepentingan di belakangnya.Berbeda dengan artikel sebelumnya yang berfokus pada kekerasan di sekolah, rangkaian laporan kali ini langsung mengincar bagian inti. Pukulan paling telak adalah sebuah rekaman wawancara yang suaranya sudah diproses.Narasumber m

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 14

    Pemuda itu memelankan suaranya."Target ada di rumah, Hendra sempat datang dan bertahan sekitar delapan menit, keduanya mengobrol di depan pintu, isi pembicaraannya nggak terdengar jelas .... Oh, Hendra udah pergi, target sepertinya masih bekerja."Dari earphone terdengar suara wanita yang tenang dan dingin."Amati terus, aku mau tahu selanjutnya dia ketemu siapa, pergi ke mana, dan melakukan apa.""Paham."Pintu jalur evakuasi kebakaran tertutup pelan.Koridor kembali hening, arus bawah yang tidak terhitung jumlahnya bergerak tanpa suara.Di dalam rumah, Yulia duduk di depan meja kerja, mencatat dan merapikan informasi-informasi kunci satu demi satu, lalu melakukan verifikasi silang dengan hasil investigasi sebelumnya.Semua ini cuma demi seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di Inggris lalu mendadak hilang kontak, Melisa.Di tahun pertamanya pergi ke Inggris, dia sedang melukis di tepi sungai Cambridge dan bertemu Melisa yang juga sedang liburan sendirian.Gadis remaja b

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 13

    Yulia kembali ke apartemen, menutup pintu, meletakkan tas dokumen di atas meja teh, menyalakan lampu gantung, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya.Tumpukan berkas yang tebal itu semuanya berbahasa Inggris, terselip lampiran dalam bahasa Jerman dan Prancis.Dia membaca sekilas dengan cepat, sorot matanya perlahan berubah makin serius. Hal yang diberikan Zaki jauh lebih banyak dari sekadar "beberapa data".Di dalamnya mencatat secara terperinci belasan investasi Keluarga Wijaya selama lima tahun terakhir di luar negeri, terutama berpusat di Asia Tenggara dan Eropa Timur.Secara permukaan itu adalah pengembangan real estat dan akuisisi pertambangan, tapi aliran dananya berlapis-lapis dan bertautan, yang pada akhirnya mengalir ke beberapa perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Vagan, lalu menyuntikkan dana ke beberapa "proyek khusus" melalui perusahaan-perusahaan tersebut.Tiga di antara proyek-proyek itu terhubung langsung dengan "Program Pengembangan Elit" Sekolah Intern

  • Bayang Asmara yang Pudar   Bab 12

    Kata "tunangan" bagaikan petir di siang bolong, meledak di atas balkon.Bahkan Gerry pun sampai dibuat melongo terkejut.Di dalam sepasang mata Hendra yang selalu tampak tenang dan berwibawa, untuk pertama kalinya muncul retakan emosi.Yulia melanjutkan kata-kata Zaki, "Pak Kevin sekarang merasa, penopang di belakangku ini sudah cukup berbobot belum buat menggoyahkan 'pohon besar' yang Anda maksud tadi?"Urat di pelipis Kevin menegang, menatap Yulia, lalu menatap Zaki yang memiliki aura menekan di sampingnya. Akhirnya, sudut matanya melirik ke arah Hendra. Satu Keluarga Sucipto saja sudah cukup menyulitkan, apalagi ditambah satu Zaki yang punya latar belakang mengerikan ....Otot-otot di wajahnya berkedut beberapa kali, hingga akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang sangat kaku. "Pak Zaki, salah paham, ini semua cuma salah paham. Nggak disangka Nona Yulia itu tunangan Anda. Benar-benar ... mohon maaf atas ketidaksopanannya."Dia mengucapkannya sambil hampir mengatupkan gigi rapat-rapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status