ホーム / Historical / Bayang Pedang Cahaya Bulan / BAB 103: RENCANA NENEK YUE TERUNGKAP

共有

BAB 103: RENCANA NENEK YUE TERUNGKAP

作者: Stoner 27
last update 公開日: 2026-08-25 12:53:38

Asap masih mengepul tipis dari reruntuhan sayap timur Aula Bulan ketika Yue Lingxian berdiri di ambang pintu, menatap tanah yang retak memanjang seperti bekas cakar raksasa. Bau darah kering bercampur debu batu masih menggantung di udara, dan di kejauhan, obor-obor perkemahan Aliansi Utara berkedip pelan, satu demi satu padam seiring malam yang beranjak larut.

Tiga belas pemimpin fraksi telah berkumpul kembali di halaman utama sekte, tetapi kali ini tidak ada lagi tongkat

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 106: PERAYAAN ALIANSI

    Malam turun untuk kedua kalinya sejak duel yang meretakkan tanah Aula Bulan, dan kali ini langit di atas Sekte Bulan Sabit tidak dipenuhi asap pertempuran, melainkan cahaya lentera yang digantung di sepanjang halaman utama, berjajar seperti bintang-bintang yang turun mendekat ke bumi.Yue Chen berdiri di tepi lapangan, menatap pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi hanya beberapa hari setelah Aliansi Utara datang dengan tiga tuntutan yang nyaris menghancurkan segalanya. Meja-meja panjang disusun berjajar, dipenuhi mangkuk sup hangat dan piring nasi sederhana, jauh dari kemewahan istana namun terasa lebih berharga karena dibagikan di tengah reruntuhan yang belum sepenuhnya dibersihkan.Namun ia tidak bisa mengabaikan apa yang tersembunyi di balik cahaya lentera itu. Di sudut halaman, tenda medis masih berdiri penuh, kain putihnya menyerap noda darah yang belum sepenuhnya luntur meski sudah dicuci berkali-kali. Suara erangan pelan sesekali

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 105: JANJI YANG DITAGIH

    Lan Feiyan berdiri di tepi halaman utama, memperhatikan langit yang mulai terang di ufuk timur, ketika suara langkah kaki yang ia kenal menggema di gerbang sekte. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Ada sesuatu dalam irama langkah itu, tegas namun tidak tergesa, yang hanya dimiliki oleh satu orang."Kau lambat," katanya, tanpa membalikkan badan."Aku menunggu momen yang tepat," jawab Duan Wuya, suaranya membawa nada geli yang khas. "Tidak sopan rasanya menagih janji di tengah kekacauan perang."Lan Feiyan akhirnya berbalik. Duan Wuya berdiri beberapa langkah darinya, Pedang Neraka tergantung di pinggangnya seperti biasa, gagang hitamnya tidak memantulkan cahaya fajar yang mulai merambat naik. Wajahnya tidak banyak berubah sejak duel mereka di Tebing Karang bertahun-tahun lalu, meski ada sesuatu yang lebih tenang di matanya sekarang, sesuatu yang tidak lagi haus akan pertumpahan darah semata."Kau datang untuk menagih janji la

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 104: SU MEIYIN KEMBALI MENGABDI

    Su Meiyin berdiri di tepi halaman yang masih dipenuhi puing, jubah abu kebiruannya nyaris menyatu dengan kabut tipis yang belum juga menghilang sejak malam sebelumnya. Ia tidak ikut dalam kerumunan yang mengelilingi Yue Lingxian, tidak pula mendekati Beiming Wuji yang masih duduk di atas batu reruntuhan. Ia memilih berdiri sendiri, seperti biasa, mengamati dari jarak yang cukup jauh untuk tidak terlibat, namun cukup dekat untuk tidak melewatkan apa pun.Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Yue Lingxian malam itu, tentang rencana yang disusun diam-diam, tentang kesabaran empat puluh tahun, tentang seseorang yang pernah dicintai dan kini terpaksa menampakkan diri. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya mendengar kata cinta itu diucapkan begitu lugas, sesuatu yang lebih dekat dengan iri hati daripada sekadar rasa penasaran.Empat puluh dua tahun, pikirnya. Yue Lingxian mendapatkan empat puluh tahun kebersamaan yang cukup untuk melahirkan sebuah kenangan

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 103: RENCANA NENEK YUE TERUNGKAP

    Asap masih mengepul tipis dari reruntuhan sayap timur Aula Bulan ketika Yue Lingxian berdiri di ambang pintu, menatap tanah yang retak memanjang seperti bekas cakar raksasa. Bau darah kering bercampur debu batu masih menggantung di udara, dan di kejauhan, obor-obor perkemahan Aliansi Utara berkedip pelan, satu demi satu padam seiring malam yang beranjak larut.Tiga belas pemimpin fraksi telah berkumpul kembali di halaman utama sekte, tetapi kali ini tidak ada lagi tongkat komando yang diacungkan, tidak ada lagi nada menuntut dalam suara mereka. Mereka berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, sebagian masih membalut luka dengan kain seadanya, sebagian lain menatap tanah retak itu seolah mencoba memahami kembali apa yang baru saja mereka saksikan.Beiming Wuji duduk di atas batu besar bekas reruntuhan, punggungnya masih tegak meski wajahnya pucat dan salah satu lengannya digantung dengan kain. Tongkat kayunya, yang tadinya menjadi sumber domain gravitasi ya

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 102: Setelah Badai Pertama

    Debu masih belum sepenuhnya mengendap ketika para pemimpin fraksi mulai bergerak, satu per satu meninggalkan barisan kaku mereka untuk mendekati tempat Beiming Wuji masih berlutut di atas tanah yang retak.Chu Yan, wanita bertubuh ramping yang kemarin kalah dalam uji tanding kecil melawan Su Meiyin, adalah yang pertama bergerak. Ia berjongkok di samping pemimpinnya, membantu menahan bahunya yang masih gemetar, matanya menatap ke arah Bai Muchen dengan campuran ngeri dan sesuatu yang lebih dalam, semacam pengakuan yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun sebelumnya."Aku pernah melihat domainmu meratakan tiga bukit sekaligus," bisiknya pada Beiming Wuji, suaranya bergetar. "Aku pikir tidak ada yang bisa menandinginya."Beiming Wuji tidak menjawab, hanya menunduk menatap tanah di bawahnya, dadanya masih naik turun tidak teratur, darah kering menempel di sudut bibirnya.---Pria berjanggut putih, yang selama ini paling banyak menyuara

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 101: Domain yang Pecah

    Fajar menyingsing dengan warna merah darah di ufuk timur, seolah langit sendiri sudah tahu apa yang akan terjadi hari itu.Yue Chen berdiri di barisan paling depan murid sekte, jantungnya berdegup kencang menatap lapangan luas yang sudah dipadatkan sejak dua hari lalu, kini dikelilingi oleh ratusan pasang mata: murid-murid Sekte Bulan Sabit di satu sisi, lima ratus prajurit Aliansi Utara berbaris rapi di sisi lain, dan di antara keduanya, tiga belas pemimpin fraksi berdiri di barisan terdepan, wajah mereka menegang menahan napas.Di tengah lapangan, dua sosok berdiri berhadapan.Beiming Wuji mengenakan jubah perangnya, bukan lagi jubah perundingan yang ia pakai saat pertama kali datang. Tongkat kayunya kini digenggam erat di tangan kanan, ujungnya menghentak tanah sekali, mengirimkan getaran halus yang bisa dirasakan hingga ke barisan paling belakang. Di sampingnya, di atas alas kayu, Tombak Naga Hitam yang sudah dipulihkan berkilau tajam ditimpa c

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status